إِلٰهِي وَأَلْهِمْنِي وَلَهًا بِذِكْرِكَ إِلَىٰ ذِكْرِكَ
وَهِمَّتِي فِي رَوْحِ نَجَاحِ أَسْمَائِكَ وَمَحَلِّ قُدْسِكَ
Frasa Munajat Syabaniyyah ini bagi saya teramat menakjubkan. Setidaknya mungkin ada tiga versi pemaknaan yang ingin kita usulkan untuk mencoba memperkaya interpretasi awal kita terhadap teks doa tersebut.
Pertama, “Ya Tuhanku, ilhamkanlah kepadaku kerinduan yang mendalam dengan mengingat-Mu menuju mengingat-Mu, dan (ilhamkanlah) semangatku dalam kelapangan kesuksesan nama-nama-Mu dan tempat kesucian-Mu.”
Alternatif kedua, yang sedikit beraroma ‘irfan, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku ekstasis penyerapan total dalam dzikir-Mu yang menjadi jalan menuju Dzikir-Mu yang Lebih Hakiki; dan pancarkanlah aspirasi tertinggi jiwaku ke dalam dimensi spiritual dari kesuksesan esoterik Nama-nama-Mu, menuju Stasiun Kesucian-Mu yang transenden.”

Kemudian, kemungkinan lain, menurut saya adalah “Ilahi, tariklah aku dalam pusaran rindu yang merobek akal—di mana mengingat-Mu adalah jalan dan mengingat-Mu adalah tiba, Sulutlah api hasrat jiwaku dalam hembusan sukacita Nama-nama-Mu yang tersembunyi, menuju Ruang Suci di mana hanya Engkau yang bersemayam.”
Untuk memahami teks-teks mulia seperti ini, memang kita perlu membuka perspektif dari banyak sudut pandang. Harapannya adalah melaluinya Allah singkapkan hikmah-hikmah tersembunyi yang ada dalam teks-teks seperti ini.
Pada tulisan kali ini kita akan memfokuskan pembahasan pada walahan bidzikrika ilaa dzikrika
(وَلَهًا بِذِكْرِكَ إِلَىٰ ذِكْرِكَ)
Walahan: Ekstasis yang Melumpuhkan
Walahan (وَلَهاً) berasal dari akar w-l-h (و-ل-ه) yang bermakna kehilangan akal karena cinta yang memabukkan, kegilaan spiritual, atau kerinduan yang melumpuhkan kesadaran biasa. Kata ini memiliki resonansi mendalam dengan konsep walah dalam tasawuf—kondisi ekstasis di mana salik kehilangan kesadaran dirinya karena tenggelam dalam kecintaan kepada Yang Dicintai. Ibn Manzhur dalam Lisan al-‘Arab menjelaskan bahwa walah adalah kesedihan yang mengaburkan akal (huzn yaghlibu ‘ala al-‘aql). Namun dalam konteks spiritual, ini adalah kesedihan rindu (shauq) yang transformatif.
Dzikr: Dari Penyebutan Menuju Penyatuan
Dzikr (ذِكْر) dari akar dz-k-r (ذ-ك-ر) secara literal berarti “mengingat” atau “menyebut”. Tetapi dimensi teologisnya jauh lebih dalam. Al-Qur’an menyatakan: “fa-dzkuruni adhkurkum” (maka ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kepadamu – QS 2:152). Ini menunjukkan dzikr sebagai hubungan resiprokal antara hamba dan Tuhan.
Dalam tradisi gnostik Islam, dzikr memiliki tingkatan: dzikr lisan (dzikr al-lisan), dzikr hati (dzikr al-qalb), dan dzikr rahasia (dzikr al-sirr). Perjalanan “bidhikrika ila dhikrika” (dengan mengingat-Mu menuju mengingat-Mu) mengindikasikan gradasi dari dzikir instrumental menuju dzikir esensial—dari mengingat tentang Tuhan menuju menjadiingatan itu sendiri.
