Penulis Jurnal: Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik
Perguruan Tinggi: Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
Jurnal: Jurnal Edu Research, Volume 6 Nomor 4, Januari 2026
Judul: Pluralisme Agama Perspektif Jalaluddin Rakhmat dan Relevansinya terhadap Kebebasan Beragama di Indonesia
⸻
Ada satu kata yang mungkin paling sering disalahpahami ketika nama Kang Jalal disebut.
Pluralisme.
Sebagian orang mendengarnya lalu langsung membayangkan semua agama dianggap sama. Ada pula yang mengira pluralisme berarti mencampuradukkan ajaran agama hingga kehilangan identitas masing-masing. Bahkan tidak sedikit yang menjadikan kata itu sebagai stigma tanpa pernah membaca langsung apa yang sebenarnya ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat.
Padahal, jika membuka karya-karyanya secara utuh, kita justru menemukan sesuatu yang berbeda.
Kang Jalal tidak sedang menghapus batas-batas agama. Ia juga tidak mengajak orang berpindah-pindah keyakinan atau membuat agama baru hasil campuran berbagai ajaran. Yang ia bangun adalah sebuah etika hidup bersama di tengah masyarakat yang memang sejak awal diciptakan beragam.
Inilah yang berusaha dijelaskan kembali oleh Mutiara Afrilia dan Zulfan Taufik melalui penelitian mereka. Menariknya, jurnal ini tidak berhenti pada penjelasan teori pluralisme, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas Indonesia yang setiap hari hidup di tengah keberagaman agama, budaya, dan etnis.
⸻
Indonesia Memang Dilahirkan Beragam
Bangsa Indonesia tidak pernah lahir sebagai masyarakat yang seragam.
Sejak awal, negeri ini terdiri atas ratusan suku, bahasa, budaya, dan agama. Para pendiri bangsa menyadari kenyataan tersebut sehingga UUD 1945 memberikan jaminan bahwa setiap warga negara bebas memeluk agama dan beribadah menurut keyakinannya masing-masing.
Bagi Kang Jalal, fakta keberagaman itu bukan masalah yang harus dihilangkan. Justru itulah kenyataan sosial yang harus diterima dengan lapang dada.
Perbedaan tidak otomatis melahirkan konflik.
Yang melahirkan konflik adalah ketika manusia merasa dirinya satu-satunya pemilik kebenaran, lalu kehilangan kemampuan menghormati orang lain.
Karena itu, pluralisme menurut Kang Jalal bukan pertama-tama berbicara tentang agama lain. Ia berbicara tentang bagaimana kita memperlakukan sesama manusia yang berbeda keyakinan.
⸻
Pluralisme Bukan Sinkretisme
Inilah bagian paling menarik dalam jurnal ini.
Penulis menunjukkan bahwa Jalaluddin Rakhmat secara tegas membedakan pluralisme dari sinkretisme. Dua istilah itu sering disamakan, padahal maknanya sangat berbeda.
Sinkretisme adalah usaha mencampurkan berbagai ajaran agama menjadi satu sistem kepercayaan baru.
Pluralisme tidak demikian.
Pluralisme tetap mengakui bahwa setiap agama memiliki ajaran, ritual, dan akidah yang berbeda. Seorang Muslim tetap menjadi Muslim. Seorang Kristen tetap menjadi Kristen. Seorang Hindu tetap menjadi Hindu.
Yang berubah bukan keyakinannya, melainkan cara memandang orang lain.
Kita tetap meyakini agama sendiri sebagai jalan hidup yang kita pilih, tetapi pada saat yang sama kita menghormati hak orang lain untuk meyakini agamanya.
Dalam bahasa sederhana, pluralisme bukan mencampur agama, melainkan membangun peradaban bersama.
⸻
Analogi Lotre yang Sulit Dilupakan
Untuk menjelaskan perbedaan antara pluralisme dan sinkretisme, Kang Jalal menggunakan sebuah ilustrasi yang sangat sederhana.
