Oleh: Ustadz Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI)
Mendekat kepada Sang Maha Wujud melalui perkhidmatan kepada sesama
Di tengah heningnya siang bulan Ramadhan, ketika matahari terasa lebih terik dan tubuh mulai melemah, kita dianjurkan melafalkan sebanyak 100 kali:
سُبْحَانَ الضَّارِّ النَّافِعِ، سُبْحَانَ الْقَاضِي بِالْحَقِّ، سُبْحَانَ الْعَلِيِّ الْأَعْلَى، سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Subḥāna aḍ-Ḍārri an-Nāfiʿi, subḥāna al-Qāḍī bi al-Ḥaqqi, subḥāna al-ʿAliyyi al-Aʿlā, subḥānahu wa biḥamdihi subḥānahu wa taʿālā.
Dzikir ini bukan sekadar pujian yang melayang di udara. Ia adalah jalan pulang. Jalan untuk mendekat kepada Sang Maha Wujud—Dia yang menjadi Satu-Satunya Keberadaan sejati, Kebaikan Murni yang tak terkatakan.
Dalam pandangan kesatuan wujud yang diperdalam oleh para arif seperti Ibn Arabi, segala yang ada hanyalah pancaran dari Wujud-Nya. Jika demikian, maka mendekat kepada-Nya tidak bisa dilakukan dengan lari dari dunia. Justru sebaliknya: kita mendekat dengan merawat pancaran-Nya—yakni sesama manusia dan seluruh makhluk.
Maka dzikir ini bukan hanya untuk diucapkan. Ia harus dihidupkan dalam perkhidmatan.
Tahap Pertama: Melihat Satu Kebaikan di Balik Dua Keadaan سُبْحَانَ الضَّارِّ النَّافِعِ، “Subḥāna aḍ-Ḍārri an-Nāfiʿi” Maha Suci Zat yang Memberi Mudharat dan Manfaat.
Kita sering memandang hidup secara terpisah: ini baik, itu buruk; ini nikmat, itu musibah. Namun dzikir ini mengajarkan bahwa yang memberi kesulitan dan yang memberi kemudahan adalah Dia yang sama—Sumber Kebaikan.
Dalam terang kesadaran ini, kita mulai melihat bahwa kesulitan bukanlah lawan dari kebaikan, melainkan jalan menuju kebaikan yang lebih dalam.
Lapar dan haus di siang Bulan Ramadhan bukan sekadar ujian fisik. Ia adalah jendela empati. Kita mulai merasakan, meski hanya sedikit, apa yang dirasakan para masakin dan fuqara dan mereka yang terkapar di Gaza dan di berbagai belahan dunia lain setiap hari. Kita mulai sadar bahwa ada manusia amat sering “berpuasa” tanpa kepastian kapan berbuka ataupun sahur di esok hari. Ada anak-anak yang menahan tangis karena terlalu sering lapar dan haus. Dan orang tua-orang tua yang menahan isak tangis dan dada yang sesak karena pedih melihat penderitaan anak-anaknya.
Jika seluruh keberadaan adalah pancaran dari Yang Maha Baik, maka setiap insan adalah amanah. Setiap wajah yang lapar adalah undangan untuk berkhidmat. Setiap mereka yang sakit adalah panggilan-Nya untuk mengulurkan tangan. Setiap mereka yang kesulitan dan memiliki hajat adalah ajakan agar hati kita bergetar dan apakah diri kita adalah mereka yang siap bergegas membantu? Setiap penderitaan adalah panggilan untuk menghadirkan kasih.
Maka pada tahap ini, dzikir mengubah cara pandang kita. Kita tidak lagi bertanya, “Mengapa aku lapar? Mengapa aku menderita? Mengapa berbagi derita dan ujian menimpa diriku?” Kita mulai bertanya, “Siapa yang bisa kubantu hari ini?”
Dengan begitu, kita mendekat kepada Sang Maha Wujud—bukan hanya lewat doa, ibadah lahiriah seperti shalat dan puasa tetapi lewat tangan yang memberi. Melewati yadun mu’thiyatun.
Menerima Ketetapan-Nya dan Menjadi Bagian dari Kebaikan-Nya سُبْحَانَ الْقَاضِي بِالْحَقِّ “Subḥāna al-Qāḍī bi al-Ḥaqq” Maha Suci Zat yang Menetapkan dengan Kebenaran.
Semua yang terjadi berada dalam keputusan-Nya. Tidak ada yang luput dari pengetahuan dan kehendak-Nya. Namun keputusan itu selalu berada dalam kebenaran dan kebaikan, meskipun kita tidak selalu memahami hikmahnya.
Kesadaran ini melahirkan syukur yang matang. Kita belajar menerima dengan hati yang tenang. Bahkan dalam musibah, kita berusaha berkata, “Pasti ada kebaikan yang Engkau sembunyikan di balik ini.”
Namun penerimaan bukan berarti diam. Justru karena kita percaya bahwa Dia adalah Kebaikan Murni, kita terpanggil untuk menjadi perpanjangan kebaikan itu di bumi.
Jika ada ketidakadilan, kita tidak berkata, “Ini takdir,” lalu berdiam diri. Kita berkata, “Aku ingin menjadi bagian dari solusi.” Jika ada yang kelaparan, kita tidak hanya berdoa. Kita berbagi. Jika ada yang tersakiti, kita hadir sebagai penenang.
Dengan demikian, menerima ketetapan-Nya berarti percaya bahwa bahkan melalui diri kita, kebaikan-Nya dapat bekerja. Apa pun keputusan-Nya yang kita hadapi , adalah kebaikan-Nya. Dan ujian-N-ya, untuk menguji seberapa kita berprasangka baik pada-Nya. Dan seberapa kita memanfaatkan ujian ini untuk selalu berupaya menggabungkan diri dengan Kebaikan-Nya. Untuk menguji kalian , siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.