Dzikir Sebaiknya Setiap Saat
Betapa pentingnya dzikir ini, Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dengan sabda yang mengguncang:
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ: مَا مِنْ سَاعَةٍ تَمُرُّ بِابْنِ آدَمَ لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيهَا
إِلَّا حَسِرَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Rasulullah ﷺ bersabda: Tidaklah berlalu satu saat pun pada anak Adam yang ia tidak menyebut Allah padanya, melainkan ia akan menyesal atasnya pada hari kiamat.”
Hadits ini mengungkapkan setiap detik kehidupan adalah kesempatan untuk mengingat Allah. Waktu yang kosong dari dzikir bukan sekadar kehilangan kesempatan, tetapi kerugian eksistensial yang akan disesali dengan penyesalan mendalam (ḥasrah) di akhirat. Inilah mengapa kita memohon walah—kegilaan spiritual yang membuat kita tidak pernah lalai dari dzikir, bahkan sedetik pun. Kita bermohon pada Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang untuk menganugerahi kita dzikir secara gradual. Makin lama makin intens. Hingga mungkin sesaat sebelum meninggalkan dunia menuju alam abadi, Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang menganugerahi kita dzikir pada setiap nafas dan pada setiap kedipan mata. Dengan hati yang terbakar oleh kerinduan padaNya.
Struktur Sintaksis sebagai Peta Ontologis
Menurut saya frasa “walahan bi-dhikrika ila dhikrika” (وَلَهاً بِذِكْرِكَ إِلَىٰ ذِكْرِكَ) memang sangat indah dan mencengangkan.
Mari kita bedah:
- Walahan (وَلَهاً): maf’ul mutlaq (objek absolut) atau hal (keadaan)
- Bi-dhikrika (بِذِكْرِكَ): jar majrur dengan ba’ instrumental
- Ila dhikrika (إِلَىٰ ذِكْرِكَ): jar majrur dengan ila direktif
Struktur ini menciptakan lingkaran hermenetis. Dzikir di sini adalah instrumen (bi) yang mengantar kepada dzikir sebagai destinasi (ila).
Ini bukan redundansi tetapi mise en abyme linguistik. Apa yang dimaksud? Mise en abyme (dibaca: meez ahn ah-BEEM) adalah istilah Perancis yang secara literal berarti “placed into abyss” atau “diletakkan ke dalam jurang“. Dalam sastra, seni, dan teori naratif, mise en abyme adalah teknik di mana sebuah gambar/cerita mengandung versi lebih kecil dari dirinya sendiri secara rekursif, menciptakan efek cermin tak terhingga atau spiral ke dalam.
Dalam logika Aristotelian, ini adalah petitio principii , yakni menggunakan premis yang sama sebagai kesimpulan.
Tetapi dalam logika mistis, ini boleh dibilang sejenis coincidentia oppositorum (penyatuan paradoks): awal adalah akhir, sarana adalah tujuan, perjalanan adalah kedatangan.
Huruf Jar sebagai Operator Eksistensial
Ba’ (بِ) dalam “bi-dhikrika” bukan sekadar preposisi tetapi operator eksistensial. Dalam gramatik Arab klasik, ba’memiliki 14 fungsi, tetapi yang relevan di sini adalah:
- Ba’ al-isti’anah (alat/instrumen): dzikir sebagai alat
- Ba’ al-sababiyyah (kausalitas): dzikir sebagai sebab
- Ba’ al-mulabasah (penyertaan): dzikir sebagai konteks eksistensial
Dzikir bukan eksternal pada subjek tetapi medium eksistensi di mana perjalanan terjadi. Seperti ikan berenang dalam air—air bukan hanya sarana tetapi habitat eksistensial.
Ila (إِلَىٰ) menunjukkan ghayah (tujuan/akhir) tetapi dengan nuansa dinamis. Berbeda dengan li (untuk) yang statis, ila menyiratkan gerakan, arah, dan intensionalitas. Ini adalah vektor spiritual. Jadi tujuannya bukan titik tetapi adalah momentum.
