Majulah IJABI

Hani’an lakas Syahadah 

Ditulis oleh : K.H. Miftah Fauzi Rakhmat, Ketua Dewan Syura IJABI 

Bismillahirrahmanirrahim
Bismi Rabbil Mustadh’afin Bismi Rabbis Syuhada’i was Shiddiqin was Shalihin Bismi Qasimil Jabbarin
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad 

10 Bulan Suci Ramadhan adalah hari wafatnya pendamping pertama dan utama Baginda Nabi Saw, Sayyidatina Khadijah salamullah ‘alaiha. Pada tahun kesepuluh kenabian, perempuan mulia ini berpulang ke pangkuan kasih Allah Swt, sebuah rihlah agung malakuti setelah seluruh perkhidmatan, pengorbanan dan perjuangan mendampingi Rasulullah Saw. 

Diriwayatkan dari ‘Aisyah istri Rasulullah Saw, “Sungguh Rasulullah Saw jika mengenang Khadijah, beliau akan memujinya. Dan betapa indah pujian itu… Beliau berkata: Ia beriman kepadaku ketika manusia mengingkariku. Ia membenarkanku ketika manusia mendustakanku. Ia luaskan miliknya untukku ketika manusia menahannya dariku. Ia karuniakan padaku keturunan.” (Musnad Ahmad 24864, Majma’ al-Zawaid 9:227, al-Thabrani 13:23). 

Sayyidah Khadijah sa punya hak teramat besar bagi kaum Mukminin. Di sekolah, saya sering bertanya pada anak-anak: apakah perbuatan terbaik orangtuamu untukmu? Anak-anak akan menjawab kasih sayang, pendidikan, bimbingan dan kebahagiaan yang diberikan. Saya sampaikan hal terbaik dari orangtuamu adalah sesuatu yang tidak pernah kauketahui. Yang ia sembunyikan. Yang ia rahasiakan. Kesulitannya untuk memberikan padamu kelapangan. Penderitaannya untuk memberikan padamu kesenangan. Tangisannya untuk memberikan padamu tawa kebahagiaan. 

Demikian pula Sang Ibunda kaum Mukminin. Beliau punya hak teramat besar bagi kaum Mukminin. Pengorbanannya mendampingi risalah banyak tak diketahui umat. Sebagai seorang ibu, ia sembunyikan tangisannya untuk memberikan pada umat kebahagiaan. 

Adalah Rahbar, Sang Imam Mustadh’afin, As-Syahid as-Sayyid Ali Khamenei yang mengingatkan hak teramat besar Siti Khadijah sa ini. Dalam banyak kesempatan beliau mengajak agar kita mengkaji lebih jauh lagi sejarah perempuan mulia ini. Dalam sebuah ceramah dengan lirih beliau berkata: Sayyidah Khadijah sa adalah seorang mazhlumah (terzalimi), gharibah (terasing) dan hak mengenal sosok agung ini belum dapat tertunaikan dengan baik. Beliau teladan kesetiaan dan pengorbanan. Allamah Ayatullah al-‘Uzhma Sayyid Ali Khamenei menyampaikan, “Siapa saja yang menginfakkan hartanya di jalan Islam dan untuk kemaslahatan masyarakat dan umat adalah termasuk di antara pengikut sejati Sayyidah Khadijah sa.” 

Sejak itu, saya melihat bagaimana Rahbar sering mengisahkan Siti Khadijah sa. Saya menangkap kegetiran pada penyampaiannya. Seakan sebuah misi untuk menghidupkan kembali kenangan akan perempuan agung ini. Agar umat belajar darinya. Agar umat mengambil teladannya. Seakan-akan ada perasaan, “Ah, andai aku dapat lebih berkhidmat untuk memperkenalkannya.” Saya merasakan getaran kerinduan dari setiap kalimat beliau untuk Sayyidah Khadijah sa. Getaran yang sama setiap kali beliau berkisah tentang keluarga Nabi Saw. 

Kemarin 10 bulan suci Ramadhan 1447 H, pada hari rihlah agung malakuti Sayyidah Khadijah sa, ulama besar ini gugur dalam sebuah serangan Israel dan Amerika. Telah berulangkali ia sampaikan kerinduannya pada kesyahidan. Tak terhingga doanya bersyukur karena anugerah jihad di jalan Tuhan. Pada seorang anak kecil yang meminta didoakan syahid, ia berkata: tumbuh besar dulu, panjang usia, khidmat untuk orangtua, bangsa dan Islam. Hiduplah bahagia hingga jadi kakek-kakek 80 tahunan. Barulah setelah itu, kaureguk cawan kesyahidan. 

