Arbain Walk To Mazar, Rancaekek, Ahad, 2 Agustus 2026
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليك يا أبا عبد الله، وعلى الأرواح التي حلّت بفنائك.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Para guru yang dimuliakan, anak-anakku yang terkasih.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Rasulullah Muhammad saw., keluarga sucinya, dan para pecinta Ahlulbait hingga hari kiamat.
Izinkan saya menyampaikan rasa hormat dan apresiasi kepada seluruh peziarah Al-Ahyarham. Semoga langkah-langkah yang ditempuh menjadi bukti bahwa ruh kita terus ditautkan kepada keluarga Rasulullah saw.
Allah Swt. berfirman:
«وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا…
“Orang-orang yang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berombongan-rombongan.” (QS. Az-Zumar: 71)»
Kemudian Allah berfirman:
«وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا…
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan-rombongan.” (QS. Az-Zumar: 73)»
Pernah ada yang datang kepada kami ketika mengadakan peringatan. Mereka membawa surat keberatan. Katanya, “Tidak perlu bergerombol.”
Saya menjawab, kami bukan gerombolan. Kami adalah jamaah.
Menariknya, Al-Qur’an justru menggunakan istilah zumar. Orang-orang kafir datang dalam zumar. Orang-orang bertakwa juga datang dalam zumar. Berarti yang menjadi persoalan bukan berkumpul atau tidak berkumpul, tetapi bersama siapa kita berkumpul.
Lalu pertanyaannya, apa yang menentukan seseorang berada dalam satu zumar?
Apakah karena suku? Karena bangsa? Karena negara?
Kita dipisahkan dengan saudara-saudara kita di Iran oleh batas negara. Kita berbeda bahasa dan budaya. Namun Al-Qur’an tidak pernah mengatakan manusia dikumpulkan berdasarkan kebangsaan.
Allamah Thabathabai menjelaskan firman Allah:
«يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ
“Pada hari ketika Kami memanggil setiap manusia bersama imam mereka.” (QS. Al-Isra’: 71)»
Inilah jawabannya.
Kelak kita dipanggil berdasarkan imam yang kita ikuti.
Maka zumar adalah rombongan yang dipersatukan oleh imamnya.
Seorang tamu dari Bahrain pernah bercerita.
Di Wadi as-Salam, Najaf, ada seorang gadis berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun. Setelah ibunya wafat, hampir setiap malam ia tidur di dekat makam sang ibu karena tidak sanggup berpisah.
Suatu malam ia mengalami sesuatu yang luar biasa.
Keesokan paginya seluruh rambutnya memutih.
Ia bercerita bahwa dirinya mendengar pertanyaan-pertanyaan di alam barzakh.
“Siapa Tuhanmu?”
“Allah.”
“Siapa Nabimu?”
“Muhammad.”
“Apa kitabmu?”
“Al-Qur’an.”
“Ke mana kiblatmu?”
“Ka’bah.”
Hingga akhirnya terdengar pertanyaan,
“Siapa imammu?”
Saat itulah hadir sosok yang sangat agung.
Kemudian terdengar kalimat yang sangat singkat.
لَسْتُ بِإِمَامِكَ
“Aku bukan imam bagimu.”
Kalimat itulah yang membuat rambut gadis itu memutih.
Mudah bagi kita mengatakan, “Kami mencintai Imam Ali. Kami mencintai Imam Husain. Kami mencintai Imam Zaman.”

Tetapi pertanyaannya bukan itu.
Apakah Imam mengakui kita sebagai pengikutnya?
Hari ini kita berkata, “Imam kami adalah Imam Ali.”
Namun kelak, apakah Imam akan berkata, “Dia adalah pengikutku.”
Atau justru berkata,
“Aku bukan imamnya.”
Karena itu, menurut saya, zumar bukan ditentukan oleh zaman kita hidup.
Bukan pula oleh lokasi kita tinggal.
Yang menentukan adalah keterhubungan ruh.
Apakah ruh kita tersambung kepada mereka?
Apakah nama mereka sering kita sebut?
Apakah amal-amal kita kita hadiahkan kepada mereka?
Apakah kita sering berziarah?
Apakah kita memperbanyak shalawat?
Rasulullah saw. bersabda bahwa orang yang paling dekat dengan beliau adalah orang yang paling banyak bershalawat kepada beliau.
Kalau kita ingin dekat dengan seseorang, kita akan sering menyebut namanya.
Hari ini justru shalawat semakin sedikit.
Dulu tiga kali.
Sekarang satu kali.
