NAGEKEO — Sabtu subuh yang getir, 15 Agustus 2026, tepat pukul 05.44 WITA. Ketika fajar baru saja hendak menyapa Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, bumi tiba-tiba berguncang hebat. Gempa bermagnitudo 7,7 merobek keheningan pagi di Mbay, ibu kota kabupaten, khususnya di wilayah Kecamatan Aesesa. Tidak lama setelah tanah berguncang dahsyat, gelombang tsunami menerjang pesisir dan menyapu apa pun yang berdiri di hadapannya.
Kini, pesisir Mbay Utara yang mencakup 12 desa dan 6 kelurahan—termasuk Desa Maropokot dan Desa Nangaderho—berubah menjadi saksi bisu nestapa. Wilayah-wilayah ini hancur lebur dan langsung ditetapkan masuk dalam kategori bencana Prioritas 1 (P1/lokasi terparah). Deretan rumah tinggal yang dulunya dipenuhi tawa hangat keluarga kini rata dengan tanah.
Di antara puing-puing yang berserakan, berdiri Pak Abdul Gani Daeng Maliga. Rumahnya runtuh tak bersisa. Saat gempa mengguncang dan air laut menghantam, ia bersama empat anak dan empat cucunya berlari menyelamatkan diri dalam kepanikan luar biasa.

“Kami tidak sempat berpikir untuk menyelamatkan harta benda. Saat bumi berguncang dan laut bergemuruh, saya hanya berteriak memanggil anak dan cucu. Kami lari begitu saja, hanya pakaian di badan yang tersisa. Semuanya hilang disapu air,” kenang Pak Abdul Gani dengan mata berkaca-kaca, memandang tanah tempat rumahnya dulu berdiri.
Nasib serupa menimpa warga lain, seperti Ilham Umar, Abbas Ali Buton, Abbas Denga Baso, Akbar Tandjung, serta warga lanjut usia, Bapak Daud Manga, yang kini menempati tenda-tenda darurat. Mereka kehilangan tempat bernaung hanya dalam sekejap mata.
Di tengah keputusasaan yang menggelayuti para pengungsi, secercah harapan datang. Lembaga kemanusiaan IJABI Peduli bergerak cepat menyambangi para penyintas di pesisir utara Kota Mbay untuk menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Bagi para korban, bantuan ini bukan sekadar lembaran uang, melainkan penyambung nyawa di tengah keterbatasan logistik. Kehadiran relawan menghadirkan kehangatan kemanusiaan di balik terpal pengungsian yang dingin.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih tak terhingga kepada IJABI Peduli. Di saat kami bingung harus membeli makan dan kebutuhan anak-cucu dari mana karena semua harta tertimbun, bantuan tunai langsung ini benar-benar menjadi penyelamat kami,” ungkap Pak Abdul Gani Daeng Maliga penuh haru.
Rasa syukur serupa terucap dari bibir Abbas Ali Buton. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan apresiasi atas uluran tangan yang tiba pada momen paling krusial.
“Bantuan dari IJABI Peduli ini sangat berarti bagi kami di pesisir Mbay Utara. Uang tunai ini memungkinkan kami langsung membeli kebutuhan mendesak yang belum tersedia di posko bantuan umum. Terima kasih karena tidak membiarkan kami berjuang sendirian di atas reruntuhan ini,” kata Abbas Ali Buton.
Akbar Tandjung, salah seorang warga yang juga terdampak parah, turut meluapkan rasa leganya atas kepedulian tersebut.
“Mbay Utara sedang berduka; 12 desa dan 6 kelurahan di Kecamatan Aesesa terluka parah. Kehadiran tangan-tangan baik dari Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) Peduli di Mbay pada Minggu, 30 Agustus 2026, menjelang asar, dalam menyalurkan bantuan tunai telah memberi kami kekuatan baru untuk bertahan hidup. Terima kasih atas ketulusan dan kepeduliannya kepada keluarga kami di pesisir ini,” tutur Akbar Tandjung.
Meski bantuan tunai telah meringankan beban tahap awal, kebutuhan di posko pengungsian masih sangat mendesak. Saat ini, para pengungsi di pesisir Mbay Utara sangat membutuhkan tenda hunian sementara (huntara) yang layak, pakaian bersih (terutama untuk anak-anak dan bayi), air bersih, obat-obatan, serta fasilitas sanitasi darurat.
Mbay Utara memang sedang terluka, rumah-rumah warganya telah rata dengan tanah. Namun, melalui kepedulian nyata seperti yang ditunjukkan oleh IJABI Peduli, asa itu tetap menyala—bahwa di atas puing-puing duka, keteguhan hati warga Flores tidak akan pernah runtuh. (A2MN)