Ada warisan ilmu yang terus hidup, bukan hanya karena dibaca, tetapi juga karena terus diteliti. Demikian pula karya-karya KH. Jalaluddin Rakhmat. Selain dikenal sebagai mubalig, cendekiawan, dan penulis produktif, Kang Jalal juga menjadi salah satu tokoh yang pemikirannya banyak dikaji di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Salah satunya adalah skripsi yang ditulis Nasukha pada Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, berjudul Penafsiran al-Qur’an Jalaluddin Rakhmat (Telaah Metodologi Penafsiran). Penelitian yang diselesaikan pada tahun 2014 ini tidak berusaha membahas satu tema tertentu dalam tafsir Kang Jalal. Pertanyaan yang diajukan justru lebih mendasar: bagaimana sebenarnya Kang Jalal membaca Al-Qur’an?
Pertanyaan itu menarik. Banyak orang mengenal isi ceramah Kang Jalal, tetapi tidak banyak yang memperhatikan cara beliau sampai pada sebuah kesimpulan. Nasukha melihat bahwa untuk memahami pemikiran Kang Jalal, kita tidak cukup membaca hasil tafsirnya. Kita juga perlu memahami jalan berpikir yang ditempuhnya.
Rubrik Membaca Kang Jalal lahir dari penelitian-penelitian seperti ini. Namun yang akan Anda baca bukanlah ringkasan skripsi. Tokoh utama dalam setiap tulisan tetaplah KH. Jalaluddin Rakhmat beserta karya-karyanya. Skripsi Nasukha menjadi pijakan ilmiah yang membantu kita membaca kembali pemikiran Kang Jalal dengan lebih utuh, sementara bahasanya kami hadirkan kembali agar lebih hangat, lebih ringan, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mudah-mudahan perjalanan ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengajak kita semakin mencintai Al-Qur’an sebagai kitab yang terus berbicara kepada setiap zaman.
⸻
Ada orang yang membaca Al-Qur’an untuk mencari jawaban. Ada pula yang membacanya untuk mencari pembenaran atas pendapatnya sendiri. Di antara dua cara itu, Kang Jalal memilih jalan yang berbeda. Beliau membaca Al-Qur’an untuk menemukan pesan yang dapat mengubah manusia.
Karena itulah, ketika membuka buku-buku tafsir Kang Jalal, kita tidak segera disambut oleh perdebatan panjang tentang tata bahasa Arab atau silang pendapat antarmufasir. Yang pertama kali kita temukan justru manusia: kegelisahannya, harapannya, kesalahannya, dan jalan pulangnya kepada Allah.
Nasukha melihat bahwa cara membaca seperti ini bukan muncul secara kebetulan. Ia lahir dari perjalanan intelektual Kang Jalal yang panjang. Beliau memang tidak pernah menulis buku khusus tentang metodologi tafsir, tetapi dari karya-karyanya dapat dilihat pola berpikir yang konsisten. Justru itulah yang ingin dipetakan dalam penelitian ini.
Menurut Nasukha, metodologi tafsir Kang Jalal berkembang mengikuti perjalanan hidupnya. Pada satu masa beliau banyak menekankan tafsir bil ma’tsur, yaitu memahami Al-Qur’an dengan bantuan ayat lain, hadis, serta riwayat para sahabat dan ulama terdahulu. Namun pada masa berikutnya, perhatian beliau semakin luas. Beliau mulai memperkenalkan dimensi tasawuf, akhlak, dan pengalaman batin sebagai bagian dari cara memahami Al-Qur’an. Perubahan itu bukan karena beliau meninggalkan Al-Qur’an, tetapi karena beliau ingin menunjukkan bahwa Al-Qur’an selalu memiliki kedalaman makna yang dapat menjawab kebutuhan manusia pada setiap zaman.
