Imam ‘Ali bin Abi Thalib as :
إن أحببت سلامة نفسك وستر معايبك، فأقلِل كلامك وأكثر الصمت؛ يتوفر فكرك، ويستتر قلبك، ويسلم الناس من يدك.
Jika engkau menginginkan keselamatan dirimu dan tertutupinya aib-aibmu, maka sedikitkanlah bicara dan perbanyaklah diam. Pikiranmu akan terfokus, hatimu akan lebih terlindungi (terjaga), dan orang lain akan aman dari gangguanmu
📚 ‘Uyun al-Hikam wa al-Mawa’izh, no. 3446
Ayatullah Sayyid Muhammad Shadiq Tehrani dalam kitab Nur Mujarrad, halaman 677, menjelaskan bahwa diam merupakan satu di antara pilar utama dalam menempuh perjalanan rohani. Diam berarti menahan diri dari pembicaraan yang tidak bermanfaat dan tidak diperlukan bagi seorang salik (penempuh jalan rohani).
Menurut beliau, menahan diri dari banyak bicara yang tidak perlu itu akan menumbuhkan kejernihan, ketenangan dan kedamaian batin, serta membuat kesadaran seorang salik semakin mendalam. Ketika berada dalam kondisi seperti ini, ia akan memperoleh limpahan karunia-karunia batin, misalnya berupa hikmah dan ilmu-ilmu rabbani di dalam hatinya.
Sebaliknya, jika seseorang terbiasa berkata sia-sia dan banyak bicara yang tidak perlu (termasuk di media sosial), maka ia akan terhalang dari bimbingan dan kesempurnaan hakiki, bahkan dapat melemahkan perjuangan rohaninya, menghilangkan kesucian dan ketakwaan dirinya, dan membuat lisannya rentan terjerumus ke dalam dosa-dosa dan penyakit lisan.
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad wa ‘ajjil farajahum…

