Site icon Majulah IJABI

14 KISAH TELADAN: Yang Menyentuh Hati Sang Jenderal Yang Pemberani dan Lembut Hati Mayor Jenderal Qassem Soleimani 1957 — 2020 

 👦  KISAH 1 

Anak 13 Tahun yang Menebus Hutang Ayahnya 

Qassem Soleimani lahir pada 11 Maret 1957 di desa miskin Qanat-e Malek, provinsi Kerman, Iran tenggara. Ayahnya adalah seorang petani yang terlilit hutang pinjaman pertanian kepada pemerintah Shah. Ketika Soleimani baru berusia 13 tahun, ia membuat keputusan yang mengubah hidupnya: meninggalkan desa untuk pergi ke kota Kerman dan bekerja sebagai buruh bangunan demi melunasi hutang sang ayah. 

Selama delapan bulan penuh ia bekerja di proyek konstruksi sekolah, mengumpulkan uang sen demi sen. Bukan karena terpaksa — melainkan karena ia takut ayahnya akan dipenjara jika hutang itu tidak terlunasi. Pengalaman ini, menurut catatan otobiografinya, menanamkan dua hal seumur hidupnya: rasa cinta yang dalam kepada orang tua, dan amarah terhadap sistem yang tidak memberi peluang bagi kaum miskin. 

“Ayah saya seorang petani miskin. Hutangnya kepada pemerintah Shah bisa membuatnya dipenjara. Saya tidak bisa membiarkan itu terjadi.”  — dari otobiografi Soleimani, dikutip oleh UANI 

📖 Sumber: UANI (United Against Nuclear Iran) – Early Life and Career; Encyclopaedia Britannica 

🐐  KISAH 2 

Jenderal yang Memberi Makan Prajuritnya 

Di antara desingan peluru Perang Iran-Irak (1980–1988), ada sebuah kisah sederhana namun menyentuh. Di saat para komandan lain hanya memikirkan strategi pertempuran, Soleimani sering kali kembali dari misi pengintaian di balik garis musuh bukan hanya dengan informasi intelijen, tetapi dengan membawa kambing hidup untuk disembelih dan dimakan bersama prajuritnya. 

Dalam kondisi perang yang brutal, di mana tentara Iran sering kekurangan logistik, gestur sederhana ini memiliki makna yang luar biasa. Para prajurit dari Kerman yang ia pimpin mengenangnya bukan sebagai komandan yang duduk jauh di belakang, tetapi sebagai kakak yang memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang tidur dalam kelaparan. 

“Ia memikirkan perut prajuritnya di saat yang lain hanya memikirkan peta pertempuran.”  — dari berbagai kesaksian mantan prajurit, dikutip UANI 

📖 Sumber: UANI – Early Life and Career; Combating Terrorism Center, West Point 

🤗  KISAH 3 

Pelukan Terakhir Sebelum Pertempuran 

Perang Iran-Irak adalah salah satu konflik paling mematikan abad ke-20, ditandai dengan serangan gelombang manusia yang mengorbankan ribuan jiwa sekaligus. Namun Soleimani memilih cara berbeda dalam memimpin. Setiap kali pasukannya hendak maju ke medan pertempuran, ia secara pribadi memeluk setiap prajurit satu per satu dan mengucapkan selamat tinggal. 

Bukan hanya sebuah ritual — ini adalah ungkapan nyata bahwa ia menghargai setiap nyawa yang dipercayakan kepadanya. Para saksi mata melaporkan bahwa Soleimani kerap menangis saat kehilangan prajurit dalam jumlah besar. Di tengah budaya militer yang seringkali menganggap nyawa prajurit sebagai angka statistik, kepemimpinan yang penuh kasih sayang ini membuatnya dicintai secara mendalam oleh para anak buahnya. 

“Sebelum pertempuran, ia memeluk setiap prajuritnya satu per satu, seolah tahu bahwa mungkin tidak semua dari mereka akan kembali.”  — Times of Israel 

📖 Sumber: Times of Israel; UANI – Early Life and Career 

🕯️  KISAH 4 

Setia Mengunjungi Veteran Cacat Setiap Bulan 

Di antara sekian banyak kisah tentang Soleimani, inilah yang paling menyentuh dan paling pribadi. Seorang mantan prajurit yang bertempur bersamanya dalam Perang Iran-Irak mengalami cacat permanen dengan tingkat disabilitas 70 persen dan tinggal di Najaf Abad, dekat Isfahan. Selama bertahun-tahun setelah perang, Soleimani — meski telah menjadi salah satu orang paling berkuasa di Iran — menjadwalkan kunjungan rutin setiap bulan kepada pria tersebut. 

