Site icon Majulah IJABI

DOA RUBAIAT NISFU MEMBARA 

Oleh Dimitri Mahayana, 6 Januari 1996 

Di Aleppo Purnama Benderang
Seiring Riak-riak Samudra Pasang 
Di Nisfuku Ia-pun Datang 
Diiring Panji-panji Islam Menang 

Walau Tak Nampak Bak Kelopak 
Alis Bergetar Bak Sayap Berkelepak 
Walau Tak Nampak Ia Berdetak 
Beserta Segenap Hati Ia Bergerak 

Kutub Utara Kutub Selatan 
Dingin Utara Dingin Selatan 
Walau Pun Lara Kucari Tuhan 
Walau  Sengsara Kurindu Tuhan 

Tujuh Rayap Berkata Telah Datang Tujuh Semut Menemui Beserta Tujuh Butir Be-beras-an 
Tapi Lampu-lampu Lampion Penyaksi Laron Bersinar Gemintang Memutihkan Be-beras-an 
Telah Datang Tujuh Wajah Beserta Tujuh Nama Ber-tajalli Beserta Tujuh Gulir Ke-cahya-an Tapi Satu Wajah Penyaksi Hakiki Bersinar Gemintang Menjerihkan Ke-cahya-an

Ia Lah Harapan Utara-selatan
Ia Lah Dambaan Timur Dan Barat 
Jantung Harapan Permata Tuhan 
Cahaya Citaan Dunia Akhirat 

Dunia Dunia Tiada Mampu Berkata 
Akhirat Akhirat Pun Kelu Membiru 
Tentang Ia Siapa Mampu Berkata? 
Wajah-nya Pun Mematah Lidah Membiru 

Tapi Sampan-sampan Bercahaya Bertuliskan Bahtera Keselamatan 
Menampakkan Kilau Biru Tenang Benderang Berita Keselamatan 
Bertuliskan Nama Nya, Mentari Dan Cendrawasih 
Bertuliskan Asma Nya,  Jauhari Dan O Kekasih 

Tak Kan Ku Kenang Siapa Sayang 
Selain Keluarga Mustafa Sayang 
Tak Kan Ku Ingat Siapa Sedang 
Selain  Khalifah Ali Bertembang 

Tembang Bunga-bunga Pohon Bak, Jika Ada 
Atau Putri Malu Yang Disentuh Sulaiman, Jika Pernah 
Tak Seindah Rintih Tembang Ali, Tanpa Nada 
Atau Ali Yang Malu Disentuh Tuhan, Tanpa Desah 

Hanyalah Degupan Dada Nan Meledak 
Membawa Kuntum-kuntum Kesturi 
Wangi Semerbak Jantung Terhentak 
Tersentak Berderak Nyawa Berlari 
Berlari Sejauh Nyawa Kembali,  

Cakrawala-nya Kembali Menunggu 
Walau Tak Lenyap Nyawa Sekali 
Ia Pun Kembali Termangu-mangu 
Kantuk Menyerang Aku Terserang 
Tapi Mahdi Di-nisfu Di Hati 
Kantuk Meremang Aku Teremang 
Kantuk Lah Sadar Mahdi Di Hati 

Merdu Kecapi  
Semerdu Sinar Siter Tanpa Senar 
Lengau Pedati 
Sesahdu Sorot Wajah Sang Penggemar 

Sehingga, Kalau Badak Bercula Tak Mampu Menggoyang Beringin Tua 
Walaupun, Apel Busuk Bernoda Tak Mampu Menumbuh Apel Utama 
Tapi Sorot Cahya Nya Kan Menggoyang Segenap Sukma Tanpa Bersua 
Tetapi Jernih Tatap Nya Kan Menumbuh Semua Insan Utama 

Melayang Beserta Sejuta Bening 
Yang Ada Hening Aliran Nikmat 
Berdendang Beserta Seciprat Ombak 
Yang Ada Derak Aliran Nikmat 

Sejuk Mengisi Seluruh Pori 
Lembut Tetapi Mengisi Hati 
Tak Tampak Engkau Menghias Jari 
Kencring Kecapi Asmara Di Hati 

