Penulis: Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI)
ABSTRAK
Esai ini menganalisis pernyataan John Mearsheimer, akademisi dari Universitas Chicago, yang mengutip studi The Lancet (2025) yang memperkirakan sekitar 38 juta kematian akibat sanksi ekonomi Amerika Serikat dalam periode 1971–2021. Dengan menggunakan pendekatan analitis dan komparatif, artikel ini menelusuri landasan empiris klaim tersebut, menguraikan kerangka pemikiran realisme ofensif Mearsheimer, serta menyajikan data pendukung dari berbagai sumber independen termasuk Proyek Costs of War Universitas Brown dan laporan UNAIDS. Temuan menunjukkan bahwa penggunaan sanksi sebagai instrumen kebijakan luar negeri AS secara sistemik menimbulkan dampak mematikan bagi populasi sipil di negara-negara target, sementara laporan resmi pemerintah AS gagal mencatat korban tidak langsung tersebut.
Kata kunci: Mearsheimer; sanksi ekonomi; kebijakan luar negeri AS; realisme ofensif; hak asasi manusia
I. Pendahuluan
“Berdasarkan fakta-fakta ini, saya sulit untuk menyebut Amerika sebagai negara yang mulia.” Pernyataan kontroversial ini disampaikan oleh Profesor John Mearsheimer, akademisi terkemuka dari Universitas Chicago, dalam sebuah ceramah yang kemudian viral di media sosial.1 Inti dari pernyataannya merujuk pada publikasi jurnal medis terkemuka The Lancet yang mengestimasi bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat—khususnya sanksi ekonomi—telah menyebabkan sekitar 38 juta kematian dalam periode 1971 hingga 2021.
Sebagai salah satu pemikir realisme ofensif paling berpengaruh di dunia, pernyataan Mearsheimer bukan sekadar hiperbola retorik. Ini merupakan refleksi tajam dari seorang insider yang selama puluhan tahun mengkaji perilaku negara adidaya. Esai ini akan mengelaborasi pernyataan tersebut dengan menelusuri sumber datanya, memaparkan pemikiran Mearsheimer dalam berbagai wawancara, serta menyajikan data statistik pendukung dari berbagai studi independen untuk menguji klaim bahwa sulit menyebut AS sebagai “negeri yang mulia.”
II. Elaborasi Pernyataan Mearsheimer: 38 Juta Kematian dan Sanksi sebagai Senjata
Pernyataan Mearsheimer yang dimaksud merujuk pada pidatonya yang dilaporkan oleh berbagai media internasional pada Maret 2026.1 Dalam kesempatan tersebut, ia mengutip sebuah studi yang dipublikasikan di The Lancet pada tahun 2025. Studi tersebut mengkaji dampak sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS terhadap berbagai negara selama lima dekade, dari 1971 hingga 2021, dan menyimpulkan bahwa sanksi-sanksi itu berkontribusi pada kematian sekitar 38 juta jiwa.
Mekanisme yang dijelaskan Mearsheimer cukup gamblang: sanksi bukanlah alat diplomasi yang steril. “AS melalui sanksi menghukum warga sipil, membuat mereka kelaparan dan menderita,” ujarnya.5 Sanksi membatasi akses terhadap pangan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Ketika suatu negara menjadi target sanksi berat, infrastruktur kesehatannya runtuh, malnutrisi meroket, dan kematian yang seharusnya dapat dicegah pun terjadi secara massal.
Dalam wawancara dengan media Turki, Mearsheimer mempertegas kritiknya: “Yang kita lakukan terhadap Venezuela adalah ini, yang kita lakukan terhadap Iran juga ini. Karena itulah, saya sulit mendefinisikan Amerika sebagai ‘negara mulia’. Saya benar-benar tidak bisa melakukannya.”5 Ia juga mengkritisi bagaimana kebijakan luar negeri AS kerap dikendalikan oleh kepentingan lobi, terutama lobi Israel, yang menurutnya telah berhasil membangun narasi “Israel baik, Arab buruk”—sebuah narasi yang mulai runtuh pasca-genosida di Gaza.2
III. Konteks Pemikiran Mearsheimer: Realisme dan Kritik terhadap Kemunafikan AS
Untuk memahami bobot pernyataan ini, penting untuk menempatkannya dalam kerangka pemikiran Mearsheimer yang lebih luas. Dalam wawancara dengan Center for International Relations and Sustainable Development (CIRSD) pada Januari 2026, ia menjelaskan transisi sistem internasional dari unipolar ke multipolar. Menurutnya, era dominasi AS tanpa tantangan (1992–2017) adalah anomali historis yang kini telah berakhir.3
Dalam wawancara dengan South China Morning Post (Oktober 2025), ia menegaskan bahwa AS dan China akan bersaing secara fundamental sepanjang abad ini. Namun, ia juga mengkritik kebodohan strategis AS yang terlalu terpaku pada Timur Tengah dan Ukraina, alih-alih fokus pada tantangan nyata di Asia Timur.7
Yang paling relevan dengan pernyataan “38 juta kematian” adalah wawancaranya dengan RT pada Desember 2025. Di sana, ia membahas “kerusakan yang disebabkan oleh genosida Gaza terhadap citra Israel,” serta bagaimana Eropa memperpanjang perang proksi di Ukraina. Ia secara eksplisit menyebut ancaman terhadap kebebasan berbicara di AS akibat lobi Israel, dan bagaimana para pengacara seperti Alan Dershowitz menyerangnya karena berani membongkar pengaruh lobi tersebut.2
Dari rangkaian wawancara ini, terlihat konsistensi Mearsheimer: ia tidak hanya mengkritik kebijakan AS dari perspektif moral, tetapi dari perspektif realistis yang melihat bahwa kebijakan yang “keji” secara moral juga sering kali kontraproduktif secara strategis.
