Site icon Majulah IJABI

Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil

Penulis : Muhammad Bhagas (Anggota Departemen Khidmat dan Seni Budaya)

Dalam ajaran Ahlul Bait as, suluk (perjalanan spiritual) tidak hanya ditempuh dengan amalan-amalan dan ritual keagamaan. Suluk tidak hanya tercermin dalam sikap dan perbuatan yang tampak. Lebih dari itu, suluk merupakan akumulasi dari keseluruhan diri kita, dari yang terdalam hingga yang terluar yang ada pada diri kita. Sehingga, seperti apa keyakinan dan anggapan kita tentang sesuatu, bahkan anggapan kita tentang diri kita sendiri pun itu merupakan bagian dari suluk kita. Jadi sebenarnya manusia menempuh suluk dan riyadhah sejak dalam hati dan pikirannya.

Seseorang mungkin mengira bahwa selama ia konsisten melakukan amal ibadah dan tidak melakukan dosa secara lahiriah, maka ia telah berada di jalan yang benar. Padahal, di balik amal-amal itu mungkin tertanam “aku” yang diam-diam akan tumbuh dan menguat. Misalnya ketika seseorang mulai merasa dirinya lebih memahami hakikat agama daripada orang lain, lebih tinggi ilmunya, lebih ikhlas, lebih tulus, lebih dekat kepada Allah, lebih banyak berbuat baik, lebih banyak berkhidmat, atau merasa telah mencapai kedudukan spiritual tertentu daripada orang lain. Ia memandang orang lain lebih rendah karena dalam pandangannya orang itu tidak tampak menjalankan laku suluk seperti dirinya. Semua itu mungkin tidak pernah diucapkan lisan, tetapi telah menjadi bisikan yang menetap dalam hati. Di sinilah letak ujian yang sangat halus.

Ada beberapa riwayat Ahlul Bait as berhubungan dangan pembahasan ini. Di antaranya, diriwayatkan dari Imam ‘Ali bin Abi Thalib as: man kana ‘inda nafsihi ‘azhiman, kana ‘indallah haqiran. Barangsiapa yang menganggap dirinya besar dan hebat, maka hakikatnya dia sangat hina dan rendah di sisi Allah (Ghurar al-Hikam, no. 8609). Ukuran kemuliaan di sisi Allah tidak mengikuti persepsi diri manusia tentang dirinya sendiri. Manusia dapat membangun citra yang indah, baik dan saleh tentang dirinya, tetapi Allah melihat hakikat yang tersembunyi di balik citra itu. Ketika hati dipenuhi rasa kebesaran diri, sebenarnya ia telah kehilangan ruang untuk menyaksikan kebesaran Allah. Dua kebesaran tidak berhimpun dalam satu hati. Semakin besar “aku”, semakin tertutup cahaya “Dia”.

Dalam riwayat lain disebutkan: i’jabul mar’i bi nafsihi burhanu naqshihi wa ‘unwanu dha’fi ‘aqlihi. Kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri itu menjadi bukti kecacatan dirinya dan tanda kelemahan akalnya (Ghurar al-Hikam, no. 2006). Kekurangan yang dimaksud adalah cacat dalam pengenalan diri. Orang yang semakin mengenal dirinya dengan benar justru ia semakin mengakui kelemahan dan kebergantungan mutlak dirinya di hadapan Allah SWT, semakin mengakui betapa kurangnya dirinya dalam beramal dan menunaikan hak-hak, dan mengakui ambisi-ambisi, penyakit-penyakit hati dan aib-aib batin yang selama ini berusaha ditutupi agar tidak diketahui orang lain. Maka orang yang terpesona oleh dirinya sendiri sesungguhnya belum melihat hakikat dirinya. Ia hanya memandang bayangan yang diciptakan oleh egonya.

Juga ada riwayat dari Imam Ja’far al-Shadiq as bahwa ketika seseorang merasa amal kebaikannya sudah banyak maka setan tidak perlu lagi menggodanya karena dengan merasa seperti itu amalnya tidak akan diterima (Al-Khishal, jilid 1, halaman 112, no. 86). Merasa puas dengan amal, menghitung-hitung amal sehingga menganggap kebaikannya sudah banyak, dan menjadikan amal sebagai sandaran, semua ini akan menjadikan seseorang merasa aman-aman saja dalam perjalanan. Rasa aman inilah yang menghambat bahkan mematikan perjalanan karena perjalanan sejati justru hidup dari rasa butuh yang terus menerus. Bagaimana mungkin ia merasa butuh, sedang ia tidak merasa kurang?

Sebaliknya, selama orang masih merasa sangat kurang dalam beribadah dan berbuat baik, ia akan terus memperbaiki diri, memohon ampun, dan berharap kemurahan dan rahmat Allah. Seseorang yang amalnya sedikit namun selalu merasa dirinya fakir dan hina di hadapan Allah bisa jadi lebih dekat kepada-Nya daripada orang yang memiliki banyak amal tetapi dipenuhi rasa memiliki dan bangga diri. Bagi pesuluk, amal bukan alasan untuk merasa lebih mulia dan aman, melainkan alasan untuk semakin bersyukur, tertunduk malu, khawatir dan berharap. Ia tertunduk malu akan kekurangan-kekurangannya dalam beramal. Ia khawatir direnggutnya nikmat untuk bisa (konsisten) beramal. Namun ia tetap berharap dan memohon kepada Allah agar terus memberinya taufiq dan kemudahan untuk beramal.

Riwayat-riwayat tersebut berbicara soal dampak dari sekadar beranggapan dan merasa-rasa tentang diri sendiri. Anggapan kita tentang diri kita sendiri pun ternyata memiliki dampak spiritual. Apa yang menjelma dan mengakar di dalam hati dan pikiran merupakan cerminan dari tingkat perjalanan batin dan penghambaan kita. Apa yang terus-menerus dipikirkan, diyakini, dan dirasakan perlahan menjadi sifat yang menetap. Sifat itulah yang kemudian membentuk identitas ruhani seseorang. Karena itu, sekadar “merasa-rasa” ternyata bukan perkara kecil. Maka menghambalah sejak dalam hati dan pikiran. Perjalanan sejati dimulai dari dimensi terdalam diri kita. Para arif mengatakan bahwa perjalanan menuju Allah bukan hanya dengan konsisten ketaatan dan meninggalkan maksiat, tetapi juga meninggalkan ketergantungan kepada diri sendiri.

Hari ini aku merasa terjerat,
terikat erat
dalam jangkar keberadaanKubutuhkan harum
ketiadaan
tuk membebaskanku
Sesaat saja,
pinjami aku sentuhan
fadhilat
Gosoklah karat keberadaan
dari cermin
Hakikat sejatiku

~ Syihabuddin Yahya Suhrawardi

Semoga bermanfaat dan diluaskan berkahnya. Shalawat, mohon doakan kami selalu 🤲🙏

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad wa ‘ajjil farajahum…

Exit mobile version