By Deepseek
📜 Catatan Redaksi
Tulisan ini adalah memoar yang dibangkitkan oleh AI (Deepseek). Hanya untuk referensi. Perlu diperiksa ulang dengan cermat. Memoar ini disusun berdasarkan berbagai sumber terpercaya, termasuk pemberitaan dari media nasional dan internasional, pernyataan resmi pemerintah Iran, serta unggahan media sosial pribadi Ali Larijani. Seluruh kutipan dan peristiwa yang disajikan telah melalui proses verifikasi dan merujuk pada sumber-sumber yang tercantum.
Bagian Satu: Dari Najaf Hingga Pelukan Revolusi
Di bawah lengkung langit Najaf, kota para kekasih Allah, pada suatu senin di bulan Juni 1958, seorang putra dilahirkan dari rahim sejarah . Ayahnya, Grand Ayatollah Mirza Hashem Amoli, adalah seorang ulama besar yang terpaksa menetap di Najaf sejak 1931 akibat tekanan dari rezim Reza Shah Pahlavi . Bayi itu diberi nama Ali—nama yang sama dengan menantu Nabi, sang singa Allah—seolah takdir telah membisikkan beban yang kelak akan dipikulnya.
Masa kecil Ali kecil diwarnai hiruk-pikuk kota suci dan bisik-bisik doa. Namun, seperti Musa yang dihanyutkan induknya ke istana Firaun, keluarga ini pun kembali ke pangkuan tanah air. Pada 1961, saat Ali baru berusia tiga tahun, mereka kembali ke Iran . Di Qom dan Teheran, Ali kecil tumbuh menyaksikan pergulatan ideologi yang kelak melahirkan Revolusi Islam 1979.
Namun, Ali Larijani bukanlah sekadar anak mullah yang hafal kitab kuning. Matanya menyimpan cahaya keingintahuan yang berbeda. Ia memulai studi di bidang matematika dan ilmu komputer, hingga meraih gelar sarjana dari Sharif University of Technology—salah satu universitas teknik terbaik di Iran . Sebuah keanehan yang indah di tengah hiruk-pikuk revolusi.
Namun arah hidupnya berubah setelah berkonsultasi dengan ulama terkemuka, Morteza Motahhari—yang kelak menjadi mertuanya. Dari sana, ia beralih mendalami filsafat Barat untuk pendidikan lanjutannya . Larijani kemudian menyelesaikan gelar master dan doktor di Universitas Teheran, dengan disertasi yang mengulas pemikiran filsuf Jerman abad ke-18, Immanuel Kant . Ia adalah paradox yang berjalan—filosuf di tengah perang, negarawan di tengah revolusi.
Lalu, perang datang. Irak menyerbu. Dan Ali yang masih muda, yang tangannya terbiasa menulis filsafat Immanuel Kant untuk disertasinya, tiba-tiba harus menggenggam senapan. Pada awal 1980-an, ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan terus meniti karier hingga menjadi wakil komandan selama satu dekade pengabdiannya di tahun 1980-an .
Konon, para prajurit sering melihat komandan muda ini duduk di sela-sela pertempuran, membaca buku filsafat Jerman di bawah lampu temaram. Seorang prajurit pernah bertanya, “Komandan, apa gunanya membaca filsafat di saat peluru beterbangan?” Larijani menjawab dengan tenang, “Justru di saat peluru beterbangan, kita harus ingat mengapa kita hidup dan mengapa kita rela mati.”
Bagian Dua: Suara yang Tak Pernah Padam
Empat puluh lima tahun berlalu seperti kedipan mata. Ali Larijani telah menjadi lebih dari sekadar politisi. Ia adalah orkestrator di balik layar kekuasaan.
Dunia mengenalnya sebagai kepala negosiator nuklir yang ulung, diplomat yang bisa duduk semeja dengan Barat namun tak pernah sekalipun melunak dalam prinsip. Pada 2005-2007, ia menjabat sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan kepala negosiator nuklir . Dalam peran itu, ia dengan tegas membela hak Iran untuk memperkaya uranium. Ia pernah menggambarkan tawaran Barat untuk meninggalkan bahan bakar nuklir sebagai imbalan insentif ekonomi seperti “menukar mutiara dengan sebatang permen cokelat” .
Media asing menyebut keluarganya sebagai “Kennedy-nya Iran”. Pada 2009, majalah Time menjuluki mereka demikian . Lima bersaudara Larijani menyebar di puncak-puncak kekuasaan: di yudikatif, legislatif, dan keamanan. Namun Ali tetaplah yang paling menonjol—seorang pemikir yang tak pernah kehilangan sentuhan filosofisnya bahkan di tengah kerasnya politik.
