Site icon Majulah IJABI

14 Teladan Syahid Mulia Tehran – Gaza

Oleh Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI)

Pengantar 

Sayyid Ali Hosseini Khamenei (lahir 17 Juli 1939 di Masyhad – wafat 28 Februari 2026 di Teheran) adalah Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran yang ke-2, yang memegang amanah tersebut selama 36 tahun. Ia adalah seorang yang lahir dari rahim kemiskinan, ditempa oleh penjara dan penyiksaan, dibakar dalam api perang, dan pada akhirnya gugur sebagai syahid di bumi yang ia cintai. 

Empat belas kisah berikut ini adalah potret jiwa seorang manusia yang memilih jalan yang paling berat.Mmembela kaum yang tidak berdaya, hadir bersama rakyat jelata, menyuarakan nasib Gaza ketika dunia bungkam, dan mengorbankan segalanya. Termasuk nyawanya dan nyawa keluarganya. Demi keyakinan dan misi suci yang ia emban. Kisah-kisah ini diangkat dari sumber-sumber yang dapat diakses publik dan dikompilasi sebagai persembahan ingatan kepada generasi yang akan datang. 

Bagian I: Keberanian dan Kesiapan Berkorban 

Kisah 1  🔒  Ditangkap dan Disiksa Berulang Kali oleh SAVAK (1963–1976) 
Pada Mei 1963, Khamenei pertama kali ditangkap oleh aparat Shah saat berada di kota Birjand, karena menyebarkan surat rahasia Imam Khomeini yang mengungkap kejahatan rezim. Ia dipenjarakan semalam dan diperintahkan tidak lagi berpidato dari mimbar. Namun ia tidak berhenti. Selama bertahun-tahun berikutnya, ia terus berkeliling Iran memberikan ceramah dan mengadakan pertemuan-pertemuan bawah tanah. Hal ini menyebabkan ia ditangkap berulang kali. Pada September 1970, ia dipenjara beberapa bulan karena mendistribusikan pamflet pendukung Khomeini. Pada musim dingin 1975, SAVAK menyerbu rumahnya di Masyhad untuk keenam kalinya, menyita semua buku dan catatannya. Ia menyebut masa penahanan itu sebagai yang terberat dalam hidupnya. 

“Aku belum pernah melihat ruangan sekecil itu sebelumnya. Berbentuk persegi, sisi-sisinya sepanjang satu setengah meter. Tidak ada lubang angin. Kegelapan mutlak menyelimutinya.” 📚 Sumber: khamenei.ir (Biografi Resmi) | UANI | IranWire 

