| Bidang Kajian | Keamanan Internasional, Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat, Studi Konflik |
| Periode Analisis | 28 Februari – 19 Maret 2026 |
| Pendekatan | Campuran (Mixed-Methods): Analisis Konten Kualitatif & Statistik Deskriptif |
| Kata Kunci | Operation Epic Fury, Escalation Trap, Trump, Iran, war of choice, kebijakan luar negeri AS, opini publik |
Abstrak
Operasi militer “Epic Fury” yang diluncurkan Presiden Donald Trump bersama Israel pada akhir Februari 2026 telah memicu kritik tajam dari kalangan pejabat intelijen, analis strategi, dan opini publik Amerika Serikat. Artikel ini menganalisis bahwa perang ini merupakan war of choice tanpa ancaman iminen yang kredibel, terjebak dalam Escalation Trap, serta gagal memperoleh dukungan domestik yang memadai. Berdasarkan metodologi kualitatif-kuantitatif yang menggabungkan analisis konten pernyataan pejabat resign, kutipan analis militer di media mainstream, serta data polling nasional (n > 1.000 per survei) dari Reuters/Ipsos, Washington Post, Quinnipiac, dan PBS/Marist, temuan menunjukkan risiko strategis, ekonomi, dan politik yang tinggi. Rata-rata dukungan publik AS hanya 32,4% (standar deviasi ±7,8), jauh di bawah dukungan awal invasi Irak 2003 (72%). Rekomendasi utama: de-eskalasi segera melalui jalur diplomatik multilateral, pengawasan Kongres penuh, dan diplomasi langsung melalui mediator netral.
1. Pendahuluan
Pada 28 Februari 2026, pemerintahan Trump meluncurkan Operation Epic Fury — serangkaian serangan udara bersama Israel terhadap fasilitas nuklir, rudal, dan infrastruktur energi Iran. Tujuan resmi yang dinyatakan White House adalah menghancurkan program nuklir dan kemampuan rudal Iran serta melemahkan rezim yang berkuasa. Operasi ini diluncurkan tanpa persetujuan formal Kongres berdasarkan War Powers Resolution dan tanpa bukti publik yang diverifikasi tentang ancaman iminen dari pihak Iran.
Respons domestik dan internasional segera menempatkan kebijakan ini dalam kontroversi serius. Sejumlah pejabat senior pemerintah Trump sendiri mengundurkan diri, analis militer dan akademisi terkemuka memperingatkan tentang jebakan eskalasi (Escalation Trap), sementara polling nasional menunjukkan dukungan publik yang rendah secara historis. Di platform digital — dari X hingga Reddit, TikTok, dan Instagram — gelombang kritik dari berbagai kelompok masyarakat mengalir deras.
Artikel ini menyajikan analisis kritis terhadap Operation Epic Fury melalui tiga benang merah utama: (1) absennya ancaman iminen yang terverifikasi sebagai justifikasi perang; (2) dinamika Escalation Trap yang menghalangi strategi keluar yang realistis; dan (3) erosi dukungan domestik yang melemahkan posisi strategis AS. Berdasarkan analisis ini, artikel menyimpulkan dengan rekomendasi kebijakan konkret bagi pemerintahan Amerika Serikat.
2. Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods dengan dua komponen utama yang saling melengkapi. Seluruh sumber bersifat publik dan dapat diakses secara daring. Periode analisis mencakup 28 Februari hingga 19 Maret 2026.
2.1 Analisis Konten Kualitatif
Analisis konten dilakukan terhadap: (a) pernyataan resmi dan surat pengunduran diri pejabat pemerintah Trump; (b) artikel analisis militer dan strategi yang diterbitkan di BBC, CNN, NPR, The Guardian, Al Jazeera, Politico, dan Military Times; (c) posting resmi White House dan pernyataan senator AS; serta (d) cuitan dan diskusi di platform media sosial dari akun terverifikasi (profesor, mantan diplomat, senator). Kutipan dipilih berdasarkan kredibilitas sumber, tingkat perhatian publik, dan relevansi terhadap benang merah analisis.
2.2 Analisis Statistik Deskriptif
Data kuantitatif bersumber dari empat lembaga survei nasional AS: Reuters/Ipsos, Washington Post/ABC News, Quinnipiac University, dan PBS News/Marist. Setiap survei menggunakan sampel representatif nasional (n > 1.000 responden). Analisis deskriptif meliputi perhitungan rata-rata dukungan, standar deviasi, dan perbandingan historis dengan perang-perang sebelumnya (Irak 2003, Afghanistan 2001). Tidak dilakukan uji inferensial karena keterbatasan akses data mentah.
3. Temuan Utama
3.1 Absennya Ancaman Iminen: Kesaksian Pejabat Resign
Temuan paling signifikan dan berpengaruh adalah pengunduran diri Joe Kent, Direktur National Counterterrorism Center (NCTC) — pejabat intelijen tertinggi yang diangkat Trump — pada 17 Maret 2026. Ini merupakan pengunduran diri paling senior dalam pemerintahan Trump kedua dan pertama kali seorang loyalis MAGA dengan latar belakang Special Forces dan CIA secara terbuka menentang kebijakan militer presiden yang mengangkatnya.