Beliau mengibaratkannya seperti membeli tiket lotre.
Orang yang percaya hanya ada satu tiket yang menang akan membeli sebanyak mungkin tiket agar peluang menang semakin besar.
Tetapi jika setiap tiket memiliki peluang yang sama, tidak ada gunanya membeli semuanya.
Demikian pula dalam beragama.
Seorang penganut sinkretisme merasa perlu mengumpulkan berbagai agama sekaligus demi mencari keselamatan.
Sebaliknya, seorang pluralis cukup berpegang teguh pada agamanya sendiri, tanpa merasa perlu menghapus atau mengambil identitas agama lain.
Analogi sederhana ini membuat konsep pluralisme yang sering terdengar rumit menjadi mudah dipahami oleh masyarakat awam.
⸻
Mengapa Tuhan Membiarkan Agama Berbeda?
Di sinilah letak kekhasan pemikiran Kang Jalal.
Beliau tidak melihat keberagaman agama sebagai kegagalan sejarah manusia.
Sebaliknya, keberagaman itu dipandang sebagai bagian dari kehendak Tuhan.
Kalau Tuhan menghendaki semua manusia memiliki keyakinan yang sama, tentu Dia mampu melakukannya.
Namun kenyataannya tidak demikian.
Manusia hidup dalam keberagaman.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa agama berbeda, tetapi bagaimana manusia tetap dapat hidup damai di tengah perbedaan tersebut.
Menurut Kang Jalal, keberagaman menjadi ruang bagi manusia untuk berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling meniadakan.
⸻
Agama Berbeda, Nilai Kemanusiaan Bertemu
Jurnal ini juga menunjukkan bahwa Kang Jalal membedakan antara syariat dan nilai-nilai universal.
Setiap agama memang memiliki aturan ibadah, hukum, dan tata cara yang berbeda.
Perbedaan itu nyata.
Tidak perlu disembunyikan.
Namun di balik perbedaan tersebut terdapat nilai-nilai kemanusiaan yang hampir selalu bertemu: kejujuran, kasih sayang, keadilan, kepedulian terhadap sesama, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Karena itu, dialog antaragama menurut Kang Jalal bukan dimulai dari mencari siapa yang paling benar.
Dialog dimulai dari mencari bagaimana manusia bisa bekerja sama untuk menghadirkan lebih banyak kebaikan.
⸻
Kebebasan Beragama Tidak Berarti Bebas Menyakiti
Penulis jurnal kemudian menghubungkan pemikiran Kang Jalal dengan konsep kebebasan beragama di Indonesia.
Kebebasan beragama adalah hak setiap manusia.
Tetapi hak tersebut tidak boleh berubah menjadi alasan untuk menghina keyakinan orang lain.
Dalam hukum hak asasi manusia pun dikenal perbedaan antara kebebasan seseorang untuk meyakini suatu agama dan cara mengekspresikannya di ruang publik.
Karena itu, kebebasan selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab sosial.
Pemikiran Kang Jalal justru memperkuat keseimbangan tersebut.
Menghormati agama orang lain bukan berarti mengurangi keyakinan kepada agama sendiri.
Sebaliknya, penghormatan itulah yang menunjukkan kedewasaan iman.
⸻
Ketika Perbedaan Menjadi Jalan Menuju Kedamaian
Jurnal ini juga mengangkat sejumlah konflik yang pernah terjadi di Indonesia sebagai pengingat bahwa keberagaman selalu membutuhkan kedewasaan.
Indonesia tidak kekurangan agama.
Indonesia tidak kekurangan rumah ibadah.
Yang sering kurang justru kemampuan mendengar dan memahami orang yang berbeda.
Di sinilah pemikiran Kang Jalal tetap relevan.
Pluralisme bukan proyek akademik.
Pluralisme adalah keterampilan hidup.
Ia mengajarkan bahwa masyarakat yang damai tidak dibangun dengan menyeragamkan semua orang, melainkan dengan menghormati keberagaman yang memang sudah menjadi kenyataan sejak awal bangsa ini berdiri.
