Indramayu, 22 Mei 2026.
Keberangkatan Menuju Kota Mangga
Pagi ini, sebelum matahari menampakkan diri, tim konseling Fathimiyyah sudah bersiap berangkat ke kota penghasil mangga terbesar di Jawa Barat. Bukan tanpa tujuan dan bukan hanya acara healing sebagaimana yang banyak dilakukan oleh ibu-ibu zaman sekarang, atau bukan sekadar berburu kuliner seperti yang sering dilakukan oleh banyak perempuan. Namun, bagi lima orang ibu yang sudah mendedikasikan diri untuk berkhidmat, memberikan manfaat kepada banyak orang, dan memberikan nilai positif pada masyarakat sekitar, udara pagi yang dingin bukanlah hal yang memberatkan dan bukan sebuah rintangan yang berarti.
Tim konseling Fathimiyyah yang terdiri dari Ibu Khadijah sebagai leader, Ibu Rini Rahmawaty, Ibu Farida Trisnawaty, Ibu Elsa Marina, dan Ibu Euis Mimin, berjalan menyusuri gelapnya dunia konseling dan kesehatan mental. Mereka berniat membantu banyak orang yang tersesat dalam kelamnya kesehatan mental karena tidak paham ke mana harus meminta pertolongan.
Ruang Hangat di SMA NU Juntinyuat

Perjalanan menuju Indramayu kali ini bukan sekadar perjalanan biasa. Roda yang berputar membawa kami ke SMA NU Juntinyuat dengan satu tujuan: duduk bersama, mendengar cerita, dan membuka ruang bagi siswa-siswi untuk mengenali diri lebih dalam. Jalanan yang panjang terasa ringan karena ada harapan kecil yang kami bawa; semoga obrolan hari ini bisa menjadi titik balik bagi siapa pun yang sedang terjebak dalam kegelapan, sedang mencari titik terang, dan sedang mencari arah.
Begitu kaki menginjak halaman sekolah, sambutan hangat dari bapak-ibu guru dan sorot mata penasaran siswa langsung menghangatkan suasana. Sambutan dari Kepala Sekolah, Ibu Novi Assirotun Nabawiyah, S.E., M.A.P.—yang juga seorang aktivis KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia)—yang begitu hangat membuat kami merasa sangat diterima. Hampir tiga puluh menit kami saling memperkenalkan diri secara pribadi maupun memperkenalkan Fathimiyyah dan Mutti Cahaya Bumi sebagai organisasi yang kami bawa, tempat selama ini kami memberikan pengabdian dan pengkhidmatan.
Kami berjalan melewati lorong kelas dan tangga menuju lantai dua yang lebarnya hanya untuk satu orang saja. Dindingnya dingin dan mulai pudar karena ditelan waktu, namun semangat di dalam ruang aula jauh lebih hangat dan lebih terang. Begitu kami membuka sesi, awalnya suasana masih kaku. Namun, kemudian suasana menjadi hangat dan cair setelah mendengar berbagai celotehan dari para siswi yang mendominasi ruangan saat itu. Momen ini bertepatan dengan hari Jumat, di mana para siswa banyak yang sudah pulang duluan karena harus melaksanakan kewajiban salat Jumat.
Sesi berikutnya adalah duduk bersama para siswa-siswi yang rata-rata masih dalam usia remaja; usia yang masih labil dan sering kali emosinya belum stabil. Maka, kami tidak heran jika kemudian hasil poling yang diberikan kepada mereka angkanya cenderung menunjukkan gejala emosional yang cukup tinggi. Angka yang didapat dari hasil poling tersebut tidak mewakili keseluruhan siswa SMA NU Juntinyuat, melainkan hanya mewakili personal siswa-siswi yang mengisi.
Waktu semakin bergerak merangkak dan matahari persis berada di atas kepala, namun obrolan belum mau berhenti. Sampai akhirnya kami diingatkan bahwa waktu sudah habis dan para siswi sudah saatnya pulang ke rumah masing-masing. Sebelum kami pamit, kami memberikan oleh-oleh berupa buku yang diserahkan kepada Kepala Sekolah. Semoga hadiah kecil ini akan menjadi kenangan dan motivasi bagi sekolah serta para siswa-siswi SMA NU Juntinyuat.
Rehat Sejenak dan Silaturahmi Tokoh
Selepas dari SMA NU Juntinyuat, sejenak kami beristirahat dan makan siang di pinggir Pantai Dadap dengan diantar oleh Ketua PD IJABI Indramayu, Drs. Rachman Nurdin, M.M.Pd. Kami menikmati semilir angin pantai dan ikan bakar yang tersaji menggoda selera.
Selesai makan siang, kami bersiap untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan seorang tokoh Ahlulbait Indramayu, Ustaz Amir. Dengan perjalanan sekitar tiga puluh menit, kami akhirnya sampai di masjid tempat pengajian Ustaz Amir diselenggarakan. Kami pun salat terlebih dahulu sebelum mendengarkan tausiah yang disampaikan oleh Ustaz Amir.
Berbagi Pencerahan di Tengah Jemaah
Hujan menemani kami, namun tidak menyurutkan semangat yang masih menyala. Dalam pertemuan singkat namun penuh makna, Ibu Khadijah diberikan kesempatan untuk menjelaskan tentang organisasi Fathimiyyah dan kehadiran kami di tengah-tengah jemaah pengajian yang dihadiri oleh mayoritas ibu-ibu.
Dalam kesempatan tersebut, Ibu Elsa Marina pun didapuk untuk memberikan pembekalan kesehatan mental. Dengan membawakan tema 5P (pola napas, pola pikir, pola makan, pola tidur, dan pola gerak) untuk mendeteksi kesehatan mental, jemaah dibawa dalam suasana edukasi yang saling mendukung, berdiskusi, dan saling memberikan informasi. Suasana terasa sangat hangat di dalam balutan udara Indramayu yang membuat tangan kami tidak pernah melepaskan kipas untuk sekadar mencari sedikit kesejukan.
Jejak yang Tertinggal
Langkah kami meninggalkan SMA NU Juntinyuat, kemudian menuju masjid tempat kami bersilaturahmi dan berbagi pencerahan, meninggalkan sebuah kesan yang sangat berarti. Indramayu menjauh di belakang, tetapi cerita-cerita yang kami dengar dan kami alami akan terus mengikuti kami. Karena sejatinya, perjalanan konseling bukan cuma tentang datang dan pergi, tetapi tentang jejak kecil yang tertinggal dan harapan besar yang dibiarkan tumbuh.