Site icon Majulah IJABI

Luka Az-Zahra as yang Menyulut Kesadaran Sejarah 

Penulis : Salim Muhsin BSA 

Fatimah az-Zahra as telah berpulang kepada Sang Penciptanya, di mana surga yang luasnya lebih luas dari langit dan bumi menantinya. 

Namun, beliau meninggalkan sebuah seruan yang menggema dan menggelegar, mengguncang hati yang padam, membangunkan kesadaran, serta menyingkirkan debu kelalaian dan kesombongan dari akal manusia. 

Sebuah seruan yang lahir dari rasa sakit dan duka yang mendalam. Rasa sakit yang berasal dari apa yang menimpa beliau berupa perampasan hak, gangguan, pemukulan dan gugurnya janin. Sementara duka lara, lahir dari apa yang dilakukan umat terhadap Rasulullah saw dan risalahnya yang tidak mereka jaga. 

 Az-Zahra as telah pergi meninggalkan dunia yang fana ini, namun ia meninggalkan dua anak panah yang tertancap di dada sejarah dan terus meneteskan air mata dan darah: 

• Pertama adalah wafatnya beliau sebelum genap memasuki usia dua puluh tahun. 
• Kedua adalah beliau dimakamkan pada malam hari secara rahasia, sehingga kuburannya yang dirindukan jutaan hati itu sampai kini tidak diketahui lokasinya. 

Semua ini adalah isyarat dari az-Zahra agar kita memulai pencarian terhadap kebenaran. Hanya delapan belas tahun umurnya dan ia adalah orang pertama dari Ahlulbait yang menyusul Rasul saw. 

Wafat di Usia Belia 

Anak panah yang pertama adalah beliau wafat di usia masih muda. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan. 

Benar bahwa kematian adalah ketetapan bagi seluruh hamba. Namun bukankah pikiran manusia langsung bertanya tentang penyebab kematian seseorang, terlebih bila ia wafat di usia muda? Bila kita kehilangan orang terkasih yang masih belia, kita pasti bertanya: “Apa yang menyebabkan ia wafat? Bagaimana kisahnya?” 

Inilah pertanyaan fitrah agar kita memahami kedalaman tragedi itu. Apa yang menyebabkan az-Zahra as wafat secepat itu. Padahal ketika Rasul masih ada, beliau sehat tidak sakit? 

Dan ketika kita menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini dengan membaca sejarah serta menelitinya, tentu kita akan menemukan kebenaran yang sesungguhnya. 

Seperti: kesedihan yang mendalam karena kehilangan kekasih Ilahi, sang ayah Rasulullah saw. Kemudian karena hak-haknya dirampas, lalu penyerangan terhadapnya, pemukulan dan pelanggaran terhadap hak-haknya (hak dirinya, hak suaminya, hak anak-anaknya, dan hak risalah Islam). 

Dan puncak dari semua itu adalah serangan terang-terangan berupa pembakaran, pemukulan dan tendangan, yang akhirnya menyebabkan gugurnya (janin) al-Muhsin. Bukankah semua ini cukup untuk membuat hati kita miris dan menangis? 

Sesungguhnya az-Zahra as menuntut haknya dan menanggung semua itu bukan demi keuntungan pribadi, tetapi untuk menegakkan fondasi Islam. Bahwa kepada keluarga Rasul saja sudah berani berlaku dholim apalagi kepada yang lain dan bahwa Islam harus ditegakkan melawan ketidakadilan. 

Begitulah Allah Yang Maha kuasa menghendaki untuk membuka kebenaran melalui kehidupan para wali-Nya. 

Dimakamkan Secara Sembunyi 

Dan anak panah yang kedua adalah bahwa ia dimakamkan secara sembunyi-sembunyi. 

Sesungguhnya az-Zahra as adalah putri kenabian, yang dibesarkan dalam naungan wahyu, melayani risalah baik semasa hidup maupun setelah wafat. 

Beliau berwasiat agar simbol legalitas di Saqifah tidak menshalatkannya dan agar ia dimakamkan pada malam hari secara rahasia, sehingga makamnya tidak diketahui.  

Dengan demikian, pertanyaan tentang rahasia di balik semua itu tetap hidup, hingga Allah menetapkan keputusan-Nya yang pasti terjadi. 

Seluruh tokoh besar, ulama dan orang saleh, kita mengetahui kuburan mereka dan orang-orang mendatanginya untuk berziarah. Tetapi mengapa justru kubur wanita terbaik semesta alam, Fatimah al-Batul dan Ummu Abiha, tidak diketahui? 

Sesungguhnya hal itu adalah pesan abadi dari risalah bagi siapa pun yang beriman kepadanya, sekaligus peringatan bagi kaum yang mau membuka mata, menelaah kembali sejarah dan menggunakan akalnya. 

Exit mobile version