Site icon Majulah IJABI

Mengukur Kedudukan Manusia di Sisi Allah 

Sumber gambar: https://pin.it/4qyDkSF6q

 Oleh Mohammad Adlany, Ph.D. (Anggota Dewan Syura IJABI) 

Salah satu tema sentral dalam etika Islam adalah kesadaran manusia terhadap posisinya di hadapan Allah. Dalam pandangan Islam. nilai dan kedudukan seseorang di sisi Allah tidak diukur oleh banyaknya ucapan, ibadah formal, atau penampilan lahiriah, melainkan oleh kedalaman sikap batin terhadap Tuhan, khususnya saat manusia dihadapkan pada godaan dosa. Dalam konteks inilah, sabda Imam Ali as berikut menjadi pedoman spiritual dan moral yang amat mendalam: 

رُوِیَ عَنْ عَلیٍّ علیه السّلام قَالَ: مَنْ أَرَادَ مِنْکُمْ أَنْ یَعْلَمَ کَیْفَ مَنْزِلَتُهُ عِنْدَ اللَّهِ فَلْیَنْظُرْ کَیْفَ مَنْزِلَةُ اللَّهِ مِنْهُ عِنْدَ الذُّنُوبِ کَذَلِکَ مَنْزِلَتُهُ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَکَ وَ تَعَالَى 

“Barang siapa di antara kalian ingin mengetahui bagaimana kedudukannya di sisi Allah, maka hendaklah ia melihat bagaimana kedudukan Allah di sisinya ketika ia dihadapkan pada dosa. Maka sebesar itulah kedudukannya di sisi Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi.” (Bihar al-Anwar, jil. 70, hlm. 69). 

Sabda ini bukan hanya menggugah sisi spiritual, tetapi juga membuka ruang refleksi psikologis dan etis tentang hubungan antara manusia dan Tuhan. Ia menunjukkan bahwa momen paling jujur dalam kehidupan religius seseorang bukanlah ketika ia beribadah, melainkan ketika ia berada di hadapan dosa. 

Imam Ali as mengajarkan bahwa ukuran nilai manusia di sisi Allah dapat dilihat dari sejauh mana Allah memiliki tempat dalam hatinya ketika ia berhadapan dengan dosa. Ketika segala sarana untuk bermaksiat terbuka — na‘udzu billah — dan tidak ada seorang pun yang melihatnya, di situlah ukuran sebenarnya muncul: Apakah ia mengingat Allah dan menahan diri, ataukah ia mengabaikan-Nya dan melangkah ke dalam dosa? 

Jika Allah memiliki tempat yang agung dan mulia di hatinya, maka rasa takut dan malu kepada-Nya akan menghalanginya dari maksiat. Ia tidak akan berani melangkah, sebab hatinya berkata: “Tuhanku melarang hal ini, dan aku tidak akan melanggar perintah-Nya.” 

Namun jika Allah tampak kecil dalam pandangannya — sekadar konsep yang tak berdaya menahan dorongan hawa nafsu — maka mudah baginya untuk menyepelekan larangan Ilahi. Pada titik inilah kedudukannya di sisi Allah pun menjadi kecil dan hina. 

Amirul Mukminin Ali as menegaskan bahwa keagungan Allah dalam pandangan seseorang tampak bukan ketika ia sedang menaati Allah, melainkan ketika ia dihadapkan pada larangan-Nya. Mengapa demikian? Karena dalam ketaatan, seseorang bisa saja didorong oleh kebiasaan, lingkungan, atau bahkan motif duniawi. Tetapi dalam situasi dosa, tidak ada yang tersisa selain dirinya dan Tuhannya — momen kejujuran spiritual yang menyingkap sejauh mana Allah benar-benar hadir dalam kesadarannya. Dalam riwayat lain, beliau bersabda: 

لَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الذَّنْبِ وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى عِظَمِ مَنْ عَصَيْتَ 

“Janganlah engkau melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah kebesaran Zat yang sedang engkau durhakai.” 

(Bihar al-Anwar, jil. 67, hlm. 18). 

Ungkapan ini melengkapi sabda sebelumnya: dosa bukan sekadar pelanggaran terhadap hukum, melainkan cerminan dari sejauh mana seseorang menempatkan Tuhan dalam struktur nilai batinnya. Semakin kecil Tuhan dalam pandangan seseorang, semakin besar kemungkinan ia menyepelekan larangan-Nya. 

Refleksi Diri: Cermin Kedudukan di Sisi Allah 

Banyak orang bertanya: “Bagaimana aku tahu apakah Allah ridha kepadaku? Bagaimana aku tahu apakah aku dicintai oleh-Nya?” 

Imam Ali as memberikan ukuran yang sangat jernih: Lihatlah bagaimana engkau memperlakukan Allah ketika engkau dihadapkan pada dosa. 
Jika pada saat itu engkau merasa gentar, malu, dan takut untuk melangkah, maka ketahuilah bahwa Allah agung dalam hatimu, dan engkau pun agung di sisi-Nya. 

Namun jika engkau mendapati dirimu mudah meremehkan larangan-Nya, maka ketahuilah bahwa Allah kecil di matamu — dan karenanya, engkau pun rendah di sisi-Nya. 

Dengan demikian, penilaian tentang kedekatan spiritual bukanlah urusan mistik yang jauh dan samar, tetapi dapat diketahui melalui introspeksi etis yang jujur.  
Setiap kali seseorang menolak dosa karena kesadaran akan keagungan Allah, ia sedang meneguhkan martabat rohaninya di hadapan Tuhan. 

Walhasil, sabda Imam Ali as mengandung pelajaran moral yang mendalam: Kedudukan seseorang di sisi Allah sebanding dengan kedudukan Allah dalam dirinya. Hal ini menegaskan prinsip timbal balik antara kesadaran teologis dan perilaku moral. Etika Islam, sebagaimana tergambar dalam ucapan Imam Ali as, bukan sekadar kepatuhan lahiriah, tetapi refleksi dari orientasi batin terhadap Tuhan. 

Oleh karena itu, setiap individu yang ingin mengukur kemuliaannya di sisi Allah tidak perlu menunggu penilaian orang lain atau menanti tanda-tanda metafisik; cukup ia menengok ke dalam dirinya sendiri — bagaimana ia memperlakukan Allah ketika berada di hadapan dosa. Di sanalah ukuran sejati iman, ketulusan, dan kemuliaan ditemukan. 

Exit mobile version