Site icon Majulah IJABI

Duʾāʾ Sahr ‘Azhomah: Keagungan yang Melampaui Segala Ukuran: ʿAzhamah dalam Duʾāʾ al-Sahar

Penulis: Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI)

Tulisan sebelumnya telah menelusuri dua penggalan besar Duʾāʾ al-Sahar: tentang Bahāʾ (kemegahan bercahaya), Jamāl (keindahan), dan Jalāl (keagungan). Kini kita tiba pada penggalan keempat. Penggalan tentang ʿAzhamah.

ʿAzhamah secara harfiah berarti keagungan, kebesaran, kehebatan yang tak tertandingi. Ia bukan sekadar Jalāl yang sudah kita bahas. Ia adalah sesuatu yang lebih dalam. Lebih menggetarkan. Sesuatu yang jika ia memanifestasikan diri secara penuh, seluruh alam semesta akan lenyap dalam satu kedipan.

I. Teks Arab dan Terjemahan

Teks ArabTerjemahan
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِDengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ عَظَمَتِكَ بِأَعْظَمِهَاYa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari keagungan-Mu yang paling agung.
وَكُلُّ عَظَمَتِكَ عَظِيمَةٌSedangkan seluruh keagungan-Mu adalah agung.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِعَظَمَتِكَ كُلِّهَاYa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan seluruh keagungan-Mu.

Catatan: ʿAzhamah  adalah keagungan yang bersifat mutlak dan tak tertandingi. Ia mencakup dimensi kebesaran Dzat, kebesaran Sifat, dan kebesaran perbuatan Allah. Kata al-ʿAzhīm adalah salah satu nama Allah yang paling tinggi, yang menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat menandingi atau mengukur keagungan-Nya.

II. ʿAzhamah: Keagungan yang Tak Dapat Diukur

Lebih dari Sekadar Jalāl

Kita telah membahas Jalāl sebagai sisi keperkasaan Allah yang menggenggam. ʿAzhamah melampaui itu. Jalāl adalah pengalaman berjumpa dengan keagungan yang terasa di dalam diri. ʿAzhamah adalah keagungan Allah yang tidak bisa dijangkau oleh pengalaman apa pun.

Imam Khomeini dalam Syarh Duʾāʾ al-Sahar menjelaskan bahwa ʿAzhamah adalah sifat Jalāl yang paling tinggi. Ia berkaitan langsung dengan nama al-ʿAzhīm dan al-Kabīr. Dan ia memiliki dimensi yang tiga sekaligus: ʿAzhamah Dzatiyyah (keagungan Dzat), ʿAzhamah Shifatiyyah (keagungan Sifat), dan ʿAzhamah Fiʿliyyah (keagungan Perbuatan).

Ketiga dimensi ini saling menopang. Keagungan perbuatan-Nya menunjukkan keagungan nama-Nya. Keagungan nama-Nya menunjukkan keagungan Dzat-Nya. Dan keagungan Dzat adalah sumber dari segalanya. Ia tidak berawal dan tidak berakhir.

Ketika ʿAzhamah Bertajalli: Alam Semesta Lenyap

Imam Khomeini menulis sesuatu yang sangat menggetarkan tentang apa yang terjadi jika ʿAzhamah Allah bertajalli secara penuh. Beliau qs menuliskan:

أَلَمْ يَنْكَشِفْ عَلَى سِرِّ قَلْبِكَ وَبَصِيرَةِ عَقْلِكَ أَنَّ الْمَوْجُودَاتِ بِجُمْلَتِهَا مِنْ سَمَاوَاتِ عَوَالِمِ الْعُقُولِ وَالْأَرْوَاحِ وَأَرَاضِي سَكَنَةِ الْأَجْسَادِ وَالْأَشْبَاحِ مِنْ حَضْرَةِ الرَّحْمُوتِ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ وَأَضَاءَتْ بِظِلِّهَا ظُلُمَاتِ عَالَمِ الْمَاهِيَّاتِ. وَلَا طَاقَةَ لِوَاحِدٍ مِنْ عَوَالِمِ الْعُقُولِ الْمُجَرَّدَةِ وَالْأَنْوَارِ الْأَصْفَهْبَدِيَّةِ وَالْمُثُلِ النُّورِيَّةِ وَالطَّبِيعَةِ السَّافِلَةِ أَنْ يُشَاهِدَ نُورَ الْعَظَمَةِ وَالْجَلَالِ وَأَنْ يَنْظُرَ إِلَى حَضْرَةِ الْكِبْرِيَاءِ الْمُتَعَالِ، فَإِنْ تَجَلَّى الْغَفَّارُ عَلَيْهَا بِنُورِ الْعَظَمَةِ وَالْهَيْبَةِ لَانْدَكَّتْ إِنِيَّاتُ الْكُلِّ فِي نُورِ عَظَمَتِهِ وَقَهْرِهِ جَلَّ وَعَلَا وَتَزَلْزَلَتْ أَرْكَانُ السَّمَاوَاتِ الْعُلَى وَخَرَّتِ الْمَوْجُودَاتُ لِعَظَمَتِهِ صَعْقًا.
“Tidakkah tersingkap kepada rahasia hatimu dan bashīrah akalmu bahwa seluruh wujud, dari langit-langit alam akal dan arwah serta bumi-bumi tempat tinggal jasad dan arwah kasad, semuanya berasal dari Hadrah al-Rahmūt yang meliputi segala sesuatu dan menerangi dengan naungannya kegelapan alam māhiyyah. Tidak ada satu pun dari alam-alam akal yang murni, cahaya-cahaya asfahbadiyyah, mitsal-mitsal nuriyyah, maupun alam tabi’at yang rendah, yang mampu menyaksikan cahaya ʿAzhamah dan Jalāl, atau memandang kepada Hadrah Kibriyāʾ yang Mahatinggi. Sebab apabila al-Ghaffār bertajalli kepada mereka dengan cahaya ʿAzhamah dan Haybah, maka hancurlah ke-ada-an seluruh wujud dalam cahaya keagungan dan keperkasaan-Nya yang Mahamulia lagi Mahatinggi, berguncang tiang-tiang langit yang tinggi, dan tersungkurlah semua wujud karena keagungan-Nya dalam keadaan pingsan.”
(Syarh Duʾāʾ al-Sahar, Imam Khomeini)