Lakshminatan Laila Dari India Di Balik Sana Tak Jauh Dari Perbukitan Para Pertapa 
Mahayana Majnun Dari India Di Sini Aku Dekat Sekali Dekat Dari Perbukitan Para Ksatria 
Tapi Tak Ada Pertapa Tak Ada Ksatria, Katakan Pada Laila, Aku Cinta Padanya 
Brahmawati Pendeta Suci Laila, Katakan, Aku Cinta Padanya Sedang Akulah Mahayana 

Di Balik Labuan Lukaku, Kaudapati Pundi-pundi Berisikan Mata Uang Bergambar Mahdi 
Mahdi Sejati, Yang Menjadi Mahdi-mahdi Yang Selalu Menyertai Pundi Tergendong 
Di Balik Pelabuhan Hatiku, Tiada Kan Kaudapati Apa Pun Kecuali Mentari-mentari Mahdi 
Agung Sekali, Yang Menjadi Asyiq-asyiq Yang Selalu Melampaui Awan Tergendong 

Bagi Ma’syuq Banyak Orang Merusak Wajah, Banyak Orang Banyaklah Fikiran 
Bagai Mempelai Nan Sedang Berdua, Tak Ingin Dipandang Selain Berduaan 
Bagi Ma’syuq Banyak Bicara Merusak Cinta, Bicara Membuat Syahdu Berceraian 
Bagai Mempelai Nan Sedang Bercumbu, Di Balik Malam Berdua Bermesraan 

Apa Beda Pohon Dan Alang 
Bila Ditatap Jauh Di Gunung 
Terus Bergerak Berbagai Pikiran 
Apa Beda Benar Dan Salah? 

Karena Tersirat Ini Tersirat Itu 
Siapa Ingin Ini Siapa Ingin Itu? 
Dari Mana Ini Dari Mana Itu? 
Maka, Apa Beda Pohon Dan Alang 

Bila Diamat Dekat Di Mata 
Nyata Bedanya, Besar Kecilnya 
Maka, Walau Bergerak Berbagai Pikiran 
Jangan Biarkan Ia Ke Jurang 

Daun-daun Belati Mungkin Menggores Seribu Kulit Bidadari Dalam Surgaloka Hati Cerah 
Walau Secercah Angin Telaga Kautsar Tiupan Yasin Menyentuh Kulit-kulit Itu Yang Berdarah 
Surgaloka Hati? Surga-surga? Bidadari? Tak Adakah Kulit Yang Tiada Bersemu Merah? 
Walau Itu-lah Bidadari, Tapi Tatapku Pada Yasin, Walau Gemulai Ia Menari, Tapi Pukau-ku Pada Lailah 

Ah, Betapa Mungkin Kura Berpura 
Tak Tahu Ombak Tak Tahu Lautan 
Tapi Nyatanya Mereka Berpura 
Tak Kenal Wujud Tak Kenal Tuhan 

Padahal Ia Ada Di Depan Pelupuk 
Dan Di Belakang Kelopak 
Lebih Terlihat Dibanding Cahaya 
Lebih Terdengar Dibanding Geledek 

Petir Menyambar Guntur Bersambut 
Rumah Tersambar Hancur Meledak 
Nisfu Menyambar Aku Menyambut 
Khurafat Tersambar Sirna Meledak 

Ingatlah Hikayat Katak Tempurung 
Katak Mengira Tempurung Dunia 
Khurafat Apakah Yang Paling Menenung? 
Diri Mengira Aku-nya Ada 

Tujuh Ribu Jembatan Sebrangi Benua 
Tak Kan Kalahkan 12 Jalan Musa 
Seribu Tahun Seribu Manusia 
Tak Kan Kalahkan Sekejap Ali Saja 

Tak Kenal Jangkar Tak Pula Buritan 
Sampan Pun Oleh Lenyap Tenggelam 
Kenali Jalan Kenali Pula Labuhan 
Arungi Lautan Di Malam Temaram 

Petiklah Bunga Di Taman Mawar 
Awas, Awas, Mawar Berduri 
Berkebun Bunga Mawar Di Hati 
Mawar Kesturi Tiada Duri 

Di Gulistan Kenari Berkicau 
Di Gulistan Bunga Bersemi 
Di Hatiku Tuhan Bergurau 
Di Hatiku Tuhan Mewangi 

Mari-mari Ke Taman Mawar 
Aroma Nuansa Indah Sekali 
Mari-mari Ke Taman Hati 
Menatap Wajah-nya Anggun Sekali   

