- Istri yang Tegar di Bawah Bayang-bayang Penangkapan Dalam memoarnya “Catatan di Balik Penjara”
Sayyid Ali Khamenei mengabadikan sosok istrinya, Mansoureh Khojasteh Baqerzadeh, dengan kekaguman yang dalam. Yang pertama beliau angkat adalah ketenangan istrinya yang tidak pernah goyah, meski rumah mereka berkali-kali menjadi sasaran penggerebekan polisi rahasia rezim Pahlavi. Sayyid Khamenei ditangkap berkali-kali di hadapan istri dan anak-anaknya. Bahkan suatu malam, beliau dipukuli di depan istrinya saat aparat datang menjebloskannya ke sel. Tentang sang istri, beliau menulis dalam memoarnya: “Saya tidak pernah melihat satu hari pun ada rasa ketakutan, kelemahan, atau keletihan padanya.” Saat berkunjung ke penjara, sang istri datang dengan semangat yang justru membangkitkan kepercayaan diri suaminya. Yang lebih menyentuh, ia secara sadar tidak pernah menyampaikan berita-berita yang akan membebani: tentang anak yang sakit, atau musibah keluarga. Beban-beban itu ia panggul sendiri dalam diam, agar perjuangan suaminya tidak terganggu. Inilah potret yang jarang muncul dalam kisah pergerakan revolusioner: seorang istri yang memilih hening agar suaminya tetap berdiri tegak. 1
- Gelang Emas dan Arang Musim Dingin di Masyhad
Pada satu musim dingin yang membekukan di Masyhad, Sayyid Ali Khamenei seperti biasa menerima titipan uang dari kalangan beriman untuk dibelikan arang dan dibagikan kepada fakir miskin. Itu sebuah tradisi: pintu rumah para ulama menjadi tempat pertama yang diketuk oleh kaum tak berpunya saat dingin tiba. Tahun itu berbeda. Yang datang hanya para fakir, sementara titipan dari kalangan berpunya tidak kunjung muncul. Mereka pulang kecewa. Sayyid Khamenei menyimpan kepedihan itu dalam hatinya. Istri beliau menyaksikan semuanya. Ia menyodorkan gelang emas miliknya — pemberian satu-satunya dari kakaknya saat kelahiran salah satu putra mereka — untuk dijual. Sayyid Khamenei menolak. Sang istri terus mendesak. Akhirnya gelang itu dibawa ke pasar emas. Di tengah jalan, seorang tetangga yang tergerak hatinya ikut menyumbang dalam jumlah sebanding. Banyak rumah fakir di Masyhad menjadi hangat malam itu. Yang lebih mengharukan dari kisah ini bukan satu gelang. Sang istri kemudian menjual semua perhiasan pemberian orang tua dan kerabatnya, lalu menginfakkannya di jalan Allah. Sayyid Khamenei mencatat: “Ia sekarang tidak memiliki perhiasan sedikit pun” — bahkan cincin biasa pun tidak.2
- Rumah yang Dikira Kosong
Kunjungan Syekh Rabbani Sahabat lama Sayyid Khamenei dari Hauzah Ilmiah Qom, Syekh Rabbani Amlasyi, suatu musim panas datang ke Masyhad. Saat itu Sayyid Khamenei dan keluarga tengah pindah sementara ke kamar sederhana di tempat peristirahatan luar kota — tempat yang biasa disewa para pelajar agama dengan biaya murah, lebih murah daripada hidup di kota. Beliau menyerahkan kunci rumahnya kepada sang sahabat untuk ditempati seminggu. Beberapa hari kemudian Syekh Rabbani datang dengan wajah tidak enak. Ia mengira keluarga Khamenei sengaja mengangkut perabot rumah ke tempat peristirahatan, dan ia merasa rikuh telah merepotkan. Andai ia tahu rumah itu kosong, katanya, ia akan memilih ke hotel saja. Sayyid Khamenei menjawab tenang. Yang beliau bawa hanyalah beberapa selimut, sedikit piring, sebuah cangkir, dan beberapa sendok. Sisanya — itulah seluruh isi rumah. Tidak ada yang diangkut, tidak ada yang disembunyikan. Memang demikianlah keadaan rumah mereka. Wajah Syekh Rabbani memuram. Ia menggeleng-gelengkan kepala, menyesali asumsinya yang keliru. Sayyid Khamenei mengenang kata-kata penyesalan itu sampai puluhan tahun kemudian, sebagai pengingat: kebebasan dari hal-hal di luar kebutuhan adalah salah satu nikmat terbesar dalam hidup.3