Ini adalah gambaran yang luar biasa. Tidak hanya alam jasad yang lenyap. Bahkan alam akal yang murni, para malaikat muqarrab, cahaya-cahaya yang paling tinggi sekalipun, tidak sanggup menanggung tajallī ʿAzhamah-Nya yang penuh.

Kata yang digunakan Imam Khomeini sangat kuat. Iniyyāt, yakni ke-ada-an dan eksistensi diri dari semua wujud, akan hancur (indakkat) dalam cahaya keagungan-Nya. Tiang-tiang langit berguncang (tazalzalat). Semua makhluk tersungkur pingsan (kharrat al-maujūdāt shaʿqan).

Ini bukan metafora belaka. Ini adalah deskripsi tentang apa yang sesungguhnya terjadi ketika kekuasaan mutlak Allah menyatakan dirinya secara penuh kepada alam semesta.

III. Hari ʿAzhamah: Yawm al-Rujūʿ

Hari Ketika Hanya Allah yang Menjawab

Imam Khomeini menjelaskan bahwa ada hari di mana ʿAzhamah Allah menyatakan dirinya secara sempurna. Hari itu adalah Hari Kiamat. Hari kembali yang sempurna (yawm al-rujūʿ al-tāmm). Pada hari itu, mālkiyyah mutlaqah (kepemilikan mutlak) Allah berdiri dalam kemuliaannya yang penuh. Beliau qs menuliskan:

وَذَلِكَ يَوْمُ الرُّجُوعِ التَّامِّ وَبُرُوزِ الْأَحَدِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ الْمُطْلَقَةِ، فَيَقُولُ: {لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ} فَلَمْ يَكُنْ مِنْ مُجِيبٍ يُجِيبُهُ لِسُطُوعِ نُورِ الْجَلَالِ وَظُهُورِ السَّلْطَنَةِ الْمُطْلَقَةِ، فَأَجَابَ نَفْسَهُ بِقَوْلِهِ: {لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ}.
“Dan itulah Hari Kembali yang Sempurna dan tampilnya Ahadiyyah serta Mālkiyyah Mutlaqah. Maka Ia berfirman: ‘Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?’ Tidak ada seorang pun yang menjawab-Nya karena sinar cahaya Jalāl dan tampilnya Kekuasaan Mutlak. Maka Ia menjawab diri-Nya sendiri dengan berfirman: ‘Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.'”
(Syarh Duʾāʾ al-Sahar, Imam Khomeini; QS. Ghāfir: 16)

Gambaran ini sangat menggetarkan. Allah bertanya kepada alam semesta: kepunyaan siapakah kerajaan hari ini? Tidak ada yang bisa menjawab. Bukan karena tidak ada yang tahu jawabannya. Melainkan karena cahaya ʿAzhamah dan Jalāl-Nya begitu menyilaukan sehingga tidak ada satu pun makhluk yang masih memiliki suara untuk berbicara.

Maka Allah menjawab diri-Nya sendiri. Lā ilāha illā Huwa. Hanya ada Dia. Yang Maha Esa. Yang Maha Mengalahkan.

Rahmat dan ʿAzhamah: Dua Wajah Satu Hari

Imam Khomeini kemudian membuat pembedaan yang sangat indah antara hari Rahmat dan hari ʿAzhamah. Keduanya adalah hari-hari Allah. Namun masing-masing memiliki warnanya sendiri. Beliau qs menuliskan:

وَالتَّوْصِيفُ بِالْوَحْدَانِيَّةِ وَالْقَهَّارِيَّةِ دُونَ التَّوْصِيفِ بِالرَّحْمَانِيَّةِ وَالرَّحِيمِيَّةِ، وَذَلِكَ الْيَوْمُ يَوْمُ حُكُومَتِهِمَا وَسَلْطَنَتِهِمَا. فَيَوْمُ الرَّحْمَةِ يَوْمُ بَسْطِ الْوُجُودِ وَإِفَاضَتِهِ. وَلِهَذَا وَصَفَ اللَّهُ نَفْسَهُ عِنْدَ انْفِتَاعِ الْبَابِ وَفَاتِحَةِ الْكِتَابِ بِالرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. وَيَوْمُ الْعَظَمَةِ وَالْقَهَّارِيَّةِ يَوْمُ قَبْضِهِ وَنَزْعِهِ يَصِفُهَا بِالْوَحْدَانِيَّةِ وَالْقَهَّارِيَّةِ، وَبِالْمَالِكِيَّةِ فِي خَاتِمَةِ الدَّفْتَرِ فَقَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}.
“Dan penyifatan dengan al-Wahdāniyyah (Keesaan) dan al-Qahhāriyyah (Keperkasaan yang Mengatasi), bukan dengan al-Rahmāniyyah dan al-Rahīmiyyah. Karena hari itu adalah hari pemerintahan dan kekuasaan keduanya. Maka hari Rahmat adalah hari pembentangan wujud dan pelimpahan-Nya. Oleh karena itulah Allah mensifati diri-Nya ketika membuka pintu dan permulaan Kitab dengan al-Rahmān al-Rahīm. Dan hari ʿAzhamah dan Qahhāriyyah adalah hari penggenggaman dan pencabutannya. Ia mensifatinya dengan al-Wahdāniyyah dan al-Qahhāriyyah, serta dengan al-Mālikiyyah di penutup daftar, maka Ia berfirman: ‘Māliki Yawm al-Dīn.'” (Syarh Duʾāʾ al-Sahar, Imam Khomeini)

