Site icon Majulah IJABI

Yang Diulang ‘Allamah Tiga Kali 

sumber gambar: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTUAuTuvX4-mlrBrtEI2HHzR_VaJj9pfLwMEtDjz7dChrt7dFw1xgE_DrsS&s=10

Dikisahkan, Ayatullah Pahlavani pernah meminta nasihat kepada ‘Allamah Muhammad Husein Thabathabai, penulis kitab tafsir Al-Mizan, pada saat-saat terakhir hidupnya. 

‘Allamah Thabathabai berpesan kepadanya, “Muraqabah, muraqabah, dan muraqabah” 

‘Allamah Thabathabai menjelaskan bahwa muraqabah bermakna perhatian dan fokus batin seorang salik (penempuh jalan ruhani) betul-betul tertuju kepada Allah SWT, dan tidak berpaling dari-Nya dalam segala keadaan. Muraqabah adalah sejak bangun tidur hingga tidur kembali ia tidak lalai dari mengingat Allah dan terus menerus terhubung dengan-Nya. Jika salik konsisten dalam muraqabah, maka ia bisa mencapai tahap di mana semua rencana, ucapan dan perbuatannya hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih ridha-Nya (termasuk segala aktivitasnya di media sosial), bukan untuk memuaskan keinginan dan keakuannya.  

Salik harus meyakini bahwa Allah selalu hadir dan mengawasi segala bisikan batinnya, pikirannya dan perbuatannya. Ia selalu menghadirkan Allah dalam pandangan batinnya. Ia selalu menempatkan dirinya sedang berdiri di hadapan-Nya dengan penuh pengawasan. Dengan disiplin kesadaran yang seperti ini salik tidak akan berucap dan berbuat sesuka hati, bahkan tidak ingin berpikir dan berkata-kata dalam batinnya semau-maunya. Mengawasi dan menjaga ketat kesadaran akan menjadi pagar diri dan bekal utama seorang salik. Dalam jalan suluk irfani, muraqabah adalah poros seluruh amal. Karena itulah muraqabah menjadi kunci kesuksesan dan keselamatan yang hakiki dalam menjalani kehidupan. 

Teriring doa untuk semua guru dan ulama kita. Untuk semua yang punya hak atas diri kita. Shalawat dan al-Fatihah 🤲🙏 

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad wa ‘ajjil farajahum… 

Exit mobile version