- Roti dan Kismis
Masa Kecil di Sudut Kota Masyhad Sayyid Ali Khamenei lahir pada 28 Shafar 1358 H di sebuah rumah amat sederhana di sudut kota Masyhad. Luas rumah keluarganya hanya sekitar 60-70 meter persegi. Hanya ada satu kamar dan satu sirdab — ruang bawah tanah yang gelap dan pengap. Karena ayah beliau adalah ulama dan rujukan agama bagi masyarakat sekitar, rumah itu hampir selalu ramai oleh tamu, sehingga keluarga sering tidur di sirdab sambil menunggu para tamu pulang. Tentang malam-malam tertentu, Sayyid Khamenei sendiri pernah bercerita: “kami bisa makan roti dan beberapa butir kismis.” Kalimat sederhana itu menggambarkan satu malam ketika ibunya bersusah payah menyediakan makan malam, dan akhirnya hanya itu yang ada di meja. Bagi keluarga itu, peristiwa semacam ini bukan kekecualian, melainkan bagian dari ritme hidup biasa. Justru dari rumah kecil itulah karakter Sayyid Khamenei dewasa terbentuk. Ayahnya, Sayyid Jawad Khamenei, dikenal sebagai tipe ulama yang zuhud dan tidak suka publisitas. Ibunda beliau, dengan kesabaran yang tak terucap, menjadi tiang tengah rumah. Qana‘ah dan hidup prihatin menjadi warisan yang lebih berharga daripada apa pun, dan menempa kepedulian sosial yang dalam pada diri putranya.4
- Adakah yang Mau Menikahkan Putrinya dengan Pemuda Miskin?
Suatu hari, di sela pertemuan resmi dengan sejumlah pejabat Iran, Sayyid Ali Khamenei tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang membuat ruangan sejenak hening: “Adakah di antara kalian yang bersedia menikahkan putrinya dengan seorang pemuda miskin?” Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk. Para pejabat saling memandang. Yang akhirnya merespons adalah Gholam Ali Haddad-Adel, seorang akademisi-budayawan terkemuka dan ayah dari Zahra. Pemuda miskin yang dimaksud Sayyid Khamenei ternyata adalah putra beliau sendiri, Mojtaba. Dari peristiwa itulah lahir pernikahan Mojtaba dan Zahra Haddad-Adel. Kisah ini menjadi salah satu narasi yang paling sering dikutip untuk menggambarkan corak rumah tangga keluarga Khamenei. Tidak ada pesta megah, tidak ada pamer kekuasaan. Yang ada: seorang ayah yang menjamin karakter putranya, calon mertua yang ingin memastikan latar belakang calon menantu, dan sebuah pernikahan yang dimulai dari kepercayaan — bukan dari posisi atau harta. Bagi pendukung beliau, kisah ini menjadi pengingat: di balik posisi politik yang amat tinggi, Sayyid Khamenei secara sadar mendidik anak-anaknya agar tidak melekat pada kekuasaan dan kekayaan. Anak-anak beliau diarahkan ke jalur pendidikan agama, bukan jalur jabatan, dan menikah dengan cara yang tidak berbeda jauh dari keluarga ulama biasa.5
- Sandal Usang Sang Rahbar