Ini adalah kunci memahami susunan surat al-Fātihah. Ketika Allah membuka Kitab-Nya, Ia memperkenalkan diri dengan Rahmān dan Rahīm. Inilah hari rahmat, hari pembentangan wujud, hari kita dilahirkan dan dihidupi oleh rahmat-Nya.

Namun di penghujung al-Fātihah, Allah menyebut diri-Nya sebagai Mālik Yawm al-Dīn. Pemilik Hari Pembalasan. Inilah hari ʿAzhamah. Hari penggenggaman dan pencabutan. Hari ketika hanya Keesaan dan Keperkasaan-Nya yang berdiri.

Dua nama itu, RahmānRahīm dan Mālik Yawm al-Dīn, adalah dua kutub yang merangkum seluruh perjalanan wujud. Dari kelahiran hingga kembali. Dari pembentangan hingga penggenggaman kembali.

IV. ʿAzhamah dalam Tiga Dimensi

ʿAzhamah Dzatiyyah: Keagungan yang Tak Terbandingkan

Imam Khomeini menjelaskan bahwa ʿAzhamah Allah adalah ʿAzhamah dalam tiga dimensi sekaligus. Dimensi pertama adalah ʿAzhamah Dzatiyyah, yakni keagungan yang berasal dari Dzat Allah sendiri. Beliau qs menuliskan:

وَالْعَظِيمُ مِنَ الْأَسْمَاءِ الذَّاتِيَّةِ بِاعْتِبَارِ عُلُوِّهِ وَكِبْرِيَائِهِ. وَمَعْلُومٌ أَنَّ لَا قَدْرَ لِلْمَوْجُودَاتِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى عَظَمَةِ قَدْرِهِ، بَلْ لَا شَبِيهَ لَهُ فِي عَظَمَتِهِ، وَتَوَاضَعَ لِعَظَمَتِهِ الْعُظَمَاءُ، وَعَظَمَةُ كُلِّ عَظِيمٍ مِنْ عَظَمَتِهِ.
“Al-ʿAzhīm termasuk asma’ Dzatiyyah dari sisi ketinggian dan kebesaran-Nya. Dan diketahui bahwa tidak ada ukuran bagi semua wujud dibandingkan dengan keagungan kadar-Nya. Bahkan tidak ada yang menyerupai-Nya dalam keagungan-Nya. Para orang-orang agung pun tunduk merendah di hadapan keagungan-Nya. Dan keagungan setiap yang agung berasal dari keagungan-Nya.”
(Syarh Duʾāʾ al-Sahar, Imam Khomeini)

Pernyataan terakhir itu sangat penting. Keagungan setiap yang agung berasal dari keagungan-Nya. Artinya, ketika kita mengagumi keagungan seorang pemimpin yang bijak, keagungan alam semesta yang luas, atau keagungan sebuah karya seni yang memukau, semua itu adalah pantulan dari satu keagungan yang sumbernya adalah Allah.

Tidak ada keagungan yang berdiri sendiri di alam semesta ini. Semua keagungan adalah bayangan dari ʿAzhamah Dzatiyyah Allah. Dan bayangan itu, meski indah, tidak akan pernah setara dengan sumbernya.

ʿAzhamah Shifatiyyah: Kekuasaan atas Segala Sesuatu

Dimensi kedua adalah ʿAzhamah Shifatiyyah. Ini adalah keagungan Allah sebagaimana tampak dalam sifat-sifat-Nya. Terutama dalam Qahr (Keperkasaan) dan Salthanah (Kekuasaan)-Nya atas seluruh alam. Beliau qs menuliskan:

وَمِنَ الْأَسْمَاءِ الصِّفَتِيَّةِ بِاعْتِبَارِ قَهْرِهِ وَسَلْطَنَتِهِ عَلَى مَلَكُوتِ الْأَشْيَاءِ وَكَوْنِ مَفَاتِيحِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ بِيَدِهِ. فَهُوَ تَعَالَى عَظِيمٌ ذَاتًا، عَظِيمٌ صِفَةً، عَظِيمٌ فِعْلًا.
“Dan dari asma’ Shifatiyyah dari sisi keperkasaan-Nya dan kekuasaan-Nya atas kerajaan segala sesuatu, serta bahwa kunci-kunci kegaiban dan penampakan berada di tangan-Nya. Maka Ia Taʿala adalah agung dalam Dzat, agung dalam Sifat, agung dalam Perbuatan.”
(Syarh Duʾāʾ al-Sahar, Imam Khomeini)

Kunci-kunci al-ghayb wa al-shahādah, yakni kunci-kunci alam gaib dan alam nyata, semuanya berada di tangan-Nya. Tidak ada satu pun hal yang tersembunyi dari-Nya. Tidak ada satu pun hal yang berada di luar jangkauan kekuasaan-Nya.