Kisah 2  💣  Selamat dari Percobaan Pembunuhan — Tangan Kanan Lumpuh Selamanya (1981) 
Pada 27 Juni 1981, saat menyampaikan pidato di Masjid Abu Zar di Teheran, sebuah ledakan dahsyat mengguncang tempat itu. Perangkat bom disembunyikan di dalam sebuah tape recorder yang diletakkan di podium. Sesaat sebelum ledakan, pengawalnya memindahkan alat perekam itu ke sisi kanan. Meskipun selamat, tangan kanannya mengalami kelumpuhan permanen. Luka itu tidak menghentikannya. Ia tetap melanjutkan pengabdian di tengah situasi negara yang sedang menghadapi Perang Iran–Irak dan konsolidasi pasca-revolusi. Beberapa bulan setelah serangan itu, ia justru terpilih menjadi Presiden Iran. 📚 Sumber: Euronews – Biografi Khamenei | Suara Muhammadiyah 
Kisah 3  ⚔️  Memimpin di Garis Depan Perang Iran–Irak sebagai Presiden (1981–1988) 
Sebelum menjadi Pemimpin Tertinggi, Khamenei memimpin Iran sebagai presiden sepanjang perang berdarah melawan Irak pada 1980-an. Ia juga menjabat sebagai pengawas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sejak pecahnya perang tersebut. Narges Bajoghli, profesor dari Johns Hopkins University, menyatakan bahwa Khamenei adalah seorang pemimpin yang dibentuk oleh Perang Iran–Irak, yang turut membentuk pandangannya tentang kebijakan dalam dan luar negeri. Foto-foto ikonik dirinya berada di dalam parit bersama para prajurit di garis depan menjadi bukti konkret — sesuatu yang langka di antara para pemimpin politik dunia. 📚 Sumber: Al Jazeera – Biografi Khamenei | Not Even Past 
Kisah 4  📜  Konsistensi Ideologis: Menolak Tawaran dan Tekanan Selama 36 Tahun 
Meskipun dikelilingi musuh-musuh yang kuat, Khamenei berhasil menahan mereka selama puluhan tahun. Setelah menjadi pemimpin tertinggi pasca wafatnya Khomeini, Iran berhasil menghindari serangan langsung berskala besar dari para lawannya selama lebih dari tiga dekade, bahkan ketika musuh-musuh regional Iran lainnya jatuh satu per satu. Sejak awal 1960-an, ia berulang kali ditangkap karena mengorganisir protes dan mendistribusikan literatur anti-rezim. Namun ketika gelombang protes melanda Iran pada 1978–1979, ia kembali ke panggung publik, membantu mengorganisir demonstrasi dan memobilisasi dukungan untuk agenda revolusioner Khomeini. Konsistensinya dari tahun 1963 hingga akhir hayatnya mencerminkan kesetiaan yang tidak pernah goyah. 📚 Sumber: CNN – Obituari Khamenei | Reuters / AA.com 
Kisah 5  🕌  Menerima Amanah Kepemimpinan Tertinggi Meski Merasa Tidak Layak (1989) 
Dalam musyawarah pemilihan Pemimpin Tertinggi pada 1989, Khamenei sendiri mengungkapkan keraguan tentang kualifikasi keagamaan dan kelayakannya untuk posisi tersebut, mengingat ia hanyalah seorang ulama tingkat menengah. Konstitusi kemudian diubah untuk menghapus persyaratan yang tidak ia penuhi, dan Majelis Ahli mengkonfirmasi kembali kepemimpinannya. Ia menerima beban amanah itu bukan karena ambisi, melainkan karena tuntutan situasi revolusi yang kritis. Selama 36 tahun berikutnya ia mengemban jabatan tersebut hingga wafat sebagai syahid dalam serangan bersama AS–Israel pada 28 Februari 2026. 📚 Sumber: Wikipedia – Ali Khamenei | Britannica | EBSCO Research Starters 

Bagian II: Kecintaan kepada Kaum Mustadh’afin dan Rakyat Iran 

Kisah 6  🏚️  Tumbuh Bersama Kemiskinan — Latar Belakang Mustadh’afin yang Sejati 
Kedekatan Khamenei dengan kaum miskin bukan sekadar retorika — ia lahir dan dibesarkan dalam kemiskinan itu sendiri. 

“Ayahku, meskipun dikenal sebagai tokoh agama, hidup dalam kesederhanaan. Kami menjalani kehidupan yang berat. Terkadang malam hari tidak ada apapun di rumah untuk makan malam. Ibuku berusaha mengumpulkan sesuatu — rotinya dengan beberapa butir kismis, itulah makan malam kami. Rumah ayahku luasnya sekitar 65 meter persegi, berada di kawasan miskin Masyhad. Hanya terdiri dari satu ruang dan sebuah ruang bawah tanah yang gelap. Saat tamu datang menemui ayahku, seluruh keluarga harus pindah ke ruang bawah tanah.”

 Ibunya bahkan menjahit pakaian dari bekas jubah ayahnya. Terkadang mereka kekurangan makanan, mengandalkan sejumlah kecil kismis atau susu yang dibeli dari uang receh pemberian kerabat. 📚 Sumber: khamenei.ir – Biografi Resmi | Wikipedia – Ali Khamenei 

Kisah 7  👨‍👴  Rela Tinggalkan Karir Cemerlang demi Merawat Ayah yang Buta 
Pada usia 25 tahun, ketika sedang berada di puncak studi akademisnya di Qom — di bawah bimbingan Imam Khomeini dan para ulama terkemuka — datang kabar bahwa sang ayah kehilangan penglihatan akibat katarak dan tidak lagi bisa membaca dengan baik. Hal ini menimbulkan dilema baginya: tetap di Qom melanjutkan studi, atau pulang ke Masyhad merawat sang ayah. Ia memilih untuk meninggalkan Qom demi berbakti kepada kedua orang tuanya. 

