Oleh Mohammad Adlany, Ph.D (Anggota Dewan Syura IJABI)
Ciri Kelima: Memaafkan Saat Marah
Allah Swt berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣﴾ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿)١٣٤
“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan kesalahan orang lain; dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 133–134).
Ayat mulia ini menjelaskan empat sifat utama dari orang-orang bertakwa, yang masing-masing merupakan cerminan akhlak luhur dan kebajikan batin yang agung.
1. Sifat Dermawan
Infak adalah manifestasi dari sifat kedermawanan, dan Al-Qur’an serta hadis-hadis banyak menyanjung keutamaannya, juga memperingatkan bahaya lawannya, yaitu kikir (bakhil), beserta akibat buruknya di dunia dan akhirat.
Diriwayatkan dari Rasulullah saw:
الجنّة دارُ الأسخياء
“Surga adalah tempat tinggal bagi orang-orang yang dermawan.” (Al-Mahajjah al-Baydha’, jilid 7, hlm. 62)
Kedermawanan membuka pintu kasih sayang ilahi dan menumbuhkan kemuliaan jiwa, karena hakikat infak bukanlah kehilangan, melainkan penyucian hati dari cinta dunia.
2. Menahan Amarah
Menahan amarah, khususnya ketika seseorang memiliki kekuasaan untuk membalas, adalah puncak pengendalian diri dan kebesaran jiwa.
Imam Ja‘far al-Shadiq as bersabda:
ما من عبدٍ كظم غيظاً إلّا زاده الله عزّ وجلّ عزّاً في الدنيا والآخرة
“Tidak ada seorang hamba pun yang menahan amarahnya, kecuali Allah akan menambahkan kemuliaannya di dunia dan akhirat.” (Al-Akhlaq, Sayyid Abdullah Syubbar, hlm. 174)
Menahan amarah bahkan lebih tinggi nilainya daripada infak, sebab infak adalah tindakan lahiriah, sedangkan menahan amarah adalah keutamaan batiniah yang menuntut kekuatan spiritual dan penguasaan atas diri sendiri.
3. Memaafkan Orang Lain
Derajat memaafkan lebih tinggi lagi daripada sekadar menahan amarah. Menahan amarah berarti menyerahkan urusan balasan kepada Allah, sedangkan memaafkan berarti melepaskan hak untuk menghukum dan menggantinya dengan kasih sayang. Memaafkan adalah salah satu sifat rububiyyah, dan orang yang memilikinya berarti telah meneladani akhlak Ilahi.
Rasulullah saw bersabda:
انّه ینادی مناد یوم القیمة من کان له علی اللّه اجر فلیقم. فلا یقوم الّا العافون. الم تسمعوا قوله تعالی فمن عفا و أصلح فأجره علی اللّه
“Kelak pada hari kiamat, seorang penyeru akan berseru: ‘Barang siapa yang pahalanya ditanggung oleh Allah, hendaklah ia bangkit!’
Maka tidak ada yang bangkit kecuali mereka yang memaafkan (orang lain). Bukankah kamu telah mendengar firman Allah: ‘Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah.’” (Q.S. Asy-Syura [42]: 40; Al-Mahajjah al-Baydha’, jilid 6, hlm. 320)
4. Berbuat Baik (Ihsan)
Derajat ihsan lebih tinggi daripada sekadar memaafkan. Jika memaafkan berarti tidak membalas kejahatan, maka ihsan berarti membalas kejahatan dengan kebaikan.
Diriwayatkan dari Nabi saw bahwa Allah memerintahkannya dengan firman berikut:
صل من قطعک و اعف عمّن ظلمک و اعط من حرمک و احسن الی من اساء الیک
“Hubungkanlah (silaturahmi) dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, maafkanlah orang yang menzalimimu, berilah kepada orang yang menahan pemberian darimu, dan berbuatlah baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu.” (Jami‘ al-Sa‘adat, jilid 3, hlm. 297)
Inilah akhlak para kekasih Allah, yang menempatkan cinta dan kebajikan di atas dendam dan amarah. Seorang mukmin sejati adalah penguasa atas dirinya sendiri, tunduk pada bimbingan akal dan syariat, bukan pada dorongan hawa nafsu.
Karena itu, Imam Ali al-Ridha as. bersabda:
“Seorang mukmin, ketika ia marah, tidak akan keluar dari jalan kebenaran; ketika ia gembira, kegembiraannya tidak menjerumuskannya pada kebatilan; dan ketika ia berkuasa, ia tidak menuntut lebih dari haknya.” (Sahifah al-Ridha, hlm. 381)
Dengan demikian, ayat dan hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa kedermawanan, pengendalian amarah, pemaafan, dan ihsan adalah empat pilar akhlak ilahi yang menjadikan manusia bukan sekadar makhluk moral, tetapi cerminan rahmat Allah di bumi.