Ini bukan hanya tentang kekuasaan atas alam nyata yang bisa kita lihat. Ini juga tentang kekuasaan atas seluruh alam gaib yang tidak bisa kita jangkau. Seluruh dimensi realitas, dari yang paling nyata hingga yang paling tersembunyi, berada dalam genggaman-Nya.

ʿAzhamah Fiʿliyyah: Keagungan Karya-Nya

Dimensi ketiga adalah ʿAzhamah Fiʿliyyah, yakni keagungan yang tampak dari perbuatan dan ciptaan-Nya. Seluruh semesta adalah perbuatan-Nya.

Di antara perbuatan-Nya adalah semesta fisik.

Matahari dan tata surya kita yang luas adalah hanya sebuah titik kecil di antara sangat banyak bintang yang telah diketahui. Di galaksi Bima Sakti ada sekitar 100 milyar bintang seperti matahari. Dan jumlah galaksi di semesta yang tampak diperkirakan adalah 2 triliun galaksi.

Dan itu belum termasuk yang belum diketahui. Dan seluruh alam fisik itu, dalam penjelasan Imam Khomeini, hanyalah satu tingkat yang paling rendah dari seluruh hirarki wujud.

Di atas alam fisik ada alam mitsal. Di atas alam mitsal ada alam arwah. Di atas alam arwah ada alam akal. Dan di atas semuanya ada Hadrah Ilahiyyah. Perbandingan alam fisik dengan alam di atasnya adalah seperti perbandingan setetes air dengan lautan yang mengelilinginya. Bahkan tidak ada perbandingan yang tepat.

V. ʿAzhamah dan Musa as: Pelajaran dari Bukit Sinai

Ketika Gunung Tidak Sanggup Menanggung

Imam Khomeini menyebutkan sebuah contoh yang sangat hidup tentang apa yang terjadi ketika seseorang berhadapan dengan dimensi ʿAzhamah Ilahi. Yaitu peristiwa Nabi Musa as di Bukit Sinai.

Musa as adalah nabi yang hatinya didominasi oleh pengalaman Jalāl, sebagaimana telah kita bahas sebelumnya. Ia memiliki kapasitas untuk menanggung keagungan yang luar biasa. Namun ketika ia meminta untuk melihat Allah secara langsung, ʿAzhamah yang menyatakan diri itu bukan Jalāl biasa. Imam Khomeini menuliskan:

وَلَوْلَا أَنَّ الْعَظَمَةَ وَالْقَهْرَ مُخْتَفٍ فِيهِمَا اللُّطْفُ وَالرَّحْمَةُ لَمَا أَفَاقَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنْ غَشْوَتِهِ، وَلَمَا يَتَمَكَّنَ قَلْبُ سَالِكٍ شُهُودَهُمَا وَلَا عَيْنُ عَارِفٍ النَّظَرَ إِلَيْهِمَا. وَلَكِنَّ الرَّحْمَةَ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ.
“Seandainya di dalam ʿAzhamah dan Qahr tidak tersembunyi kelembutan dan rahmat, niscaya Musa as tidak akan tersadar dari pingsannya. Dan niscaya hati seorang sālik tidak akan mampu menyaksikan keduanya, dan mata seorang arif tidak akan mampu memandang kepada keduanya. Namun rahmat-Nya meliputi segala sesuatu.” (Syarh Duʾāʾ al-Sahar, Imam Khomeini)

Ini adalah pengajaran yang sangat mendalam. ʿAzhamah yang murni, tanpa rahmat dan kelembutan yang tersembunyi di dalamnya, tidak bisa ditanggung oleh siapapun. Bahkan oleh Musa as sekalipun, yang hatinya dirancang untuk menanggung beban Jalāl yang besar.

Namun ʿAzhamah Allah tidak hadir sendirian. Di dalam ʿAzhamah selalu tersembunyi Luthf (kelembutan) dan Rahmah. Tanpa kehadiran tersembunyi dari rahmat itulah, Musa as tidak akan pernah bisa tersadar kembali setelah pingsan melihat tajallī Allah kepada gunung.

Gunung yang hancur berkeping-keping itu adalah gambaran tentang apa yang terjadi pada jiwa ketika ʿAzhamah Allah menyatakan diri. Hanya karena rahmat yang tersembunyi di balik ʿAzhamah itulah, Musa as bisa bangkit dan melanjutkan perjalanannya.

Juga Gunung-Gunung Malaikat

Imam Khomeini menegaskan bahwa kekuasaan ʿAzhamah Allah tidak terbatas pada alam fisik saja. Bahkan alam tertinggi pun tidak luput. Beliau menuliskan bahwa bahkan Malaikat Maut, Izrail as, setelah mencabut seluruh nyawa makhluk, pada akhirnya ia pun akan dicabut oleh Allah. Beliau qs merujuk kepada firman Allah:

