Yai Miftah membuka majelis dengan rasa syukur dan secara khusus menyebutkan nama-nama almarhum serta almarhumah yang sedang diperingati, menegaskan tujuan utama berkumpulnya jemaah malam itu untuk mengalirkan doa.
“Malam hari ini istimewa, kita mengenang, mendoakan saudara-saudara kita yang telah berpulang secara khusus… dan terkhusus kita angkat doa juga…”
Refleksi dari Budaya Luar (The Day of the Dead & Film Coco)
Mengambil contoh dari festival hari orang mati di Meksiko dan film Coco, penceramah menggarisbawahi konsep eskatologi bahwa kondisi ruh di alam setelah dunia sangat dipengaruhi oleh seberapa kuat orang-orang yang masih hidup mengingat mereka.
“Lilinnya itu terang, tergantung bagaimana orang yang masih hidup di dunia mengingatnya. Jadi kalau orang yang dia tinggalkan kuat mengingat dia, maka dia bersinar terang juga di alam sana itu.”
Kepedulian terhadap Ruh yang Terlupakan
Yai Miftah membagikan pengalamannya saat mendengar khotbah di pusara Imam Ridha a.s., yang menyadarkan pentingnya mendoakan jiwa-jiwa yang sudah tidak memiliki keluarga atau kerabat lagi untuk menziarahi dan mendoakan mereka.
“Mari sekarang kita berdoa bagi mereka yang sudah tidak ada lagi yang secara khusus mendoakan mereka… Ada saudara-saudara kita yang punya kapasitas diri kita lama-lama cahayanya itu redup karena tidak diingat lagi, tidak dikenang lagi.”
Konsep Resiprokal Hubungan Tuhan dan Hamba (Fadzkurūnī Adzkurkum)
Yai Miftah membedah ayat Al-Qur’an tentang prinsip saling mengingat. Ketika manusia mengingat Tuhan, Tuhan akan membalasnya dengan karunia yang berlipat ganda.
“Ayat Al-Qur’annya Fadzkurūnī, ingatlah Aku, adzkurkum, Aku akan mengingat kalian… Tidak mungkin Tuhan juga mengingat kitanya sama seperti kita. Tidak. Tuhan… dari Tuhan pasti segala sesuatunya jauh berkali-kali lipat.”
Hubungan Hati ke Hati Melintasi Dimensi (Del Be Del Rah Dorad)
Melalui kisah para Imam Ahlul Bait a.s. yang terpisah dari umatnya karena dipenjara, dijelaskan bahwa ikatan ruhani bersifat dua arah. Kedudukan seseorang di hati sang Imam tercermin dari seberapa besar Imam tersebut ada di dalam hatinya.
“Dalam bahasa Parsi itu ada istilah pepatah: Del be del rah dorad, hati menuju hati itu punya jalannya sendiri… ‘Lihatlah ke dalam hatimu. Sebagaimana aku ada dalam hatimu, demikianlah engkau ada dalam hati kami.'”
Saling Mengingat Antara yang Hidup dan yang Wafat
Prinsip saling mengingat ini juga berlaku kuat antara kita yang masih hidup dengan para almarhum. Majelis doa yang kita buat akan dibalas dengan ingatan dan doa keselamatan dari mereka yang berada di alam barzakh.
“Dalam saling mengingat secara ruhaniyah ini, tidak ada yang bertepuk sebelah tangan… Semakin kita mengingat almarhumin, menghidupkan kenangan almarhumin… insyaallah pada saat yang sama almarhumin juga mengingat kita.”
Esensi Mengantarkan Jenazah dan Bertawasul
Berkaca dari jutaan orang yang turun ke jalan dalam prosesi pemakaman tokoh besar di Iran, Yai Miftah menjelaskan bahwa hal tersebut adalah bentuk ikatan ruhani—kita mengantarkan mereka hari ini agar kelak mereka menyambut kita di alam keabadian.
“Kalau kita mengantarkan almarhumin kita itu bukan sekadar saying goodbye, tapi juga titip, ‘Nanti sekarang kami mengantarkan, nanti ketika tiba giliran waktunya kami, kalian menjemput kami, kalian ingat kami’…”
Siasat Menyebut Nama dalam Doa yang Semakin Panjang
Seiring waktu, daftar nama almarhum keluarga yang harus didoakan pasti bertambah panjang. Yai Miftah memberikan solusi praktis (seperti menggunakan proyektor) tanpa mengurangi esensi dari ikatan ruhani saat nama-nama mereka dipanggil.
“Makin lama itu bisa jadi kita ini setiap majelis list-nya itu makin panjang… Tapi ketika menyebut nama mereka satu demi satu, sebetulnya ada ikatan ruhaniyah, dia seperti dipanggil.”
Penutup: Alam yang “Terbangun”
Yai Miftah menutup dengan mengingatkan bahwa orang yang meninggal sebenarnya berada di alam yang jauh lebih sadar daripada kita, dan memberikan sinyal jenaka tentang tanda pembicaraan harus diakhiri.
“Manusia itu tertidur ketika meninggal dunia mereka terbangun. Jadi mereka berada di alam yang terbangun itu… Dan kata almarhum Bapak juga, tanda mesti berhenti bicara itu adalah kalau kaki sudah kesemutan.”

