Bismillahir rahmanir rahim Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad wa ‘ajjil farajahum…
Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) menghadiri peringatan milad ke-16 Ahlulbait Indonesia (ABI) yang dirangkaikan dengan Seminar dan Bedah Buku Beragama Maslahat pada Kamis, 5 Februari 2026, di Gedung Widya Graha BRIN, Jakarta Selatan. IJABI diwakili oleh K.H. Miftah Fauzi Rakhmat Ketua Dewan Syura IJABI, Kyai Mahmudin, anggota dewan Syura IJABI, Muhammad Bhagas, anggota Departemen Khidmat/Dakwah dan Seni Budaya PP IJABI, dan Ustadz Fauzan Jamil, Sekretaris PW IJABI Jakarta
Kehadiran IJABI dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari menjaga silaturrahim dan persaudaraan, dan untuk terus terlibat dalam kegiatan yang sejalan dengan misi pencerahan intelektual pendiri IJABI, Allah yarham K.H. Jalaluddin Rakhmat. Beliau pernah mengatakan yang intinya IJABI dan ABI adalah dua sayap komunitas pecinta dan pengikut Ahlul Bait as di Indonesia. Jika satu sayap mengepak, sayap kedua juga harus mengepak agar dapat terbang bersama. Pernyataan ini menekankan pentingnya sinergi dan kerja sama antara kedua organisasi untuk kemaslahatan bersama. Bagi IJABI, persatuan dan persaudaraan adalah kekuatan kita bersama.
Forum ini dihadiri oleh para Dewan Syura, pimpinan dan pengurus ABI dari berbagai tingkat kepengurusan, Pandu ABI, ABI responsif dan Muslimat ABI, Prof. Dr. Alwi Shihab, mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Dr. Muhammad Najib Azca, M.A., Ph.D., Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora Badan Riset dan Inovasi (BRIN), Dr. Nawawi, Kepala Pusat Riset Hukum BRIN, Syaikh Mohammad Sharifani, Direktur ICC Jakarta, Dr. Yahya Jahangiri, Atase Kebudayaan Kedutaan Republik Islam Iran, dan para tamu undangan lainnya dari berbagai kalangan
Dalam sesi sambutan, Ustadz Zahir Yahya, Ketua Umum ABI, menyatakan bahwa beragama maslahat sebagai sebuah wacana dan gagasan muncul sebagai respon terhadap berbagai perubahan sosial yang sangat dinamis yang sampai-sampai menyoal peran agama dan juga relevansi solusi-solusi keagamaan terhadap berbagai isu budaya, sosial, ekologi dan lainnya.
Beliau menekankan bahwa mengatasi berbagai persoalan dan isu sosial keagamaan tidak mungkin dilakukan dengan atau oleh agama dengan pendekatan yang murni dogmatik dan ritualistik.
Dalam konteks inilah, melalui berbagai kegiatan diskusi tematik yang pada akhirnya dilanjutkan dengan penerbitan buku Beragama Maslahat, ormas ABI ingin menegaskan bahwasanya keberagamaan sejati adalah keberagamaan yang bisa mendatangkan kemaslahatan bagi publik. Keberagamaan sejati adalah keberagamaan yang bisa menjadi pemecah persoalan dalam kehidupan masyarakat dan bukan pemecah belah bangsa. Beragama bukan sekadar ekspresi spiritual atau praktik-praktik ritual semata, tetapi juga praksis sosial yang mampu meneguhkan masalah-masalah keadilan, solidaritas kemanusiaan, dan juga mampu mendatangkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat
Kemudian Prof. Dr. Alwi Shihab dipersilahkan memberikan sambutan. Beliau menempatkan Ahlul Bait sebagai figur sentral dalam praktik keberagamaan. Keluarga Nabi dipandang tidak terpisahkan dari Alquran serta perjalanan sejarah Islam.
“Teladan utama adalah keluarga Nabi, perjuangannya, kesetiannya kepada Islam, dan kedekatannya dengan Alquran,” ujarnya.
Mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat itu mengingatkan umat Islam pada dua rujukan utama yang diwariskan Rasulullah Muhammad SAW.
“Siapa yang berpegang teguh tidak akan tersesat, yaitu Alquran dan Ahlul Bait Nabi. Rujukan ini terdapat dalam riwayat Sunni maupun Syiah,” kata beliau.
Perhatian khusus ia arahkan kepada generasi muda. Menurutnya, pemuda perlu memiliki tiga kompetensi agar mampu berinteraksi secara positif dan terhormat di ruang publik: pribadi, komparatif, dan kolaboratif.
Kompetensi pribadi menuntut penguasaan ilmu agama dan wawasan keislaman agar mampu menjelaskan keyakinan secara argumentatif. Kompetensi komparatif mengharuskan kesiapan memahami pihak lain serta mencari titik temu tanpa prasangka. Sementara kompetensi kolaboratif menjadi tahap lanjutan untuk membangun kerja sama nyata setelah kesamaan nilai ditemukan.
Kemudian memasuki sesi utama, perspektif akademik disampaikan melalui keynote address Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN, Dr. Muhammad Najib Azca, M.A., Ph.D. Diskusi dilanjutkan bersama Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN, Dr. Aji Sofanudin, M.Si., serta Guru Besar Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Kholid Al-Walid, M.Ag. Sesi dipandu Dr. Sabara Nuruddin, M.A., Ketua Departemen Litbang DPP ABI sekaligus peneliti madya di PR-AK BRIN.

Dilanjutkan dengan foto bersama, bercengkrama, serta penegasan komitmen memperkuat dialog lintas iman dan kolaborasi riset keagamaan. Demikian, mohon maaf lahir batin.