Ridha pada qadha-Nya yang sejati bukan hanya ucapan, Maha Suci Yang Menetapkan dengan Kebenaran. Ia adalah perkhidmatan. Dan melalui perkhidmatan, seorang hamba mendekatkan diri dengan Yang Benar, Yang Indah dan Yang Baik.
Merasakan Kebesaran-Nya dan Kecilnya Diri ، سُبْحَانَ الْعَلِيِّ الْأَعْلَى “Subḥāna al-ʿAliyy al-Aʿlā” Maha Suci Zat yang Maha Tinggi lagi Tertinggi.
Semakin kita merenung, semakin kita sadar bahwa Dia melampaui segala bayangan. Kata-kata tidak sanggup menggambarkan-Nya. Pikiran tidak mampu membatasi-Nya.
Namun dalam kesadaran akan kebesaran-Nya, kita justru menemukan makna kerendahan diri.
Kita hanyalah makhluk yang lemah. Lapar membuat kita sadar betapa rapuhnya tubuh ini. Haus mengingatkan bahwa kita bergantung pada setetes air. Lapar dan haus mengingatkan kita akan derita sesama manusia dan mereka yang jauh lebih lapar dan lebih haus dari kita. Dari kesadaran ini lahir kelembutan hati. Kita menjadi lebih memahami bahwa Ia Yang Mahatakmembutuhkan kita , adalah Maha Tinggi tak terkata. Pujian pada-Nya berujung pada tasbih, menyucikan Diri-Nya dari semua pujian kita.
Ini menimbulkan kerinduan luar biasa akan Sang Maha Kekasih yang tidak pernah akan terjangkau.
Karena Dia Maha Tinggi, maka kita menyadari bahwa Ia tak akan terjangkau. Karena Dia Maha Pengasih, maka kita menyadari bahwa walaupun Ia Maha Tak Terjangkau namun Ia Mahadekat dengan mereka yang mengasihi makhluk-makhluk Ciptaan-Nya.
Maka dalam maqam ini, melalui dzikr ini, perkhidmatan kepada sesama menjadi jalan satu-satunya untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Tak Terjangkau. Menolong yang terpinggirkan, menguatkan yang putus asa, asih pada yang sakit, memperindah lingkungan semesta dan menjaganya dari kerusakan—semua itu bukan sekadar kebaikan sosial. Itu adalah cara menyentuh pancaran-Nya di dunia. Itu adalah jalan menuju merasakan Aroma Kedekatan Dengan Yang Mahapengasih namun Tak Terjangkau dalam ketinggian-Nya.
Di sini kita mulai memahami: untuk mendekat kepada Sang Maha Wujud, kita harus mendekat kepada makhluk-Nya.
Pujian Kembali kepada-Nya dan Lenyapnya Ego Dalam Perkhidmatan Pada MakhlukNya ، سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى “Subḥānahu wa biḥamdihi, subḥānahu wa taʿālā.”
Pada puncak perjalanan, hati menyadari bahwa segala pujian pada akhirnya kembali kepada-Nya. Kita berbuat baik dengan kemampuan yang Dia berikan. Kita memberi dengan rezeki yang Dia titipkan. Kita mencintai dengan hati yang Dia hidupkan. Semua perkhidmatan pada sesama manusia dan sesama makhluk bisa terwujud hanya dengan taufik-Nya, getaran empati dari-Nya, kekuatan fisik dan batin dan fikiran dari-Nya.
Maka tidak ada ruang untuk kesombongan dan ego sama sekali. Semua ruang dan eksistensi dan pujian hanyalah bagi-Nya.
Jika kita membantu orang lain, itu bukan karena kita lebih baik. Itu karena Dia memberi kita kesempatan untuk menjadi jalan kebaikan-Nya.
Sisa-sisa ego perlahan memudar. Yang tersisa hanyalah rasa syukur tak terkira karena boleh berkhidmat. Semua pujian pada-Mu , Yaa Allah, mengharuskan hamba untuk memujiMu kembali. Karena pujian pada-Mu adalah nikmat-Mu jua. Seluruh shalawat pada Nabi-Mu dan Kekasih-Mu dan keluarganya, mengharuskan hamba untuk bershalawat pada Nabi-Mu dan Kekasih-Mu dan keluarganya. Karena hanya melewati mereka , seluruh kenikmatan ini dan shalawat ini tercurah pada niat, fikiran, hati dan lisan serta eksistensi kami.
Dan di sinilah barangkali , hamba mencapai salah satu rahasia puasa. Yakni, balasan bagi orang yang berpuasa dengan ikhlas tak lain adalah Dia Sendiri. Hamba dalam keadaan ini tak lagi memiliki jarak dengan Yang Maha Pengasih, kecuali bahwa ia tetap hamba dan nothingness yang papa dan sungguh Segala Puji hanyalah Bagi-Nya.
Maka hamba ini merasakan kehadiran-Nya dalam setiap tindakan baik pada sesama. Pada maqam ini, hamba yang mencapai derajat syukur tanpa terputus (asy-syukr ad-da’im) , terus menerus dalam kecintaan untuk berakhlak yang paling lembut, paling asih dan paling baik bagi sesama manusia dan sesama makhluk. Yang paling baik dari para hamba-Nya adalah yang paling banyak menebarkan keberkahan dan manfaat bagi sesama. Dan di sini kita kembali teringat ujaran Guru Bangsa Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat, jalan paling cepat menuju-Nya adalah berkhidmat pada sesama.
Wa maa taufiiqi illa billah ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib
Malam 2 Bulan Ramadhan 1447 H

