Site icon Majulah IJABI

99 Wasiat Imam Ali bin abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag.16) 

Sumber gambar: https://pin.it/5VSIWUhV9

Oleh Habib Ali Umar Alhabsyi (Anggota Dewan Syura IJABI) 

يَا كُمَيْلُ، لَا تُرِ النَّاسَ افْتِقَارَكَ وَاضْطِرَارَكَ، وَاصْبِرْ عَلَيْهِ احْتِسَابًا، تُعْرَفْ بِسِتْرٍ. 

Wahai Kumail, janganlah engkau perlihatkan kepada manusia kefakiran dan kebutuhanmu, tetapi bersabarlah atasnya dengan mengharap pahala dari Allah, niscaya engkau akan dikenal sebagai orang yang terjaga kehormatannya. 

Ketika seseorang mengalami kondisi terpuruk dalam ekonomi, maka hendaknya ia tidak menampakkan kondisi kefakiran, kepapahan dan kemiskinan serta kebutuhan mendesaknya kepada orang lain. Karena watak kebanyakan manusia akan menanggap hina orang yang miskin. Sementara kemuliaan ditentukan oleh harta dan kekayaan serta kedudukan. Bahkan kedudukan di sisi Allah pun dalam pandangan mereka akan ditentukan oleh harta dan kekayaan yang dimiliki seorang. 

Karena itu, agar seorang Mukmin tidak terhina di hadapan mereka, maka jangan sekali-kali ia berpenampilan miskin yang menantu belas kasih dan bantuan orang lain. Hendaknya ia menjaga kehormatan dirinya.  

Dalam Al Qur’an banyak kisah penuh hikmah yang membongkar watak kebanyakan manusia yang selalu menakar kemuliaan dengan materi. Ambil contoh misalnya kisah pengangkatan Thalut sebagai raja atas bani Israil. Allah menunjuk Thalut sebagai raja atas mereka, tetapi mereka memprotesnya dengan alasan bahwa Thalut adalah seorang yang miskin. Seorang pemimpin dan raja haruslah seorang kaya dan berasal dari keluarga milyarder. Allah mengabadikan sikap bani israil dalam ayat 247 Surah Al Baqarah. Allah SWT. berfirman: 

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوْتَ مَلِكًاۗ قَالُوْٓا اَنّٰى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ اَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِۗ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَالْجِسْمِۗ وَاللّٰهُ يُؤْتِيْ مُلْكَهٗ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ 

“Nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana (mungkin) dia memperoleh kerajaan (kekuasaan) atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) menjawab, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik.” Allah menganugerahkan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas (kekuasaan dan rezeki-Nya) lagi Maha Mengetahui.” 

Di antara keberatan yang menjadi alasan mengapa kaum kafir Quraisy dan selainnya menolak kenabian Baginda Nabi Muhammad saw., adalah karena beliau bukan seorang Milyarder. Perhatikan ayat-ayat di bawah ini: 

وَقَالُوْا لَوْلَا نُزِّلَ هٰذَا الْقُرْاٰنُ عَلٰى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيْمٍ 

“Mereka (juga) berkata, “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada (salah satu) pembesar dari dua negeri ini (Makkah dan Taif)?” (QS. Az Zukhruf; 31) 

فَلَعَلَّكَ تَارِكٌۢ بَعْضَ مَا يُوْحٰىٓ اِلَيْكَ وَضَاۤىِٕقٌۢ بِهٖ صَدْرُكَ اَنْ يَّقُوْلُوْا لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْهِ كَنْزٌ اَوْ جَاۤءَ مَعَهٗ مَلَكٌۗ اِنَّمَآ اَنْتَ نَذِيْرٌۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌۗ 

“Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan dadamu menjadi sempit karena (takut) mereka mengatakan, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya harta (kekayaan) atau datang malaikat bersamanya?” Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah adalah pemelihara segala sesuatu.” (QS. Hud; 12) 

Syeikh al Karâjiki dalam Kanzul Fawâid-nya meriwayatkan wasiat Lukman al Hakîm kepada putranya: 