Lelaki yang tumbuh di medan perang ini adalah seseorang yang hidup dengan tindakan, bukan hanya ucapan. Ia membuktikannya. Ia mereguk cawan kesyahidan setelah hidup yang dikhidmatkan di jalan Tuhan. Pada hari yang sama dengan Sayyidah Khadijah sa. Pada hari yang sama juga gugur lebih dari 100 anak sekolah putri di sebuah Madrasah di Kota Minab, juga karena serangan Israel dan Amerika. Hari perempuan, hari Sayyidah Khadijah sa, hari seorang lelaki berkacamata menjemput kerinduannya. 

Iran berkabung. Jutaan rakyat turun ke jalan. Ini bukan akhir. Ia awal baru dari sebuah teriakan yang telah menggema sepanjang sejarah: A bil mawti tuhaddiduna yabnat thulaqa, innal mawta lana’ aadah, wa karamatuna minallahi syahadah. Apakah kalian akan mengancam kami dengan kematian, hai anak-anak mereka yang dibebaskan tengkuknya dari hukuman? (Tidakkah kalian tahu) kematian adalah tradisi kami, dan syahadah adalah kemuliaan dari Allah Ta’ala untuk kami. Bangsa ini akan semakin kuat. Suara pembelaan pada Palestina akan semakin menggema. Perjuangan para tertindas di muka bumi akan berlanjut, karena sejatinya kesabaran dan pengorbanan, itu yang akan menang. Kehilangan termat besar yang akan mengantarkan pada janji Allah Swt. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat

Al-Baqarah [2]:214 

Kini kita diguncangkan. Yakinlah, sungguh pertolongan Allah itu dekat. 

Sayang, dari dalam negeri ada berita yang kurang baik. Bapak Presiden menandatangani keikutsertaan dalam BoP dan menandatangani perjanjian dagang dengan Amerika. Parlemen belum bersuara. Pimpinan negeri tak diketahui responnya. Mengapa teramat disayangkan? Karena sejarah mencatat dengan segera. Langkah pertama BoP adalah dengan mengobarkan peperangan. Tandatangan itu adalah sebuah keikutsertaan. Belum lagi perjanjian yang mengharuskan bermitra dengan mitra dan berlawanan dengan pihak yang berlawanan. Mari bantu ingatkan para pemimpin negeri. Langkah mereka bukan hanya untuk sesaat, melainkan tanggung jawab untuk umat yang akan dibawa hingga akhirat. Ingatkan para cerdik cendekia dan agamawan yang membungkus diri dengan busana kemaslahatan. Hidup itu sesaat. Adalah keberanian bertindak yang akan mengekalkannya ke akhirat. 

Api Namrud telah membakar Nabi Ibrahim as. Adalah hati yang penuh kepasrahan yang akan tenang menghadapinya. Jadilah dingin dan keselamatan untuk Ibrahim. Di tengah api Namrud kekinian yang membakar dunia kita, ambillah pelajaran dari jiwa-jiwa tenang yang tetap sejuk dan damai. Kenalilah Namrud zaman ini. Ketahuilah Ibrahimnya. 

Rasanya ingin kubenamkan tanganku dalam-dalam di telapakmu Tak ingin kulepaskan pelukan di haribaanmu Keberkahan izin kusimpan Hingga saat menjemput ketentuan 

Sayyid Jan Meski hati menjerit perih Indah sungguh kembalimu Duka cita tak terperi Selamat mereguk cawan kesyahidan itu 

Puasa sepenuh ketaatan Pasrah seluas kesabaran Khidmat yang tak berkesudahan Jalan itu kini terbuka 

Belasungkawa Mawlana Wahai pemimpin masa Untuk tangan terkulai yang menunggu Kapan ia terangkat mencurah rindu 

Sang pemimpin mustadh’afin Suara Felesthin Ayah anak-anak yatim Sebaik-baik khadim 

Kaumohonkan cawan itu Gelegak mata menggenang haru Pada rihlah Sayyidah Khadijah kerinduanmu Di bulan penuh berkah syahadah kekasihmu 

Hani’an lakas Syahadah 
Hani’an lakas Syahadah. 
Sayyid Jan, Syahide Jonam. 

Sayyid Ali Husaini Khamenei dan K.H. Dr. Jalaluddin Rakhmat
Exit mobile version