Site icon Majulah IJABI

Nabi dan Kesadaran Ketuhanan 

Sumber gambar: https://pin.it/5mReGmoPq

Oleh Mohammad Adlany, Ph.D.(Anggota Dewan Syura IJABI) 

Al-Qur’an menegaskan bahwa tanda-tanda Tuhan hadir di setiap arah kehidupan manusia. Dalam QS. Al-Baqarah [2]:115 disebutkan: 

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ 

“Milik Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun engkau menghadap, di sana terdapat wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” 

Ayat ini menegaskan bahwa realitas ketuhanan melingkupi segala sesuatu. Dengan demikian, setiap manusia sesungguhnya tidak pernah lepas dari kehadiran Tuhan. Namun muncul pertanyaan: jika demikian, mengapa Nabi masih perlu diutus? Bukankah kesadaran akan Tuhan sudah inheren dalam diri manusia? 

Al-Qur’an menyebut bahwa setiap manusia telah membawa fitrah pengenalan terhadap Tuhan. Dalam QS. Ar-Rum [30]:30 ditegaskan: 

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا 

“(Itulah) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” 

Artinya, manusia pada dasarnya telah memiliki kecenderungan alami untuk mengenal Tuhan. Dari perspektif ini, dapat dikatakan bahwa seluruh manusia memang “bertuhan”. Kesadaran ini bukan hasil ciptaan budaya atau tradisi semata, melainkan sesuatu yang melekat pada esensi kemanusiaan. 

Meski setiap manusia memiliki fitrah ketuhanan, Al-Qur’an menegaskan dimensi lain yang lebih mendalam: seluruh wujud manusia bersifat relasional, bergantung secara mutlak kepada Tuhan. Dalam QS. Fāṭir [35]:15 dinyatakan: 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ 

“Wahai manusia! Kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” 

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya menyadari adanya Tuhan, melainkan juga menyadari dirinya sebagai wujud yang bergantung secara mutlak kepada-Nya. Dengan kata lain, relasi manusia dengan Tuhan bukan sekadar relasi etis atau normatif, melainkan relasi ontologis: manusia ada karena Tuhan. 

Mulla Ṣadra, filsuf besar Islam, menekankan bahwa seluruh wujud di alam semesta ini bersifat eksistensi-relasional. Artinya, realitas apa pun selain Tuhan tidak memiliki keberadaan independen, melainkan hadir sebagai relasi murni kepada Wujud Mutlak. Segala yang ada di alam hanyalah pancaran (tajalli) dari eksistensi Tuhan yang absolut. 

Dalam kerangka ini, ungkapan “antum al-fuqara ila Allah” dipahami bukan sekadar secara moral, melainkan ontologis: kemiskinan manusia terhadap Tuhan bukanlah kondisi tambahan, melainkan esensi atau hakikat keberadaannya. Manusia adalah faqir karena wujudnya sendiri tiada arti tanpa kontinuitas emanasi dari Tuhan. 

Meskipun relasi ontologis ini melekat pada diri manusia, akal manusia sering gagal menangkapnya secara murni. Nafsu, tradisi, kekuasan, kekayaan, dan tafsir subjektif dapat mendistorsi fitrah dan menjerumuskan manusia dalam bentuk penyembahan palsu atau penolakan terhadap Tuhan. 

Oleh karena itu, Nabi diutus untuk membangunkan kesadaran manusia, menyelaraskan fitrah dengan hukum Ilahi, serta mengajarkan bagaimana eksistensi-relasional itu diwujudkan dalam kehidupan nyata: melalui ibadah, akhlak, dan pengabdian. 

Kesadaran akan adanya Tuhan tidak serta merta memberi manusia petunjuk praktis tentang bagaimana cara hidup yang benar. Nabi hadir sebagai penafsir kehendak Ilahi melalui wahyu. Dengan wahyu, Nabi mengajarkan bahwa keberadaan manusia sebagai “faqir” terhadap Tuhan menemukan maknanya hanya jika diarahkan kepada ibadah dan ketaatan. 

Selain itu, Nabi adalah cermin akhlak Ilahi. Hadis menegaskan: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Dalam perspektif Sadrian, Nabi adalah manifestasi tertinggi dari wujud kontingen yang sepenuhnya terhubung dengan Wujud Mutlak, sehingga menjadi refleksi paling sempurna dari wajah Tuhan dalam semua aspek kehidupan manusia. 

Walhasil, ayat “ke mana pun engkau menghadap, di sana wajah Allah” menegaskan universalitas kehadiran Tuhan. Ayat “antum al-fuqara ila Allah” memperdalam makna itu dengan menegaskan bahwa manusia tidak hanya menyadari Tuhan, tetapi juga menyadari bahwa keberadaannya bersifat relasional dan bergantung mutlak pada Tuhan. 

Konsep eksistensi-relasional Mulla Ṣadra semakin menegaskan bahwa realitas apa pun selain Tuhan hanyalah pancaran,  emanasi, manifestasi, dan tajalli, bukan entitas independen. Dengan kesadaran inilah, peran Nabi menjadi jelas: Nabi hadir untuk menghidupkan fitrah, meluruskan distorsi, serta membimbing manusia agar eksistensi-relasionalnya terwujud dalam bentuk ketaatan, ibadah, dan akhlak. Dengan demikian, pengutusan Nabi adalah jaminan agar kesadaran ketuhanan tidak berhenti pada abstraksi dan konsep semata, tetapi terwujud dalam kehidupan yang konkret dan bermakna. 

Exit mobile version