Majulah IJABI

PARA PEJUANG PEMBELA KAUM TERTINDAS 

Penulis: Mirza Karim (Ketua Departemen Hukum dan HAM PP IJABI) 

19 Ramadan tahun ke 40 Hijriah, Ali -putra Abuthalib-, sang pemimpin pembela kaum tertindas, tersungkur bersimbah darah di mihrabnya. Dengarlah pekik kegembiraannya:  

“Aku telah berjaya, demi Sang Pemilik Ka’bah”.  

Tidak ada ketakutan, tidak ada penyesalan. Dialah yang siangnya diisi dengan bekerja keras untuk menafkahi keluarga dan mengurus keperluan rakyat. Sedangkan malamnya diisi dengan berkeliling kota memastikan tidak ada rakyatnya yang tidak tidur karena kelaparan, serta penghujung malamnya diisi dengan bisikan cinta kepada Sang Maha Cinta. Ali, dia adalah murid, menantu serta sepupu Al-Mustafa, sang manusia terpilih, yang mengajarkan pembelaan terhadap kaum tertindas sepanjang masa. 

10 Muharam tahun ke 61 Hijriah, putra Ali, -Husein- dengan seluruh keluarganya, termasuk saudara-saudara perempuan dan anak-anak perempuan yang masih kecil, berhadapan dengan 30.000 ribu pasukan yang akan segera melumatkan mereka. Dengarlah kalimat-kalimat terakhirnya: “Orang sepertiku tidak akan pernah tunduk kepada orang seperti dia”.  “Kematian dalam kemuliaan lebih baik daripada hidup dalam kehinaan”. 

15 abad kemudian, tanggal 11 Ramadan tahun ke 1447 Hijriah, Ali yang lain, keturunan ke 38 dari Imam Ali yang gugur bersimbah darah di mihrabnya, meneruskan tradisi dan ajaran para leluhur dan guru-gurunya. Sayyid Ali Khamenei berserta anak perempuannya, cucunya dan menantunya serta ratusan orang-orang tak bersalah lainnya, bersimbah darah diserang manusia-manusia yang mewarisi karakter kesombongan Iblis dan Ba’al. Dengarlah doa-doa beliau sebelum menyusul para leluhurnya: “Ya Tuhan, anugerahkanlah kepada kami syahid di jalanMu”. Doa beliau dikabulkan. Bagi mereka yang paham, inilah puncak kebahagiaan para pembela kaum tertindas. Ruh mereka berangkat dengan kegembiraan tiada terkira, dengan ketenangan yang paripurna, bergabung dengan ruh para pembela kaum tertindas sejak masa Bapak manusia- Adam, Bapak penentang kesombongan- Ibrahim, Ishak, Ismail, Musa, Yasua (Isa) al Masih, Al-Mustafa-Muhammad- Sang manusia pilihan dan para syuhada terdahulu (salam bagi mereka semua). 

Apa yang mereka perjuangkan? Mereka memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, karena Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi manusia dengan fitrah yang Tuhan berikan. Bukan untuk meniru the most arrogant creature -Iblis, yang selalu merasa diri lebih hebat, lebih mulia, lebih berpengetahuan dan lebih terhormat. Mereka memperjuangkan keadilan, kebebasan dari penindasan manusia lain, dihormatinya hak-hak asasi manusia sebagai sesama ciptaan Tuhan.  

Abad ini, sosok peniru the most arrogant creature -Iblis- lahir dalam sosok Satanyahu dan Deviltrump. Mereka adalah makhluk-makhluk penindas kemanusiaan, pelawan hukum, penghisap darah manusia, pelaku kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan serta seluruh kejahatan kemanusiaan ada pada diri mereka. Kepada mereka, Sayyid Ali Khamenei tegak berdiri dan mengatakan “Tidak, untuk tunduk pada kejahatan kemanusiaan”. 

Guru Sayyid Ali Khamenei, Ayatullah Khomeini (semoga ruhnya dicurahi wewangian surgawi), mengajarkan hal yang sama, tegak berdiri menentang kejahatan kemanusiaan, sekalipun dunia melawannya. Boikot selama 47 tahun, bagi mereka tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan cobaan yang dialami para pendahulu mereka. Tidak ada satu menitpun yang sia-sia dari usaha sungguh-sungguh mereka membela kemanusiaan. Ruh mereka telah bergabung bersama para pejuang kemanusiaan lainnya. Tapi disini, di dunia kita, jutaan manusia lainnya lahir dan bangkit meneruskan perjuangan mereka, dari pelosok Afrika hingga New York, dari pedalaman Asia hingga Nusantara, dari lorong-lorong Eropa hingga kepulauan Pasifik. Sebagaimana lirik lagu nasional kita: gugur satu tumbuh seribu. 

Selamat jalan Sayyid, selamat jalan Ayah, selamat jalan Kakek… senyum, kasih-sayang serta nasehat-nasehat lembut dari lisan Sayyid akan selalu terkenang selamanya. InsyaAllah kami menyusul… 

وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ        

Satanyahu dan Deviltrump, kalian kok bodoh sekali ya? Kalian pikir bom dapat menghentikan perjuangan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan? Ayo, belajarlah dari Iblis dan Ba’al, apakah mereka sukses mengalahkan nilai-nilai fitrah kemanusiaan? Sampai detik ini dan sampai seluruh ciptaan musnah, perjuangan menegakkan nilai-nilai fitrah kemanusiaan akan terus berlangsung. Inilah kami dan itulah kalian… 

12 Ramadan 1447 

Exit mobile version