Site icon Majulah IJABI

99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 10) 

Sumber gambar: https://pin.it/7tFvQAegP

Oleh Ali Umar Alhabsyi 

يَا كُمَيْلُ، حُسْنُ خُلُقِ الْمُؤْمِنِ التَّوَاضُعُ، وَجَمَالُهُ التَّعَفُّفُ، وَشَرَفُهُ التَفَقُّةُ، وَعِزُّهُ تَرْكُ الْقِيلِ وَالْقَالِ. 

Wahai Kumail, keindahan akhlak seorang mukmin adalah kerendahan hatinya, keelokannya adalah menampakkan sifat ‘Iffah, kemuliaannya adalah mendalami ilmu agama, dan kehormatannya adalah meninggalkan perbincangan sia-sia. 

Dalam wasiat ini, ditekankan empat perkara penting dalam etika pergaulan dan bermasyarakat: 

Pertama, Sifat/sikap Tawâdhu’, rendah hati, dan jauh dari sikap congkak dan menyombongkan diri.    

Tawâdhu’ adalah sifat/sikap perilaku yang terpuji. Allah memujinya. Demikian pula dengan para nabi as. Para Imam Suci Ahlulbait as. juga menekankan keutamaan akhlak dan perilaku mulia ini. 

Sesungguhnya tawaduk (kerendahan hati) adalah salah satu sifat mulia yang mencerminkan kejernihan dan kesucian jiwa. Sikap ini juga mengandung ajakan untuk saling mencintai dan berkasih sayang di antara sesama. 

Tawâdhu’ kepada Allah pun termasuk nilai luhur yang apabila dijaga oleh seorang hamba, maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah Yang Maha tinggi dan Maha agung, sebagaimana sabda Nabi saw. 

Seseorang yang menyandang sifat Tawâdhu tidak akan memaksa minta diistimewakan dalam duduk di sebuah majelis. Ia akan menyapa dan mengucapkan salam terlebih dahulu kepada orang lain, dan ia siap mengalah dalam percek-cokan, walaupun ia di posisi yang benar, dan ia tidak gila pujian. 

Sebagaimana ia selalu menakar orang lain dengan dirinya. Apa-apa yang kira-kira tidak ia sukai untuk dirinya apabila orang melakukan terhadap dirinya, ia tidak akan lakukan terhadap orang lain. 

Dalam sebuah hadis, diriwayatkan Nabi saw. bersabda: 

إنّ التَّواضُعَ يَزيدُ صاحِبَهُ رِفعَةً ، فتَواضَعُوا يَرفَعْكُمُ اللَّهُ . 

“Sesungguhnya tawaduk (kerendahan hati) menambah kemuliaan bagi pelakunya. Maka rendahkanlah dirimu (dengan tulus), niscaya Allah akan meninggikan derajatmu.” 

Dalam hadis lain, beliau saw. bersabda: 

ثَلاثَةٌ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِنَّ إلّا خَيراً : التَّواضُعُ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِ إلّا ارتِفاعاً ، وذِلُّ النَّفسِ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِ إلّا عِزّاً ، والتَّعَفُّفُ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِ إلّا غِنىً . 

“Tiga hal yang Allah tidak menambahnya kecuali dengan kebaikan: Kerendahan hati/ tawâdhu’, Allah tidak menambahkannya kecuali dengan ketinggian derajat, kerendahan jiwa/rendah hati di hadapan kebenaran, Allah tidak menambahkannya kecuali dengan kemuliaan, menjaga kehormatan diri (menahan diri dari yang haram dan meminta-minta), Allah tidak menambahkannya kecuali dengan kekayaan (kecukupan dan keberkahan). 

Kedua, Menjaga sifat/sikap ‘Iffah&, kehormatan diri, khususnya dari meminta-minta kepada orang lain. Sikap _‘Iffah mencerminkan kemuliaan diri dan tinggi semangat hidup, dan tumbuh dari kesadaran akan hinanya meminta-minta dan bergantung kepada belas kasih orang lain. 

Al Qur’an telah memuji mereka yang mampu menjaga harga dirinya dari meminta-minta atau menampakkan kemiskinan untuk menarik rasa iba dan kasihan orang lain: 

وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْۗ وَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ 

“Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, (manfaatnya) untuk dirimu (sendiri). Kamu (orang-orang mukmin) tidak berinfak, kecuali karena mencari rida Allah. Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi.” (QS. Al Baqarah; 272) 

لِلْفُقَرَاۤءِ الَّذِيْنَ اُحْصِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِى الْاَرْضِۖ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمٰهُمْۚ لَا يَسْـَٔلُوْنَ النَّاسَ اِلْحَافًاۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ 

“(Apa pun yang kamu infakkan) diperuntukkan bagi orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah dan mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak mengetahuinya mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari mengemis. Engkau (Nabi Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya (karena) mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Mahatahu tentang itu .” (QS. Al Baqarah; 273) 

Hadis Nabi saw. dan para Imam Suci Ahlulbait as., sifat ‘Iffah juga mendapat pujian yang luar biasa. Di antaranya sebagai berikut: 

Nabi saw. bersabda: 

يَا أَبَا ذَرٍّ! إِيَّاكَ وَالسُّؤَالَ، فَإِنَّهُ ذُلٌّ حَاضِرٌ، وَفَقْرٌ مُتَعَجِّلٌ، وَفِيهِ حِسَابٌ طَوِيلٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ 

“Wahai Abu Dzarr! Waspadalah terhadap meminta-minta, karena sesungguhnya itu adalah kehinaan yang hadir, kemiskinan yang disegerakan, dan di dalamnya terdapat hisab yang panjang pada hari Kiamat.” 

Imam Ali as bersabda: 

الْعَفَافُ زِينَةُ الْفَقْرِ وَ الشُّكْرُ زِينَةُ الْغِنَى 

Kesucian diri (ʿiffah) adalah perhiasan bagi kefakiran, dan rasa syukur adalah perhiasan bagi kekayaan. 

Imam Ali Zainal Abidin as. bersabda: 

طَلَبُ الْحَوَائِجِ إِلَى النَّاسِ مَذَلَّةٌ لِلْحَيَاةِ، وَمُذْهِبَةٌ لِلْحَيَاءِ، وَاسْتِخْفَافٌ بِالْوَقَارِ، وَهُوَ الْفَقْرُ الْحَاضِرُ، وَقِلَّةُ طَلَبِ الْحَوَائِجِ مِنَ النَّاسِ هِيَ الْغِنَى الْحَاضِرُ. 

“Meminta kebutuhan kepada manusia adalah kehinaan bagi kehidupan, menghapus rasa malu, meremehkan kewibawaan, dan itulah kefakiran yang nyata. Sedikit meminta kebutuhan kepada manusia adalah kekayaan yang nyata.” 

Ketiga, Kemuliaan seorang Mukmin terletak pada Keseriusannya dalam upaya untuk menuntut ilmu pengetahuan, khusus dalam memahami ajaran Agamanya. Dan kebodohan adalah kehinaan. 

Dan yang Keempat, Kehormatan seorang Muslim terletak pada meninggalkan banyak berbicara pada perkara-perkara yang tidak berguna, meninggalkan perdebatan tanpa arah dan tujuan, yang boleh jadi hanya membawa madharrat dan menumbuh suburkan kebencian dalam hati. Seperti akan diperjelas dalam wasiat berikutnya. 

(Bersambung Insyaallah) 

Exit mobile version