Bandung, 2 Agustus 2026
Menjelang Arbain Imam Husain as., para zuwwar dari berbagai negeri bergerak menuju Sayyidina Imam Husain as. melalui Arbain Walk to Karbala, menapaki jalan cinta menuju para syuhada. Di saat yang sama, bagi kita yang belum memiliki kesempatan berziarah ke Karbala, Ahlulbait telah mengajarkan jalan untuk tetap terhubung.
Sebagaimana diriwayatkan dari Imam Musa al-Kazhim as.:
“Siapa yang belum mampu menziarahi kami, hendaknya ia menziarahi para pecinta kami yang saleh, maka dicatat baginya pahala seperti menziarahi kami. Dan siapa yang belum mampu menyambungkan hubungan dengan kami, hendaknya ia menyambungkan hubungan dengan para pecinta kami yang saleh, maka dicatat baginya pahala seperti menyambungkan hubungan dengan kami.”
(Kamil al-Ziyarat, jilid 2, hlm. 209).

Atas dasar riwayat inilah, IJABI kembali melaksanakan Arbain Walk to Mazar, berjalan kaki menuju Mazar Allahyarham K.H. Jalaluddin Rakhmat di Rancaekek sebagai ikhtiar menyambungkan ruhani dengan para peziarah yang berjalan kaki menuju Karbala, melalui ziarah kepada seorang ulama yang telah memperkenalkan kecintaan kepada Imam Husain as. Berharap, dengan alap berkah ziarah ke Mazar Allahyarham MahaGuru, Allah mengantarkan kita kelak dapat berziarah Arbain ke Karbala pada tahun-tahun berikutnya.
Dalam Majelis Arbain Imam Husain as., K.H. Miftah Fauzi Rakhmat mengingatkan kembali pesan Allahyarham MahaGuru. Bagi yang belum dapat berziarah ke Karbala, jangan merasa terputus. Kita tetap dapat menghubungkan ruh kepada Imam Husain as. dengan menghadiri majelis-majelis Ahlulbait dan menziarahi para pecinta Imam Husain as.
Pada hari ini, sejak pagi, kita menghubungkan ruh kepada Imam Husain as. melalui Allahyarham MahaGuru dan juga mengenang Almarhumah Ibu Euis.
Beliau juga mengingatkan sebuah riwayat bahwa barang siapa menghidupkan majelis Ahlulbait, Allah akan menghidupkan hatinya pada hari ketika hati-hati telah mati. Karena itu, majelis bukan sekadar berkumpul, tetapi tempat menghidupkan hati dengan cahaya Ahlulbait.
Satu hal penting yang selalu dipesankan Allahyarham dalam bukunya tentang Asyura adalah bahwa tidak semua yang hadir di majelis Imam Husain itu berada di Karbala. Jangan sampai kita keluar dari Karbala. Karbala harus hadir dalam nilai-nilai yang diperjuangkan Imam Husain as.: kedermawanan, persatuan, persaudaraan, empati, kesederhanaan, dan kerendahan hati.
Arbain juga mengajarkan bahwa tidak ada lagi status sosial. Rakyat biasa, ulama, pejabat, orang kaya, maupun orang miskin, semuanya melebur menjadi satu. Hanya ada satu status, yaitu pecinta Imam Husain as. Mereka yang diberi kemampuan harta membuka maukib, menyisihkan rezekinya untuk menyambut dan melayani para tamu Imam Husain as.
Sebagaimana disebutkan dalam riwayat, barang siapa memberi makan seorang mukmin hingga kenyang, maka pahalanya sangat besar di sisi Allah. Terlebih lagi memberi makan dan melayani para zuwwar Imam Husain as.; kemuliaan dan balasannya hanya Allah Rabb semesta alam yang mengetahui. Maka, melayani para peziarah adalah kemuliaan yang tidak dapat diukur dengan ukuran dunia.
Terima kasih kepada seluruh panitia IJABI Jawa Barat dan semua pihak yang sejak pagi, siang, hingga malam berkhidmat menyediakan makanan, minuman, dan pelayanan bagi para pecinta Ahlulbait. Semoga seluruh khidmat ini diterima Allah SWT sebagai amal terbaik, menjadi wasilah keberkahan, serta mengantarkan kita semua suatu hari dapat berjalan kaki menuju Karbala bersama jutaan pecinta Imam Husain as.