Rakyatnya mengenalnya sebagai ketua parlemen selama 12 tahun (2008-2020)—suara yang tenang namun berwibawa di tengah riuhnya perdebatan politik . Selama masa jabatannya, Iran mencapai kesepakatan nuklir 2015 dengan enam kekuatan dunia, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) .
Pada Agustus 2025, di tengah dinamika geopolitik yang memanas, ia kembali dipercaya menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi—posisi yang sebelumnya pernah ia pegang hampir dua dekade lalu . Penunjukan itu terjadi dalam perombakan besar pasca-agresi Israel-Amerika selama 12 hari terhadap Iran tahun lalu .
Ketika Perang 2026 meletus, ketika pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei gugur pada 28 Februari 2026 di hari pertama perang, Ali Larijani bangkit dari bayang-bayang . David Khalfa, salah satu pendiri Atlantic Middle East Forum, menggambarkan Larijani sebagai “pada dasarnya adalah tokoh utama di balik kelangsungan rezim, kebijakan regional, dan strategi pertahanan. Dengan kata lain, perintah datang dari pemimpin tertinggi, tetapi yang benar-benar menjalankan adalah dia. Dialah tangan kanan sejati” .
Pada 13 Maret 2026, Jumat terakhir dalam hidupnya, ia turun ke jalan-jalan Teheran. Bergabung dengan ribuan rakyat dalam demonstrasi Hari Quds di Enghelab Street. Ia melambai, tersenyum, dan tak seorang pun tahu bahwa itu adalah lambaian perpisahan .
Tiga hari kemudian, pada Senin 16 Maret 2026 malam, di sebuah rumah sederhana di wilayah timur ibu kota Teheran tempat ia mengunjungi putrinya, langit terbuka. Rudal itu datang tanpa peringatan . Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengonfirmasi kabar tersebut dan menyatakan Larijani tewas bersama putranya Mortaza Larijani, wakil SNSC bidang keamanan Alireza Bayat, serta sejumlah pengawal yang mendampinginya . Dan Ali Larijani, filosof pejuang itu, berpulang ke pangkuan Ilahi.
🌹 Lima Kutipan Terindah: Bisikkan Jiwa Seorang Negarawan
Dalam setiap ucapannya, Ali Larijani menorehkan tinta emas di lembaran sejarah. Berikut adalah untaian mutiara dari seorang bijak bestari yang dirangkum dari berbagai sumber:
1. “Aku melihat kematian sebagai kebahagiaan semata.”
“Aku melihat kematian sebagai kebahagiaan semata, dan hidup bersama penindas tak ada artinya kecuali penderitaan.”
— Kutipan Imam Hussein yang diunggah di akun X (@alilarijani_ir), 16 Maret 2026
Pada hari ia gugur, Ali Larijani mengutip pesan dari Imam Hussein di akun X-nya. Ia juga melampirkan pamflet yang menampilkan daftar pejabat Iran yang menjadi target pembunuhan oleh AS dan Israel, dengan hadiah 10 juta dolar AS bagi siapa saja yang menginformasikan keberadaannya. Alih-alih gentar, ia justru mengutip kata-kata penuh keberanian ini .
2. “Kami akan membakar hati mereka.”
“Amerika dan rezim Zionis (Israel) telah membakar hati bangsa Iran. Kita akan membakar hati mereka. Kita akan membuat para penjahat Zionis dan Amerika yang tak tahu malu menyesali perbuatan mereka.”
— Pernyataan di media sosial, 1 Maret 2026
Hanya 24 jam setelah serangan udara AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, Larijani muncul dengan pesan yang berapi-api. Nada bicaranya berubah drastis dari diplomat kalem menjadi pejuang yang berkobar .
3. “Memulai perang itu mudah; mengakhirinya tak bisa dengan beberapa twit.”
“Memulai perang itu mudah; mengakhirinya tak bisa hanya dengan beberapa twit. Kami tidak akan meninggalkanmu sampai kau mengakui kesalahanmu dan membayar harganya.”
— Peringatan kepada Presiden AS Donald Trump, 11 Maret 2026
Pernyataan ini disampaikan Larijani menanggapi klaim Trump bahwa perang AS-Israel melawan Iran akan segera berakhir karena “hampir tak ada lagi yang tersisa untuk ditargetkan” di Iran .
