Majulah IJABI

Cerpen: Pahlawan Cilik 

Penulis : Iwan Setiawan

Pagi tadi roda depan sepedaku hampir menyenggol badan Tami di tikungan. Ia berjalan di sisi yang berlawanan hingga aku tak bisa melihatnya. Untung laju sepedaku lamban hingga kejadian naas itu tak terjadi.  

Pandangan Tami memang mengarah ke depan, namun pikirannya entah berada di mana. Mungkin anak itu meresapi kata-kata Encum, ibunya, seperti biasa sehingga kurang fokus di jalan. Encum memang mendidik keras anak-anaknya. Membiasakan mereka melakukan pekerjaan, bahkan yang biasa dilakukan orang dewasa. 

Terlebih bagi Tami, anak perempuan kelas empat SD. Ia diserahi tugas mengurus tiga adik saat Encum bekerja serabutan. Encum mengambil kerjaan apa saja yang diberikan orang. Pekerjaan rumah tangga seperti mencuci pakaian, menyetrika dan mengurus rumah. Pernah terlihat Encum menaiki dahan pohon mangga. Kakinya berpijak pada dahan yang kokoh dan memotong dahan-dahan yang dirasa mengganggu. 

Selagi ibunya kerja, Tami  yang menjaga adik-adik. Ia telah biasa menceboki  Anah, menyuapi adiknya yang lebih kecil lagi, Anto. Sebulan sekali Tami mengantar para adik mengunjungi Pos Yandu. Para kader memperlakukannya dengan khusus. Membekalinya dengan porsi ransum lebih banyak. 

Beban yang tersampir di pundak anak kurus itu seakan belum cukup. Ayah dan ibunya sudah pisah rumah. Aku mengira beban hidup yang berat jadi pemicu keretakan hubungan mereka. Beban yang mengejawantah pada perlakuan kasar dan buruk pada istri dan anak-anak. 

Pernah terjadi di tengah malam, pintu rumahku diketuk seorang warga. Ia mengabarkan kejadian yang berlangsung di gubuk yang ditempati Encum. Suami Encum mengamuk dan melakukan kekerasan.  Bahkan sebilah golok dihunus dan diarahkan pada Tami dan adik-adiknya. Suasana mencekam. Warga menjerit dan melayangkan kecaman. 

Buah dari perbuatannya, warga melaporkan ayah Tami kepada Polisi. Ia pun meringkuk di sel berteralis yang kokoh. Namun, kudengar kabar Encum memaafkan perbuatan suaminya sehingga Polisi melepasnya. Sejak itu ia tak pernah kembali. 

Ngomong-ngomong, Encum dan anak-anaknya tinggal tak jauh dari tempat tinggalku. Bila kawan berjalan ke arah timur dari rumahku beberapa puluh meter, kawan akan menemukan sungai. Nah, di tanah tak terurus  di tepi sungai itu terdapat gubuk reyot. Itulah istana kecil mereka. 

Aku acap mendatangi istana kecil itu untuk aneka urusan berkaitan dengan tugas sebagai Ketua RT. Kulihat di dalamnya pemandangan yang memilukan. Tak kulihat batas mana ruang berkumpul, dapur, juga kakus. Semua menyatu di sana. 

Tami tumbuh dalam keadaan yang demikian. Tak heran bila pembawaan ceria, yang biasa melekat pada anak seusianya, tak terlihat padanya. Yang ada, Tami terlihat lebih dewasa. Tangan mungilnya begitu perkasa, tangan yang sanggup memastikan kehidupan berjalan baik baginya dan adik-adik. 

Bila kawan bertanya siapa pahlawan yang kupilih pada momen Hari Pahlawan ini, aku tidak akan menyebut nama mereka yang jauh dan hebat gerak langkahnya. Aku hanya akan menyebut Utami, gadis kecil itu. Ia pahlawan yang nyata.

Exit mobile version