“Ketika aku kembali ke Masyhad dan merawat ayah dan ibuku, Allah memberkati semua urusanku. Jika ada keberhasilan dalam hidupku, aku percaya semua itu berasal dari kebaikan yang aku lakukan untuk kedua orang tuaku.” 

📚 Sumber: leader.ir – Biografi Resmi 

Kisah 8  📚  Menerjemahkan Karya Ulama Dunia untuk Generasi Muda Iran 
Salah satu bentuk pengabdian paling sunyi namun berdampak besar dari Khamenei adalah karyanya sebagai penerjemah dan penulis. Selama masa perjuangan melawan Shah, ia menyibukkan diri dengan menerjemahkan dan menulis karya-karya penting untuk mencerahkan generasi muda Iran. Ia menerjemahkan karya Sayyid Qutb Al-Mustaqbal li Hadhal-Din ke bahasa Persia; buku Al-Islam wa Dlarurat al-Taghayyur al-Ijtima’i karya Muhammad Qutb; serta Fi Dhilal Quran. Ia juga menulis sendiri buku Sazman-e Ruhaniyyat dan terjemahan pidato-pidato Imam Ali yang berkaitan dengan keadilan sosial. Karyanya bukan ditujukan kepada kaum elit intelektual, melainkan untuk membangkitkan kesadaran politik dan spiritual kaum muda Iran yang tertindas. 📚 Sumber: khamenei.ir – Biografi Resmi 
Kisah 9  🏥  Revolusi Kesehatan untuk Daerah Pedesaan dan Kaum Termiskin 
Setelah menjadi Pemimpin Tertinggi, Khamenei memfokuskan perhatiannya pada rekonstruksi dan mengawasi periode pertumbuhan ekonomi yang stabil. Ia secara dramatis meningkatkan indikator kualitas hidup dasar — khususnya di daerah pedesaan yang selama ini terabaikan, memperkenalkan sistem keluarga berencana progresif dan sistem kesehatan berbasis komunitas yang memperpanjang harapan hidup dan menjadi model global. Hasilnya nyata: angka kematian bayi membaik hingga 29 peringkat di tingkat global, dengan 11 kematian per 1.000 kelahiran. Ibu hamil di seluruh Iran kini mendapatkan perawatan prenatal gratis. Akses ke dokter spesialis dan bidan terlatih di daerah pedesaan berkembang secara signifikan.

 “Sangat wajib untuk memiliki dokter perempuan, sehingga penting bagi perempuan untuk menempuh pendidikan medis hingga ada jumlah dokter perempuan yang memadai.” 

📚 Sumber: Time Magazine | khamenei.ir | Hawzah News 

Kisah 10  🕌  Setad: Dana Pinjaman Tanpa Bunga untuk 41.000 Keluarga Miskin 
Lebih dari 90% keuntungan dari kegiatan bisnis Setad digunakan untuk meningkatkan infrastruktur di daerah miskin, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini mencakup pembangunan ratusan sekolah, masjid, dan hussainiyah, serta kontribusi langsung dan tidak langsung terhadap pembentukan lebih dari 350.000 lapangan kerja. Total pemberian pinjaman Qardh al-Hasan (tanpa bunga) sebesar 2,21 triliun rial telah diberikan kepada 41.000 keluarga di daerah-daerah miskin Iran, disertai rencana pembangunan dan penyerahan 17.000 unit rumah untuk keluarga-keluarga di kawasan miskin. 📚 Sumber: Wikipedia – Ali Khamenei (bagian Setad) 

Bagian III: Kecintaan terhadap Masyarakat Gaza dan Kemanusiaan 

Kisah 11  ✉️  Surat Terbuka kepada Mahasiswa AS yang Membela Gaza (Mei 2024) 
Pada saat ribuan mahasiswa Amerika diancam dipecat, ditangkap, dan diusir dari kampus mereka karena membela Gaza, Khamenei mengulurkan tangan solidaritas secara terbuka kepada mereka. 