اعلَم يا بُنَيَّ أنّي ذُقتُ الصَّبِرَ و أنواعَ المُرِّ فَلَم أرَ أمَرَّ مِنَ الفَقرِ، فَإِنِ افتَقَرتَ يَوماً فَاجعَل فَقرَكَ بَينَكَ و بَينَ اللّهِ، و لا تُحَدِّثِ النّاسَ بِفَقرِكَ فَتَهونَ عَلَيهِم، ثُمَّ سَل فِي النّاسِ: هَل مِن أحَدٍ دَعَا اللّهَ فَلَم يُجِبهُ، أو سَأَلَهُ فَلَم يُعطِهِ. 

“Ketahuilah, wahai anakku, sesungguhnya aku telah merasakan berbagai bentuk kesabaran dan mencicipi bermacam-macam kepahitan, namun aku tidak pernah menemukan sesuatu yang lebih pahit daripada kemiskinan. Maka jika engkau jatuh miskin suatu hari, jadikanlah kemiskinanmu itu hanya antara engkau dan Allah; janganlah engkau menceritakannya kepada manusia, karena dengan begitu engkau akan menjadi hina di mata mereka. Kemudian bertanyalah kepada manusia: Adakah seseorang yang pernah berdoa kepada Allah, lalu Allah tidak mengabulkannya? Atau memohon sesuatu kepada-Nya, lalu Dia tidak memberinya?” 

Al Kulaini juga meriwayatkan wasiat serupa dengan redaksi sedikit berbeda sebagai di bawah berikut ini: 

يا بُنَيَّ، ذُقتُ الصَّبِرَ، و أكلَتُ لِحاءَ الشَّجَرِ فَلَم أجِد شَيئاً هُوَ أمَرُّ مِنَ الفَقرِ، فَإِن بُليتَ بِهِ يَوماً فَلا تُظهِرِ النّاسَ عَلَيهِ فَيَستَهينوكَ و لا يَنفَعوكَ بِشَي‌ءٍ، ارجِع إلَى الَّذِي ابتَلاكَ بِهِ فَهُوَ أقدَرُ عَلى فَرَجِكَ، و سَلهُ، مَن ذَا الَّذي سَأَلَهُ فَلَم يُعطِهِ، أو وَثِقَ بِهِ فَلَم يُنجِهِ! 

“Wahai anakku, aku telah merasakan berbagai bentuk kesabaran, dan pernah memakan kulit pepohonan karena lapar, namun aku tidak pernah menemukan sesuatu yang lebih pahit daripada kemiskinan. 

Maka jika engkau diuji dengannya suatu hari, janganlah menampakkannya kepada manusia; karena mereka akan merendahkanmu, dan tidak akan memberi manfaat apa pun kepadamu. Kembalilah kepada Dia yang telah mengujimu dengannya, sebab Dia-lah yang paling kuasa untuk melepaskanmu darinya.

Mintalah kepada-Nya dan bertanyalah: “siapakah yang pernah memohon kepada-Nya lalu tidak diberi, atau menaruh kepercayaan kepada-Nya lalu tidak diselamatkan?

Selain itu, ketika engkau menampakkan kebutuhan dan kemiskinanmu kepada orang lain, maka sesungguhnya mereka antara dua kemungkinan; akan iba dan merasa kasihan, tetapi tidak mampu membantumu. Dan yang demikian itu akan membuatnya bersedih dan terbebani. Atau ia akan bergembira menyaksikan keadaanmu dan akan mencemoohmu. Dan yang demikian akan menyakitkan hatimu. Atau kemungkinan lain, ada yang iba lalu membantumu. Maka saat itu, engkau terbelenggu oleh hutang budi kepadanya.

Karena itu, dalam banyak hadis disebutkan bahwa bersabar atas kemiskinan sangat besar pahalanya di sisi Allah SWT. 
Bersabar tidak berarti menyerah dan pasrah tanpa usaha mencari rezeki Allah seperti yang Allah perintahkan. 

(Bersambung insyaallah) 

Exit mobile version