⸻
Membaca Kang Jalal Hari Ini
Lebih dari dua puluh tahun setelah buku-buku tentang pluralisme itu diterbitkan, perdebatan mengenai agama ternyata belum selesai.
Media sosial membuat orang semakin mudah berdebat, tetapi belum tentu semakin mudah saling memahami.
Di tengah situasi seperti itu, membaca kembali Kang Jalal terasa penting.
Bukan untuk mencari pembenaran atas satu kelompok tertentu.
Melainkan untuk belajar melihat manusia sebelum melihat label agamanya.
Karena pada akhirnya, pertanyaan terbesar dalam kehidupan beragama bukanlah berapa banyak perdebatan yang kita menangkan.
Melainkan, apakah agama telah membuat kita menjadi pribadi yang lebih adil, lebih lembut, lebih jujur, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Mungkin di situlah inti pluralisme yang ingin diwariskan Kang Jalal: bukan menyamakan semua agama, tetapi mengingatkan bahwa Tuhan menguji manusia bukan dari kemampuannya mengalahkan orang lain, melainkan dari kesungguhannya menghadirkan kebaikan di tengah keberagaman.
Ketika Pluralisme Bertemu Realitas Indonesia
Salah satu kekuatan jurnal ini adalah keberaniannya membawa pemikiran Kang Jalal keluar dari ruang teori. Penulis tidak berhenti menjelaskan apa itu pluralisme, tetapi mencoba melihat bagaimana gagasan tersebut bekerja dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Di sinilah relevansi pemikiran Jalaluddin Rakhmat terasa semakin nyata.
Indonesia bukan negara yang dibangun di atas satu agama, satu suku, atau satu bahasa. Sejak awal, bangsa ini memilih hidup bersama di tengah keragaman. Pilihan itu bukan tanpa risiko. Perbedaan selalu menyimpan potensi gesekan. Karena itu, menurut jurnal ini, kebebasan beragama tidak cukup dijaga oleh aturan hukum semata. Ia juga membutuhkan kedewasaan moral masyarakat.
Dalam perspektif Jalaluddin Rakhmat, pluralisme bukan sekadar konsep politik atau slogan toleransi. Ia merupakan sikap batin yang lahir dari kesadaran bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Menghormati orang lain bukan berarti menyetujui seluruh keyakinannya. Menghormati berarti mengakui haknya untuk hidup, beribadah, dan menjalankan agamanya tanpa rasa takut.
Cara pandang seperti ini menjadi sangat penting ketika masyarakat semakin mudah terbelah oleh isu-isu keagamaan. Perbedaan pendapat yang dahulu diselesaikan melalui dialog kini sering berubah menjadi saling memberi cap. Orang lebih cepat menghakimi daripada memahami. Di tengah suasana seperti itu, gagasan Kang Jalal justru mengajak kita memperlambat langkah: sebelum menilai seseorang, cobalah memahami lebih dahulu mengapa ia berpikir demikian.
Penulis jurnal juga menunjukkan bahwa pluralisme yang dipahami Jalaluddin Rakhmat memiliki landasan konstitusional yang kuat. Kebebasan beragama telah dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945. Artinya, menghormati pemeluk agama lain bukan sekadar pilihan etis, tetapi juga bagian dari komitmen kebangsaan Indonesia. Dengan demikian, menjadi Muslim yang taat dan menjadi warga negara yang menghormati keberagaman bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru keduanya dapat berjalan beriringan.
Di sinilah letak keunikan pemikiran Kang Jalal. Ia tidak mengajak umat Islam mengurangi keyakinannya sendiri demi menghormati orang lain. Sebaliknya, ia mengajak setiap orang memperdalam agamanya hingga melahirkan akhlak yang mulia. Semakin dalam seseorang mengenal Tuhannya, seharusnya semakin luas pula kasih sayangnya kepada sesama manusia.