Yang mencengangkan lagi adalah: dzikir pertama dan kedua menggunakan kata ganti posesif kedua tunggal yang sama (-ka). Ini bukan “dari dzikir-ku kepada dzikir-Mu” tetapi “dari dzikir-Mu kepada dzikir-Mu”. Mungkin kita bisa memahaminya sebagai: subjek pejalan yang berdzikir telah sirna. Ini adalah perjalanan di dalam Tuhan, oleh Tuhan, menuju Tuhan.
Walah sebagai Negasi Dialektis
Walah (وَلَه) dalam kamus Arab menunjuk pada tahayyur (kebingungan) dan faqdanu al-‘aql(kehilangan akal).
Barangkali ini bisa dimaknakan sebagai hilangnya struktur ego sehingga Yang Tak Terbatas hadir . La yasa’unii ardhii wa laa samaa`ii , walakin yasa’unii qolbu ‘abdiyal mukmin. Tidak bisa menampungKu bumiKu maupun langitKu, namun hati hambaKu yang mukmin bisa.
Walah sebagai Modus Pengetahuan
Epistemologi Barat Cartesian berpijak pada cogito ergo sum—”Aku berpikir maka aku ada.” Subjek adalah pusat yang stabil, objek adalah yang diketahui. Tetapi walah menghancurkan dualitas subjek-objek.
Dalam tradisi gnosis Islam (irfan), ada tiga jenis pengetahuan:
- ‘Ilm al-yaqin: pengetahuan melalui inferensi logis (misal: api melalui asap)
- ‘Ayn al-yaqin: pengetahuan melalui penyaksian langsung (misal: melihat api)
- Haqq al-yaqin: pengetahuan melalui penyatuan (misal: menjadi api)
Walah adalah kondisi transisi dari ‘ayn al-yaqin menuju haqq al-yaqin.
Dalam walah, subjek yang mengetahui mulai larut. Al-Hallaj berteriak “ana al-Haqq” (aku adalah Kebenaran) . Teriakan ini bukan dari arogansi tetapi dari walah. Dari ego telah lenyap. Dalam pandangan pedzikir, yang tersisa hanya Haqq (Yang Haq) yang berbicara melalui instrumen yang sudah kosong.
Ketika Allah Menarik Pedzikir
Walah adalah arah yang mulai terbalik: bukan subjek yang menuju objek, melainkan Objek (Allah) yang menarik subjek hingga subjek kehilangan stabilitasnya.
Frasa “alhimni walahan” (berikan aku ilham berupa walah) mengakui bahwa walah bukan produksi kehendak manusiawi tetapi pemberian (gift). Manusia tidak bisa memaksakan ekstasis; ia hanya bisa memohon dan membuka diri. Walah adalah intervensi vertikal—gravitasi Ilahi yang menarik jiwa keluar dari orbit egosentrisnya.
Dzikir sebagai Tahallii
“ Bi-dzikrika” barangkali adalah tahallii bi akhlaqillah (berhias dengan akhlak Allah).
“Bi-dhikrika” menunjukkan bahwa setiap penyebutan nama Allah adalah implantasi atribut Ilahi dalam substansi jiwa. Jiwa pezikir berhias dengan dzikir pada Allah itu sendiri.
Sadra mengajarkan ittihad al-‘aqil wa al-ma’qul (penyatuan yang mengetahui dengan yang diketahui). Ketika pikiran memikirkan sesuatu, ia mengambil forma dari yang dipikirkan. Pikiran yang memikirkan segitiga menjadi “segitiga secara intensional.”
Maka dzikir yang mengingat Allah mengambil KeindahanNya—bukan dalam esensi (dzat) tetapi dalam sifat-sifat (shifaat).
Mereka yang secara gradual dianugerahiNya KeindahanNya, akan secara bertahap masuk dalam kelompok hamba-hambaNya yang berakhlaq mulia. Mereka yang lebih menyayangi fukara dan yang papa ketimbang diri mereka sendiri.
Mereka yang bila berdoa selalu mengutamakan tetangga dan orang lain. Al jaar tsumad daar. (Tetangga dulu baru keluarga).