Konsep Ketakwaan Finansial Hal yang sering paling diperhatikan oleh tamu-tamu yang menemui Sayyid Ali Khamenei bukan kemegahan ruangan, melainkan hal-hal kecil: sandal dan baju yang beliau kenakan kerap kali sudah usang. Ini bukan kebetulan dan bukan kekurangan. Ini pilihan yang sadar. Dalam esai “Pemimpin yang Memilih Hidup Miskin”, Prof. Khusnul Yaqin merumuskan prinsip yang mendasari pilihan ini sebagai “ketakwaan finansial”. Maknanya: menjauhkan diri dari akumulasi harta yang berlebihan, menjaga jarak dari kemewahan, dan menempatkan kekuasaan murni sebagai amanah — bukan alat memperkaya diri. Dalam tradisi politik Iran pasca-revolusi, “kemiskinan yang dipilih ini dianggap penting dalam kepemimpinan.” Logikanya tiga lapis. Secara pribadi, hidup sederhana menjauhkan pemimpin dari kelalaian moral. Secara sosial, ia melahirkan empati nyata kepada rakyat — bukan empati statistik. Secara politik, pemimpin yang tidak terikat pada harta jauh lebih sulit disandera oleh godaan dan ancaman. Sayyid Khamenei mewarisi pola ini dari ayahnya, dan meneruskannya pada generasi berikutnya. Sandal usang sang Rahbar bukanlah aksesori politik, melainkan tanda lahiriah dari sebuah disiplin batin yang panjang: bahwa kekuasaan tertinggi seorang Muslim adalah kekuasaan atas dirinya sendiri.6
- Kulkas yang Rusak yang Dibiarkan Rusak
Kisah ini diceritakan oleh Mohsen Rafiqdoust, ketua Yayasan Penyandang Disabilitas Revolusi Islam, kepada media Iran. Saat Sayyid Khamenei menjabat presiden Republik Islam Iran (1981–1989), di rumah beliau bahkan tidak ada kulkas. Rafiqdoust merasa hal itu tidak pantas dan berinisiatif mengirimkan satu kulkas ke kediaman. Beberapa waktu kemudian, kulkas itu rusak. Yang mengejutkan: Sayyid Khamenei tidak memberitahukan kerusakan itu kepada siapa pun sampai akhir masa kepresidenan beliau. Selama sisa masa jabatan, keluarga beliau menjalani hari-hari tanpa kulkas, tanpa keluhan, tanpa permintaan diperbaiki. Saat hal ini ditanyakan, Sayyid Khamenei pernah berkata kepada wartawan dari sebuah program akhlak televisi negara: “Orang mungkin tidak akan percaya bahwa kehidupan pribadi saya sederhana dan biasa-biasa saja.” Beliau bahkan menolak ide pembuatan film dokumenter tentang kehidupan pribadinya — bukan karena ada yang disembunyikan, tetapi justru karena khawatir kesederhanaan itu akan tampak dibuat-buat di hadapan publik. Dalam politik modern, di mana kepala negara biasanya dilingkari ribuan fasilitas, kisah satu kulkas yang rusak ini terdengar nyaris tidak masuk akal. Tetapi bagi Sayyid Khamenei, ini bukan pengorbanan — ini sekadar konsistensi.7
- Karpet Usang yang Diminta Dikembalikan
Mohsen Rafiqdoust juga menceritakan kisah lain yang lebih lucu sekaligus mengharukan. Suatu kali ketika Sayyid Khamenei bepergian, Rafiqdoust dan beberapa rekan masuk ke kediaman beliau. Mereka melihat lantai rumah dilapisi karpet-karpet tua, sudah robek di sana-sini, jelek dan compang-camping. Mereka berinisiatif. Karpet-karpet usang itu diangkut keluar dan dijual. Hasilnya digabung dengan sumbangan pribadi Rafiqdoust, lalu dibelikan karpet baru yang layak. Dengan rasa puas atas inisiatif itu, mereka menggelar karpet baru tersebut di rumah Sayyid Khamenei. Ketika beliau pulang dan melihat karpet baru itu, reaksinya tidak seperti yang diharapkan. Sayyid Khamenei menegur Rafiqdoust dan berkata bahwa tindakan itu salah. Beliau memerintahkan agar karpet-karpet lama dilacak dan dikembalikan ke rumah seperti semula. Rafiqdoust dan timnya tertegun. Akhirnya, dengan susah payah, mereka melacak ke mana karpet usang itu telah pergi, membelinya kembali dengan harga yang lebih mahal, dan menggelarnya kembali di rumah Sayyid Khamenei. Bagi Sayyid Khamenei, masalahnya bukan apakah karpet itu indah atau tidak. Masalahnya adalah prinsip: kepala negara tidak boleh diperlakukan istimewa di atas rakyat biasa, bahkan tidak oleh sahabat-sahabatnya yang berniat baik. Karpet usang itu adalah bagian dari konsistensi hidup yang beliau pertahankan dengan keras.8