Tak Tahu Aku, “Taman Mawar” Adalah Lautan Asma Bertebaran 
Tak Tahu Aku, “Mawar-melati” Adalah Lautan Wajah Bertebaran 
Nama-nama Bergolakan 
Wajah-wajah Bergincuan 

Tetaman Hati, Adalah Hadirat 
Tetaman Hati, Adalah Tajalliyyat 
Hamba Tepekku Menatap Hadirat 
Tinggal Selangkah Hamba Sekarat 

Penggila Cinta Terasuki Asma 
Seratus Asma Seribu Asma 
Penggila Cinta Teresap Asma 
Terlupa Wujud Pemilik Asma 

Jangan-janganlah Begitu, Hanya Nama Tanpa Pemilik 
Jangan-janganlah Begitu, Hanya Sebutan Tanpa Jauhar 
Begini Saja, Ingatlah Pemilik 
Begini Saja, Ingatlah Jauhar 

Berjenjang Untaian Munajat Sya’ban  
Lamat-lamat Dari Lelangitan 
Bergetar Ruhullah Berdo’a Sya’ban 
Itu-lah Ia Pemimpin Lelangitan 

Kenali Mahdi-mahdi Di Hati 
Juga Khaidir Juga Khaidir 
Sambutlah Mahdi-mahdi Di Hati 
Atau Lah Khaidir, Dia Lah Khaidir 

Untaian Mawar Menguning Segar 
Walau Mestinya Merah Warnanya 
Pancaran Ilmu Cahaya Segar 
Walau Mestinya Panas Rasanya 

Gendewa-gendewa Terpentang 
Panah-panah Terlentang 
Dengan Irfan Diri Kupentang 
Tiada Lagi Ribuan Pantang 

Tiada Hujan Tiada Angin 
Tiada Pula Badai Berkabut 
Berjalan Menembus Sang Rimba Raya 
Tiada Pula Tempat Hamba Berteduh 

Seandainya Kulihat Kucing Tiada Ekor 
Seandainya Kulihat Anjing Tiada Moncong 
Seandainya Kulihat Sungai Tanpa Hulu 
Seandainya Kulihat Lautan Tanpa Garam 
Seandainya Kulihat Bintang Tanpa Cahya 
Seandainya Kulihat Langit Tanpa Nuansa 
Seandainya Kulihat Burung Tanpa Kicau 
Seandainya Kulihat Cakrawala Tanpa Senja 
Seandainya Kulihat Sangkakala Tanpa Tiupan 
Seandainya Kulihat Badai Tanpa Angin 
Seandainya Kulihat Kelingking Tanpa Tangan 
Seandainya Kulihat Warna Tanpa Cahaya 
Yang Kuingat Hanyalah Manusia Tanpa Malu 
Membuang Akalnya Di Comberan Nafsu 

Memang Ia Orang Tak Tahu Malang 
Dan Tak Tahu Bagaimana Si Malang Datang 
Dan Tak Tahu Bagaimana Si Malang Datang Dan Mata Pun Mengambang 
Dan Tak Tahu Bagaimana Si Malang Datang Dan Mata Pun Mengambang Sehingga Jerit Tangispun Bertembang 

Padahal Malang-malang Selalu Berdatangan 
Sendirian Ataupun Bebarengan 
Beraturan Ataupun Beracakan 
Bersama Dengan Tiap Hembusan 

Seperti Angin Panas Pepadangan 
Yang Membawa Berita Jeritan 
Kerongkongan Nan Kehausan 
Kulit-kulit Nan Kekeringan 

Pasir-pasir Nan Kepanasan 
Batu-batu Nan Kemerahan 
Semuanya Adalah Kebijakan 
Kemalangan Adalah Kebajikan 

Bak Lumpur Menyimpan Mutiara Terang 
Pembawa Karangan Bunga Rupawan, Tulip Dan Flamboyan Pun Berdentangan 
Hingga Layu Bunga Di Jalan, Terbang Jiwanya Ke Dalam Karangan 
Penulis Untai Rubaiat Menawan, Jantung Dan Nurani Pun Berdentangan 

Hingga Mati Pemirsa Di Jalan, Lenyap Jiwanya Hilang Bertebaran 
Tebaran-tebaran Jiwa 
Di Temaram Malam 
Detakan Kekasih Jiwa 
Berpendar Bak Pualam 