Mereka yang menebarkan keberkahan, kebaikan, shadaqah, hadiah, wajah yang cerah serta al khayr (kebaikan) pada sesama manusia dan sesama makhluq sebagai ‘iyaalullah (keluarga Allah atau ciptaan Allah).
Maka, mereka akan masuk ke dalam lingkaran hamba-hambaNya yang dicintaiNya. Dan kemudian mereka menebarkan CintaNya pada semesta . Dan, di sini , para pedzikir mulai memasuki gerbang walayah (kewalian). Yakni kedekatan padaNya yang menuju tanpa jarak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ: مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ اللهِ أَحَبَّهُ
“Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa memperbanyak dzikir kepada Allah, Allah mencintainya.”
Mengusir Ilah Ilah Palsu Menuju Walayah
J.L. Austin membedakan constative utterance (pernyataan deskriptif) dan performative utterance (ujaran yang melakukan tindakan). “Aku berjanji” bukan mendeskripsikan janji tetapi melakukan janji.
Dzikir adalah performatif sakramental. “La ilaha illa Allah” bukan sekadar pernyataan teologis tetapi eksorsisme ontologis—mengusir ilah-ilah palsu dari ruang interior dan menegakkan tauhid.
Setiap dzikir adalah mikrokosmis syahadat—deklarasi yang mengubah realitas pengucap. Setiap dzikir adalah mengusir selain Allah dari hati dan eksistensi batin pedzikir, dan menggantikannya dengan Keindahan Allah.
Dalam tradisi ‘irfan, ada konsep tauhid af’ali, sifati, dan dzati:
- Tauhid af’ali: mengesakan Allah dalam perbuatan
- Tauhid sifati: mengesakan Allah dalam sifat-sifat
- Tauhid dzati: mengesakan Allah dalam esensi
Walahan bidzikrika ila dzikrika menghantarkan pedzikir menapaki tahapan-tahapan ini. Menariknya dari kegelapan syirik ke tahapan-tahapan tauhid hingga semakin dekat denganNya.
Ibn Arabi mengidentifikasi tujuh lathifah (pusat energi spiritual):
- Nafs (ego)
- Qalb (hati)
- Ruh (ruh)
- Sirr (rahasia)
- Khafi (tersembunyi)
- Akhfa (lebih tersembunyi)
- Haqiqa al-Haqa’iq (hakikat hakikat-hakikat)
Dari sudut pandang lain, walahan bi-dzikrika ila dzikrika mengaktifkan dan memurnikan lathifah ini secara bertahap.
Kerinduan untuk Liqā’
Namun bagaimana kita tahu bahwa dzikir kita autentik, bukan sekadar ritual kosong?
Imam Ridha عليه السلام memberikan kriteria yang tajam:
الإِمَامُ الرِّضَا عَلَيْهِ السَّلَامُ: مَنْ ذَكَرَ اللهَ وَلَمْ يَسْتَبِقْ إِلَىٰ لِقَائِهِ
فَقَدِ اسْتَهْزَأَ بِنَفْسِهِ
“Imam Ridha عليه السلام berkata: Barangsiapa yang berdzikir kepada Allah tetapi tidak berlomba-lomba (merindukan) untuk bertemu dengan-Nya, maka sesungguhnya ia telah mengolok-olok dirinya sendiri.”
Dzikir yang sejati membangkitkan syauq (kerinduan) untuk liqā’ (perjumpaan) dengan Allah. Dzikir tanpa kerinduan adalah self-deception (istihzā’ binafsihi)—menipu diri sendiri.
“Ila dhikrika” dalam doa kita adalah ekspresi dari istibāq ilā liqā’—berlomba menuju perjumpaan melalui dzikir.
Dzikir bukan tujuan akhir melainkan kendaraan menuju liqā’, dan liqā’ itu sendiri adalah Dzikir yang Hakiki—keadaan di mana tidak ada lagi pembeda antara yang mengingat, yang diingat, dan ingatan itu sendiri.
Hadits Imam Ridha ini juga mengungkapkan bahwa walah yang kita mohonkan adalah untuk membakar kerinduan pada Allah. Yakni, Walah yang membuat jiwa tidak sabar untuk bertemu dengan Sang Kekasih.