- Anak-anak yang Bahagia dengan Sepotong Keju
Sebuah pemandangan kecil di rumah Sayyid Khamenei selama masa kepresidenan beliau. Mohsen Rafiqdoust suatu kali datang berkunjung saat waktu berbuka puasa. Ia menyaksikan anak-anak Sayyid Khamenei sedang makan keju dengan selera yang sangat besar — bukan sebagai pelengkap kecil, melainkan sebagai puncak hidangan berbuka. Sayyid Khamenei lalu menjelaskan: sudah lama keju tidak ada di rumah mereka, karena kupon penjatahan untuk keju belum dikeluarkan. Pada masa itu, Iran mengalami masa-masa sulit ekonomi pasca-Revolusi dan perang dengan Iraq. Bahan pokok dijatah dengan kupon. Hari itu kupon keju baru saja keluar dan keluarga akhirnya bisa membeli sedikit. Karena itulah anak-anak begitu antusias. Yang luar biasa dari kisah ini bukan kekurangannya, melainkan apa yang TIDAK terjadi. Sebagai presiden Republik Islam Iran, Sayyid Khamenei memiliki cukup wewenang untuk memastikan dapur rumahnya tidak pernah kekurangan apa pun. Tetapi beliau memilih berdiri di antrean penjatahan yang sama dengan rakyatnya. Anak-anak presiden berbuka puasa dengan cara yang sama seperti anak-anak tetangga di seluruh Tehran. Inilah definisi sebuah kepemimpinan yang tidak menjarakkan diri dari rakyat: bukan dengan pidato, melainkan dengan piring keju di meja makan keluarga.9
- Bukan Karena Aku Presiden — Konvoi yang Dibubarkan di Tengah Jalan
Sayyid Khamenei suatu kali melakukan perjalanan ke kompleks militer dengan kendaraan terbatas — sengaja beliau perintahkan hanya dua mobil saja. Tetapi setelah meninggalkan kota Ahvaz, beliau menyadari ada sepuluh mobil lain mengikuti dari belakang. Tampaknya pejabat-pejabat di tempat asal tidak tega melepas presiden hanya dengan dua mobil; mereka menambahkan rombongan tanpa sepengetahuan beliau. Sayyid Khamenei segera memerintahkan sopir berhenti. Beliau menoleh ke pengawal di sampingnya dan memerintahkan agar mobil-mobil di belakang disuruh kembali ke Ahvaz. Jika mereka tetap mau ikut, biarkan mereka pergi sendirian, bukan membuntuti rombongan presiden. Lalu beliau menambahkan satu pelajaran penting. Jika rombongan ini bergerak dengan beliau di dalamnya, pejabat-pejabat lain akan menjadikannya hujah untuk menyiapkan tashrifat (protokol mewah) yang sama untuk diri mereka kelak. Beliau menyebut dirinya sebagai pejabat biasa yang cukup dikawal dua orang dengan satu atau dua mobil. Sang pengawal turun dan menyampaikan perintah itu. Konvoi panjang yang sudah terlanjur terbentuk dipecah di tengah jalan. Sayyid Khamenei melanjutkan perjalanan dengan dua mobil seperti rencana semula. Pelajaran tersirat: kemewahan pejabat tinggi jarang lahir dari rakus pribadi — ia paling sering lahir dari keinginan bawahan untuk “menghormati” atasan secara berlebihan. Sayyid Khamenei menutup pintu itu sejak awal.10
- Belajar Bahasa Arab di Balik Jeruji Penjara SAVAK
Sayyid Ali Khamenei berkali-kali ditahan oleh dinas rahasia rezim Pahlavi, SAVAK. Salah satu masa tahanan paling panjang adalah di penjara Qezel Qaleh pada 1963. Ada satu hal khas yang beliau lakukan di setiap masa tahanan: tetap belajar. Bahasa Arab adalah cinta seumur hidup beliau. Sejak masa belajar di hauzah, Sayyid Khamenei sudah dikenal sebagai pengkaji sastra Arab klasik dan modern, penerjemah karya Sayyid Quthb, Jubran Khalil Jubran, dan diwan al-Jawahiri. Beliau bahkan pernah berkata: andai bisa, ia ingin lahir di negeri