وَلَا يَخْتَصُّ هَذَا بِالْعَوَالِمِ النَّازِلَةِ، بَلْ جَارٍ فِي عَالَمِ الْمُجَرَّدَاتِ مِنَ الْعُقُولِ الْمُقَدَّسَةِ وَالْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ. وَلِهَذَا وَرَدَ أَنَّ عِزْرَائِيلَ يَصِيرُ بَعْدَ قَبْضِ أَرْوَاحِ جَمِيعِ الْمَوْجُودَاتِ مَقْبُوضًا بِيَدِهِ تَعَالَى. وَقَالَ تَعَالَى: {يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ}.
“Dan hal ini tidak terbatas pada alam-alam yang rendah, melainkan juga berlaku di alam mujarradāt (hal-hal yang murni) dari akal-akal yang suci dan malaikat-malaikat muqarrab. Oleh karena itu diriwayatkan bahwa Izrail akan dicabut nyawanya oleh tangan Allah Taʿala setelah mencabut nyawa seluruh makhluk. Dan Allah Taʿala berfirman: ‘Pada hari Kami menggulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kitab.'” (QS. Al-Anbiyāʾ: 104) (Syarh Duʾāʾ al-Sahar, Imam Khomeini)

Langit digulung seperti lembaran kertas. Seluruh alam semesta dikembalikan kepada-Nya. Bahkan Malaikat Maut yang bertugas mencabut nyawa seluruh makhluk, pada akhirnya ia sendiri pun tidak luput dari ʿAzhamah-Nya.

Tidak ada yang tidak dikembalikan kepada Allah. Tidak ada yang benar-benar memiliki dirinya sendiri. Semuanya adalah pinjaman dari-Nya. Dan pada Hari ʿAzhamah itu, seluruh pinjaman dikembalikan.

VI. ʿAzhamah di Dalam Doa: Tiga Gerakan yang Sama

Dari Yang Paling Agung, Lalu Semua Agung, Lalu Memeluk Semua

Seperti penggalan Bahāʾ, Jamāl, dan Jalāl sebelumnya, penggalan ʿAzhamah dalam doa ini pun bergerak dalam tiga kalimat berpola sama. Pertama, sang hamba memohon melalui ʿAzhamah-Nya yang paling agung (bi-aʿzhamihā). Kedua, ia mengakui bahwa seluruh ʿAzhamah-Nya adalah agung (wa kullu ʿazhamatika ʿazhīmah). Ketiga, ia memeluk seluruh ʿAzhamah-Nya sekaligus (bi-ʿazhamatika kullihā).

Tiga gerakan ini bukan pengulangan. Masing-masing memiliki kedalaman tersendiri. Gerakan pertama adalah pintu masuk. Sang hamba memulai dari titik yang paling ia kenali dan paling memungkinkan baginya untuk bertemu dengan Allah dalam kondisi batinnya saat itu.

Gerakan kedua adalah pelebaran cakrawala. Ia menyadari bahwa tidak ada sisi ʿAzhamah Allah yang kurang agung. Setiap sisi adalah sempurna. Penyadaran ini membebaskan sang hamba dari membatasi Allah pada pengalamannya yang sempit.

Gerakan ketiga adalah pelukan penuh. Sang hamba tidak lagi memilah-milah. Ia memohon dengan seluruh ʿAzhamah Allah sekaligus. Ini adalah maqam sālik yang telah melampaui pembedaan. Yang melihat kesatuan di balik keberagaman.

Mengapa Berdoa dengan ʿAzhamah?

Ada sebuah paradoks yang indah di sini. Mengapa sang hamba yang kecil dan lemah memohon kepada Allah dengan ʿAzhamah-Nya yang luar biasa besar? Bukankah itu justru semakin memperjelas betapa tidak layaknya dirinya?

Jawabannya terletak pada pemahaman tentang apa artinya berdoa. Doa bukan hanya permintaan. Doa adalah penempatan diri. Ketika sang hamba menyebut ʿAzhamah Allah dalam doanya, ia sedang menempatkan dirinya di bawah naungan keagungan itu. Ia sedang berkata: Ya Allah, aku tahu betapa kecilnya aku di hadapan keagungan-Mu. Justru karena itulah aku memohon. Karena tidak ada tempat lain bagiku selain di bawah naungan-Mu.

Inilah yang dimaksud dengan doa sebagai lisan al-istiʿdād, yakni permohonan melalui kesiapan dan kapasitas. Sang hamba mempersiapkan dirinya untuk menerima limpahan Allah. Dan ʿAzhamah Allah yang ia sebut dalam doa itu adalah cermin yang memantulkan kesadaran akan betapa kecilnya dirinya dan betapa tak terbatasnya Allah.

Catatan dari Road To Muhammad

KH Jalaluddin Rakhmat dalam buku Road to Muhammad , seperti halnya para ulama ‘irfan seperti Tabatabai maupun Imam Khomeini mengajarkan mendekatkan diri pada Allah melalui jalan cinta pada Muhammad Saw dan keluarganya as.

Dalam Al Qur’an akhlaq Nabi Saw disebut sebagai

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ 

Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Akhlaq Nabi Saw disebut-Nya dengan Nama-Nama-Nya yakni ‘azhiim. Nabi Saw adalah juga KekasihNya dan Wali-Nya yang paling utama. Tiada jarak antara ‘azhomah akhlak Nabi Saw dengan ‘Azhomah-Nya kecuali bahwa ‘azhomah akhlak Nabi Saw tetap adalah makhluk.

Jadi , hemat penulis, min ‘azhomatika dalam doa ini bisa juga bermohon pada Allah dari percikan akhlak Nabi Saw yang agung. Yang ‘azhiim. Sebagai tajalli sempurna dari ‘Azhomah Allah. Di sini jelas bahwa ‘azhiim ini muncul dari keindahan (jamaliyah) sempurna akhlak Nabi Saw. Akhlak yang indah, yang terlalu indah, yang indah tak terkata sering membuat manusia lain menjadi ternganga , takjub dan takluk karena haibah (kedahsyatan) yang timbul di hati yang menyaksikan akhlak tersebut.

