Penulis: Haidar Bagir, Cendekiawan Muslim
Pertanyaan mendasarnya sederhana, tetapi jawabannya tidak pernah mudah: apakah kita bisa percaya bahwa inisiatif “perdamaian” yang digagas Donald Trump benar-benar lahir dari niat tulus? Apalagi ketika inisiatif itu juga disambut oleh Israel—pihak yang selama puluhan tahun justru menjadi aktor utama penindasan atas bangsa Palestina.
Sebagian orang berargumen: umat Islam harus realistis. Bahwa perjuangan harus bertahap. Bahwa perlawanan Palestina selama ini hanyalah menghancurkan diri mereka sendiri. Bahwa seharusnya bangsa Palestina menerima saja—setidaknya untuk sementara—realitas kekuasaan Israel dan berhenti melawan. Sebagian, jangan-jangan malah berpikir bahwa bangsa Palestina sesungguhnya sedang dijerumuskan Iran untuk melawan?
Argumen ini, paling jauh, baru setengah kebenaran. Realisme politik memang perlu. Perjuangan tidak selalu identik dengan konfrontasi terbuka. Namun, realisme juga menuntut kejujuran membaca fakta, bukan menutup mata terhadap kezaliman yang sudah kelewat batas.
Masalahnya, keangkaramurkaan Israel terhadap bangsa Palestina bukan fenomena baru, bukan pula reaksi sesaat, dan jelas tidak bergantung pada Iran. Kita tidak sedang bicara Gaza saja—kita bicara Tepi Barat, wilayah yang bahkan secara resmi telah diakui Otoritas Palestina dan di mana pemerintah Palestina justru bekerja sama dengan Israel.
Namun apa yang terjadi?
Rumah-rumah warga Palestina terus dibongkar, tanah mereka dirampas, warga sipil diusir, dipukuli, dipenjara, bahkan dibunuh. Semua itu terjadi bukan di wilayah “perlawanan bersenjata”, tetapi di wilayah yang secara politik sudah memilih jalur kompromi. Jika ketaatan dan kerja sama adalah jawabannya, mengapa penindasan justru terus berlangsung?
Fakta historis juga tak bisa diabaikan. Sejak Mandat Inggris berakhir sekitar 1947, wilayah yang secara sosial dan komunitas diatur oleh bangsa Palestina terus menyusut drastis. Dari wilayah yang dahulu mencakup hampir seluruh Mandat Palestina, kini yang tersisa bahkan kurang dari sepertiganya—itu pun terfragmentasi, tidak berdaulat, dan terus digerogoti melalui permukiman serta kebijakan sepihak.
Jangan pula dilupakan Nakba—bencana—pada 1946–1948. Sekitar 700.000–750.000 warga Palestina terusir atau melarikan diri, 400–500 desa dihancurkan atau dikosongkan, dan struktur sosial-politik Palestina hancur total. Ini bukan sekadar tragedi masa lalu; ini adalah fondasi luka kolektif yang belum pernah dipulihkan.
Dan semua itu bukan tanpa dukungan internasional. Amerika Serikat dan negara-negara Eropa secara konsisten menjadi penopang utama Israel. Donald Trump, secara khusus, telah terbukti sebagai pendukung paling terbuka atas kebijakan Israel—tanpa tekanan berarti, tanpa sanksi nyata, meskipun puluhan Resolusi PBB dilanggar secara terang-terangan.
Maka wajar bila muncul pertanyaan: apakah kita benar-benar bisa yakin pada inisiatif Trump yang satu ini?
Jika niatnya tulus, mengapa kesewenang-wenangan Israel di Tepi Barat dibiarkan bertahun-tahun tanpa koreksi? Mengapa tidak sejak dulu ada “inisiatif perdamaian” yang serius di sana? Semua orang yang pernah menginjakkan kaki di wilayah Palestina tahu betapa kontrasnya kualitas hidup warga Palestina dan warga Yahudi—di jalan yang sama, di tanah yang sama.
Mengapa pula inisiatif ini baru muncul setelah Gaza melawan? Padahal jauh sebelum itu, Gaza telah lama disebut sebagai “penjara terbuka terbesar di dunia”: listrik terbatas, air bersih sulit, keluar-masuk wilayah hampir mustahil, dan kehidupan dikontrol nyaris total.
Kita juga perlu bercermin pada nilai universal tentang kemerdekaan. Indonesia dulu melawan penjajahan, meskipun Belanda membawa Politik Etis.
Banyak bangsa memilih merdeka meski hidup di bawah kekuasaan negara-negara Eropa yang lebih maju. Kemerdekaan bukan soal siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang berhak menentukan nasibnya sendiri.
‘Alaa kulli haal, perdebatan boleh dilakukan. Diskusi perlu dibuka. Namun satu hal harus dijaga: jangan sampai kita yang tidak berbuat apa-apa—selain prihatin—justru menjadi sinis terhadap pengorbanan bangsa Palestina.
Perlawanan Palestina jauh lebih tua daripada keterlibatan Iran. Masalah ini sudah hampir 70 tahun umurnya. Iran baru terlibat mungkin dua dekade terakhir—bahkan secara intensif barangkali baru satu dekade. Sebelum itu, sudah tak terhitung jumlah syuhada Palestina yang mengorbankan segalanya.
Maka pertanyaan terakhir yang paling jujur bukanlah: siapa yang menghasut mereka? Melainkan: mengapa bangsa Palestina sendiri memilih melawan dan berkorban sedemikian rupa?
Tidak ada bangsa yang mengorbankan segalanya—tanah, rumah, keluarga, dan nyawa—tanpa sebab yang mereka anggap layak diperjuangkan hingga titik darah terakhir.
Apakah inisiatif Trump bisa dipercaya? Saya amat skeptis, untuk memilih menjawabnya dengan “tidak bisa”. Bukan pada soal apakah inisiatif ini bisa memakmurkan Gaza. Tapi pada apakah warga Gaza akan dibiarkan berdaulat atau justru sumber daya alamnya akan disedot habis-habisan untuk kepentingan AS dan Israel sendiri.
Kita lihat saja nanti kenyataannya. Namun sejarah setidaknya menuntut kita untuk tidak naif, dan nurani menuntut kita untuk tidak memalingkan wajah dari kezaliman yang nyata. Seterbatas apa pun kemampuan kita untuk berkontribusi di dalamnya. Meski mungkin hanya “dengan selemah-lemah iman”.