IV. Data Statistik Pendukung: Melampaui Angka 38 Juta
Angka 38 juta dari The Lancet tentu mencengangkan. Namun, sejumlah studi independen lain memberikan konteks yang memperkuat narasi tersebut.
A. Proyek Costs of War (Universitas Brown)
Studi dari proyek terkenal ini memperkirakan bahwa sejak invasi ke Afghanistan pada 2001 hingga kini, perang pasca-9/11 telah menyebabkan 3,1 hingga 3,6 juta kematian di Afghanistan, Irak, Pakistan, Suriah, Yaman, dan Somalia. Angka ini mencakup kematian langsung akibat konflik maupun tidak langsung akibat runtuhnya layanan kesehatan dan sanitasi.6
Menariknya, proyek yang sama mencatat bahwa kematian tidak langsung biasanya empat kali lipat lebih tinggi daripada kematian langsung. Di Afghanistan tahun 2002, 42 persen populasi menunjukkan gejala PTSD, dan hampir 70 persen menunjukkan depresi berat.6
B. Dampak Sanksi di Iran dan Venezuela
Data dari UNAIDS menunjukkan bahwa sekitar 20 dari 30 juta orang dengan HIV/AIDS di dunia sangat bergantung pada bantuan AS melalui program PEPFAR. Ketika bantuan dibekukan, UNAIDS memperingatkan potensi peningkatan kematian akibat AIDS sebesar 400 persen, setara dengan 6,3 juta kematian tambahan dalam empat tahun.4 Ironisnya, kebijakan yang menyelamatkan nyawa (bantuan) dan kebijakan yang membunuh (sanksi) sama-sama berasal dari instrumen kebijakan luar negeri AS.
C. Laporan Resmi versus Realitas di Lapangan
Menarik untuk membandingkan angka 38 juta ini dengan laporan resmi Pentagon. Departemen Pertahanan AS merilis laporan tahunan tentang korban sipil akibat operasi militernya. Untuk tahun 2024, mereka hanya mengakui dua operasi militer yang mengakibatkan korban sipil.1 Celakanya, laporan ini sama sekali tidak mencakup korban tidak langsung akibat sanksi, destabilisasi, atau dukungan terhadap perang proksi. Dengan kata lain, definisi “korban” versi pemerintah AS sangat sempit, sementara studi akademik menggunakan definisi yang lebih komprehensif.
V. Analisis: Mengapa “Negeri Mulia” Mustahil?
Jika kita menerima premis bahwa kemuliaan suatu bangsa diukur dari sejauh mana ia melindungi nyawa manusia—bukan hanya warganya, tetapi juga manusia di seluruh dunia—maka data di atas memang menempatkan AS pada posisi yang sulit dipertahankan.
Pertama, skala dampaknya bersifat sistemik.
Angka 38 juta bukanlah hasil dari satu keputusan tunggal, tetapi akumulasi dari puluhan tahun kebijakan yang menjadikan sanksi sebagai instrumen utama. Mearsheimer, sebagai realis, sebenarnya tidak menentang penggunaan kekerasan secara a priori. Yang ia kritik adalah kemunafikan: AS mengklaim membawa demokrasi dan hak asasi manusia, namun dalam praktiknya bertindak seperti predator yang menggunakan kelaparan sebagai senjata.
Kedua, tidak ada akuntabilitas.
Tidak seperti korban perang yang kadang mendapat kompensasi atau pengakuan, korban sanksi adalah “kematian statistik” yang tak pernah dihitung dalam laporan resmi. Mereka mati di rumah sakit yang kekurangan obat, di desa-desa yang kekurangan pangan, tanpa pernah disentuh peluru atau bom AS. Namun, kematian mereka sama nyatanya.
Ketiga, keberlanjutan kebijakan lintas rezim.
Mearsheimer mencatat bahwa kebijakan ini berlangsung lintas rezim, lintas partai. Dalam wawancara dengan South China Morning Post, ia menyebut bahwa Trump memiliki “insting yang benar” tentang perlunya menahan ekspansi NATO, namun tetap terjebak dalam kebijakan luar negeri yang agresif.7 Dengan kata lain, ini bukan masalah Demokrat atau Republik, melainkan masalah struktural dalam cara AS memandang dunia.