Kunjungan itu bukan sekadar basa-basi. Soleimani membantu veteran tersebut dengan segala kebutuhan sehari-harinya: mulai dari urusan kamar mandi hingga mencuci pakaiannya. Ketika Soleimani sedang bertugas di Suriah dan mendengar kabar bahwa pria itu meninggal dunia, ia segera mengirim perwakilannya untuk menghadiri upacara pemakaman atas namanya. 

“Ia datang setiap bulan, tidak pernah absen, untuk membantu prajuritnya yang cacat — bahkan mencuci pakaiannya sendiri.”  — Alma Research and Education Center – dokumentasi komemoratif 

📖 Sumber: Alma Research and Education Center, Israel – Commemoration of Qassem Soleimani 

🛏️  KISAH 5 

Jenderal Terkuat Tidur Beralas Sepatu 

Dalam salah satu kunjungannya ke wilayah operasi milisi Fatemiyoun di Suriah — kelompok tempur Syiah asal Afghanistan yang didukung Iran — para prajurit menyarankan agar Soleimani beristirahat di tempat yang lebih tenang dan nyaman, jauh dari keramaian para tentara. Jawaban sang Jenderal mengejutkan semua orang. 

Alih-alih menerima tawaran itu, Soleimani hanya melepas sepatunya, menjadikannya bantal, dan langsung berbaring tidur di lantai bersama para prajurit. Para tentara merasa malu karena telah menyarankan hal lain, dan mereka diam-diam mengosongkan ruangan agar sang Jenderal bisa beristirahat beberapa jam. Orang yang paling berkuasa di Timur Tengah memilih tidur beralas sepatu daripada mendapat perlakuan istimewa. 

“Ia hanya melepas sepatunya, menjadikannya bantal, dan berbaring di lantai bersama kami. Kami semua merasa malu.”  — kesaksian prajurit Fatemiyoun, didokumentasikan Alma Research 

📖 Sumber: Alma Research and Education Center – Commemoration of Qassem Soleimani 

🏠  KISAH 6 

Jenderal Paling Berkuasa dalam Apartemen Paling Sederhana 

Sementara banyak pejabat tinggi Iran hidup dalam kemewahan, Soleimani memilih gaya hidup yang bertolak belakang. Jonathan Cristol, peneliti dari Adelphi University yang mempelajari kehidupannya, mengungkapkan bahwa Soleimani dikenal tinggal di sebuah apartemen kecil dan polos — tanpa furnitur mewah, tanpa perhiasan kekuasaan. 

Dalam masyarakat Iran yang menurut para analis memiliki masalah korupsi yang serius di kalangan elite, kesederhanaan hidup Soleimani menjadi sesuatu yang langka dan mengesankan. Ia dipandang sebagai figur yang ‘di atas kecurigaan’ — tidak pernah memanfaatkan posisinya untuk memperkaya diri sendiri. Inilah salah satu alasan mengapa ia dipuja bukan hanya oleh pendukung pemerintah, tetapi juga oleh warga sipil biasa yang umumnya skeptis terhadap para pemimpin. 

“Ia dikenal tinggal di apartemen kecil yang polos. Dalam masyarakat yang punya masalah korupsi, ia dipandang bersih.”  — Jonathan Cristol, peneliti Adelphi University, kepada PBS Frontline 

📖 Sumber: PBS Frontline – Qassem Soleimani’s Complex Legacy in Iraq 

🤝  KISAH 7 

Menolak Dicium Tangannya: Sang Jenderal yang Membenci Hero Worship 

Meskipun Soleimani diperlakukan seperti selebritas di Iran — dengan foto-fotonya terpampang di mural, toko, dan dasbor taksi — ia secara aktif menolak pemujaan berlebihan terhadap dirinya sendiri. Dalam berbagai pertemuan dengan tokoh-tokoh dari pemimpin lokal Afghanistan hingga menteri luar negeri Rusia, Soleimani memiliki kebiasaan yang konsisten: ia lebih suka duduk diam di sudut ruangan, mendengarkan, dan berbicara dengan suara pelan dan sopan. 

Yang paling mengesankan adalah penolakannya membiarkan orang-orang mencium tangannya — sebuah bentuk penghormatan yang lazim diberikan kepada pemimpin agama dan militer di Iran. Seorang jurnalis Amerika yang pernah menulis profil tentangnya menyebutnya sebagai sosok yang ‘hampir teatrikal dalam kerendahan hatinya.’ Ia juga sering menyebut dirinya sendiri sebagai ‘prajurit terkecil.’ 