Yang menarik, Kang Jalal tidak pernah memulai tafsirnya dengan keinginan memperlihatkan keluasan ilmunya. Beliau justru memilih bahasa yang sederhana. Kalimat-kalimatnya pendek, mengalir, dan mudah dipahami. Ketika harus menggunakan istilah tasawuf atau istilah Arab yang tidak akrab di telinga pembaca, beliau hampir selalu memberikan penjelasan yang memudahkan. Karena itu, banyak orang yang baru pertama kali membaca tafsir merasa tidak sedang membaca buku akademik, melainkan sedang diajak berbincang oleh seorang guru. Penelitian tentang Tafsir Sufi Al-Fatihah juga mencatat kekuatan ini sebagai salah satu ciri khas gaya penulisan Kang Jalal.
Kesederhanaan bahasa itu tidak berarti dangkal. Di balik kalimat-kalimat yang ringan, Kang Jalal tetap berpijak pada sumber-sumber klasik Islam. Beliau mengutip Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab tafsir, dan pendapat para ulama, lalu menyusunnya menjadi sebuah uraian yang dapat dipahami pembaca masa kini. Bagi beliau, ilmu tidak menjadi mulia karena sulit dimengerti, tetapi karena mampu menerangi kehidupan.
Hal lain yang ditemukan Nasukha adalah keberanian Kang Jalal menawarkan sudut pandang yang pada masanya belum banyak dikenal di Indonesia. Salah satunya ialah memperkenalkan corak tafsir sufi melalui Tafsir Sufi Al-Fatihah. Ketika sebagian kalangan masih memandang tafsir sufi dengan penuh kecurigaan, Kang Jalal justru mengajak pembaca memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud para sufi ketika membaca Al-Qur’an. Beliau tidak menutup mata terhadap perdebatan yang sudah berlangsung selama berabad-abad, tetapi juga tidak menolak sebuah pendekatan hanya karena berbeda dari kebiasaan.
Di sinilah letak salah satu keberanian intelektual Kang Jalal. Beliau tidak merasa cukup hanya mengulang apa yang telah dikatakan orang lain. Dengan tetap menghormati tradisi tafsir klasik, beliau membuka ruang dialog antara warisan keilmuan Islam dengan persoalan manusia modern. Al-Qur’an tetap menjadi pusat, tetapi kehidupan manusia menjadi ruang tempat pesan-pesan Al-Qur’an itu menemukan maknanya.
Nasukha juga mencatat bahwa perubahan metode tafsir Kang Jalal tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupnya sendiri. Setiap fase kehidupan melahirkan penekanan yang berbeda. Ada masa ketika beliau banyak berbicara tentang pesan moral Al-Qur’an. Pada masa lain, beliau memperdalam dimensi spiritualnya. Di kesempatan berbeda, beliau menyoroti persoalan pluralitas, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Tema-temanya berubah, tetapi benang merahnya tetap sama: Al-Qur’an harus hadir sebagai petunjuk yang hidup, bukan sekadar teks yang dibaca tanpa menyentuh kehidupan.
Barangkali karena itulah membaca karya-karya Kang Jalal selalu menghadirkan kesan yang berbeda. Kita tidak merasa sedang dibawa memasuki ruang kuliah yang penuh istilah teknis. Kita justru merasa sedang diajak menyaksikan bagaimana Al-Qur’an berbicara kepada manusia yang sedang mencari arah hidup.
Pada akhirnya, skripsi Nasukha mengingatkan kita bahwa memahami seorang mufasir tidak cukup dengan mengetahui apa yang ia tulis. Kita juga perlu memahami bagaimana ia membaca. Sebab cara seseorang membaca Al-Qur’an akan menentukan cara ia memandang manusia, kehidupan, dan Tuhannya.
Dan mungkin itulah pelajaran paling berharga dari Kang Jalal. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar menemukan jawaban atas pertanyaan kita, tetapi membiarkan Al-Qur’an mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru kepada hati kita. Dari sanalah perubahan sering kali dimulai.
⸻
Karya Kang Jalal yang Dibaca
KH. Jalaluddin Rakhmat
Tafsir Bil Ma’tsur: Pesan Moral Al-Qur’an
Tafsir Sufi Al-Fatihah (Mukaddimah)
⸻
Pijakan Akademik
Nasukha. Penafsiran al-Qur’an Jalaluddin Rakhmat (Telaah Metodologi Penafsiran). Skripsi, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2014.
