Majulah IJABI

PENTAS SEJARAH KEMBALI DIGELAR 

Oleh: Muhammad Peyrouzi Isyraqi 

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidina Muhammad wa âli Sayyidina Muhammad 

Sedang kita saksikan Karbala zaman modern. Ketika cucu Baginda Nabi berdiri seorang diri. Terjebak ia di sana, dikepung para pecinta dunia, tanpa penolong, tanpa sesiapa. Lututnya tegak, menolak rapat dengan tanah di hadapan tiran yang mendongak. 

Hai, umat Muhammad! Tidakkah engkau bertanya, untuk siapa ia berdiri? 

“Untuk agama datuknya, Sayyidil Mursalîn.”, ucap fulan. 

Benarkah hanya ia seorang? Bukankah banyak umat datuknya itu? 

“Sesungguhnya, telah menyimpang ia dari ajaran datuknya! Maka terasinglah ia.” 

Lalu mana umat yang benar itu, yang senantiasa berada di jalan yang lurus? 

Bukankah Rasul Allah berdiri atas kemanusiaan? Pantang tunduk oleh ketakutan akan ancaman. 

Lantas siapa pemegang panji kebenaran itu? Sudikah kalian panji itu direbut oleh tangan berlumur darah putra putri al-Aqsa? 

Kain hitam begitu kokoh membungkus kepalanya. Ombak deras bergulung di keningnya, menegaskan ihwal hayat umat datuknya. Teduh tenang wajahnya, berubah tajam menghujam para penista. Geraian rambut putih di dagunya bagai penanda waktu khidmatnya. Tubuh yang tak lagi belia dipeluk abâ sederhana, keffiyeh merangkul tengkuknya. 

Pengecut menyembunyikan peledak di sisinya, melumpuhkan tangan kanannya. Ah, mereka kira ia akan tunduk kali ini, melemah, dan meninggalkan medan juang. Mereka lupa, seorang kesatria dahulu membawa panji tanpa kedua lengan. 

Hai, umat Muhammad! Tidakkah tergerak hati kalian menolongnya membela agama nabimu? 

Maka saksikanlah pentas sejarah kembali digelar, ketika turbah memerah darah. 

Teringat ungkapan lawas berbunyi “Nama adalah doa”. Teriring harapan teramat besar agar nama menjelma rupa. Adalah ‘Ali Hosseini Khamenei, sosok yang hidup di jalan namanya. 

Seumpama Haidar sang penakluk Khaybar. Ialah singa yang mengaum memekak sunyi. Pedang yang berdenting memecah hening. Di tengah zalim ia berdiri sebagai adil. Wujud al-Haq di hadapan bathil. 

Seumpama Abâ ‘Abdillah al-Sibt al-Tsânî. Ialah panji yang berdiri sendiri, dalam dahaga tak terperi. Keserakahan dan ketamakan menghujam tubuhnya. Meninggalkan bekas luka yang menganga di hati para pecinta. Direguknya cawan syahadah, hilang seluruh dahaga. Dunia menjadi saksi, tiada penolong bagi sang pembela. 

Rihlah ia di bulan suci, menempuh perjalanan pulang tanpa kembali. Sampaikan salam kami pada datukmu, Ya Sayyidi 

Mari sejenak kembali ke 1380 tahun yang lalu. Gugurnya seorang pecinta dalam sebaik ungkap cintanya. Ialah sosok Mukhtar, kesatria tangguh yang tak kenal gentar. Dikenal ia sebagai sang pembalas, penuntut darah Husain yang ditumpahkan biadab culas. Air mata merindu menggelegak, saksikan langit memerah atas kemunculannya kelak. 

Mukhtar-mukhtar baru akan segera hadir. Menuntut balas darah juang yang hidup penuh getir. Mereka berlari bersilang langkah menyambut tangan Sayyidus Syuhadâ. Dihadapkan mereka pada dua pilihan, tegak bersama pedang atau tunduk pada kehinaan. Pantang tunduk pada kehinaan! Maka saksikanlah mereka menyongsong kematian. 

Hayhât minnâ adh-dhillah! 

Hasbunallâh wa nikmal wakil 

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidina Muhammad wa âli Sayyidina Muhammad 

Makassar, hari ke-13 Bulan Suci Ramadhan 1447 H

Exit mobile version