Gerak Tanpa Perpindahan
Aristoteles membedakan kinesis (gerak) dan energeia (aktualitas). Gerak adalah perpindahan dari potensialitas ke aktualitas. Tetapi “bi-dhikrika ila dhikrika” adalah gerak yang tidak berpindah tempat.
Ini seperti tawaf di Kabah—berputar mengelilingi pusat tetapi tidak pernah mencapainya dalam pengertian spasial. Setiap putaran adalah spiral naik—kembali ke titik yang sama tetapi pada elevasi yang berbeda.
Plotinus berbicara tentang epistrophe (kembali)—gerakan jiwa kembali kepada Yang Satu. Tetapi kembali ini bukan spasial melainkan ontologis—intensifikasi keberadaan. Dzikir membawa salik dari dzikir yang tipis (lisan) menuju dzikir yang padat (eksistensial)—kembali kepada dzikir yang sama tetapi dengan intensitas wujud yang berbeda.
Tautologi Mistis
Dalam logika formal, tautologi adalah pernyataan yang selalu benar tetapi tidak informatif: “A adalah A”, “Hujan adalah hujan”. Tetapi “ila dzikrika” adalah tautologi mistis yang suprematif—pernyataan yang tampak redundan tetapi merangkum seluruh jalan spiritual.
Dalam penutup Tractatus, Wittgenstein: “Whereof one cannot speak, thereof one must be silent.” (“Mengenai hal-hal yang tidak bisa kita bicarakan, tentang hal itu kita harus berdiam diri.”) Batas bahasa adalah batas dunia.
Tetapi Munajat Syakbaniyyah mengajak kita melampaui batas ini dengan bahasa paradoks dan tautologi. “Dzikir menuju dzikir”
Ini seperti pernyataan Zen: “Gunung adalah gunung, air adalah air”—sebelum iluminasi, setelah iluminasi, gunung tetap gunung tetapi kualitas penyaksiannya telah berubah total.
Melalui tautologi mistis ini dzikir tidak berhenti di mihrab, namun meresapi seluruh eksistensi.Setiap tindakan—makan, bekerja, berbicara—menjadi dzikir jika dilakukan dengan kesadaran Ilahi.
Ketakhinggaan dalam Lima Kata
“Walahan bi-dhikrika ila dhikrika“—lima kata Arab yang amat mendalam dan menjangkau ufuk-ufuk Keindahan serta Keagungan Ilahiah.
Frasa ini merupakan suatu pusaran linguistik dan teka-teki suci. Fras aini merupakan meditasi yang tidak pernah selesai karena setiap penetrasi membuka kedalaman baru.
Ia adalah fraktal spiritual. Fraktal spiritual ini memunculkan struktur yang sama pada setiap skala. Fraktal ini mengindikasikan gerakan dari dzikir ke dzikir, dari ingatan ke ingatan, dari Tuhan kepada Tuhan.
Tiga Hadis
Ketiga hadits yang telah kita renungkan membentuk peta jalan lengkap:
- Hadits Pertama (tentang penyesalan): Mengapa kita harus terus-menerus berdzikir—karena setiap waktu tanpa dzikir adalah kerugian yang akan disesali
- Hadits Kedua (tentang mahabbah): Buah dari dzikir yang intens—Allah mencintai mereka yang memperbanyak dzikir
- Hadits Ketiga (tentang kerinduan untuk liqā’): Kriteria autentisitas dzikir—dzikir sejati membangkitkan kerinduan untuk bertemu Allah
Dengan demikian, barangkali, salah satu penafsiran sederhana untuk permohonan “alhimni walahan bi-dhikrika ila dhikrika” adalah doa untuk:
- Kontinuitas dzikir (agar tidak ada waktu yang terlewat sia-sia)
- Intensitas dzikir (agar mencapai mahabbah)
- Kerinduan dalam dzikir (agar menuju liqā’ yang hakiki)
Wa maa taufiiqi illa billah ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib
Dan tidak ada taufiq bagiku kecuali dari Allah, kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali.