Site icon Majulah IJABI

AL GHADIR BELUM BERAKHIR 

Dari Arafah Menuju Peradaban, Dari Khum Menuju Masa Depan 
Tidak semua peristiwa besar lahir di medan perang. 
Tidak semua perubahan sejarah dimulai oleh suara pedang. 
Sebagian lahir dari sebuah pesan. 
Sebuah amanah. 
Sebuah kalimat yang diucapkan pada saat yang tepat, kepada manusia yang tepat, untuk masa depan yang bahkan belum lahir. 
Empat belas abad yang lalu, Rasulullah Muhammad SAWA memimpin seratus ribu lebih kaum Muslimin menuju tanah suci. 
Itulah tahun ke-10 Hijriah. 
Tahun yang kemudian dikenal sebagai Hajjatul Wada’. 
Haji Perpisahan. 
Tidak ada yang benar-benar mengetahui apa yang ada dalam hati Rasulullah saat itu. 
Namun banyak sahabat merasakan bahwa mereka sedang menyertai Nabi dalam salah satu perjalanan terakhirnya. 
Islam telah sempurna. 
Makkah telah kembali menjadi kota tauhid. 
Berhala-berhala telah runtuh. 
Jazirah Arab telah berubah. 
Tetapi sebuah pertanyaan besar mulai berhembus bersama angin padang pasir: 
Apa yang akan terjadi setelah Rasulullah tiada? 
Siapa yang akan menjaga Al-Qur’an? 
Siapa yang akan menjaga keadilan? 
Siapa yang akan menjaga arah perjalanan umat? 
Jawaban atas pertanyaan itu tidak turun sekaligus. 
Ia hadir dalam dua peristiwa yang saling melengkapi. 

Arafah dan Ghadir. 

Di Arafah, Rasulullah berbicara tentang kemanusiaan. 
Tentang kehormatan darah dan harta. 
Tentang hak-hak perempuan. 
Tentang persaudaraan. 
Tentang amanah. 
Tentang keadilan. 
Tentang nilai-nilai yang harus menjadi fondasi sebuah peradaban. 
Arafah menjelaskan apa yang harus dijaga. 
Namun sejarah belum selesai. 
Karena beberapa hari kemudian, di sebuah persimpangan bernama Khum, Rasulullah menjelaskan siapa yang akan menjaga. 
Di tengah panas Dzulhijjah yang membakar. 
Di sebuah oasis yang menjadi titik perpisahan jalan-jalan besar Jazirah Arab. 
Di tempat ribuan jamaah akan berpisah menuju kampung halaman masing-masing. 
Rasulullah memerintahkan seluruh kafilah berhenti. 
Yang sudah berjalan jauh dipanggil kembali. 
Yang tertinggal diperintahkan menyusul. 
Semua harus hadir. 
Semua harus mendengar. 
Semua harus menjadi saksi. 
Seakan langit sendiri sedang berkata: 
“Jangan ada yang pergi sebelum amanah ini disampaikan.” 
Pelana-pelana unta ditumpuk menjadi mimbar. 
Ribuan manusia berkumpul di bawah matahari yang menyengat. 
Dan di atas mimbar sederhana itu Rasulullah berdiri. 
Beliau memandang umat yang dicintainya. 
Umat yang sebentar lagi akan beliau tinggalkan. 
Lalu beliau bertanya: 
“Bukankah aku lebih berhak atas kalian daripada diri kalian sendiri?” 
Mereka menjawab: 
“Benar, wahai Rasulullah.” 
Maka Rasulullah menggenggam tangan Ali bin Abi Thalib. 
Mengangkatnya tinggi. 

Tinggi hingga terlihat oleh lautan manusia yang hadir. 

Lalu beliau mengucapkan kalimat yang terus bergema melampaui abad demi abad: 

Man kuntu maulahu fa hadza Aliyyun maulahu. 

Barang siapa menjadikan aku sebagai maulanya, maka Ali adalah maulanya. 

Kalimat itu singkat. 

Tetapi sebagian sejarah memang berubah oleh kalimat-kalimat yang singkat. 

Karena sesungguhnya Rasulullah tidak sedang memperkenalkan Ali. 

Umat telah mengenal Ali. 

Mereka mengenal keberaniannya. 

Mereka mengenal ilmunya. 

Mereka mengenal kesetiaannya. 

Mereka mengenal pengorbanannya. 

Yang sedang dilakukan Rasulullah pada hari itu adalah memastikan bahwa cahaya kenabian tidak kehilangan penjaganya. 

Bahwa nilai tidak kehilangan pelindungnya. 

Bahwa keadilan tidak kehilangan pembelanya. 

Bahwa Al-Qur’an tidak kehilangan penafsirnya. 

Bahwa peradaban tidak kehilangan arah. 

Karena itulah Al Ghadir sesungguhnya bukan sekadar peristiwa politik. 

Ia adalah peristiwa amanah. 

Amanah untuk menjaga risalah. 

Amanah untuk menjaga manusia. 

Amanah untuk menjaga masa depan. 

Dan amanah itu tidak berhenti pada Imam Ali. 

Ia hidup dalam keberanian Fatimah az-Zahra. 

Ia hidup dalam kebijaksanaan Imam Hasan. 

Ia berdiri tegak di Karbala bersama Imam Husain. 

Ia mengalir dalam ilmu para Imam Ahlulbait. 

Ia tumbuh di Najaf. 

Ia berkembang di Qom. 

Ia hidup di dalam hati para pencari kebenaran sepanjang zaman. 

Karena sesungguhnya Karbala adalah gema dari Ghadir. 

Darah Husain adalah penjaga amanah Ghadir. 

Husain tidak sedang mengejar kekuasaan. 

Beliau sedang menjaga agar agama tidak kehilangan ruhnya. 

Agar Islam tidak berubah menjadi alat pembenaran bagi kezaliman. 

Agar manusia tetap memiliki keberanian untuk berkata benar di hadapan kebatilan. 

Berabad-abad kemudian, semangat yang sama kembali bangkit. 

Ia hidup dalam kebangkitan umat. 

Ia hidup dalam gerakan ilmu. 

Ia hidup dalam perlawanan terhadap penindasan. 

Ia hidup dalam suara seorang ulama yang mengubah jalannya sejarah. 

Imam Khomeini. 

Beliau mengingatkan dunia bahwa agama tidak boleh menjadi penonton sejarah. 

Agama harus hadir membela kaum tertindas. 

Agama harus berdiri bersama keadilan. 

Agama harus menjadi kekuatan pembebasan. 

Namun perlawanan bukanlah tujuan akhir. 

Karena setelah perlawanan, ada tugas yang jauh lebih besar. 

Membangun peradaban. 

Dan pesan itulah yang terus ditegaskan oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. 

Bahwa sebuah bangsa tidak dihormati hanya karena mampu bertahan. 

Sebuah bangsa dihormati karena mampu membangun. 

Membangun manusia. 

Membangun ilmu. 

Membangun budaya. 

Membangun kepercayaan diri. 

Membangun masa depan. 

Karena perlawanan tanpa ilmu dapat berubah menjadi kemarahan. 

Perlawanan tanpa akhlak dapat berubah menjadi kebencian. 

Tetapi perlawanan yang dipandu oleh nilai akan melahirkan peradaban. 

Dan di titik inilah Arafah, Ghadir, Karbala, Najaf, Qom, Revolusi Islam, dan masa depan bertemu dalam satu garis sejarah yang sama. 

Garis amanah. 

Hadirin yang dimuliakan Allah, 

Kita mungkin tidak hidup di Madinah. 

Kita tidak hidup di Karbala. 

Kita tidak hidup di Najaf. 

Kita tidak hidup di Qom. 

Kita hidup di Indonesia. 

Di negeri yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. 

Di negeri yang dipersatukan oleh ratusan suku, bahasa, dan budaya. 

Di negeri yang diwariskan oleh para pendiri bangsa sebagai rumah bersama. 

Dan justru karena itulah pesan Ghadir menjadi begitu dekat dengan kita. 

Bangsa ini tidak kekurangan orang cerdas. 

Tidak kekurangan orang berpendidikan. 

Tidak kekurangan orang yang pandai berbicara. 

Yang sering kita kekurangan adalah penjaga amanah. 

Kita membutuhkan lebih banyak guru yang mengajar dengan hati. 

Lebih banyak ulama yang membimbing dengan keteladanan. 

Lebih banyak pemimpin yang melayani daripada dilayani. 

Lebih banyak orang tua yang mewariskan nilai, bukan sekadar harta. 

Lebih banyak anak muda yang berani menjaga integritas di tengah godaan zaman. 

Karena masa depan bangsa tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras berbicara. 

Masa depan bangsa ditentukan oleh siapa yang paling sungguh-sungguh menyiapkan generasi berikutnya. 

Bukankah itulah inti Ghadir? 

Menyiapkan masa depan sebelum masa depan itu tiba. 

Menjaga amanah sebelum amanah itu hilang. 

Menjaga cahaya sebelum cahaya itu padam. 

Hadirin yang berbahagia, 

Barangkali kesalahan terbesar ketika membaca sejarah adalah menganggap bahwa sejarah telah selesai. 

Padahal sejarah tidak pernah selesai. 

Ia hidup dalam pilihan-pilihan kita. 

Ghadir hidup ketika seorang guru mengajar dengan ikhlas. 

Ghadir hidup ketika seorang ibu membesarkan anak-anaknya dengan cinta. 

Ghadir hidup ketika seorang ayah menjaga keluarganya dengan amanah. 

Ghadir hidup ketika seorang pemimpin menolak mengkhianati rakyatnya. 

Ghadir hidup ketika seorang pelajar memilih ilmu daripada kebodohan. 

Ghadir hidup ketika seseorang berdiri membela kebenaran meskipun harus berjalan sendirian. 

Karena pada akhirnya Ghadir bukan hanya tentang Ali. 

Ghadir adalah tentang amanah. 

Dan amanah selalu mencari penjaganya di setiap zaman. 

Maka pertanyaan terbesar Al Ghadir sesungguhnya bukanlah: 

“Apa yang terjadi di Khum?” 

Sejarah telah menjawabnya. 

Bukan pula: 

“Siapakah Ali bin Abi Thalib?” 

Umat telah mengenalnya. 

Pertanyaan yang tersisa adalah: 

Jika amanah itu telah sampai kepada kita, apa yang akan kita lakukan dengannya? 

Karena masa depan, sebagaimana masa lalu, selalu ditentukan oleh mereka yang bersedia menjaga cahaya ketika orang lain membiarkannya padam. 

Mungkin itulah sebabnya Al Ghadir belum berakhir. 

Ia masih berjalan bersama sejarah. 

Ia masih hidup di dalam hati manusia. 

Ia masih menunggu mereka yang bersedia menjadi mata rantai berikutnya. 

Hingga suatu hari, sebagaimana janji Allah dan harapan para nabi, perjalanan panjang itu mencapai puncaknya pada masa kemunculan Imam Mahdi as. 

Hari ketika bumi dipenuhi keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi kezaliman. 

Hari ketika amanah menemukan kesempurnaannya. 

Hari ketika cahaya yang dimulai di Gua Hira mencapai fajar peradaban manusia. 

Dan pada hari itu kita akan memahami bahwa sejak Arafah, Khum, Karbala, Najaf, Qom, hingga Indonesia hari ini, sesungguhnya hanya ada satu perjalanan yang sedang berlangsung: 

Perjalanan menjaga cahaya. 

Perjalanan menjaga amanah. 

Perjalanan membangun peradaban. 

Karena Al Ghadir bukan sekadar peristiwa. 

Ia adalah mata rantai. 

Ia menghubungkan Rasulullah dengan Ali. 

Ali dengan Fatimah. 

Fatimah dengan Husain. 

Husain dengan para Imam. 

Para Imam dengan para ulama. 

Para ulama dengan kebangkitan umat. 

Dan seluruh perjalanan itu dipersatukan oleh satu kata yang tidak pernah berubah: 

AMANAH. 

Amanah yang diwariskan Rasulullah kepada Ali. 

Amanah yang dijaga Ali dengan keadilan. 

Amanah yang dipertahankan Fatimah dengan keteguhan. 

Amanah yang ditebus Husain dengan darah dan pengorbanan. 

Amanah yang dijaga para Imam dengan ilmu. 

Amanah yang diwariskan para ulama kepada umat. 

Dan amanah yang hari ini telah sampai kepada kita. 

Maka jangan biarkan ia berhenti pada kekaguman. 

Jangan biarkan ia berhenti pada perayaan. 

Jangan biarkan ia berhenti pada cinta yang hanya tersimpan dalam kata-kata. 

Biarlah cinta kepada Ali menjelma menjadi kejujuran dalam pekerjaan kita. 

Menjadi amanah dalam keluarga kita. 

Menjadi keberanian dalam membela kebenaran. 

Menjadi kepedulian kepada sesama. 

Menjadi ilmu yang bermanfaat. 

Menjadi akhlak yang menghadirkan kemuliaan. 

Karena sesungguhnya para pecinta Ali bukan dikenal dari apa yang mereka katakan. 

Tetapi dari apa yang mereka wariskan. 

Dan warisan terbesar Ali bukanlah kekuasaan. 

Melainkan amanah. 

Selamat Hari Raya Al Ghadir. 

Semoga kita bukan hanya menjadi pecinta Ali. 

Tetapi juga menjadi penjaga amanah yang diwariskan Ali. 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Bandung, 16 Zulhijah 1447 H

Exit mobile version