Arab agar bisa berbicara bahasa Arab setiap hari. Di penjara Qezel Qaleh, Sayyid Khamenei bertemu dengan sekelompok tahanan Arab dari Khuzestan — wilayah Iran berbahasa Arab. Salah satu mereka adalah seorang sayyid bernama Baqir al-Nazzari. Kesempatan ini tidak beliau biarkan berlalu. Setiap hari, di sela tekanan tahanan, beliau berlatih percakapan bahasa Arab dengan mereka — sambil mengajarkan mereka tata bahasa Arab fusha yang baku. Saat Sayyid Khamenei akhirnya dibebaskan, para tahanan Arab itu mengiringi keluarnya beliau dengan “hosah” — nyanyian khas Arab Khuzestan yang isinya mendoakan dan memuji. Sebuah perpisahan yang menggambarkan bagaimana kedalaman ilmu dan kerendahan hati seseorang bisa menumbuhkan kasih sayang bahkan di dalam tembok penjara.11
- Penolakan Menjadi Pemimpin Tertinggi
Pada 4 Juni 1989, sehari setelah wafatnya Imam Khomeini, Majelis Ahli Iran mengadakan sidang darurat untuk memilih Rahbar (pemimpin tertinggi) yang baru. Saat nama Sayyid Ali Khamenei muncul, beliau bukan menerima dengan bangga — beliau berdiri dan menolak dengan keras. Sayyid Khamenei sendiri yang menceritakan ulang peristiwa itu kemudian. Di hadapan majelis, beliau berdiri dan meminta waktu. Lalu beliau menyampaikan satu demi satu argumen mengapa beliau tidak layak: tingkat keilmuan, status sebagai kandidat, posisi marja‘ yang belum tercapai. Semuanya tercatat dalam dokumentasi audio-video sampai hari ini. Para anggota majelis tidak menerima penolakan beliau. Mereka mematahkan argumen demi argumen. Akhirnya seorang sahabat dekat berkata kira-kira: andai beliau wafat keesokan harinya, bagaimana beliau akan mempertanggungjawabkan penolakan amanah ini di hadapan Allah? Kalimat itulah yang akhirnya membuat Sayyid Khamenei menundukkan kepala dan berserah. Yang lebih menyentuh, Sayyid Khamenei kemudian menyampaikan sikap publik: andai ada pekerjaan yang lebih bermanfaat bagi Islam yang bisa dilakukannya secara anonim — bahkan menjadi penjaga sandal di sebuah husainiyah — beliau tidak akan ragu meninggalkan posisi Rahbar. Ini bukan retorika. Ini fondasi cara pandang beliau tentang kekuasaan: kekuasaan adalah beban, bukan piala.12
- Penerjemah Sayyid Quthb dan Pemikir yang Zuhud
Banyak yang mengenal Sayyid Ali Khamenei sebagai politikus dan Rahbar. Lebih sedikit yang menyadari sisi intelektualnya — bahwa beliau sejak muda adalah penerjemah ulung dari bahasa Arab ke bahasa Persia. Karya-karya yang beliau terjemahkan termasuk Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an karya Sayyid Quthb, kitab tentang Perdamaian Imam Hasan, dan beberapa kitab lain. Pendekatan keilmuan Sayyid Khamenei khas. Beliau mendalami fikih lanjutan, ushul fiqh, tafsir Al-Qur’an, dan filsafat Islam langsung dari guru-guru besar — Imam Khomeini, Allamah Thabathaba’i, Ayatullah Burujerdi — namun tetap menjaga kecintaan pada sastra Persia klasik dan puisi Arab modern. Bahkan di tengah kepadatan kerja sebagai Rahbar, beliau tetap menyelenggarakan kajian sastra dan puisi Arab mingguan. Yang menarik, profil intelektual ini hidup berdampingan dengan kesederhanaan rumah tangganya. Pemikiran religius beliau “memadukan tradisi teologi Syiah, spiritualitas Islam, dan kesadaran sosial-politik modern” — tetapi semua itu dilakukan dari rumah kecil tanpa perabot mewah, dengan keluarga yang berbuka puasa dengan satu jenis makanan, dan dengan jubah lama yang dipakai bertahun-tahun. Ada pelajaran penting di sini: kedalaman ilmu tidak otomatis melahirkan kemewahan, dan kesederhanaan hidup tidak otomatis menutup pintu intelektual. Pada Sayyid Khamenei, keduanya menjadi satu paket — satu cara hidup yang utuh. Ulama klasik menyebutnya “ilm wa amal”: ilmu yang menjelma menjadi laku.13