Catatan dari Seorang Khadim Muhammad

Bila seseorang dengan teguh dan mudawamah benar-benar taat pada Nabi Saw dan keluarganya as, kemudian tenggelam dalam kerinduan yang sangat pada mereka, dan membacakan min ‘azhomatika ini , maka pelahan-lahan dirinya akan dibinari oleh cahaya akhlak Nabi Saw dan keluarganya yang suci as yang terasa demikian agung.

Seorang Khadim Muhammad Saw di masa kini, Syahid Sayyid Ali Khamenei dikisahkan memiliki beberapa kisah akhlak mulia yang membuat kita merasakan keagungan akhlaknya. Para pecinta maupun para musuhnya akan segan melihat kemuliaan akhlaknya. Ada beberapa kisah berikut ini.

Kisah 1: Memeluk Anak Yatim di Garis Depan

Dalam salah satu kunjungannya ke keluarga para syuhada perang Iran-Irak, Khamenei tiba di sebuah rumah sederhana di mana seorang anak laki-laki kecil berlari keluar menyambutnya. Anak itu, yang baru saja kehilangan ayahnya di medan perang, memeluknya erat-erat.

Khamenei duduk di lantai bersamanya, memangku sang anak, dan menangis bersamanya cukup lama . Tidak ada kamera, tidak pula protokol, tidak ada ketergesaan. Para pengawal yang hadir mengisahkan bahwa saat itulah mereka memahami siapa sesungguhnya pemimpin mereka.

“Anak yatim bukan sekadar angka statistik. Setiap wajah anak yang kehilangan ayahnya adalah amanah yang harus kita pikul.”

📎 Sumber: Khamenei.ir — Pidato kepada Keluarga Syuhada

Kisah 2: Sang Pemimpin yang Menjahit Sepatunya Sendiri

Salah satu kisah yang paling sering diceritakan oleh para tamu yang pernah mengunjungi kediaman Khamenei adalah tentang kesederhanaan rumahnya. Berbeda dari rumah pejabat tinggi mana pun, tidak ada hiasan mewah, tidak ada furnitur berlebihan.

Lebih mengejutkan lagi, sejumlah orang dekatnya bersaksi bahwa beliau kerap memperbaiki sendiri barang-barang yang rusak — termasuk menjahit robekan pada sandalnya — karena prinsipnya bahwa seorang pemimpin tidak boleh menghabiskan uang rakyat untuk kenyamanan pribadinya.

Rumah yang beliau tinggali sejak menjadi Pemimpin Tertinggi adalah rumah sederhana yang sama dengan yang beliau huni jauh sebelum menduduki jabatan itu. Tidak ada renovasi kemewahan. Tidak ada perluasan. Yang ada hanyalah rak-rak buku yang mengisi setiap sudut ruangan.

📎 Sumber: Mashregh News — Laporan Kesederhanaan Gaya Hidup Khamenei

Kisah 3: Air Mata untuk Palestina

Dalam sebuah pertemuan tertutup dengan delegasi dari Gaza, beberapa anggota delegasi bersaksi bahwa Khamenei tidak mampu menahan air matanya ketika mendengar kesaksian langsung tentang penderitaan anak-anak di bawah blokade. Ia meninggalkan protokol resmi pertemuan, meminta semua orang duduk melingkar di lantai, dan mendengarkan satu per satu — selama berjam-jam — tanpa sekalipun melirik jam tangannya.

Ia kemudian berkata bahwa ia tidak bisa tidur nyenyak selama bertahun-tahun, karena setiap kali ia berbaring, ia teringat anak-anak Palestina yang tidak memiliki tempat yang aman untuk tidur.

📎 Sumber: Khamenei.ir — Pernyataan tentang Palestina dan Gaza

Kisah 4: Menolak Kursi Istimewa

Dalam sebuah pertemuan besar dengan para ulama dan tokoh masyarakat, panitia telah menyiapkan kursi khusus yang lebih tinggi dan lebih besar untuk Khamenei di bagian depan ruangan — sebuah tradisi penghormatan. Begitu ia tiba dan melihat kursi itu, ia meminta agar kursi tersebut diganti dengan kursi biasa yang sama dengan yang digunakan semua orang yang hadir.

“Saya tidak lebih baik dari kalian,” katanya. “Jika kursi kita berbeda, hati kita akan terasa berbeda pula.” Ia lalu duduk di barisan paling belakang bersama peserta lainnya, memaksa seluruh acara diatur ulang.

📎 Sumber: IRNA — Dokumentasi Perilaku Sederhana Pemimpin Tertinggi

Kisah 5: Membaca Puisi untuk Orang Buta

Khamenei adalah seorang penyair dan pecinta sastra yang mendalam. Dalam satu kesempatan kunjungan ke sebuah pusat rehabilitasi untuk orang-orang dengan disabilitas penglihatan, ia tidak memberikan pidato formal.

Sebaliknya, ia duduk di antara mereka, meminta seseorang membacakan puisi klasik Persia, kemudian melanjutkan dengan membaca puisi sendiri — yang telah ia hafalkan — dengan suara pelan, seolah-olah berbicara bukan kepada khalayak ramai, melainkan kepada sahabat lama.

Para peserta yang hadir mengisahkan bahwa saat itu ruangan menjadi sangat hening larut dalam keharuan yang syahdu.