Dengan demikian, pluralisme menurut Kang Jalal bukanlah proyek menyeragamkan agama-agama. Ia adalah ikhtiar membangun masyarakat yang mampu hidup berdampingan tanpa kehilangan identitasnya masing-masing. Dan bagi Indonesia, yang sejak awal berdiri di atas keberagaman, gagasan itu tetap relevan hingga hari ini.
Membaca Kang Jalal Bukan Berarti Harus Sepakat
Barangkali inilah pelajaran yang paling menarik dari jurnal ini. Penulis tidak sedang meminta pembacanya menerima seluruh pandangan Jalaluddin Rakhmat tanpa kritik. Yang mereka lakukan justru lebih sederhana sekaligus lebih ilmiah: mengajak kita membaca langsung gagasan Kang Jalal sebelum memberi penilaian.
Sikap seperti ini terasa penting. Dalam ruang publik, nama Jalaluddin Rakhmat sering kali lebih dahulu didahului oleh berbagai label daripada dibaca melalui karya-karyanya. Ada yang mengenalnya sebagai dai, ada yang mengingatnya sebagai akademisi, ada pula yang langsung mengaitkannya dengan mazhab Syiah. Akibatnya, banyak orang membangun kesimpulan dari persepsi yang beredar, bukan dari tulisan yang benar-benar ditinggalkan olehnya.
Jurnal ini mengambil jalan yang berbeda. Penulis memilih kembali kepada sumber primer: buku-buku Jalaluddin Rakhmat sendiri. Dari sana terlihat bahwa pembahasan tentang pluralisme bukan dimaksudkan untuk mengaburkan akidah, melainkan menjelaskan bagaimana seorang Muslim dapat hidup bersama masyarakat yang majemuk tanpa kehilangan keyakinannya. Pendekatan seperti inilah yang membuat penelitian ini layak dibaca, karena pembahasannya bertumpu pada karya asli Kang Jalal, bukan pada pendapat orang tentang Kang Jalal.
Cara berpikir demikian sebenarnya sangat dekat dengan tradisi keilmuan Islam. Para ulama sejak dahulu selalu mengajarkan agar sebuah pendapat dipahami dari sumbernya terlebih dahulu. Kritik boleh dilakukan, bahkan sangat diperlukan, tetapi kritik yang adil lahir setelah seseorang memahami secara utuh apa yang sebenarnya dikatakan.
Itulah yang sering hilang dalam diskusi keagamaan hari ini. Potongan kalimat lebih cepat beredar daripada keseluruhan gagasan. Cuplikan video lebih cepat viral daripada membaca satu bab buku. Akibatnya, percakapan berubah menjadi saling menyanggah, bukan saling memahami.
Di sinilah pembaca dapat belajar satu hal dari Kang Jalal, terlepas apakah nanti setuju atau tidak dengan seluruh pandangannya. Beliau selalu mengajak orang berdialog melalui argumentasi. Buku dibalas dengan buku. Pemikiran dijawab dengan pemikiran. Perbedaan tidak otomatis berubah menjadi permusuhan.
Barangkali karena itulah dialog menjadi salah satu kata yang paling sering muncul dalam perjalanan intelektual Kang Jalal. Dialog bukan berarti menghapus perbedaan. Dialog adalah kesediaan untuk mendengar sebelum memutuskan. Dan justru di situlah ilmu bertumbuh.
Jurnal ini mengingatkan bahwa warisan terbesar seorang pemikir bukan hanya kumpulan teorinya. Warisan yang lebih berharga adalah tradisi berpikir yang ia tinggalkan. Jalaluddin Rakhmat mengajarkan bahwa keberanian mencari kebenaran harus selalu disertai kerendahan hati untuk mendengar pandangan yang berbeda. Sikap itulah yang membuat diskusi keagamaan tetap hidup tanpa kehilangan adab.
Menjadikan Perbedaan Sebagai Jalan Berbuat Baik
Pada akhirnya, jurnal ini membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar memahami definisi pluralisme.
