Site icon Majulah IJABI

Lima Ciri Terbaik dari Hamba Allah (Lanjutan) 

Sumber gambar: https://pin.it/qXHBlVy9q

 Oleh Mohammad Adlany, Ph.D. (Anggota Dewan Syura IJABI) 

Ciri Ketiga: Bersyukur Ketika Mendapat Nikmat 

Allah SWT berfirman: 

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ 

“Bekerjalah, wahai keluarga Dawud, sebagai ungkapan syukur (kepada Allah)! Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13) 

Berdasarkan ayat di atas, hanya sedikit dari hamba Allah yang benar-benar menjadi orang yang bersyukur secara hakiki. Karena itu, Imam Ridha as dalam hadisnya memasukkan sifat bersyukur sebagai salah satu ciri hamba terbaik Allah. 

Hamba yang benar-benar bersyukur bukan hanya mereka yang mengucapkan pujian dengan lidahnya kepada Sang Pemberi Nikmat (al-Mun‘im), tetapi juga mereka yang memiliki keyakinan yang kuat dalam hati bahwa segala bentuk nikmat di alam ini—kecil maupun besar—semuanya berasal dari Allah Yang Maha Tinggi, yang menganugerahkan rahmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya. 

Maka, bila seseorang menerima kebaikan atau pemberian dari makhluk lain, ia tetap memandangnya sebagai pemberian dari Allah, dan karena itu ia bersyukur kepada Allah dan juga kepada makhluk tersebut sebagai perantara kebaikan Ilahi. 

Ketika keyakinan seperti ini telah mengakar dalam hati, seseorang tidak akan lalai dalam beramal demi keridaan Tuhannya. Ia akan berjuang dengan seluruh kekuatan untuk memperoleh keridaan dan kedekatan Allah. 

Mulla Ahmad Naraqi menjelaskan: 

“Syukur adalah mengenali nikmat dan mengetahui bahwa nikmat itu datang dari Sang Pemberi Nikmat (al-Mun‘im); bersukacita karenanya; dan menampakkan kebahagiaan itu melalui amal perbuatan. Maksudnya, seseorang menerima kebaikan Sang Pemberi Nikmat di dalam hatinya, memuji-Nya, dan menggunakan nikmat itu sesuai dengan tujuan yang diridai oleh-Nya.” (Mi‘rāj al-Sa‘ādah, hlm. 746) 

Syukur sejati kepada Sang Pemberi Nikmat Hakiki, yakni Allah, adalah: 

  1. Mengetahui bahwa semua nikmat berasal dari Allah dan meyakini bahwa Dialah Pemberi segala kebaikan dan Pelindung sejati. 
    Jika seseorang mendapatkan kebaikan dari makhluk lain, ia memahami bahwa Allah-lah yang menundukkan hati orang itu untuk berbuat baik kepadanya. 
    Siapa yang sampai pada pemahaman ini, ia telah menunaikan satu rukun dari syukur, yaitu syukur hati.
    Syukur hati berarti berkehendak baik terhadap seluruh makhluk Allah dan menginginkan kebaikan bagi mereka. 
  2. Bergembira atas nikmat Allah, bukan karena kenikmatan duniawi semata, melainkan karena melalui nikmat itu ia dapat mencari keridaan Allah dan mendekat kepada-Nya. 
    Tanda dari syukur sejati ini ialah bahwa seseorang tidak bergembira atas kenikmatan dunia, kecuali bila kenikmatan itu membantunya dalam mencapai akhirat.
    Ketika ia mencapai keadaan ini, berarti ia telah menunaikan rukun kedua syukur. 
  3. Memuji Allah dengan hati dan lisan. 
    Syukur lisan berarti menampakkan pujian dan ucapan syukur kepada Allah secara nyata.
    Ini adalah rukun ketiga syukur. 
  4. Menggunakan nikmat sesuai dengan keridaan Allah. 
    Artinya, segala nikmat seperti anggota tubuh dan kemampuan yang dimiliki hendaknya digunakan untuk taat dan beribadah kepada-Nya, serta dijauhkan dari perbuatan maksiat.
    Bahkan, di antara bentuk syukur mata adalah tidak melihat aib sesama Muslim, dan di antara bentuk syukur telinga adalah tidak mendengarkan kekurangan atau cela saudara seiman.
    Begitu pula untuk setiap anggota tubuh lainnya, syukurnya adalah tidak menggunakannya kecuali untuk ketaatan kepada Allah.

Dengan demikian, syukur sejati bukanlah sekadar ucapan “alhamdulillah,” tetapi suatu kesadaran spiritual yang mendalam — bahwa setiap nikmat adalah amanah Ilahi yang harus digunakan untuk mendekat kepada-Nya, bukan untuk melupakan-Nya. 

Berlanjut… 

Exit mobile version