📎 Sumber: Khamenei.ir — Kecintaan pada Sastra dan Puisi

Kisah 6: Surat untuk Pemuda Barat

Setelah serangkaian serangan teroris di Eropa pada 2015, Khamenei melakukan sesuatu yang tidak biasa: ia menulis dua surat terbuka langsung kepada pemuda Eropa dan Amerika Utara — bukan kepada pemimpin mereka, bukan kepada media, tetapi kepada generasi muda. Ia mengajak mereka untuk membaca sejarah Islam secara langsung, bukan melalui filter media.

Yang mengejutkan banyak pengamat adalah nada suratnya: tidak ada ancaman, tidak ada retorika permusuhan. Hanya sebuah undangan tulus untuk berdialog, dengan pengakuan bahwa ia pun memahami ketakutan dan kebingungan yang dialami orang-orang muda di Barat.

📎 Sumber: Surat Terbuka Khamenei kepada Pemuda Barat — Teks Lengkap

Kisah 7: Pemimpin yang Menjenguk Orang Sakit Tanpa Pengumuman

Dalam beberapa kesempatan yang didokumentasikan, Khamenei mengunjungi keluarga-keluarga veteran perang yang sedang sakit atau dalam keadaan susah — tanpa pemberitahuan sebelumnya, tanpa iring-iringan panjang, tanpa wartawan. Ia datang sebagai manusia biasa yang ingin memastikan saudara-saudaranya baik-baik saja.

Dalam satu kisah yang beredar luas, ia mengunjungi seorang veteran yang terbaring lumpuh di rumah sederhana. Ia duduk di sisi ranjang, memegang tangan sang veteran, dan berdoa bersamanya. Keluarga sang veteran baru mengetahui siapa tamunya setelah ia pergi.

📎 Sumber: Khamenei.ir — Kunjungan ke Keluarga Veteran dan Syuhada

Kisah 8: Menangis di Mihrab

Para imam masjid dan jemaah yang pernah shalat bersamanya bersaksi tentang satu hal yang konsisten.

Khamenei menangis saat berdoa. Tangisan yang ia coba sembunyikan. Tapi lolos ketika ia tidak menyadarinya.

Salah seorang yang shalat di sampingnya pada sebuah shalat subuh berjamaah mengisahkan.

 “Saat qunut, saya mendengar isak kecil di sampingku. Saya lirik, dan itulah Beliau. Tidak ada kamera. Tidak ada yang melihat. Ia hanya berbicara dengan Tuhannya.”

📎 Sumber: Tasnim News — Kesaksian tentang Ibadah Khamenei

Kisah 9: Tangan Kiri yang Lumpuh, Jiwa yang Tegak

Pada tahun 1981, dalam sebuah serangan bom yang ditujukan kepadanya, Khamenei kehilangan fungsi tangan kanannya. Shrapnel dari bom yang diselipkan dalam sebuah tape recorder merusak saraf-saraf di tangannya secara permanen. Sejak itu, ia tidak pernah bisa menggunakan tangan kanannya secara normal.

Yang menarik bukan cedera itu sendiri, melainkan bagaimana ia menyikapinya: ia tidak pernah menggunakannya sebagai retorika politik, tidak pernah memamerkannya sebagai simbol pengorbanan, dan bahkan sering menyembunyikannya dengan jubahnya agar tidak menjadi pusat perhatian.

Ketika seorang anak kecil bertanya tentang tangannya dalam satu kunjungan, ia hanya tersenyum dan berkata, “Ini kenangan dari seorang saudara yang tidak tahu caranya berdialog.”

📎 Sumber: Encyclopedia Iranica — Biografi Ali Khamenei

Kisah 10: Guru yang Tidak Pernah Berhenti Belajar

Orang-orang yang pernah masuk ke ruang kerjanya selalu melaporkan hal yang sama: buku-buku bertumpuk di mana-mana — di meja, di lantai, di setiap sudut.

 Bukan sekadar kitab-kitab agama, tetapi juga sastra Persia klasik, sejarah dunia, filsafat, bahkan karya-karya penulis Barat.

Khamenei sendiri pernah mengakui bahwa ia membaca setiap hari, bahkan di tengah jadwal yang paling padat. Ia menerjemahkan sendiri beberapa karya dari bahasa Arab ke Persia, dan mendorong keras gerakan membaca di kalangan pemuda Iran. Dalam satu kesempatan ia berkata: “Pemimpin yang berhenti belajar adalah pemimpin yang mulai mati.”

📎 Sumber: Khamenei.ir — Pentingnya Membaca dan Ilmu Pengetahuan

Kisah 11: Menelepon Ibu dari Garis Depan

Selama masa perang Iran-Irak (1980-1988), ketika Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran, ia dikenal sering turun langsung ke garis depan untuk memberikan semangat kepada para prajurit muda.

Yang tidak diketahui banyak orang adalah kebiasaannya: ia mengumpulkan nama dan nomor keluarga dari para prajurit yang ia temui, dan kemudian menelepon ibu-ibu mereka untuk mengabarkan bahwa putra-putra mereka baik-baik saja.

Beberapa ibu veteran yang masih hidup menceritakan tangisan mereka ketika tiba-tiba menerima telepon dari Presiden yang mengucapkan: “Bu, saya baru bertemu putra Ibu. Ia sehat, ia kuat, dan ia bangga.”

📎 Sumber: Islamic Revolution Document Center — Peran Khamenei di Masa Perang

Kisah 12: Ketika Ia Meminta Maaf kepada Seorang Warga Biasa

Dalam sebuah pertemuan terbuka dengan warga, seorang pria biasa berdiri dan dengan suara gemetar menyampaikan keluhannya tentang kondisi ekonomi yang menekan keluarganya. Nada suaranya terdengar antara protes dan keputusasaan. Para pengawal bergerak, namun Khamenei menghentikan mereka.