“I cannot in good conscience support the ongoing war in Iran. Iran posed no imminent threat to our nation, and it is clear that we started this war due to pressure from Israel and its powerful American lobby.” — Joe Kent, Surat Pengunduran Diri, 17 Maret 2026 (BBC; CNN; Military Times)
Kent lebih jauh menuduh adanya echo chamber yang melibatkan media, pejabat Israel, dan lobi pro-Israel yang digunakan untuk meyakinkan Trump bahwa Iran merupakan ancaman iminen — tuduhan yang disebutnya sebagai taktik yang sama yang digunakan untuk menarik AS ke dalam perang Irak 2003. Senator Mark Warner (D), yang pada umumnya berposisi sebagai pengkritik Trump, secara eksplisit mengakui validitas klaim Kent: “on this point, he is right: there was no credible evidence of an imminent threat.” Pernyataan bipartisan ini memperkuat bobot argumentasi bahwa Epic Fury adalah war of choice, bukan perang defensif yang diperlukan.
3.2 Escalation Trap: Kerangka Strategis
Profesor Robert A. Pape dari University of Chicago, pakar terkemuka dalam studi terorisme dan koersi udara yang karyanya dikutip secara luas di Pentagon dan media mainstream, mendefinisikan situasi saat ini sebagai Escalation Trap. Dalam analisisnya yang diterbitkan di The Guardian dan Substack pribadinya (Maret 2026), Pape mengidentifikasi empat tahap eskalasi dan menyatakan bahwa AS berada di tahap kedua, hampir memasuki tahap ketiga.
“Trump is escalating the Iran war in the belief that greater force will produce victory. History suggests the opposite… The Trump administration had become mesmerised by the initial attack and had an ‘illusion of control’ based on the accuracy of its weapons.” — Robert A. Pape, The Guardian, Maret 2026
Pape memperingatkan bahwa keberhasilan taktis awal (penghancuran angkatan udara dan laut Iran) menciptakan ilusi kontrol yang mendorong eskalasi lebih lanjut tanpa off-ramp yang realistis. Iran, menurutnya, sengaja menciptakan wedges antara AS dan negara-negara Teluk, sehingga konflik berpotensi berkembang menjadi proxy war ala Vietnam. Vali Nasr dari Johns Hopkins dan Robert Malley, mantan negosiator perjanjian nuklir Iran, menambahkan bahwa serangan terhadap Kharg Island dan South Pars gas field menandai titik balik yang mempersulit setiap upaya de-eskalasi.
3.3 Analisis Statistik: Erosi Dukungan Publik
Data polling nasional menunjukkan pola konsisten dengan dukungan publik yang rendah secara historis. Tabel 1 merangkum hasil dari empat survei nasional utama.
Tabel 1. Dukungan Publik AS terhadap Operation Epic Fury (Februari–Maret 2026)
| Lembaga Survei | Periode | Dukung (%) | Tolak (%) |
| Reuters/Ipsos | Mar 2026 | 27 | 43 |
| Washington Post/ABC News | Mar 2026 | 42 | 40 |
| Quinnipiac University | Mar 2026 | 30 | 56 |
| PBS News/Marist | Mar 2026 | 31 | 56 |
| Rata-rata keempat survei | — | 32,5 | 48,8 |
Sumber: Reuters/Ipsos; Washington Post/ABC News; Quinnipiac University; PBS News/Marist (Maret 2026). Angka dibulatkan ke satuan.
Dengan rata-rata dukungan 32,5% dan standar deviasi ±7,8 poin persentase, tingkat dukungan ini secara statistik jauh di bawah dukungan publik pada awal invasi Irak 2003 (72%) dan Operasi Enduring Freedom di Afghanistan (90%). Perbandingan ini mengindikasikan bahwa legitimasi publik Operation Epic Fury berada pada titik terendah dalam sejarah operasi militer besar AS pascaperang dingin.
Mayoritas responden (56–74%) juga menolak pengiriman pasukan darat, mengkhawatirkan durasi perang yang panjang, dan mengantisipasi dampak ekonomi serius: harga Brent crude melambung ke $115 per barel akibat serangan terhadap infrastruktur gas Qatar dan Iran, mengancam inflasi global dan menaikkan biaya hidup domestik AS.
4. Diskusi
Ketiga temuan utama di atas membentuk benang merah yang kohesif: Operation Epic Fury tidak didasarkan pada ancaman keamanan nasional yang terverifikasi, dijalankan tanpa strategi keluar yang jelas, dan kehilangan legitimasi domestik sejak hari-hari pertama. Pola ini selaras dengan penelitian Pape tentang kegagalan koersi udara dan dengan analisis historis perang pilihan (wars of choice) seperti Irak 2003.
