JEMBER – Semangat menuntut ilmu dan mempererat tali silaturahmi mewarnai pertemuan rutin Fathimiyah Pengurus Daerah Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (PD IJABI) Kota Jember ke-11. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 18 Oktober 2026, di kediaman Ibu Sugiarti, Gunungsari, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember.
Pertemuan yang diisi dengan pengajian dan kajian keislaman ini juga menjadi momen istimewa bagi keluarga tuan rumah yang tengah menyelenggarakan doa empat bulanan kehamilan menantunya. Suasana kebersamaan dan kekeluargaan terasa dalam setiap rangkaian acara, yang tidak hanya menjadi sarana menimba ilmu, tetapi juga memperkuat ikatan persaudaraan di antara anggota Fathimiyah.
Pertemuan kali ini juga terasa istimewa dengan hadirnya perwakilan Muslimah ABI Jember, yakni Ketua Muslimah ABI Jember, Ibu Sunarsih, bersama Mbak Agustin Fitriana. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari upaya mempererat tali silaturahmi serta memperkuat kebersamaan antarkomunitas perempuan dalam menimba ilmu dan mengembangkan nilai-nilai keislaman.
Mengawali Pertemuan dengan Tilawah dan Doa
Sebagaimana pertemuan rutin sebelumnya, kegiatan diawali dengan pembukaan, doa terkhusus ust Jalaludin Rakhmat dan istri, serta para almarhumin guru-guru dan orang tua jamaah, dilanjutkan pembacaan Surah Yasin, Al-Waqi’ah, dan Al-Mulk. Rangkaian ibadah kemudian diteruskan dengan doa tawassul, doa Faraj, dan Taufiqut Tha’ah.
Lantunan ayat suci Al-Qur’an dan doa bersama menghadirkan suasana khidmat. Dalam kesempatan tersebut, para peserta juga memanjatkan doa bagi calon bayi dan ibunya agar senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, serta kemudahan hingga proses persalinan nanti.
Kultum: Mengenali Syirik Lahir dan Batin
Memasuki sesi kultum, Bapak Toni Herlambang, salah seorang senior IJABI Kota Jember, menyampaikan materi tentang syirik. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan dua bentuk syirik, yakni syirik lahiriah (syirik dhohir) dan syirik batiniah.
Syirik lahiriah dijelaskan sebagai tindakan menyekutukan Allah melalui penyembahan kepada selain-Nya. Sementara itu, syirik batiniah dikaitkan dengan penyakit hati, seperti riya, ujub, dan kesombongan.
Materi ini mengajak peserta untuk senantiasa menjaga kemurnian tauhid, tidak hanya dalam tindakan lahiriah, tetapi juga dalam niat dan sikap hati. Sebab, upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT perlu disertai kesungguhan dalam membersihkan hati dari sifat-sifat yang dapat merusak keikhlasan.
Dalam rangkaian kegiatan ini, disampaikan pula penjelasan mengenai perkembangan calon bayi sebagai bagian dari penguatan pemahaman keagamaan dalam momen empat bulanan kehamilan.
Reading Book: Menggali Hikmah Nahjul Balaghah
Sesi yang tak kalah menarik adalah reading book atau membaca dan mengkaji buku bersama. Pada pertemuan kali ini, para peserta membaca buku Hikmah-Hikmah Nahjul Balaghah Jilid 1 karya Ustazah Fathimah Maksumah.
Pembahasan berfokus pada dua hikmah yang sarat dengan pesan moral dan sosial, yakni Hikmah 1: Menghadapi Fitnah dan Hikmah 2: Hindari Tamak Negatif, Raihlah Tamak Positif.
Pada Hikmah 1, peserta diajak memahami pentingnya menjaga diri agar tidak menjadi bagian dari penyebaran fitnah maupun kekacauan di tengah masyarakat.
Ada beberapa pesan penting yang digarisbawahi, yaitu tidak membiarkan diri, harta, dan tenaga dimanfaatkan sebagai pasokan bagi fitnah; tidak menjadi pelindung atau tameng bagi pihak yang menyebarkan fitnah; serta tidak membantu orang yang menyebabkan kekacauan di masyarakat.
Dalam pembahasan tersebut, peserta juga diingatkan akan pesan Imam Ali as:
“Jangan enggan untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, tetapi perjuangkanlah kebenaran dengan apa saja yang mudah dilakukan, di setiap waktu dan tempat.”
Pesan ini menegaskan bahwa setiap orang memiliki peran dalam menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuan dan keadaan masing-masing. Sikap kritis, keberanian membela kebenaran, dan tanggung jawab sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Selanjutnya, Hikmah 2 membahas pentingnya menghindari ketamakan yang merendahkan martabat manusia sekaligus mengarahkan keinginan kepada hal-hal yang bernilai positif.
Imam Ali as menyampaikan:
“Orang yang mengenakan pakaian keserakahan berarti telah mempermalukan dirinya sendiri, orang yang menampakkan kesulitannya berarti telah rela atas kerendahan dirinya, dan orang yang menjadikan lidahnya pemerintah atas dirinya berarti telah menghinakan dirinya sendiri.”
Pesan tersebut menjadi bahan refleksi bersama mengenai pentingnya mengendalikan keinginan, menjaga kehormatan diri, dan menggunakan lisan secara bijaksana.
Salah satu bentuk ketamakan negatif yang dibahas adalah eksploitasi lingkungan demi kepentingan ekonomi. Fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi perhatian publik turut disinggung dalam diskusi. Peserta mendiskusikan bagaimana keserakahan manusia dapat mendorong pemanfaatan lahan secara berlebihan, termasuk ketika kepentingan industri mengabaikan kelestarian lingkungan.
Padahal, setiap kawasan memiliki fungsi dan peruntukan yang perlu dijaga, baik untuk pertanian, perkebunan sawit, lahan gambut, maupun kawasan konservasi dan taman nasional. Ketika kepentingan ekonomi mengalahkan tanggung jawab ekologis, kerusakan lingkungan dapat menjadi konsekuensi yang harus ditanggung bersama.
Dari pembahasan ini, peserta diajak menyadari bahwa ketamakan bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga dapat berdampak luas terhadap kehidupan sosial dan kelestarian alam.
Namun, tidak semua bentuk keinginan harus dihindari. Ada pula tamak positif, yakni keinginan yang kuat untuk memperoleh rahmat dan ampunan Allah SWT. Keinginan semacam ini justru menjadi dorongan bagi manusia untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Diskusi berlangsung seru, hangat, dan penuh antusiasme. Para peserta terlibat dalam pembacaan serta pembahasan materi hingga waktu terasa berlalu begitu cepat. Suasana ini menunjukkan bahwa kegiatan membaca bersama dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus memperkaya wawasan keagamaan dan sosial.
Merawat Silaturahmi, Mengamalkan Ilmu
Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, acara ditutup dan dilanjutkan dengan santap siang bersama. Momen sederhana ini menjadi kesempatan untuk mempererat persaudaraan, berbagi cerita, dan merawat kehangatan di antara anggota Fathimiyah.
Pertemuan ke-11 ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan juga ikhtiar bersama untuk terus menjemput ilmu, memperbaiki diri, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.
Harapannya, ilmu dan hikmah yang diperoleh tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga setiap langkah kecil dalam menuntut ilmu, mempererat silaturahmi, dan memberikan pengkhidmatan menjadi bagian dari kecintaan kepada Rasulullah SAWW dan para Aimmah as.
Semoga ikhtiar sederhana ini membawa keberkahan dan menjadi sebab kebahagiaan Rasulullah SAWW serta keluarga sucinya.
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
By Bundae AfaFikri