Lautan Luka 
Perihnya Garam 
Cinta Terluka 
Sepi Yang Kelam 

Kelam Yang Tak Bisa Ditembus Oleh Kelap-kelip Tsuraya 
Remang Yang Tak Terterangi Oleh Sorot Indah Sang Surya 
Rindu Yang Tak Terobati Oleh Kerling-kerling Laila 
Sepi Yang Tak Terobati Oleh Sentuhan Lembut Laila 

Kerna Diri Telah Sampai Pada Kesejatian 
Lenyaplah Segala Kejamakan 
Kerna Kesejatian Adalah Ketunggalan 
Dalam Lautan Kesendirian 

Tiada Lagi Burung Berkicau 
Tiada Lagi Gemericik Kali 
Tiada Lagi Aku Mengigau 
Tiada Lagi Aku Bermimpi 

Terang Sekali Jernih Sekali 
Karena Aku Memandang Aku 
Jernih Sekali Sejuk Sekali 
Karena Aku Rindu Pada-ku 

Cerlang Kesempurnaan Dari Segala Sudutnya 
Sejuk Menari-nari Dalam Nuansa 
Attar Berkata; Kuterbang Di Dalam-mya 
Aku Berkata; Kusirna Di Dalam-nya 

Alam Berputar Mentari Purnama 
Laki Wanita Pedang Dan Gincu 
Aku Berputar Mencari Purnama 
Di Balik Bibir Merah Bergincu 

Wewangi-wewangi Nan Memabok Asmara 
Bukanlah Kemenyan Tapi Ber-kesturi-an Asmara 
Serambi-serambi Berhijabkan Racun Gulana 
Bagaikan Semut  Ku-bermandi-kan Gula Gulana   

Sengau Memerah Terterpa Angin 
Disertai Debu Memedih Mata 
Diri Membara Terbakar Cermin 
Disoroti Cahaya Melenyap Rata 

Rata Artinya Menjadi Abu 
Lenyap Ke Dalam Galau Sang Api 
Kembali Tiada Sebenar Tiada 
Kembali Bergolak Lautan Cahaya 

Pantul-pantul Terpantuli Rukun-rukun Alam 
Tiada Lain Segenap Geometri Bakat Tersorot Cahya 
Khalqin Jadid Rahasia Penciptaan Tiap Alam 
Tiada Lain Bazar Gambar Wajah-wajah Sang Maha Cahaya 

Gambar Sang Maha Cantik 
Gambar Sang Maha Benar 
Dipenuhi Alis Nan Lentik 
Disertai Nizam Nan Benar 

Tapi Kesamaan Kemiripan Bergeseran Tiap Saat Tiap Waktu 
Bahkan Waktu Pun Adalah Kemiripan 
Sedang Keesaan Keesaaan Keesaan Tetap Di Dalam Hakikat Waktu 
Bahkan Waktu Pun Tak Mampu Mengesakan 

Jutaan Kisah Yang Telah Lalu 
Milyunan Kisah Yang Akan Lewat 
Fana Dan Baqa Setiap Lalu 
Lenyap Dan Kekal Setiap Saat 

Sekuntum Melati 
Menyapa Wangi 
Mawar Di Hati 
Tuhan Mewangi 

Pohon Yang-liu Meliuk Rendah Tertiup Badai Taufan Angkara 
Batu-batu Pun Kerikil Pun Debu Tebal Pun Menghujani 
Pedih Kulit Dan Mata Tertiup Badai Hidup Dunia Sahara 
Ragu-ragu Pun Kegelapan Pun Dosa Pun Tebal Menyelimuti 

Bukanlah Daun Yang Enggan Menyanyi 
Bukanlah Pohon Yang Meliuk Enggan 
Tapi Asmara Nan Enggan Menyanyi 
Diam Di Dalam Lautan Tangisan 

Tangisan Bahagia Tangisan Cinta 
Jeritan Bahagia Rintihan Cinta 
Bak Perih Kupu Di Makan Api 
Menjadi Satu Dengan Lilin Api 

Api Menyala Bergolak-golak 
Galaunya Menyalak Bergolak-golak 
Api Asmara Bergolak-golak 
Dada Meledak Bergolak-golak 