- Kesaksian Imam Khomeini: “Nikmat dari Allah”
Imam Ruhullah Khomeini adalah guru, pembimbing spiritual, dan akhirnya penanggung jawab tertinggi dalam pengajuan Sayyid Khamenei untuk berbagai posisi penting setelah Revolusi Islam Iran. Hubungan keduanya bukan sekadar relasi guru-murid akademik. Imam Khomeini menyaksikan langsung bagaimana Sayyid Khamenei menjalani penangkapan demi penangkapan, pengasingan ke Iranshahr, percobaan pembunuhan yang melumpuhkan tangan kanannya, dan masa-masa berbulan-bulan di garis depan perang Iran-Iraq sebagai ulama pertama yang mengenakan seragam militer. Pada satu kesempatan, Imam Khomeini menyampaikan satu kalimat penilaian yang menjadi catatan abadi: bahwa beliau telah mengenal Sayyid Khamenei selama bertahun-tahun, dan menyebutnya sebagai “nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita.” Penilaian ini bobotnya luar biasa. Imam Khomeini bukan tipe yang murah pujian. Beliau seorang faqih besar yang sangat hati-hati dalam memberikan penilaian publik. Bahwa beliau menyebut muridnya sebagai “nikmat yang Allah anugerahkan” — itu adalah pengukuhan ruhani yang tidak ringan. Kalimat ini juga menjadi semacam wasiat. Setelah wafatnya Imam Khomeini, Majelis Ahli Iran tidak punya banyak ruang untuk ragu dalam memilih Rahbar baru. Penilaian guru selama bertahun-tahun adalah bukti yang lebih dari cukup — bahkan lebih dari sertifikat marja‘iyyah formal yang saat itu belum diraih Sayyid Khamenei. Inilah salah satu pelajaran terdalam: di dunia di mana legitimasi sering dicari dari gelar dan jabatan, legitimasi sejati lahir dari pengenalan jangka panjang. Imam Khomeini mengenal Sayyid Khamenei selama hampir empat dekade — dan itulah yang berbicara di akhir.14
Bismillahirrohmanirrohiim
Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ali Sayyidina Muhammad
رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ ۙ
Rabbi hab lī ḥukmaw wa alḥiqnī biṣ-ṣāliḥīn. (Ibrahim berdoa,)
“Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku hukum (ilmu dan hikmah) dan pertemukanlah aku dengan orang-orang saleh.
وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ
Waj‘al lī lisāna ṣidqin fil-ākhirīn.
Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian.
Wa maa taufiiqii illa billah ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib
Sumber :
- 1. https://baindonesia.co/kesederhanaan-imam-ali-khamenei/
- 2. https://www.beritaalternatif.com/kesederhanaan-hidup-sayid-ali-khamenei/
- 3. https://baindonesia.co/kesederhanaan-imam-ali-khamenei/
- 4. https://ahlulbaitindonesia.or.id/biografi/sayyid-ali-khamenei/
- 5. https://www.catrawarta.com/catra-cendekia/pernikahan-mojtaba-kisah-kesederhanaan-dari-lingkaran-kekuasaan-iran/
- 7. https://aswajanusantara.com/esai/pemimpin-yang-memilih-hidup-miskin/
- 8. https://books.almaaref.org/view.php?id=357
- 9. https://books.almaaref.org/view.php?id=357
- 10. https://books.almaaref.org/view.php?id=357
- 11. https://books.almaaref.org/view.php?id=357
- 12. https://books.almaaref.org/view.php?id=357
- 13. https://kempalan.com/2026/03/04/kisah-hidup-sayyid-ali-khamenei-sang-pemimpin-yang-baru-berpulang-kepada-kekasih-nya/
- 14. https://books.almaaref.org/view.php?id=385