Bahkan dua kali berikutnya hanya di dalam hati.
Padahal shalawat adalah cara kita terus menghubungkan ruh kepada Rasulullah dan Ahlulbait.
Yang menarik dalam Surah Az-Zumar, bukan hanya orang bertakwa yang berada dalam rombongan.
Orang-orang kafir pun demikian.
Mereka berkata kepada Allah,
“Ya Tuhan kami, para pemimpin kami telah menyesatkan kami. Berilah mereka azab dua kali lipat.”
Mengapa?
Karena mereka sadar, mereka masuk neraka bukan sendirian.
Mereka masuk karena mengikuti pemimpin yang salah.
Artinya, bahkan orang kafir pun akhirnya memahami bahwa memilih imam adalah persoalan besar.
Kalau salah memilih imam, salah pula zumar-nya.
Dalam Doa Kumail kita membaca,
وَهَبْنِي صَبَرْتُ عَلَىٰ حَرِّ نَارِكَ فَكَيْفَ أَصْبِرُ عَلَىٰ فِرَاقِكَ
“Ya Allah, andaikan aku sanggup bersabar atas panasnya api-Mu, bagaimana mungkin aku sanggup bersabar karena berpisah dari-Mu.”
Sayyid Kamal menjelaskan bahwa kepedihan terbesar bukan hanya panasnya neraka.
Tetapi ketika kita melihat kemuliaan yang Allah berikan kepada rombongan para syuhada, sementara kita tidak berada bersama mereka.
Itulah perpisahan yang paling menyakitkan.
Tahun ini saya sangat ingin berada di Arba’in.
Sejak awal saya ikut dalam berbagai persiapan.
Bukan karena tidak diajak.
Tetapi pada saat terakhir wilayah udara ditutup sehingga perjalanan tidak memungkinkan.
Teman-teman mengirimkan banyak video.
Saya tidak sanggup membukanya.
Bukan karena tidak ingin melihat.
Tetapi karena kerinduan itu terlalu besar.
Saya takut hati ini semakin rindu berada di sana.
Maka berbahagialah mereka yang Allah pilih untuk hadir di Karbala.
Syafaat berarti menggenapkan.
Yang kurang menjadi sempurna.
Orang tua memberi syafaat.
Anak memberi syafaat.
Guru memberi syafaat.
Para ulama dan marja’ memberi syafaat.
Namun syafaat terbesar adalah syafaat Rasulullah saw. dan Ahlulbait as.
Semoga syafaat mereka sampai lebih dahulu kepada kita, lalu kepada orang-orang yang kita cintai.
Arba’in mengajarkan satu hal.
Menggabungkan diri ke dalam barisan para syuhada.
Mazhab ini tetap hidup karena darah para syuhada.
Terbunuh itu biasa.
Tetapi kemuliaan adalah mengakhiri hidup di jalan Allah.
Di Iran sering diadakan majelis para veteran perang.
Yang mereka tangisi bukan luka-luka mereka.
Yang mereka tangisi adalah hilangnya kesempatan untuk syahid.
Mereka merasa tertinggal dari para syuhada.
Itulah pelajaran Arba’in.
Merindukan akhir hidup di jalan Allah.
Jutaan manusia berjalan menuju Karbala.
Berbeda bangsa.
Berbeda bahasa.
Berbeda warna kulit.
Tetapi mereka dipersatukan oleh satu cinta.
Cinta kepada Imam Husain as.
Sebagaimana orang yang bertawaf mengelilingi Ka’bah.
Tubuhnya bergerak.
Tetapi hatinya terpaut kepada Baitullah.
Demikian pula para peziarah Arba’in.
Kakinya melangkah menuju Karbala.
Tetapi ruhnya telah lama berada di sisi Abi Abdillah.
Semoga Al-Ahyarham dimuliakan Allah karena kecintaannya kepada Imam Husain as.
Kalau ada kemuliaan pada diri kita, bukan karena diri kita.
Semata karena kemuliaan Rasulullah saw. dan Ahlulbait as.
Semoga Allah menghimpunkan kita semua dalam satu zumar, satu rombongan para pecinta Abi Abdillah.
Sehingga penyesalan,
يا ليتنا كنا معكم فنفوز فوزًا عظيمًا
“Andai kami dahulu bersama kalian, niscaya kami memperoleh kemenangan yang agung.”
tidak hanya menjadi ucapan lisan, tetapi menjadi doa agar kelak Allah benar-benar menghimpunkan kita bersama Imam Husain as., para syuhada, dan orang-orang saleh.
Al-Fatihah… ma’a shalawat.