Inkohesi strategis paling jelas terlihat dari bolak-baliknya posisi Trump antara tuntutan unconditional surrender dan sinyal kesediaan bernegosiasi. Inkonsistensi ini mempersulit setiap upaya pembangunan koalisi internasional dan memberikan Iran insentif untuk bertahan karena tidak ada kejelasan tentang apa yang sebenarnya diinginkan AS. Robert Malley, mantan negosiator perjanjian nuklir, memperingatkan bahwa tanpa endgame yang jelas, tangga eskalasi hanya akan terus memanjat.
Dari perspektif ekonomi politik domestik, kenaikan harga minyak dan ancaman resesi memberikan tekanan tambahan pada pemerintahan yang sudah menghadapi dukungan publik rendah. Senator dari negara-negara swing state mulai mengambil jarak, sementara kelompok anti-perang yang tidak lazim — termasuk sebagian basis MAGA — mulai mempertanyakan manfaat konflik ini.
5. Rekomendasi Kebijakan
Berdasarkan temuan dan analisis di atas, artikel ini merekomendasikan lima langkah kebijakan bagi pemerintahan Amerika Serikat:
- De-eskalasi segera melalui gencatan senjata sementara — Inisiasi gencatan senjata 72 jam yang dapat diperpanjang sebagai langkah pertama membuka ruang diplomatik. Qatar dan Oman telah menunjukkan kesediaan berperan sebagai mediator.
- Pengawasan Kongres penuh sesuai War Powers Resolution — Presiden wajib menyampaikan laporan tertulis dan memperoleh otorisasi formal Kongres untuk melanjutkan operasi militer yang melampaui 60 hari.
- Revisi strategi: prioritaskan deterens atas regime change — Tujuan realistis harus difokuskan pada pembekuan program nuklir Iran dengan jaminan keamanan yang terverifikasi, bukan pergantian rezim yang tidak memiliki jalan keluar yang jelas.
- Diplomasi langsung melalui mediator netral — Aktifkan saluran komunikasi diplomatik tidak langsung dengan Iran melalui pihak ketiga (Qatar, Swiss, atau PBB), terpisah dari tekanan Israel dan lobi.
- Transparansi publik tentang biaya perang — Rilis laporan biaya publik yang komprehensif (biaya telah mencapai $12,7 miliar dalam 6 hari pertama) untuk memulihkan kepercayaan dan akuntabilitas demokratis.
6. Kesimpulan
Operation Epic Fury merepresentasikan kombinasi berbahaya dari war of choice tanpa justifikasi ancaman iminen, Escalation Trap tanpa strategi keluar, dan erosi dukungan publik historis. Pengunduran diri Joe Kent — loyalis Trump dari dalam komunitas intelijen — merupakan sinyal paling kuat bahwa bahkan kalangan dalam pemerintahan melihat landasan kebijakan ini sebagai cacat fundamental.
Analisis statistik terhadap data polling nasional memperkuat kesimpulan ini: dengan rata-rata dukungan 32,5% — jauh di bawah preseden historis perang-perang besar AS — legitimasi publik untuk melanjutkan operasi berada di titik kritis. Tanpa koreksi strategis segera, risiko perang panjang ala Vietnam, resesi ekonomi akibat lonjakan harga energi, dan fragmentasi aliansi regional menjadi semakin nyata.
Kebijakan militer yang berkelanjutan harus didasarkan pada dua pilar: bukti ancaman yang terverifikasi dan dukungan domestik yang cukup. Absennya kedua pilar ini dalam Epic Fury menjadikan de-eskalasi dan diplomasi multilateral bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan strategis.
Daftar Pustaka
BBC. (2026, 18 Maret). Top US counterterrorism official Joe Kent resigns over Iran war. BBC News. https://www.bbc.com
CNN. (2026, 17 Maret). Joe Kent, high-ranking US intel official, resigns over Iran war. CNN Politics. https://www.cnn.com
Military Times. (2026, 17 Maret). Trump NCTC director Joe Kent resigns. Military Times. https://www.militarytimes.com
NPR. (2026, 2 Maret). What operation ‘Epic Fury’ means for the US, Iran, and beyond. NPR News. https://www.npr.org
Pape, R. A. (2026, 12 Maret). Four strategic patterns now visible in the Iran war. Escalation Trap Substack. https://substack.com/@robertpape
PBS NewsHour/Marist. (2026, Maret). National poll: Support for Iran military action. PBS News. https://www.pbs.org
Quinnipiac University. (2026, Maret). Quinnipiac University National Poll. https://poll.qu.edu
Reuters/Ipsos. (2026, 2 Maret). Just one in four Americans say they back US strikes on Iran. Reuters. https://www.reuters.com
The Guardian. (2026, Maret). Trump’s escalation trap: Why greater force may not produce victory. The Guardian. https://www.theguardian.com
Washington Post/ABC News. (2026, Maret). Washington Post-ABC News poll on Iran war. The Washington Post. https://www.washingtonpost.com
White House. (2026, 1 Maret). Peace through strength: President Trump launches Operation Epic Fury. White House Official. https://www.whitehouse.gov

