Majulah IJABI

Menyingkap Presisi dan Keindahan Mukjizat dalam Bedah Buku Daqâ’iq Al-Qur’ân 

17 Mei 2026– Aula Dr. K.H. Jalaluddin Rakhmat di kawasan Babakan Sari, Kiaracondong, kembali menjadi saksi bisu lestarinya estafet intelektual dan spiritual yang diwariskan oleh Allahyarham MahaGuru. Pada Ahad sore, 17 Mei 2026, ratusan jamaah dan pencinta ilmu memadati ruangan untuk menghadiri Pengajian Ahad Al-Munawwarah yang dikemas dalam bentuk Bedah Buku monumental: “DAQÂ’IQ AL-QUR’ÂN: Menelisik Presisi dan Keindahan Makna Al-Qur’an” karya K.H. Miftah F. Rakhmat. Acara yang berlangsung khidmat sejak pukul 13.30 WIB ini menghadirkan langsung sang penulis, Ustaz Miftah F. Rakhmat, bersama pakar hermeneutika dan filsafat, Prof. Dr. H. Robby Habiba Abror, M.Hum., sebagai narasumber.

Al-Qur’an Lebih dari Sekadar Terjemahan 
Mengawali diskusi, bedah buku ini langsung menukik pada kegelisahan akademik dan spiritual yang mendasar: keterbatasan terjemahan. Dalam pemaparannya, terungkap bahwa Al-Qur’an memiliki keunikan linguistik intrinsik (balaghah dan fashahah) yang sering kali “hilang” atau terpaksa disederhanakan saat dialihkan ke dalam bahasa Indonesia. Terjemahan, bagaimanapun, bukanlah Al-Qur’an itu sendiri. Salah satu contoh presisi yang dibahas adalah perbedaan antara redaksi Aqimis-shalah dan Aqimush-shalah. Di dalam mushaf terjemahan, keduanya dipukul rata dengan arti yang sama: “Dirikanlah shalat”. Padahal, melalui pendekatan Daqaiq (kelembutan makna), perubahan harakat dan huruf tersebut mengisyaratkan perbedaan khitab (objek bicara), penekanan psikologis, serta konteks situasi yang berbeda saat ayat tersebut diturunkan. Buku yang lahir dari proses panjang selama 3 tahun—melalui diskusi mendalam bersama para editor dan guru-guru otoritatif—ini membuktikan secara ilmiah bahwa keindahan Al-Qur’an bukan sekadar dogma untuk diyakini secara buta, melainkan struktur mukjizat yang dapat dibuktikan melalui kaidah bahasa yang luas. 

Para Narasumber


Kunci Rahmat dan Keberanian Suluk 
Prof. Dr. H. Robby Habiba Abror, M.Hum., dalam ulasannya menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi. Beliau menyebut Ustaz Miftah sebagai “hadiah Tuhan untuk Indonesia” karena kemampuannya mengurai persoalan agama yang rumit menjadi ulasan yang bernas, hangat, dan solutif. Prof. Robby kemudian mengajak hadirin membedah rahasia tulisan (rasm) di dalam Al-Qur’an, seperti penulisan kata rahmat menggunakan ta maftuhah (\tau / terbuka) yang berbeda maknanya dengan ta marbuthah (\bar{\tau} / terikat). Penulisan dengan ta terbuka acapkali mengisyaratkan rahmat atau nikmat yang sudah mewujud nyata dan bisa langsung dirasakan di dunia. “Buku ini mengajak dan memaksa para pembaca melakukan pendakikan ke puncak makna agar memperoleh kedalaman makna Qur’an,” ujar Prof. Robby. Beliau juga menambahkan bahwa keberanian penulis menyingkap tabir Daqaiq ini menunjukkan sebuah pencapaian suluk (perjalanan spiritual) yang matang, hasil dari ketekunan berjibaku mencari permata di tumpukan kitab-kitab referensi klasik (turats).

Jembatan Inklusifitas dan Panduan Spiritual 
Selain mengupas aspek huruf, angka, dan pola unik, keunggulan utama dari buku Daqâ’iq Al-Qur’ân ini adalah pendekatannya yang sangat inklusif. Ustaz Miftah dengan apik memadukan wawasan dari khazanah mazhab Ahlus Sunnah dan tradisi Ahlul Bait Nabi, menghasilkan sebuah perspektif tafsir yang kaya, seimbang, dan menyejukkan bagi ukhuwah Islamiyah. Meskipun memuat isi yang mendalam, gaya penulisan buku ini tetap ramah dan penuh kehangatan, sehingga menjadikannya panduan spiritual yang praktis dan dapat diakses oleh semua kalangan—bukan hanya bagi para akademisi, tetapi juga masyarakat awam yang merindukan kedekatan dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Acara alap berkah ini ditutup menjelang asar dengan doa bersama, membawa pulang semangat baru bagi jamaah Al-Munawwarah untuk tidak sekadar membaca Al-Qur’an, melainkan mulai mendaki dan menikmati keindahan maknanya yang tanpa tepi.  

Exit mobile version