Site icon Majulah IJABI

99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd (Bag. 12).

Sumber gambar: https://pin.it/51kRPNrMH

Oleh Habib Ali Umar Al Habsyi (Anggota Dewan Syura IJABI)

يَا كُمَيْلُ، إِذَا جَادَلْتَ فِي اللهِ تَعَالَى، فَلَا تُخَاطِبْ إِلَّا مَنْ يُشْبِهُ الْعُقَلَاءَ، وَهَذَا ضَرُورَةٌ. 

Wahai Kumail, apabila engkau berdebat tentang Allah Ta‘âlâ, maka janganlah engkau berbicara kecuali dengan orang yang menyerupai kaum berakal, karena hal itu adalah suatu keharusan. 

Nasihat ini mengingatkan kita bahwa orang yang berdebat tentang Tuhan dan Ketuhanan, adakalanya memang ia sedang serius mencari kebenaran dan mengimaninya, atau bisa jadi sekedar berdebat untuk Orang model kedua ini, betapa pun seribu satu bukti kita tegakkan di hadapannya, ia tetap menolak dan tidak mau tunduk mengimaninya. Persis seperti kaum kafir Quraisy di zaman Nabi saw. setelah semua bukti kebenaran tegak di hadapan mereka, mereka tetap menampakkan sikap degil dan menentang kebanaran Kerasulan Baginda Nabi saw. dan kebenaran Islam. 

Karena itu berdebat dengan orang model seperti itu tidak ada gunanya dan hanya membuang energi dan larut dalam kesia-siaan belaka. Lebih baik ditinggalkan.
Para Ulama Syi’ah telah meriwayatkan banyak perdebatan Nabi saw. dan para Imam as. dengan para penentang. Sebagian dari mereka memang serius mencari kebenaran, sementara sebagian lainnya, tidak menampakkan kesungguh-sungguhan dalam mencari kebenaran. 

Abu Manshur Ahmad Ath Thabarsi penulis kitab Al Ihtijâj meriwayatkan dari Hisyam bin al Hakam: 

Hisyam berkata: “Di Mesir ada seorang zindiq (ateis atau pengingkar Tuhan) yang sering mendengar kabar tentang keluasan ilmu Imam Ja‘far ash Shadiq as.
Maka ia pun berangkat menuju Madinah untuk berdebat dengan beliau. Namun ketika tiba di sana, ia mendengar bahwa Imam sedang berada di Makkah. Ia pun berangkat ke Makkah, sementara kami sedang bersama Imam Ja‘far ash Shadiq as.  

Ketika ia tiba dan mendapati Imam sedang melakukan ṭawaf di Ka‘bah, ia mendekat lalu memberi salam. 

Imam bertanya kepadanya: “Siapa namamu?” 

Ia menjawab: “Abdul Malik.” 

Imam bertanya lagi: “Apa kunyah-mu (julukan yang diawali dengan kata Abu atau Ummu yang biasanya diambil dari nama anak tertua_pen)?” 

Ia menjawab: “Abu Abdullah/Bapaknya Abdullah.” 

Maka Imam Ja‘far ash Shadiq as. bersabda: “Siapakah raja (Malik) yang engkau sebagai hamba-Nya itu? Apakah ia termasuk raja di bumi, atau raja di langit? Dan beritahukan kepadaku tentang anakmu: Apakah dia hamba Tuhan langit, atau hamba Tuhan bumi?” 

Orang itu terdiam. 
Imam berkata: “Jawablah!” tetapi ia tetap diam. 
Maka Imam bersabda: “Jika aku telah selesai ṭawaf, datanglah kepadaku.” 

Ketika Imam telah selesai ṭawaf, orang zindiq itu datang dan duduk di hadapan beliau, sementara kami berkumpul di sekitarnya.
Lalu Imam Ja‘far ash Shadiq as. bertanya kepadanya: “Apakah engkau tahu bahwa bumi ini memiliki bagian bawah dan atas?”
Ia menjawab: “Ya.”
Imam bertanya: “Apakah engkau pernah masuk ke bagian bawahnya?”
Ia menjawab: “Tidak.”
Imam bertanya: “Apakah engkau tahu apa yang ada di bawahnya?”
Ia menjawab: “Aku tidak tahu, kecuali aku berprasangka bahwa tidak ada apa-apa di bawahnya.”
Imam bersabda: “Prasangka adalah kelemahan selama belum ada keyakinan.”
Kemudian Imam bertanya lagi: “Apakah engkau pernah naik ke langit?”
Ia menjawab: “Tidak.”
Imam bertanya: “Apakah engkau tahu apa yang ada di sana?”
Ia menjawab: “Tidak.”
Imam bertanya: “Apakah engkau pernah pergi ke timur dan ke barat, lalu melihat apa yang ada di balik keduanya?”
Ia menjawab: “Tidak.”
Maka Imam bersabda: “Sungguh mengherankan dirimu! Engkau belum mencapai timur, belum mencapai barat, belum turun ke bawah bumi, belum naik ke langit, dan tidak mengetahui apa yang ada di sana, namun engkau berani mengingkari apa yang ada di dalamnya! Apakah orang berakal akan mengingkari sesuatu yang tidak ia ketahui?” 

Orang zindiq itu berkata: “Belum pernah ada yang berbicara kepadaku seperti engkau ini.” 

Imam bersabda: “Berarti engkau masih dalam keraguan. Barangkali ada (Tuhan itu), dan barangkali tidak ada?” 

Ia menjawab: “Ya, barangkali begitu.” 

Imam bersabda: “Wahai lelaki! Orang yang tidak tahu tidak memiliki hujjah atas orang yang tahu, dan orang bodoh tidak memiliki hujjah atas orang berilmu. Wahai saudaraku dari Mesir, pahamilah baik-baik ucapanku. Tidakkah engkau melihat matahari dan bulan, malam dan siang yang datang silih berganti, berjalan dan kembali pada waktunya? Keduanya terpaksa, tidak memiliki tempat kecuali tempatnya yang telah ditentukan. 

Jika keduanya berkuasa untuk pergi (tanpa kendali), mengapa mereka kembali? Dan jika mereka tidak terpaksa, mengapa malam tidak menjadi siang, dan siang tidak menjadi malam? Demi Allah, wahai saudaraku dari Mesir, keduanya benar-benar terpaksa oleh kehendak Tuhan. 
Adapun keyakinan kalian tentang ad dahr (zaman) yang kalian anggap sebagai penyebab segala sesuatu, maka jika ‘zaman’ itulah yang menggerakkan mereka, mengapa ia mengembalikannya? Dan jika ia yang mengembalikan mereka, mengapa ia menggerakkan mereka? 

Tidakkah engkau melihat langit yang tegak tinggi, dan bumi yang terhampar di bawah, namun langit tidak jatuh ke bumi, dan bumi tidak meluncur ke bawahnya? Demi Allah, yang menahan dan menegakkannya adalah Sang Pencipta dan Pengatur keduanya!” 

Maka orang zindiq itu pun beriman di tangan Imam Ja‘far ash Shadiq as. Kemudian Imam berkata: “Wahai Hisyam, bawalah ia bersamamu dan ajarilah dia.” 

Demikianlah kesudahan orang yang serius mencari kebenaran ketika ia menemukan kebenaran. Ia menerima dan beriman. 

Exit mobile version