“Wahai para mahasiswa di Amerika Serikat, pesan ini adalah ungkapan empati dan solidaritas kami kepada kalian. Saat halaman sejarah sedang berbalik, kalian berdiri di sisi yang benar. Kalian kini telah membentuk bagian dari gerakan perlawanan, dan telah memulai perjuangan yang terhormat di bawah tekanan kejam pemerintah kalian.” 

Surat yang ia tulis pada 25 Mei 2024 ini viral secara global, memicu kemarahan anggota parlemen AS yang pro-Israel, serta menuai dukungan jutaan orang di berbagai negara. Surat itu juga menyertakan nasihat personal: ‘Saranku kepada kalian adalah untuk mengenal Al-Qur’an.’ 📚 Sumber: khamenei.ir – Surat Resmi (letter4u2024) | Newsweek 

Kisah 12  💰  Kampanye Penggalangan Dana untuk Korban Gaza dan Lebanon 
Kepedulian terhadap Gaza bukan hanya bersifat retorika politik. Khamenei secara langsung menggerakkan kampanye penggalangan dana untuk para korban konflik di Gaza dan Lebanon. Dalam suratnya kepada mahasiswa Amerika, ia menyebut para pengunjuk rasa pro-Palestina sebagai ‘cabang dari Front Perlawanan’ dan memprediksi kemenangan mereka. Iran di bawah arahannya secara konsisten menjadi satu-satunya pemerintahan yang memberikan dukungan militer, logistik, dan finansial kepada Gaza ketika hampir seluruh dunia Arab memilih diam. 📚 Sumber: Wikipedia – Ali Khamenei 
Kisah 13  🙏  Tidak Pernah Bepergian ke Luar Negeri — Rakyat yang Harus Menemuinya 
Di antara para pemimpin dunia, Khamenei menonjol karena sikapnya yang tidak biasa: ia tidak pernah melawat ke luar negeri selama menjadi Pemimpin Tertinggi. Siapapun yang ingin menemuinya harus datang ke Iran. Satu-satunya perjalanan ke luar negeri yang tercatat adalah ke Libya saat masih menjabat sebagai Presiden, dan perjalanan muda ke Najaf untuk belajar. Prinsip ini ia pegang teguh selama lebih dari 36 tahun — sebuah pernyataan simbolis bahwa dirinya adalah milik rakyat Iran, bukan tamu tetap di panggung diplomasi global. 📚 Sumber: Wikipedia – Ali Khamenei 
Kisah 14  ⚰️  Wafat di Tanah Sendiri — Gugur Bersama Keluarga dalam Serangan AS–Israel (28 Februari 2026) 
Pada 28 Februari 2026, serangan udara AS–Israel yang menargetkan kantor Pemimpin Tertinggi merenggut nyawa Sayyid Ali Khamenei bersama sejumlah anggota keluarganya. Di berbagai sudut Iran, khususnya di hussainiyah-hussainiyah di desa-desa dan kawasan kelas pekerja, duka itu terasa personal dan mendalam. Suasana berkabung berlangsung tanpa organisasi negara yang formal — keluarga-keluarga berkumpul di rumah, anak-anak mengulang ratapan dengan pelan, sementara perempuan menghidangkan teh — sebuah dimensi ritual keagamaan yang intim dan personal. Ia tidak wafat di pengasingan, tidak dalam keamanan, dan tidak di balik tembok istana. Ia gugur di tanah rakyatnya sendiri, dalam pertarungan yang telah ia jalani sepanjang hidupnya. 📚 Sumber: Religion Unplugged | Euronews 

Penutup 

Empat belas kisah ini adalah cermin dari seorang manusia yang memilih jalan paling berat: bukan jalan kemewahan, bukan jalan keamanan, dan bukan jalan ketenaran. Ia memilih jalan para nabi dan para imam — jalan yang dimulai dari lorong gelap penjara SAVAK, melewati medan perang yang berdarah, menyeberangi lautan duka Gaza, dan berakhir dalam syahadah di tanah yang ia cintai. 

“Sesungguhnya jiwa-jiwa yang agung tidak dilahirkan oleh kenyamanan, melainkan oleh tekanan yang paling dalam dan penderitaan yang paling tulus.” 

Semoga Allah merahmati dan memuliakan ruhnya. 

رَحِمَهُ اللهُ وَرَفَعَ دَرَجَاتِهِ 

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ 

Exit mobile version