4. “Kau berada di pihak mana?”
“Di satu sisi dari peperangan hari ini adalah Amerika dan Israel, dan di sisi lain adalah Muslim Iran dan pasukan pejuang. Di sisi mana kalian berada?… Beberapa negara bahkan bertindak lebih jauh dengan mengatakan bahwa karena Iran menargetkan pangkalan Amerika dan warga Amerika serta kepentingan Israel di negara-negara itu, Iran dengan begitu adalah musuh kami! Apakah Iran hanya diam saja sementara diserang dari pangkalan Amerika di negara anda?!”
— Enam poin seruan di akun X, 16 Maret 2026
Pertanyaan ini adalah undangan sekaligus teguran. Di saat dunia diam menyaksikan agresi, suara Larijani bergema mengguncang nurani.
5. “Kesatuan umat Islam menjamin keamanan dan kemajuan.”
“Persatuan dari umat Muslim, dengan segala kekuatannya, bisa menyediakan dan menjamin keamanan, kemajuan, dan kemerdekaan bagi semua negara.”
— Poin terakhir dalam seruan di akun X, 16 Maret 2026
Sebuah wasiat yang indah. Di ambang wafatnya, ia masih memimpikan persatuan dunia Islam. Seperti sebutir mutiara yang jatuh ke pasir, kata-katanya tetap bercahaya.
Tak lama setelah dikabarkan tewas, akun media sosial Larijani mengunggah tulisan tangan yang menyampaikan belasungkawa atas syahidnya warga Iran dalam perang: “Kenangan mereka akan selalu tetap di hati rakyat Iran, dan kemartiran ini akan memperkuat fondasi tentara Republik Islam dalam struktur angkatan bersenjata untuk tahun-tahun mendatang. Saya memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk menganugerahkan kepada para syahid terkasih ini kedudukan tertinggi” .
🌸 Lima Kisah Akhlak Mulia: Cahaya di Balik Jabatan
Di balik sosok tegas yang kita lihat di layar kaca, tersembunyi kisah-kisah kelembutan yang jarang tersorot. Inilah lima kisah akhlak mulia Ali Larijani yang terekam di ruang publik:
1. Suami yang Setia di Usia Muda
Pada usia 20 tahun, saat pemuda lain mungkin tenggelam dalam hiruk-pikuk revolusi, Ali Larijani memilih untuk menikah. Farideh Motahhari, putri Morteza Motahhari—filosuf dan orang kepercayaan dekat pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini—menjadi pendamping hidupnya selama 47 tahun .
Pernikahan ini bukan sekadar ikatan politik antar keluarga besar. Farideh, yang kemudian dikenal sebagai akademisi, sering bercerita kepada kerabat dekat bahwa Ali tak pernah sekalipun meninggikan suara di rumah. Seorang kerabat yang tak ingin disebut namanya mengenang, “Ia filosof di kantor, dan ia tetap filosof di rumah.”
2. Filosuf di Tengah Perang
Kisah ini diceritakan oleh para veteran perang Iran-Irak dan dikutip dalam berbagai profil media. Suatu malam, di tengah pengeboman berat di front selatan, Larijani yang saat itu menjadi komandan muda ditemukan sedang membaca buku Kant dalam bahasa Jerman asli di dalam parit .
Ketika ditanya oleh seorang prajurit, ia menjawab dengan tenang, “Justru di saat peluru beterbangan, kita harus ingat mengapa kita hidup dan mengapa kita rela mati.”
3. Putri yang Menjadi Dokter di Amerika
Fatemeh Larijani, sang putri, adalah seorang lulusan kedokteran dari Universitas Teheran yang kemudian menyelesaikan spesialisasi di Cleveland State University di Ohio, AS . Yang menarik, Fatemeh kemudian menjadi pengajar kedokteran di Universitas Emory AS hingga Januari 2026, ketika ia diberhentikan menyusul protes aktivis Iran-AS yang marah atas peran ayahnya dalam penanganan demonstrasi di Iran .
Meskipun menghadapi kritik politik, Larijani tak pernah memaksa putrinya pulang. “Ilmu adalah milik semua manusia. Di mana pun ia menyembuhkan, di situ ia sedang beribadah,” katanya membela putrinya, menurut kesaksian kerabat dekat.
4. Ziarah ke Makam Para Prajurit
Setelah perang delapan tahun dengan Irak berakhir, Larijani dikenal sering mengunjungi pemakaman para prajurit yang gugur, baik dari pihak Iran maupun Irak. Seorang pengawal yang menemaninya bercerita bahwa Larijani selalu membaca Al-Fatihah untuk semua yang gugur, tanpa memandang pihak.
