Site icon Majulah IJABI

Meneladani Pemikiran Jalaluddin Rakhmat dan Kebangsaan

Buku terbuka 'Papillon' dengan kopi di pengaturan meja rustic, membangkitkan suasana vintage dan nyaman.

Nama KH. Jalaluddin Rakhmat, atau yang akrab disapa Kang Jalal, selalu menempati ruang tersendiri dalam diskursus pemikiran Islam dan keindonesiaan. Sebagai seorang cendekiawan yang mendalami ilmu komunikasi, ia membawa perspektif yang segar dan menyejukkan dalam melihat berbagai persoalan bangsa. Hubungan antara Jalaluddin Rakhmat dan kebangsaan bukan sekadar urusan politik praktis, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana merawat kemajemukan Indonesia dengan rasa empati.

Bagi Kang Jalal, kebangsaan adalah sebuah ikatan kemanusiaan yang harus dirawat dengan dialog yang tulus. Ia melihat bahwa Indonesia yang sangat beragam ini tidak akan bisa bertahan tanpa adanya kesediaan untuk saling mendengarkan. Pemikirannya selalu menekankan pentingnya memahami kelompok lain sebelum menuntut untuk dipahami, sebuah prinsip komunikasi dasar yang ia bawa ke dalam ranah kehidupan berbangsa.

Pendekatan ini melahirkan gagasan kebangsaan yang inklusif dan merangkul semua golongan. Di tengah berbagai dinamika sosial yang sering kali menguji persatuan, pemikiran Jalaluddin Rakhmat dan kebangsaan hadir sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai perbedaan keyakinan dan latar belakang. Ia meyakini bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari komitmen spiritual yang nyata, yang diwujudkan melalui pembelaan terhadap kemanusiaan dan keadilan bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali.

Ia juga kerap menekankan bahwa keberagaman Indonesia adalah sebuah keniscayaan takdir yang harus disyukuri, bukan ditakuti. Menurutnya, rasa kebangsaan yang sehat adalah rasa kebangsaan yang tidak menyembunyikan perbedaan, melainkan merayakannya dengan penuh kedewasaan sikap. Dari sinilah lahir gagasan-gagasan tentang pentingnya toleransi yang aktif, bukan sekadar toleransi pasif yang membiarkan perbedaan tanpa adanya interaksi yang saling menghargai.

Foto: Pixabay / Pexels

Empati Sosial sebagai Fondasi Persatuan

Salah satu sumbangan terbesar Kang Jalal dalam isu kebangsaan adalah konsep empati sosial yang diterapkan dalam kehidupan bernegara. Ia sering mengingatkan bahwa prasangka adalah musuh terbesar dalam kehidupan berbangsa. Ketika prasangka menguasai pikiran, ruang dialog akan tertutup, dan yang tersisa hanyalah kecurigaan antarkelompok yang dapat merusak tenun kebangsaan yang telah dirajut sejak lama.

Melalui tulisan-tulisannya yang jernih dan ceramah yang memikat, ia mengajak masyarakat untuk melihat perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan bersama. Kebangsaan yang ia impikan adalah kebangsaan yang ramah, di mana kelompok mayoritas merangkul yang minoritas, dan semua pihak bekerja sama demi kemaslahatan bersama. Hubungan harmonis ini hanya bisa dicapai jika setiap warga negara bersedia membuka hati dan pikiran untuk saling mengenal secara mendalam.

Pemikiran Jalaluddin Rakhmat dan kebangsaan juga tercermin dalam upayanya memperjuangkan hak-hak kelompok yang terpinggirkan. Bagi beliau, nasionalisme yang sejati diuji dari sejauh mana negara dan masyarakatnya mampu memberikan rasa aman dan keadilan bagi mereka yang paling lemah. Komitmen kemanusiaan inilah yang membuat gagasan kebangsaannya terasa sangat membumi dan menyentuh hati banyak orang dari berbagai kalangan.

Foto: Tima Miroshnichenko / Pexels

Dalam pandangannya, nilai-nilai agama seharusnya menjadi inspirasi untuk membangun peradaban yang damai dan berkeadilan di Indonesia. Agama tidak boleh dijadikan alat untuk memecah belah, melainkan harus menjadi perekat sosial yang memperkuat rasa persaudaraan sebangsa dan setanah air. Dengan cara pandang ini, ia berhasil menyatukan nilai-nilai spiritualitas keagamaan dengan semangat nasionalisme Indonesia yang berlandaskan Pancasila.

Kini, meskipun sosoknya telah tiada, warisan pemikirannya tentang kebangsaan tetap terasa sangat relevan untuk dipelajari kembali. Di tengah tantangan polarisasi yang kadang masih muncul di ruang publik, pesan-pesan kedamaian dan dialog yang ia wariskan menjadi pengingat yang berharga. Meneladani pemikiran beliau berarti terus berupaya merajut persaudaraan, mengedepankan tabayun, dan menjaga agar api toleransi tetap menyala di bumi Nusantara.

Exit mobile version