Majulah IJABI

Ratusan Jamaah Lakukan Arbain Walk Menuju Mazar K.H. Jalaluddin Rakhmat

Rombongan demi rombongan berdatangan. Ratusan langkah kaki berderap mengikis jarak, membawa gemuruh kerinduan yang sama di dalam dada. Dari penjuru nusantara—Kupang, Sukabumi, Tasikmalaya, Garut, hingga Jakarta—para pecinta Ahlulbait berkumpul dalam satu ikatan batin. Mereka mengikatkan batin dalam acara Arbain Walk, dan di saat jutaan lautan manusia di belahan bumi lain sedang membasahi jalanan Najaf menuju pusara Sayyidina Imam Husain as. di Karbala, ruh-ruh di Tanah Air enggan tertinggal. Mereka datang berziarah ke Mazar Allahyarham K.H. Jalaluddin Rakhmat dan Ibu Euis Kartini.

Majelis ini bukan sekadar perjumpaan fisik, melainkan sebuah panggung romansa spiritual. Di sinilah sanak saudara, kerabat, dan jamaah melebur dalam Arbain Walk to Mazar; berjalan kaki menuju Mazar Allahyarham K.H. Jalaluddin Rakhmat (MahaGuru) dan Almarhumah Ibu Euis di Rancaekek. Sebuah ikhtiar syahdu untuk menyambungkan ruhani dengan keluarga suci Nabi saw. dan para auliya Ilahi.

Di bawah naungan rindu, Ustadz Miftah Fauzi Rahmat menyampaikan pesan yang menggugah relung hati terdalam dan memberikan benang merah pada Arbain Walk ini dengan menjelaskan tentang makna zumar (rombongan). Merujuk pada firman Allah Swt. dalam Surah Az-Zumar, kelak manusia akan digiring secara berombongan—baik ke surga maupun neraka.

Pertanyaannya, apa yang menyatukan rombongan tersebut? Bukan batas negara, bukan suku, bukan pula bahasa. Allamah Thabathabai, menafsirkan Surah Al-Isra’ ayat 71, menegaskan bahwa manusia akan dipanggil berdasarkan imam yang mereka ikuti.

Sebuah kisah getir dari Wadi as-Salam, Najaf, menjadi pengingat yang menggetarkan. Seorang gadis yang rambutnya memutih dalam semalam setelah mendengar percakapan di alam barzakh. Ketika ditanya siapa imamnya, sosok agung yang diharapkan justru menjawab singkat, “Aku bukan imam bagimu.”

Kisah ini menampar kesadaran kita: mudah bagi lisan mengklaim cinta kepada Imam Ali as., Imam Husain as., atau Imam Zaman afs., namun apakah sang Imam mengakui kita sebagai pengikutnya?

Zumar ditentukan oleh keterhubungan ruh. Ruh yang senantiasa tersambung melalui shalawat, ziarah, dan amal saleh yang dihadiahkan kepada mereka. “Shalawat adalah cara kita terus menghubungkan ruh kepada Rasulullah dan Ahlulbait,” tutur Ustadz Miftah, mengingatkan agar kita tidak menjadi umat yang pelit bershalawat di tengah gempuran zaman.

Menyambung Ruh Melalui Para Pecinta yang Saleh

Bagi mereka yang tahun ini belum terpilih secara fisik untuk hadir di Karbala, bukan berarti pintu syafaat tertutup. Ahlulbait memberikan jalan keluar yang penuh kasih. Sebagaimana diriwayatkan dari Imam Musa al-Kazhim as.:

“Siapa yang belum mampu menziarahi kami, hendaknya ia menziarahi para pecinta kami yang saleh, maka dicatat baginya pahala seperti menziarahi kami.”

Berangkat dari riwayat inilah IJABI Jawa Barat kembali menggelar Arbain Walk to Mazar. Ini adalah bentuk ziarah kepada seorang ulama yang telah menanamkan benih kecintaan kepada Imam Husain as. di hati banyak orang. Majelis ini menjadi oase yang menghidupkan hati di saat hati-hati yang lain telah mati.

Tubuh mungkin bergerak di Rancaekek, namun hakikatnya, ruh para jamaah sedang bertawaf mengelilingi pusara Abi Abdillah as.

Karbala di Tengah Kita: Mengikis Kasta, Menumbuhkan Empati

Satu hal yang selalu dipesankan oleh Allahyarham MahaGuru: jangan sampai kita keluar dari Karbala. Karbala harus senantiasa hadir dan berdenyut dalam keseharian melalui nilai-nilai luhurnya:

Pemandangan ini tampak nyata sepanjang acara. Status sosial luruh tak bersisa. Ulama, rakyat biasa, pejabat, si kaya, maupun si miskin melebur menjadi satu entitas tunggal: Pecinta Imam Husain as.

Layaknya maukib-maukib yang berjejer di jalanan Irak, Panitia IJABI Jawa Barat bersama para dermawan bahu-membahu menyisihkan rezeki. Dari pagi hingga malam, mereka berkhidmat melayani para tamu Imam Husain as. dengan menyediakan makanan dan minuman. Sebuah khidmat yang kemuliaannya tak bisa ditakar dengan ukuran duniawi.

Doa dan Harapan di Penghujung Langkah

Arbain adalah puncak dari kerinduan untuk mengakhiri hidup di jalan Allah, menggabungkan diri ke dalam barisan para syuhada. Syafaat terbesar—yang mampu menyempurnakan segala kekurangan kita—berasal dari Rasulullah saw. dan Ahlulbait as.

Semoga seluruh khidmat, cucuran keringat, dan tetesan air mata kerinduan di Rancaekek hari ini diterima oleh Allah Swt. Semoga ini menjadi wasilah keberkahan yang kelak mengantarkan langkah fisik kita menapaki jalanan menuju Karbala pada tahun-tahun mendatang.

Hingga saat itu tiba, biarlah kalimat ini tidak hanya terucap di bibir, tetapi tertanam menjadi doa yang mengakar di dalam ruh, memohon agar kita dihimpun dalam satu rombongan (zumar) para pecinta Abi Abdillah:

يا ليتنا كنا معكم فنفوز فوزًا عظيمًا

“Andai kami dahulu bersama kalian, niscaya kami memperoleh kemenangan yang agung.”

Exit mobile version