Site icon Majulah IJABI

Mengokohkan Persatuan Islam Lewat Dialog dan Ketulusan Hati

Laki-laki berpakaian tradisional saling menyapa dengan hangat di jembatan gantung di Jawa Barat, Indonesia.

Menjaga persatuan Islam sering kali menghadapi tantangan manakala perbedaan pandangan keagamaan dipandang sebagai jurang pemisah. Di tengah masyarakat, kerinduan akan keutuhan umat kerap terhalang oleh anggapan bahwa bersatu berarti harus seragam dalam segala rincian amalan. Padahal, persatuan sejati lahir bukan dari penyeragaman corak, melainkan dari kelapangan dada untuk saling menerima di bawah payung keimanan yang sama.

Perjalanan sejarah umat Islam di Nusantara menunjukkan betapa keberagaman telah menjadi watak alami yang memperkaya cara beragama. Tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama terdahulu memperlihatkan keluasan ruang dialog, di mana ragam mazhab dan kecenderungan pemikiran dapat hidup berdampingan secara damai. Perbedaan ijtihad pada wilayah cabang atau furu’iyah semestinya diposisikan sebagai khazanah yang memperdalam kebijaksanaan, bukan alasan untuk memutus silaturahmi.

Ketegangan antarkelompok sesungguhnya jarang bersumber dari dalil pokok, melainkan lebih sering dipicu oleh mengeringnya rasa persaudaraan dan etika pergaulan. Saat prasangka mendahului rasa hormat, perbedaan kecil dapat dengan mudah dibesar-besarkan menjadi sengketa yang melelahkan. Di titik inilah pentingnya menempatkan akhlak mulia dan kasih sayang sebagai fondasi utama interaksi sosial antarumat beragama.

Semangat merawat persaudaraan ini senantiasa disuarakan oleh para pendahulu yang mencintai keutuhan umat. Jejak pemikiran Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat, misalnya, selalu mengajak kita memandang ukhuwah Islamiyah melalui kacamata cinta dan keadilan sosial. Beliau kerap mengingatkan bahwa ikatan iman menuntut perlindungan tulus terhadap kehormatan, keselamatan jiwa, serta martabat setiap insan, tanpa memandang latar tradisi atau kecenderungan mazhabnya.

Foto: King Shooter / Pexels

Ketika rasa persaudaraan internal umat terjalin dengan kokoh, dampaknya akan menjalar secara langsung pada ketenteraman hidup bermasyarakat. Umat Islam memegang peran penting dalam menjaga kerukunan di tengah kemajemukan bangsa. Jika di dalam lingkungan umat sendiri tercipta ruang yang aman untuk berdialog dan saling menghargai, maka kekuatan moral tersebut akan menjadi penopang tangguh bagi persaudaraan kebangsaan yang lebih luas.

Tantangan nyata yang dihadapi saat ini sering kali bersumber dari ruang percakapan yang bising, di mana perselisihan cepat tersulut tanpa klarifikasi yang jernih. Silang pendapat yang dangkal kerap membelah simpati warga dan melupakan nilai dasar persaudaraan. Untuk meredam kecenderungan tersebut, ruang perjumpaan warga perlu terus diisi dengan ajakan untuk kembali pada prinsip utama ajaran agama, yakni welas asih, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama.

Menumbuhkan iklim saling percaya tidak selalu menuntut perhelatan seremonial yang rumit. Ikatan tersebut justru tumbuh subur lewat laku hidup sehari-hari, seperti tradisi duduk bersama dalam majelis warga, bertabayun secara teduh saat mendengar kabar miring, dan saling mengunjungi saat perayaan hari besar keagamaan. Perjumpaan yang hangat dan tatap muka secara langsung terbukti ampuh melunturkan sekat-sekat prasangka yang kerap terbangun di ruang maya.

Foto: Defrino Maasy / Pexels

Kesediaan untuk saling mendengarkan membuka jalan bagi terciptanya pengertian bersama bahwa jalan pengabdian kepada Tuhan memiliki ragam pintu kebaikan. Ketika setiap pihak menyadari keterbatasan diri dan tidak merasa memonopoli kebenaran mutlak dalam perkara ijtihadiah, suasana keagamaan akan terasa lebih sejuk dan membebaskan. Sikap rendah hati inilah yang menjadi pupuk terbaik bagi bertumbuhnya ukhuwah yang kokoh dan berkesinambungan.

Pada akhirnya, persatuan Islam menuntut kematangan batin dan kemauan untuk mendahulukan maslahat bersama di atas kepentingan kelompok. Kita tidak perlu menghapus perbedaan pemikiran, melainkan belajar hidup berdampingan secara mulia dan bersepakat dalam nilai-nilai luhur. Dengan menjaga persaudaraan secara tulus, umat Islam dapat terus mewujudkan kehadiran yang menenangkan bagi semesta alam sekaligus merawat pilar persatuan bangsa dengan penuh martabat.

Exit mobile version