VI. Kesimpulan
Pernyataan John Mearsheimer bahwa AS telah menyebabkan 38 juta kematian dan karenanya sulit disebut “negeri mulia” bukanlah sekadar provokasi. Ia didasarkan pada riset serius (studi The Lancet 2025), diperkuat oleh puluhan tahun pengamatan akademik, dan didukung oleh data dari berbagai sumber independen seperti proyek Costs of War Brown University6 dan peringatan UNAIDS.4
Tentu, akan ada yang membantah dengan mengatakan bahwa AS juga telah menyelamatkan banyak nyawa melalui bantuan kemanusiaan dan PEPFAR. Namun, pertanyaan moral yang diajukan Mearsheimer tetap menggantung: dapatkah sebuah negara yang secara sistemik, selama lima dekade, menggunakan kelaparan sebagai senjata politik, tetap mengklaim dirinya sebagai “kota di atas bukit” yang menjadi teladan dunia?
Dalam wawancara dengan CIRSD, Mearsheimer mengingatkan bahwa kita kini hidup di dunia multipolar di mana narasi tunggal AS tidak lagi otomatis diterima.3 Negara-negara Selatan Global, termasuk Indonesia, memiliki ruang lebih besar untuk menilai kebijakan adidaya tidak dari apa yang mereka katakan, tetapi dari apa yang mereka lakukan. Dan jika ukurannya adalah 38 juta nyawa, maka penilaian itu akan sangat pahit.
Sebagai penutup, dapat direnungkan kata-kata Mearsheimer sendiri: “Saya sulit mendefinisikan Amerika sebagai negara mulia. Saya benar-benar tidak bisa melakukannya.”5 Bagi banyak korban sanksi di Iran, Venezuela, atau Kuba—mereka yang tak pernah melihat peluru AS namun merasakan dampaknya melalui roti yang tak bisa dibeli dan obat yang tak tersedia—pernyataan itu mungkin terasa bukan sebagai kritik, melainkan sebagai pernyataan fakta yang gamblang.
CATATAN AKHIR
1 Pemberitaan media China (Sina.com, 81.mil.cn) tentang pernyataan Mearsheimer dan studi The Lancet 2025 terkait estimasi 38 juta kematian akibat sanksi ekonomi AS periode 1971–2021, dilaporkan pada Maret 2026.
2 Wawancara John Mearsheimer dengan RT, Desember 2025, membahas dampak genosida Gaza terhadap citra Israel, ancaman kebebasan berbicara di AS akibat lobi Israel, dan perpanjangan perang proksi Ukraina oleh Eropa.
3 Wawancara John Mearsheimer dengan Center for International Relations and Sustainable Development (CIRSD), Januari 2026, membahas transisi sistem internasional dari unipolar ke multipolar dan berakhirnya era dominasi tunggal AS.
4 UNAIDS, laporan tentang dampak penghentian bantuan AS terhadap program PEPFAR, memperingatkan potensi peningkatan kematian akibat AIDS sebesar 400 persen, setara dengan 6,3 juta kematian tambahan dalam empat tahun.
5 Pemberitaan media Turki tentang kritik John Mearsheimer terhadap sanksi AS atas Iran, Venezuela, dan Kuba sebagai bentuk “menghukum rakyat dengan kelaparan.” Kutipan langsung dikutip dari pernyataan Mearsheimer dalam ceramah tersebut.
6 Proyek Costs of War, Universitas Brown. Studi ini memperkirakan 3,1–3,6 juta kematian akibat perang pasca-9/11 di Afghanistan, Irak, Pakistan, Suriah, Yaman, dan Somalia, mencakup kematian langsung maupun tidak langsung.
7 Wawancara John Mearsheimer dengan South China Morning Post, Oktober 2025, membahas persaingan AS–China, kesalahan strategi AS di Timur Tengah dan Ukraina, serta penilaian terhadap kebijakan luar negeri Trump.
DAFTAR REFERENSI
1. Pemberitaan media China (Sina.com, 81.mil.cn). (Maret 2026). Mearsheimer dan studi The Lancet 2025: Estimasi 38 juta kematian akibat sanksi ekonomi AS.
2. RT. (Desember 2025). Wawancara dengan John Mearsheimer: Gaza, lobi Israel, dan kebijakan luar negeri AS.
3. Center for International Relations and Sustainable Development (CIRSD). (Januari 2026). Wawancara dengan John Mearsheimer: Dunia multipolar dan akhir hegemoni AS.
4. UNAIDS. (2025). Impact of US Aid Freeze on Global HIV Response: Warning of 6.3 Million Additional Deaths. Geneva: UNAIDS.
5. Media Turki. (2025–2026). Kritik Mearsheimer terhadap sanksi AS: Iran, Venezuela, dan Kuba.
6. Neta Crawford & Catherine Lutz. (2023). Costs of War Post-9/11: 3.1–3.6 Million Deaths. Brown University, Watson Institute.
7. South China Morning Post. (Oktober 2025). Interview: John Mearsheimer on US-China rivalry and strategic miscalculation.