Apa yang harus dilakukan setelah kita menyadari bahwa masyarakat memang berbeda?
Jalaluddin Rakhmat tidak menawarkan jawaban yang rumit. Beliau juga tidak mengajak orang larut dalam perdebatan yang tidak pernah selesai. Yang beliau tawarkan justru sebuah sikap hidup. Perbedaan agama tidak harus berakhir pada rasa curiga. Perbedaan juga tidak harus melahirkan tembok pemisah yang membuat manusia kehilangan kemampuan bekerja sama dalam urusan-urusan kemanusiaan.
Di sinilah pluralisme memperoleh makna yang paling nyata. Ia bukan berhenti sebagai teori dalam ruang kuliah, tetapi menjadi etika dalam kehidupan sehari-hari. Ketika tetangga berbeda agama mengalami musibah, kita tetap datang membantu. Ketika terjadi bencana alam, yang bergerak lebih dahulu adalah rasa kemanusiaan, bukan pertanyaan tentang identitas agama korbannya. Ketika membangun bangsa, semua warga negara memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kedamaian dan keadilan.
Jurnal ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Kang Jalal, penghormatan terhadap pemeluk agama lain tidak lahir dari sikap ragu terhadap keyakinan sendiri. Justru sebaliknya. Orang yang memiliki keyakinan yang matang tidak merasa terancam oleh keberadaan orang yang berbeda. Ia mampu berdiri teguh pada agamanya tanpa harus merendahkan agama orang lain. Ia memahami bahwa keyakinan tidak memerlukan kebencian untuk membuktikan dirinya benar.
Cara berpikir seperti ini terasa sangat penting di tengah dunia yang semakin mudah terbelah oleh informasi yang sepotong-sepotong. Sering kali kita lebih cepat bereaksi daripada memahami. Sebuah kutipan pendek dapat memancing kemarahan, padahal ketika dibaca secara utuh maknanya sama sekali berbeda. Jalaluddin Rakhmat justru mengajarkan kebiasaan yang semakin langka: membaca secara lengkap, memahami secara utuh, lalu berdialog dengan kepala yang dingin dan hati yang lapang.
Itulah sebabnya pluralisme dalam pemikiran Kang Jalal tidak pernah dimaksudkan untuk mengaburkan batas antara agama-agama. Yang ingin beliau bangun adalah budaya saling menghormati di tengah masyarakat yang memang diciptakan berbeda. Perbedaan bukan ancaman bagi keimanan. Yang menjadi ancaman adalah ketika manusia kehilangan akhlak dalam menghadapi perbedaan.
Mungkin karena itulah jurnal ini terasa relevan dibaca hari ini. Di tengah ruang publik yang semakin bising oleh saling menyalahkan, pemikiran Jalaluddin Rakhmat mengingatkan bahwa kekuatan sebuah masyarakat tidak diukur dari hilangnya perbedaan, melainkan dari kemampuannya merawat perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.
⸻
Penutup
Membaca jurnal karya Mutiara Afrilia dan Zulfan Taufik membuat kita melihat kembali satu sisi penting pemikiran Jalaluddin Rakhmat yang sering tertutup oleh berbagai stigma. Melalui pembacaan atas karya-karya Kang Jalal, jurnal ini memperlihatkan bahwa pluralisme yang beliau maksud bukanlah upaya mencampurkan agama atau menghapus identitas keyakinan seseorang. Pluralisme adalah kesediaan menghormati keberadaan orang lain sebagai sesama manusia, sambil tetap teguh memegang ajaran agama yang diyakininya.
