Site icon Majulah IJABI

Obituari untuk Bung Airlangga Pribadi, Ph.D.: Dari Kawan yang Hanya Dua Kali Jumpa

Sebelum membentuk grup WhatsApp Kopi Jawatimuran dan Imagined Communities, saya menghubungi Bung Airlangga Pribadi, Ph.D. untuk menjadi penasihat bagi ruang publik (public sphere) yang ingin kami bangun—sebuah ruang berskala simulakra dengan dialektika ala Sukarno melalui MDH (Materialisme Dialektika Historis) cum Manipol USDEK.

Beliau mengamini, menyambut hangat, dan bersedia bergabung. Kami bahkan memiliki cita-cita bersama untuk merintis perpustakaan publik (public library) guna menyemai literasi kritis di kota-kota kecil daerah.

Apresiasi beliau terhadap bahasa-bahasa subkultur—mulai dari Arek, Pesisiran, Mataraman, hingga Pandalungan—membuatnya luwes berdiskusi dengan spektrum masyarakat Jawa mana pun. Hal ini mengingatkan pada Sukarno yang kerap menyisipkan peribahasa Jawa dalam pidatonya, seperti “Kekejero koyo manuk branjangan, kopat-kapito koyo ulo tapak angin”, tanpa pernah menjadikannya sosok yang jawasentris.

Sebagai pensyarah pemikiran Sukarno, Bung Angga tergolong intelektual yang moderat, kritis, dan intersubjektif. Beliau tidak menolak untuk mempertemukan gagasan-gagasan Sukarno saat harus didialektikakan dengan para pengkritiknya, mulai dari kalangan PSI ala Soemitro, Masyumi ala Natsir dan Buya Hamka, hingga DI/TII ala S.M. Kartosoewirjo.

Bung Airlangga benar-benar merepresentasikan sosok Sukarno yang pernah berpidato:

“Aku meguru marang Onze Tjipto Mangunkusumo, yang namanya kuabadikan menjadi nama rumah sakit di Jakarta. Aku meguru marang H.O.S. Tjokroaminoto. Aku meguru marang K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Aku meguru marang R.M.P. Sosrokartono, dan lain-lain. Meguru di sini jangan diandaikan seperti sekolah-sekolah modern hari ini. Aku nglesot, bersimpuh di kaki-kaki mereka. Dari mereka aku untai menjadi harmoni.”

Kesediaan Bung Angga untuk hadir dan berbaur di ruang virtual kami mencerminkan keluwesan Sukarno yang berlatar priyayi ketika berdialog dengan kaum santri maupun abangan—meminjam trikotomi Clifford Geertz.

Kini, kita kehilangan sosok guru sekaligus kawan yang bersedia meruntuhkan sekat, melipat jarak, serta mewakafkan ilmunya di ruang nyata maupun dunia maya. Di tengah kepungan simulakra dan hiperrealitas, beliau teguh menyalakan “Api Islam” dan spirit nasionalisme Sukarno; justru di saat figur-figur yang mendaku Sukarnois kerap menggiring bangsa ini kembali bergantung dan terhegemoni oleh neokolim serta neoliberalisme, menanggalkan martabat bangsa demi mendekat ke penguasa adidaya.

Selamat jalan, Bung Airlangga Pribadi, Ph.D. Semoga ikhtiar Anda dalam mendiseminasikan gagasan Sukarno dan Marhaenisme bagi bangsa Dunia Ketiga ini dapat terus kami rawat di akar rumput.

Kami bersaksi bahwa engkau adalah pembela kaum tertindas, dari Indonesia hingga Palestina. Kaus bergambar Imam Sayyid Ali Khamenei yang kaukenakan menjadi saksi simbolik atas triangulasi pemikiran kemandirian dan keberdikarian antara Sukarno, garis perlawanan mustadh’afin, dan seorang Airlangga Pribadi.

Kediri

Aris Syari’ati, S.Ag.

Sekretaris PD IJABI Kediri

Exit mobile version