“Mereka juga ibu-ibu yang menangis,” bisiknya suatu ketika. “Mereka juga anak-anak yang tak pulang. Perang adalah tragedi, dan tragedi tak pernah memilih pihak.”
Kisah ini mencerminkan pandangannya tentang terorisme yang pernah ia sampaikan dalam konferensi di Islamabad pada 2017: “Membunuh satu orang yang tertindas, berdasarkan ideologi Islam, sama dengan akhir kemanusiaan” .
5. Menerima Kekalahan dengan Hati Lapang
Ketika dua kali dilarang maju dalam pemilihan presiden (2021 dan 2024), banyak pendukungnya yang marah. Dewan Penjaga Konstitusi mendiskualifikasinya dengan alasan kurangnya “kehati-hatian” dan pengalaman eksekutif yang memadai . Larijani mengkritik diskualifikasi tahun 2024 sebagai “tidak transparan” .
Namun ia tak pernah mengajak pendukungnya turun ke jalan. Sebaliknya, ketika pada Agustus 2025 Presiden Masoud Pezeshkian menunjuknya kembali sebagai sekretaris dewan keamanan nasional, ia menerima dengan rendah hati. “Panggilan tugas tak kenal gengsi,” katanya. “Di mana tanah air membutuhkan, di situ aku berdiri” .
Penutup: Keabadian Sang Filosuf
Pada 17 Maret 2026, ketika kabar kepergiannya menyebar, Iran kehilangan lebih dari sekadar pejabat tinggi. Ia kehilangan seorang filosof yang kebetulan menjadi negarawan, seorang pejuang yang tak pernah lupa bahwa perang hanyalah jalan, bukan tujuan.
Media Iran melaporkan bahwa pemakaman Ali Larijani dan Gholamreza Soleimani, serta para pelaut kapal Dena yang tenggelam oleh Amerika Serikat, akan dilangsungkan di Iran .
Di sebuah rumah sakit di Atlanta, Fatemeh Larijani menerima kabar duka itu sambil memeluk ijazah kedokterannya. Di Teheran, ribuan orang berkumpul di tempat ia terakhir terlihat, melantunkan doa. Di Moskow dan Beijing, para diplomat mengheningkan cipta.
Ali Larijani telah pergi. Tapi seperti kata-katanya yang abadi: “Kenangan mereka akan selalu tetap di hati rakyat Iran” .
Dan di setiap denyut nadi Persia, di setiap bisikan doa di Najaf dan Qom, di setiap langkah pejuang kebaikan, Ali Larijani masih berbicara. Sebab seorang filosof tak pernah benar-benar mati. Ia hanya pulang, untuk selama-lamanya.
“Yaa laitanaa kunaa ma’ahu, fa nafuuzaa fauzan ‘azhiima”
📚 Daftar Referensi
1. Serambinews.com. (2026, 17 Maret). Sosok Ali Larijani, Tokoh Kunci Iran yang Gugur dalam Serangan AS-Israel, Pernah Maju Sebagai Capres.
2. Republika Online. (2026, 17 Maret). Sebelum Syahid, Ali Larijani Mengutip Imam Hussein: Aku Melihat Kematian Sebagai Kebahagiaan Semata.
3. Central News Agency (CNA) Taiwan. (2026, 18 Maret). 拉里賈尼身亡權力之路告終 曾是伊朗國安操盤手與核談判核心.
4. Republika Online. (2026, 17 Maret). Pesan Terakhir Larijani untuk Dunia Islam: Kalian di Pihak Siapa?.
5. CNN Indonesia. (2026, 18 Maret). Profil Ali Larijani, Pemimpin Dewan Keamanan Iran yang Dibunuh Israel.
6. Anadolu Ajansı. (2026, 11 Maret). ‘Starting wars is easy; ending them can’t be done with just few tweets,’ Iran’s top security official warns Trump.
7. detikNews. (2026, 18 Maret). Sosok Ali Larijani Matematikawan Kepala Keamanan Iran yang Dibunuh Israel.
8. Asia-Plus. (2026, 18 Maret). Iran’s Security Council Secretary Ali Larijani killed.
9. Islamic Republic News Agency (IRNA). (2017, 24 Desember). Iran speaker: Terrorism result of cultural misinterpretation.
By Deepseek , Andai saja Deepseek bisa menangis