Bagi Kang Jalal, keberagaman bukan persoalan yang harus diselesaikan, melainkan kenyataan yang harus dikelola dengan kebijaksanaan. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, kehidupan bersama tidak dibangun dengan menyeragamkan keyakinan, tetapi dengan menumbuhkan keadilan, penghormatan, dan dialog yang bermartabat. Di situlah agama menunjukkan wajahnya yang paling indah: bukan ketika berhasil memenangkan perdebatan, melainkan ketika mampu melahirkan manusia yang lebih jujur, lebih adil, lebih penyayang, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Mungkin itulah pesan yang paling kuat dari jurnal ini. Sebelum memberi penilaian terhadap pemikiran Jalaluddin Rakhmat, bacalah terlebih dahulu karya-karyanya secara utuh. Sebab ilmu selalu dimulai dari kesediaan untuk memahami, bukan dari keinginan untuk segera menghakimi. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin mudah terpecah oleh perbedaan, pelajaran itu justru menjadi warisan intelektual Kang Jalal yang paling berharga.
Membaca Kang Jalal Hari Ini
Ada satu hal yang membuat pemikiran Jalaluddin Rakhmat tetap menarik untuk dibaca, bahkan bertahun-tahun setelah banyak karyanya diterbitkan.
Beliau tidak pernah menulis untuk zamannya saja.
Beliau menulis untuk masa depan.
Ketika membaca kembali gagasan-gagasannya tentang pluralisme, kita seperti sedang membaca cermin Indonesia hari ini. Teknologi memang berubah. Cara orang berkomunikasi berubah. Media sosial menghadirkan ruang baru yang tidak pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Namun satu persoalan ternyata tetap sama: manusia masih kesulitan menerima perbedaan.
Perbedaan pendapat dengan mudah berubah menjadi permusuhan.
Perbedaan pilihan politik berubah menjadi kebencian.
Perbedaan mazhab berubah menjadi saling menyesatkan.
Perbedaan agama berubah menjadi alasan untuk saling mencurigai.
Dalam keadaan seperti itu, pemikiran Kang Jalal justru mengingatkan kita bahwa agama semestinya menjadi jalan memperluas kasih sayang, bukan mempersempit kemanusiaan.
Jurnal ini menunjukkan bahwa pluralisme menurut Jalaluddin Rakhmat bukanlah proyek menghilangkan identitas keagamaan seseorang. Yang beliau perjuangkan justru lahirnya masyarakat yang mampu hidup berdampingan tanpa kehilangan keyakinannya masing-masing. Setiap orang tetap bebas meyakini agamanya sebagai jalan kebenaran yang dipilihnya. Namun keyakinan itu tidak boleh berubah menjadi alasan untuk menghilangkan hak orang lain menjalankan keyakinannya sendiri.
Cara pandang seperti inilah yang membuat pemikiran Kang Jalal terasa matang. Beliau tidak memilih jalan yang mudah. Beliau memahami bahwa masyarakat majemuk selalu menghadapi tantangan. Akan selalu ada perbedaan pandangan. Akan selalu ada perdebatan. Tetapi perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan.
Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang belajar.
Ruang berdialog.
Ruang saling memperkaya pengalaman.
Ruang berlomba menghadirkan kebaikan.
Di sinilah pluralisme menemukan makna yang sesungguhnya.
Bukan menghapus batas-batas agama.
Bukan pula menyamakan semua keyakinan.
Melainkan membangun peradaban yang mampu menjaga martabat setiap manusia.
Barangkali karena itulah Kang Jalal lebih sering berbicara tentang akhlak daripada kemenangan dalam perdebatan. Beliau percaya bahwa kualitas keberagamaan seseorang pada akhirnya tidak hanya tampak dalam apa yang diyakininya, tetapi juga dalam cara ia memperlakukan manusia lain yang berbeda dengannya.
Semakin dalam seseorang mengenal Tuhannya, semakin besar pula penghormatannya kepada sesama manusia.
Pesan itu terasa sederhana.
Namun justru kesederhanaannya membuatnya tetap relevan.
Di tengah dunia yang semakin mudah terpecah oleh identitas, Jalaluddin Rakhmat mengajak kita kembali kepada inti ajaran agama: membangun manusia yang berakhlak, menghadirkan keadilan, dan menebarkan kasih sayang.