“Dalam setiap pertemuan, ia duduk sendiri di sudut ruangan, tenang. Berbicara pelan, menolak dihormati berlebihan.”  — Combating Terrorism Center, West Point 

📖 Sumber: Combating Terrorism Center at West Point – Qassem Soleimani and Iran’s Unique Regional Strategy 

💧  KISAH 8 

Pemuda yang Membawa Air untuk Para Prajurit 

Sebelum menjadi komandan yang ditakuti, Soleimani memulai karier militernya dengan tugas yang sangat sederhana dan seringkali dilupakan dalam narasi besarnya. Ketika Perang Iran-Irak baru meletus pada 1980, penugasan pertamanya bukan di garis depan pertempuran — melainkan memastikan pasokan air bersih sampai ke tangan para tentara di garis depan. 

Sebuah laporan dari International Institute for Strategic Studies (IISS) Inggris mencatat bahwa ‘peran pertamanya dalam perang dengan Irak adalah memastikan pengiriman air ke para prajurit di garis depan.’ Dari tukang air hingga panglima yang ditakuti oleh Amerika Serikat dan Israel — perjalanan itu dimulai dengan gestur paling mendasar dari kepedulian seorang prajurit kepada sesamanya. 

“Peran pertamanya dalam perang adalah memastikan air bersih sampai ke tangan para prajurit di garis depan.”  — International Institute for Strategic Studies (IISS), dikutip bne IntelliNews 

📖 Sumber: bne IntelliNews – LONG READ: How Iran’s Shadow Commander Left Home at 13 

😢  KISAH 9 

Menangis di Depan Prajuritnya 

Ada sebuah kontradiksi yang menarik dalam sosok Soleimani: ia adalah komandan yang bisa meneteskan air mata di hadapan prajuritnya. Times of Israel melaporkan bahwa Soleimani — di tengah kekerasannya dalam mendorong pasukan maju ke medan laga — ‘sering kali menangis dengan penuh semangat saat memotivasi prajuritnya untuk bertempur.’ 

Ini bukan kelemahan, melainkan justru menjadi bagian dari daya tarik kepemimpinannya. Para prajuritnya tidak melihat seorang jenderal dingin yang mengeluarkan perintah dari jarak aman. Mereka melihat seorang manusia yang benar-benar merasakan beratnya tugas yang ia emban — dan itulah yang membuat mereka bersedia mengikutinya ke mana saja, bahkan ke medan yang paling berbahaya sekalipun. 

“Ia kerap menangis penuh semangat saat memotivasi prajuritnya — bukan kelemahan, tapi justru sumber kekuatannya.”  — Times of Israel 

📖 Sumber: Times of Israel – Qassem Soleimani, Iran’s shadowy general 

📚  KISAH 10 

“Prajurit Terkecil” yang Hanya Lulusan SMA 

Salah satu fakta yang paling mengejutkan tentang Soleimani adalah bahwa ia hanya berpendidikan setingkat SMA. Tidak ada gelar militer formal, tidak ada akademi pertahanan bergengsi, tidak ada latar belakang keluarga dari kalangan elite agama atau politik. Ia hanya memiliki enam minggu pelatihan militer dasar ketika pertama kali bergabung dengan IRGC pada 1979. 

Namun dari titik itu, ia naik menjadi komandan yang disebut oleh mantan direktur CIA sebagai ‘satu-satunya operator paling kuat di Timur Tengah.’ Jenderal David Petraeus, panglima pasukan AS yang pernah berhadapan langsung dengannya, menyebutnya sebagai lawan yang ‘sangat, sangat cakap.’ Soleimani sering menyebut dirinya sendiri sebagai ‘prajurit terkecil’ — sebuah pengakuan rendah hati atas asal-usulnya yang jauh dari istimewa. 

“Enam minggu pelatihan militer, lalu ia naik menjadi komandan paling ditakuti di Timur Tengah. Ia menyebut dirinya ‘prajurit terkecil.'”  — Combating Terrorism Center, West Point 

📖 Sumber: Combating Terrorism Center at West Point; UANI – Early Life and Career 

🌿  KISAH 11 

Merawat Pejuang yang Terluka dari Semua Tempat 

Islam Times melaporkan bahwa Soleimani secara aktif membangun lebih dari 150 institusi media untuk gerakan-gerakan pembebasan yang ia dukung, serta membentuk komite dan asosiasi hak asasi manusia internasional. Namun yang paling menyentuh adalah kepeduliannya kepada para pejuang yang terluka. 

Ia secara personal mengatur agar para prajurit yang terluka dari berbagai medan pertempuran di kawasan dibawa ke Iran untuk mendapatkan perawatan medis. Dan ia tidak hanya mengurus birokrasi — ia juga secara rutin mengunjungi mereka di rumah sakit, memeriksa kondisi kesehatan mereka, dan memastikan mereka tidak dilupakan setelah tidak lagi bisa bertempur. Bagi Soleimani, tanggung jawab seorang komandan tidak berakhir ketika peluru terakhir ditembakkan. 