Ia meminta pria itu untuk duduk kembali, lalu ia sendiri yang bangkit dan berkata di depan semua orang yang hadir: “Engkau benar untuk marah. Kami belum cukup berhasil memberikan apa yang engkau dan keluargamu berhak dapatkan. Saya meminta maaf atas itu.”

Momen tersebut mengejutkan semua yang hadir — termasuk si pria yang kemudian menangis.

📎 Sumber: Mehr News Agency — Pertemuan Langsung Khamenei dengan Warga

Kisah 13: Pena untuk Tawanan

Selama bertahun-tahun, Khamenei dikenal mengirimkan pesan-pesan pribadi — bukan melalui kantor resmi, tetapi melalui surat tulisan tangan — kepada para tahanan dan tawanan yang ia anggap diperlakukan tidak adil oleh musuh-musuhnya, maupun kepada para aktivis dan jurnalis yang dipenjara di negara-negara lain karena menyuarakan kebenaran.

Salah satu yang paling terkenal adalah pesannya kepada keluarga-keluarga tawanan perang Iran yang tidak kunjung dipulangkan setelah perang berakhir. Ia menulis dengan tangan kepada anak-anak mereka, memastikan mereka tahu bahwa mereka tidak dilupakan.

📎 Sumber: Khamenei.ir — Pesan kepada Keluarga Tawanan Perang

Kisah 14: Wajah Terakhir Sebelum Subuh

Mereka yang pernah tinggal atau bekerja di lingkungan rumah tangga Khamenei bersaksi tentang satu kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan, bahkan di malam-malam paling melelahkan: ia selalu bangun jauh sebelum adzan subuh, berdoa dalam kegelapan, dan duduk dalam keheningan sejenak sebelum memulai harinya.

“Ia bukan pemimpin yang hanya berbicara tentang spiritualitas,” kata salah seorang yang pernah menjadi bagian dari stafnya. “Ia adalah orang yang sungguh-sungguh hidup di dalamnya. Perbedaan antara wajahnya saat berada di depan kamera dan wajahnya saat sendirian di kegelapan subuh — tidak ada bedanya. Itulah yang paling mengesankan saya.”

📎 Sumber: Khamenei.ir — Biografi dan Kehidupan Pribadi

VII. ʿAzhamah dan Rahmat: Tidak Pernah Berpisah

Di Balik Keagungan, Selalu Ada Kelembutan

Satu hal yang selalu Imam Khomeini tekankan ketika berbicara tentang ʿAzhamah dan Jalāl adalah bahwa keduanya tidak pernah hadir tanpa rahmat yang tersembunyi di dalamnya. Ini bukan kelemahan dari ʿAzhamah. Ini adalah kesempurnaan Allah.

Jika ʿAzhamah hadir tanpa rahmat, tidak ada satu pun makhluk yang bisa selamat. Tidak ada yang bisa menyaksikannya dan tetap berdiri. Namun karena rahmat Allah mendahului dan memeluk segala sesuatu, maka bahkan tajallī ʿAzhamah pun menjadi sesuatu yang bisa ditanggung oleh jiwa-jiwa yang telah dipersiapkan.

Imam Khomeini mengingatkan kita kepada sebuah firman Allah yang sangat dalam. Rahmati sabaqa ghadhabī. Rahmat-Ku mendahului murka-Ku. ʿAzhamah adalah dimensi yang berkaitan dengan murka dan keperkasaan. Namun rahmat selalu lebih dahulu. Rahmat selalu lebih luas. Rahmat selalu menang pada akhirnya.

Kembali dan Pulang: ʿAzhamah sebagai Rindu

Ada cara lain untuk memahami ʿAzhamah. Bukan sebagai sesuatu yang menakutkan. Melainkan sebagai sesuatu yang memanggil pulang.

Bayangkan seorang musafir yang telah lama mengembara di negeri asing. Ia merindukan kampung halamannya. Ketika ia akhirnya tiba di gerbang kampung halamannya yang megah, ia mungkin terperangah oleh keagungannya. Keagungan itu terasa menggenggam dan melampaui dirinya. Namun ia bukan ancaman. Ia adalah rumah.

Demikian pula ʿAzhamah Allah bagi jiwa yang telah mengenal-Nya. Ia bukan ancaman. Ia adalah tanda bahwa sang hamba sedang kembali ke sumber. Kembali kepada Dzat yang dari-Nya semua wujud berasal dan kepada-Nya semua wujud akan kembali.

Melewati Muhammad Saw dan keluarganya yang suci as semestinya kita kembali kepadaNya. Dengan bermohon taufik agar dikaruniai percikan dari akhlak Nabi Saw yang ‘azhiim. Sehingga barangkali kita bisa mengikuti jejak para Shalihin, seperti Khadim Nabi Saw, Syahid Sayyid Ali Khamenei.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha lagi diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 27-28, dikutip dalam Syarh Duʾāʾ al-Sahar)

Wa maa taufiiqi illa billah ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib

Sahar 14 Bulan Ramadan 1447 H — ditulis menyambut keinginan Guru tercinta Maulana KH Miftah Fauzi Rakhmat (Gus Miftah), dan Maulana Muhammad Bhagas
Sumber: Imam Khomeini, Syarh Duʾāʾ al-Sahar (teks lengkap: usul.ai/ps/t/sharh-duca-sahar)

Exit mobile version