Site icon Majulah IJABI

HAI ALI: Merawat kenangan penuh airmata kerinduan pada Syahid Sayyid Ali Khamenei

Sumber gambar: https://pin.it/18OZWKdIa

Oleh: Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI)

✦  Ghazal 1  ✦   Api yang Tak Padam

Ada api di dada yang tak mau padam oleh hujan dan musim,
ia bukan api neraka — ia rindu kepada-Mu, Tuhanku.
Pemuda dari Shiraz itu menulis di malam terakhirnya dengan tangan gemetar,
“Aku tidak sabar — ada api — aku ingin bertemu-Mu, Tuhanku.
Para mistikus bertahun-tahun dalam sunyi sebelum mencium ambang pintu-Mu,
namun pemuda di medan jihad meraihnya dalam semalam — anugerah-Mu, Tuhanku.
Sang Khawaja berkata: anggur kerinduan adalah yang paling memabukkan jiwa,
maka ia yang mabuk di medan laga adalah ia yang paling dekat kepada-Mu, Tuhanku.
Ketenangan hanya ada di satu muara — dan pemuda itu tahu di mana muaranya,
ia tidak mencari ketenangan dunia — ia mencari wajah-Mu, Tuhanku.
Hai Ali, engkau membaca catatannya dan dadamu ikut terbakar bersama,
karena engkau pun menyimpan api yang sama — rindu kepada-Mu, Tuhanku.

✦  Ghazal 2  ✦   Jangan Mati Biasa

Sungguh disayangkan jika lilin sepertimu padam tanpa cahaya di akhir,
orang-orang sepertimu tidak boleh mati biasa — engkau harus jadi syahid.
Jenderal Kazemi datang dengan mata yang sudah menyimpan jawabannya sendiri,
ia memohon doa — bukan untuk selamat, tapi untuk menjadi syahid.
“Doakan saya agar terhormat,” pintanya — dan kehormatan tertinggi telah ia pilih,
karena bagi pejuang yang benar hanya ada satu mahkota: mati sebagai syahid.
“Belum waktunya,” kata Ali — namun mata itu sudah terlalu jauh melihat,
air mata Sang Jenderal berlinang: “Insya Allah engkau akan segera mendengarku sebagai syahid.”
Ngengat tidak berduka ketika api membakarnya di ujung malam,
ia tersenyum karena ia tahu: inilah cara tercantik untuk menjadi syahid
Hai Ali, engkau berdiri di makamnya dan berkata kepada para pelayat yang berduka,
“Doakanlah aku pula — agar aku pun diizinkan pergi sebagai syahid.”

✦  Ghazal 3  ✦   Satu Kata, Seribu Makna

Bila engkau mengucap satu kata itu, jangan anggap ia cuma nama,
seluruh kitab suci dan sejarah umat — terkandung di sini.
Ajaran agama yang dititipkan para nabi sepanjang zaman silam,
dalam satu kata itu semua terhimpun — terkandung di sini.
Rasa cinta kepada tanah air, kepada ibu dan anak yang ditinggal,
seluruh kasih nasional yang tak bisa diucapkan pun — terkandung di sini.
Kebajikan dan akhlak yang dicari para filsuf berabad tanpa menemukan,
di telapak tangan orang yang memeluk kata itu — terkandung di sini.
Sang Khawaja bilang: kata yang benar adalah yang tidak butuh penjelas,
“syahid” adalah kata itu — dunia dan akhirat sekaligus — terkandung di sini.
Hai Ali, engkau bilang ia adalah buku — dan engkau benar, wahai penjelas kata,
dan nama-Mu, ya Allah, lebih dalam dari semua kata — terkandung di sini.

✦  Ghazal 4  ✦   Takdir yang Layak

Ada yang mengakhiri hidupnya di kasur, diam, tanpa bekas di langit,
namun bagi pejuang sejati hanya satu akhir — yang layak.
Sinwar mendedikasikan napasnya untuk melawan perampas yang zalim bertahun,
dan ia menemukan di ujung jalannya satu-satunya penutup — yang layak.
Dunia menawarkan kursi empuk bagi yang mau sedikit berkompromi,
namun bagi ia yang memilih tegak, hanya satu mahkota — yang layak.
Seperti pedang yang lahir dari besi panas dan tempa berkali-kali,
ia tidak boleh berkarat di sarungnya — hanya pertarungan — yang layak.
Hafiz berkata: anggur keikhlasan hanya diminum oleh yang tidak takut hilang,
dan yang telah minum tidak akan puas dengan akhir — yang layak.
Hai Ali, engkau tulis pesan duka untuk Sinwar walau tangan lumpuh,
karena engkau tahu — tangan yang pernah dilukai pun rindu akhir — yang layak.

✦  Ghazal 5  ✦   Pahala Perjuangan

Delapan tahun mereka bertahan — delapan tahun langit menghitung,
dan tiap tetes darah itu adalah bayaran yang lunas — di jalan-Nya.
Dua belas hari Lebanon melawan serangan yang meminjam nama peradaban,
namun batu yang dilempar dengan iman pun adalah perjuangan — di jalan-Nya.
Gaza yang dikepung, Palestina yang menunggu fajar tak kunjung datang,
setiap isak yang ditahan di sana adalah zikir — di jalan-Nya.
Kesyahidan adalah pahala — bukan kekalahan yang dikemas ulang oleh lidah yang lemah,
ia adalah upah yang dijanjikan bagi yang berjalan tegak — di jalan-Nya.
Burung bulbul yang mati karena terus bernyanyi di kebun yang terbakar,
bukan bodoh — ia tahu bahwa bernyanyi terus adalah setia — di jalan-Nya.
Hai Ali, engkau menyebut mereka semua dalam satu napas panjang yang penuh,
karena pahalamu pun menunggu, karena engkau terus berjalan — di jalan-Nya.

✦  Ghazal 6  ✦   Akhir yang Bercahaya

Jarak antara hidup dan mati kata mereka pendek seperti kedipan mata,
maka pintakanlah kepada Allah agar kedipan itu penuh — kehormatan.
Bukan panjangnya usia yang dihitung — tapi terangnya ujung lilin yang padam,
padam dalam cahaya adalah padam yang layak disebut — kehormatan.
Mohonlah selalu — karena akhir yang baik tidak datang dari kelengahan,
ia adalah buah dari seumur doa dan pilihan yang berpihak pada — kehormatan.
Ada yang mati di atas kasur namun mati dalam hina yang tak terhapus,
dan ada yang gugur di atas tanah namun wajahnya bersinar dengan — kehormatan.
Sang Khawaja berkata: akhirul amri adalah akhir yang paling jujur,
karena di situlah terlihat apakah seseorang benar-benar mengenal — kehormatan.
Hai Ali, engkau memohon doa yang sama untuk dirimu di setiap subuhmu,
“Ya Allah — akhiri hidupku dengan syahadah bersimbah darah yang penuh — kehormatan.”

— Wa maa taufiiqii illa billah ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib
Disusun 15 Bulan Ramadhan 1447 H atas Inspirasi Cinta Ananggurutta Maulana Syamsuddin Baharuddin

Exit mobile version