“Ia membantu mengurus pengobatan para pejuang yang terluka, lalu mengunjungi mereka di rumah sakit secara pribadi.”  — Islam Times 

📖 Sumber: Islam Times – Qassem Soleimani: The Story of the Legend 

🦅  KISAH 12 

Misi 15 Hari yang Berakhir 8 Tahun 

Ketika Saddam Hussein menginvasi Iran pada September 1980, Soleimani mendaftar sebagai sukarelawan untuk misi yang direncanakan hanya berlangsung 15 hari. Ia berkata kepada keluarganya bahwa ia akan segera kembali. Yang terjadi kemudian adalah salah satu cerita paling epik dalam hidupnya: ia tidak kembali selama delapan tahun. 

Selama delapan tahun itu, ia bertempur di hampir semua operasi militer besar Iran dalam perang tersebut. Ia merawat prajuritnya seperti keluarga, kembali dari pengintaian dengan membawa makanan untuk mereka, memeluk setiap prajurit sebelum pertempuran. Setelah perang berakhir pada 1988, Soleimani keluar sebagai pahlawan perang yang dihormati, dengan nama yang mulai dikenal di kalangan petinggi Republik Islam Iran. 

“Saya masuk ke medan perang dalam misi 15 hari, dan akhirnya tinggal sampai perang berakhir.”  — Qassem Soleimani, dikutip Wikipedia 

📖 Sumber: Wikipedia – Qasem Soleimani; UANI Early Life and Career 

⚙️  KISAH 13 

Bekerja Sama dengan Amerika demi Melindungi Kaum Muslimin 

Agustus 1998. Pasukan Taliban menyerbu kota Mazar-i Sharif di Afghanistan dan melakukan pembantaian terhadap komunitas Hazara — minoritas kaum muslimin pecinta Ahlul Bait Nabi Saw yang berbahasa Farsi. Di antara korban tewas terdapat delapan diplomat Iran dan seorang jurnalis. Iran murka. Komandan IRGC saat itu sudah memohon izin kepada Pemimpin Tertinggi Khamenei untuk menyerang Afghanistan. 

Namun yang terjadi kemudian mengejutkan dunia: setelah serangan 11 September 2001, Soleimani justru memilih bekerja sama secara pragmatis dengan Amerika Serikat melawan Taliban — musuh bersama mereka. Ia menyediakan informasi intelijen tentang posisi pasukan Taliban kepada AS. Ini adalah contoh paling nyata bahwa bagi Soleimani, melindungi komunitas kaum muslimin yang tertindas adalah prioritas tertinggi — bahkan jika itu berarti duduk satu meja dengan musuh bebuyutannya. 

📖 Sumber: NPR – Qassem Soleimani’s Enduring Legacy; Combating Terrorism Center, West Point 

🕊️  KISAH 14 

Pemakaman yang Menghentikan Dunia 

Ketika Soleimani tewas dalam serangan drone AS di Baghdad pada 3 Januari 2020, Iran menyelenggarakan serangkaian upacara pemakaman yang berlangsung tiga hari penuh — dari Baghdad, Karbala, Najaf, Qom, Tehran, Mashhad, Ahvaz, hingga pemakamannya di kota asalnya Kerman. 

Menurut laporan Encyclopedia Geopolitica, total kehadiran jemaat pelayat mencapai lebih dari 7 juta orang, menjadikannya pemakaman terbesar kedua dalam sejarah Iran modern setelah pemakaman Ayatollah Khomeini. Di Kerman, lautan manusia begitu padat hingga terjadi tragedi tersendiri: 56 orang tewas terinjak dan lebih dari 200 lainnya terluka dalam kerumunan. Seorang mantan supir taksi di Tehran pernah bercerita kepada seorang jurnalis bahwa foto Soleimani sudah terpajang di dashboardnya bertahun-tahun sebelum sang Jenderal terkenal secara luas — karena bagi rakyat biasa, Soleimani adalah simbol keberanian dan kesederhanaan yang langka. 

“Lebih dari 7 juta pelayat mengantarkan kepergiannya — pemakaman terbesar kedua dalam sejarah Iran modern.”  — Encyclopedia Geopolitica 

📖 Sumber: Encyclopedia Geopolitica – Qassem Soleimani: A Legacy of Blood; New York Review of Books 

— Selesai — 

Kisah-kisah ini disusun dari sumber-sumber internasional yang dapat diverifikasi untuk kepentingan penulisan memoar. 

Exit mobile version