Mungkin itulah alasan mengapa jurnal ini penting dibaca. Ia bukan hanya menjelaskan apa yang dimaksud Kang Jalal dengan pluralisme. Lebih dari itu, ia mengingatkan kita bahwa keberagaman bukanlah persoalan yang harus ditakuti, melainkan amanah yang harus dikelola dengan ilmu, kebijaksanaan, dan akhlak.
Dan ketika semua itu bertemu, pluralisme tidak lagi menjadi istilah yang menakutkan.
Ia berubah menjadi cara hidup.
Cara hidup yang memungkinkan manusia tetap teguh pada keyakinannya, sekaligus tetap mampu berjalan berdampingan dengan sesama dalam membangun Indonesia yang damai dan bermartabat.
Catatan Penutup
Ada satu hal yang menarik setelah membaca jurnal ini dari awal hingga akhir. Penulis tidak sedang berusaha “membela” Jalaluddin Rakhmat. Mereka juga tidak sedang mengajak pembaca untuk menerima seluruh pandangannya tanpa kritik. Yang dilakukan jauh lebih sederhana, tetapi justru lebih ilmiah: mereka mengajak kita kembali membaca pemikiran Kang Jalal dari karya-karyanya sendiri, bukan dari penilaian orang lain.
Cara seperti ini penting, sebab dalam dunia akademik sebuah gagasan selalu dinilai dari sumber aslinya. Kritik tetap terbuka, perbedaan pendapat tetap mungkin terjadi, tetapi semuanya berangkat dari pemahaman yang utuh, bukan dari prasangka atau potongan informasi.
Di sinilah nilai jurnal ini.
Ia mengingatkan bahwa membaca seorang pemikir tidak sama dengan menyetujui seluruh pemikirannya. Membaca adalah usaha memahami terlebih dahulu, baru kemudian berdialog secara jujur dan terbuka.
Jalaluddin Rakhmat sendiri sepanjang hidupnya dikenal sebagai intelektual yang sangat menghargai dialog. Beliau menulis buku untuk mengajak orang berpikir. Beliau berdiskusi untuk memperluas wawasan, bukan sekadar memenangkan perdebatan. Karena itu, ketika berbicara tentang pluralisme, beliau tidak sedang menawarkan agama baru atau menghapus batas-batas keyakinan. Beliau sedang mengajak masyarakat Indonesia belajar hidup bersama dalam ruang kebangsaan yang memang dibangun di atas keberagaman.
Mungkin di situlah letak relevansi pemikiran Kang Jalal bagi Indonesia hari ini.
Bangsa ini tidak membutuhkan masyarakat yang seragam.
Bangsa ini membutuhkan masyarakat yang dewasa.
Dewasa dalam keyakinan.
Dewasa dalam berdialog.
Dewasa dalam menghormati perbedaan.
Dan kedewasaan itu tidak lahir dari rasa takut kepada perbedaan, tetapi dari keyakinan yang kokoh terhadap agama sendiri sekaligus penghormatan terhadap martabat manusia.
Itulah yang ditangkap Mutiara Afrilia dan Zulfan Taufik dalam jurnal ini. Melalui pembacaan terhadap karya-karya Jalaluddin Rakhmat, mereka menunjukkan bahwa pluralisme bukanlah jalan untuk melemahkan iman, melainkan salah satu ikhtiar membangun kehidupan bersama yang damai, adil, dan bermartabat di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. 1891-Other-11248-1-10-20260112.pdf
⸻
Karya Kang Jalal yang Dibaca
KH. Jalaluddin Rakhmat
- Islam dan Pluralisme: Akhlak Al-Qur’an Menyikapi Perbedaan
- Islam Alternatif
- serta karya-karya lain Jalaluddin Rakhmat yang menjadi rujukan dalam jurnal ini.
Pijakan Akademik
Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik. Pluralisme Agama Perspektif Jalaluddin Rakhmat dan Relevansinya terhadap Kebebasan Beragama di Indonesia. Jurnal Edu Research, Volume 6, Nomor 4, Januari 2026.

