Majulah IJABI

Menghidupkan Kredo Cinta: Dari Shalawat, Sains, hingga Membumikan Islam Madani di Ruang Kebangsaan

JAKARTA, 30 Agustus 2026— Gemuruh rindu berpadu dengan keteguhan tekad memenuhi aula Graha Konstruksi, Jakarta. Lebih dari 500 jemaah, tokoh lintas komunitas, dan simpatisan memadati ruangan. Lagu “Rindu Rasul” yang mengalun syahdu menyentuh relung kerinduan terdalam kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Suasana kian khidmat dan bergetar saat Paduan Suara Fathimiyyah IJABI menyambungnya dengan lantunan Himne dan Mars IJABI.

Alunan nada tersebut bukan sekadar melodi, melainkan kredo cinta dan ikrar suci untuk meneruskan jalan perkhidmatan—menghadirkan kembali ruh pemikiran Allahyarham K.H. Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) dalam perhelatan akbar Maulid Nabi saw., Haul Kang Jalal, sekaligus Milad ke-26 Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI).

Perhelatan berskala nasional ini diselenggarakan secara kolaboratif oleh Pengurus Pusat (PP) IJABI bersama Pengurus Wilayah (PW) IJABI Jakarta Raya, dengan mengusung tema bernas: “Dengan Teladan Sang Nabi, Bumikan Islam Madani untuk Negeri”.

Pancasila, Cinta yang Terpatri, dan Jejak Pengabdian

Membuka perhelatan, Ketua Umum PP IJABI, Ustaz Maran Sutarya, M.Pd., menyampaikan pidato reflektif. Mengutip figur almarhum Mas Darwan, Ustaz Maran mengingatkan jemaah tentang hakikat cinta sejati yang tak pernah melupakan Rasulullah saw., bahkan di detik-detik pengujung usia. Menautkan kelahiran Sang Nabi dengan falsafah kebangsaan, ia menyitir pemikiran Yudi Latif tentang “lima sila yang kerap menjadi luka” jika nilai-nilainya gagal dibumikan dalam laku nyata keadilan dan persaudaraan.

Semangat perkhidmatan tersebut tampak nyata dalam laporan jejak pengabdian yang dipaparkan oleh Ustaz Mulyawan Samad. Hingga usianya yang ke-26, IJABI telah menerbitkan 28 judul lebih buku berbobot karya para asatiz dan cendekiawan, seperti K.H. Miftah Fauzi Rakhmat dan Dr. Dimitri Mahayana. Melengkapi kiprah sosial-keagamaan, momentum ini juga menandai peluncuran program Ngobras (Ngobrol Agama dan Sains) dari Fathimiyyah, serta penguatan sayap aksi sosial IJABI Peduli dan KATAJI.

Menembus Empat Tembok Jahiliah

Hadir memberikan keynote speech, Direktur Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Ayatullah Prof. Sharifani. Beliau menegaskan bahwa peringatan milad Nabi saw. merupakan momentum paling esensial untuk merefleksikan kerja keras dalam meneladani akhlak Rasulullah saw. pada ranah praktis kemasyarakatan.

Merujuk pada Al-Qur’an dan lintasan tarikh, Ayatullah Sharifani menguraikan empat tantangan jahiliah yang berhasil ditaklukkan Nabi:

Kunci keberhasilan Rasulullah saw. dalam merombak tatanan tersebut bertumpu pada tiga fondasi utama: manifestasi akhlak mulia yang tak terbantahkan, pengagungan syiar-syiar ilahi (ta’zhim sya’air), serta manajemen dan tata kelola organisasi dakwah yang rapi dan profesional.

Menafsir Ulang Islam Cinta dan Wasathiyah

Sesi yang menjadi poros perbincangan publik adalah Seminar Kebangsaan yang dipandu moderator Muhammad Daffa, menghadirkan dua narasumber utama: Peneliti Senior BRIN Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani dan Ketua Dewan Syura PP IJABI K.H. Miftah Fauzi Rakhmat. Diskusi berlangsung dinamis, membedah bagaimana Islam Cinta hadir secara aktual dan berdialog dengan tantangan zaman.

Prof. Ahmad Najib Burhani: Wasathiyah adalah The Best Practice

Prof. Najib menantang cara pandang arus utama mengenai konsep moderasi. Menurutnya, ummatan wasathan bukanlah sekadar berdiri pasif di tengah-tengah, melainkan menjadi the best practice community—komunitas teladan yang melahirkan karya nyata dan kontribusi peradaban terbaik.

“Pertanyaannya: apakah kita sudah menjadi the best people? Coba periksa, berapa banyak umat Islam yang meraih Hadiah Nobel? Masih sangat sedikit. Artinya, kita belum sepenuhnya membumikan wasathiyah,” tegas Prof. Najib.

Bagi Najib, kejayaan Islam masa kini hanya bisa diraih kembali melalui penguasaan sains, teknologi, dan keilmuan. Beliau juga menyoroti pentingnya adopsi pilar gerakan transformatif seperti schooling, healing, feeding, dan preaching, seraya mewaspadai fenomena greenhorn (sikap kekanak-kanakan atau fanatisme sempit kelompok pemula) di setiap ormas yang kerap memicu fragmentasi dan perpecahan sosial.

K.H. Miftah Fauzi Rakhmat: Dari Penonton Menjadi Jembatan Peradaban

Melanjutkan tesis tersebut, K.H. Miftah Fauzi Rakhmat mengelaborasi relevansi Islam Alternatif. Beliau menukil ayat Al-Qur’an: “Wa yu’allimukum maa lam takuunuu ta’lamuun” (Dan mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui).

“Kata kerja yang digunakan adalah fi’il mudhari’ (present/continuous tense), bermakna proses pengajaran Nabi terus berlangsung hingga hari ini. Ayat ini disebutkan terpisah dari pengajaran Al-Kitab dan Hikmah, yang menandakan bahwa ruang lingkupnya mencakup seluruh ilmu pengetahuan duniawi dan sains modern,” urai Kang Miftah.

Mengenai karakter wasathiyah, K.H. Miftah. F. Rakhmatmenegaskan bahwa umat pertengahan bukan mereka yang bingung mencari kompromi kompas politik kiri-kanan, melainkan pihak yang menengahi dan menjembatani. Menengahi berarti proaktif menyelesaikan problem konkret kemanusiaan dan merajut kesalingpahaman di tengah konflik internal umat, termasuk dalam menyikapi kelompok minoritas seperti Ahmadiyah.

K.H. Miftah. F. Rakhmatmerumuskan tiga pilar membumikan Islam Cinta di Nusantara:

  1. Membangun Persahabatan Universal: Mampu bersahabat tulus dengan seluruh manusia, termasuk pihak yang berseberangan pandangan.
  2. Inklusivitas Komunitas: Terbuka dan membaur aktif dengan beragam latar belakang masyarakat.
  3. Dialog Kebudayaan: Menyebarkan narasi cinta yang berdialog ramah dengan kearifan lokal Nusantara, tanpa konfrontasi sengit terhadap tradisi kultural setempat.

Menyalakan Obor Peradaban

Perhelatan di Graha Konstruksi ini dipungkasi dengan untaian doa bersama dan kesaksian hangat dari para tokoh lintas ormas dan agama. Melalui kolaborasi PP IJABI dan PW IJABI Jakarta Raya, forum ini menegaskan komitmen kolektif: menolak sekadar menjadi penonton sejarah, melainkan memilih jalan perkhidmatan sunyi melalui ilmu, akhlak, dan karya nyata demi membumikan Islam Madani yang menaungi seluruh anak bangsa.

Exit mobile version