Golak Cinta Lautan Ombak 
Golak Rindu Palung Berombak 
Sampan Cinta Membelah Ombak 
Gempa Cinta Menjulang Ombak 

Ombak-ombak Di Lautan, Angin-angin Pesisiran 
Putri Duyung Di Lautan, Lambai Nyiur Pesisiran 
Dimanakah Pantai Nan Tak Merindukannya 
Dimanakah Pantai Nan Tak Mengharapkannya 

Harap Melayang Jantung Pun Terbang 
Burung Seriti Terbang Ke Awang 
Tubuh Melayang Ke Langit Terbang 
Pelangi Melenyap Di Balik Awang 

Awang-awang Penuh Gemintang 
Awang-awang Penuh Khayalan 
Tapi Bintang Adalah Cahaya 
Khayalan Pun Terkadang Cahaya 

Cahaya Adalah Ilmu Sendiri 
Cahaya Adalah Terang Sendiri 
Cahaya Ada Di Diri Sendiri 
Cahaya Terpancar Diam-lah Diri 

Diri Adalah Kumpulan Khayalan 
Bak Eter Dalam Kekosongan 
Sadar Adalah Lenyapnya Khayalan 
Kembali Kepada Keberadaan 

Keberadaan Adalah Wujud Sejati 
Keberadaan Adalah Ada Sendiri 
Satu Keberadaan Ada Di Hati 
Hati Adalah Satu Sendiri 

Sendiri Adalah Tiada Berteman 
Sendiri Adalah Tiada Yang Lain 
Sendiri Selalu Menangis Tuhan 
Tangisan Tuhan Cahaya Yasin 

Yasin Adalah Muhammad Sendiri 
Yasin Adalah Akal Pertama 
Yasin Adalah Cinta Sendiri 
Yasin Adalah Sari Asmara 

Asmara Adalah Sedih Sendiri 
Karena Tuhan Sedih Sendiri 
Duka Adalah Murung-nya Tuhan  
Tuhan Menangis Di Balik Awan 

Awan Hujan Tangisan Tuhan 
Alam Semua Tangisan Tuhan 
Dijadikan Segala Sesuatu Dari Air 
Tetesan Tangisan Tuhan Mengalir 

Aliran Sungai Laut Dan Danau 
Berbeda-beda Tergantung Kadarnya 
Pancaran Surya Lilin Dan Kunang  
Berbeda-beda Tergantung Kadarnya 

Kadar Adalah Ilmu Sendiri 
Bakat Yang Tetap Lagi Azali 
Di Mana Ada Kadar Dan Bakat? 
Di Alam Mitsal Akan Kaulihat  

Melihat Adalah Tuhan Sendiri 
Walau Seolah Bersama Mata 
Karena Ia Sedang Berkaca-diri 
Lewat Yasin Bersama Mata 

Mata Jernih Pandangan Bening 
Tampak Bayangan Apa Adanya 
Hati Jernih Fikiran Bening 
Tampak Tuhan Apa Adanya 

Ada-nya Meliputi Segala, Tanpa Persatuan 
Ada-nya Tak Kenal Ruang Dan Waktu 
Di Manakah Ia, Nafi Ucapan 
Bagaimanakah Ia, Ia Selalu Satu 

Satu Nan Tiada Punya Dua 
Dan Tiada Pernah Membayangkan Dua 
Satu Nan Ditambah Satu Sama Dengan Satu 
Maka Tak Perlu Katakan Bersatu 

Bersatu Hanya Untuk Yang Jamak 
Sedang Semua Satu Adanya 
Angkat Bayangan Lenyap Yang Jamak 
Ia Ada Jelas Adanya 

Jelas Adanya Seterang Mentari 
Indah Adanya Seindah Purnama 
Atau Lebih Terang Dari Mentari 
Dan Lebih Indah Dari Purnama 

Purnama Di Aleppo Benderang 
Seiring Riak-riak Samudra Pasang 
Di Nisfu-ku Ia-pun Datang 
Mengilhamkan “Rubaiat Nisfu” Nan Mahaterang 

Berisikan Bisikan Kekasih 
Berisikan Rahasia Asmara 
Berisikan Rahasia Kasih 
Hakikat Sang Maha Asmara 

(ditulis pada Malam Nisfu Syakban sekitar 30 tahun Masehi yang lalu)

Exit mobile version