Oleh Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI)
- Wahai bulbul, lantunkan kidungmu di taman dini hari, Mawar telah mekar berembun di pagi nan suci, Kunci rahasia disingkap oleh tangan Yang Esa, Bersambutlah milad Sang Pewaris cahaya hakiki.
- Cawan cahaya dituangkan oleh tangan Saqi azali, Anggur kasih membasuh dahaga setiap sufi, Tiap tetes adalah doa, tiap doa adalah jalan, Menuju milad Sang Miftah, penuntun nurani.
- Miftah — itulah namamu, kunci bagi setiap kalbu, Pintu langit terbuka oleh rindu yang syahdu, Tabir tersibak, cahaya turun ke bumi dahaga, Pada milad ini, fajar baru menyapa hatiku.
- Fauzi — kemenangan bukan di medan baja dan pedang, Tapi di hati yang sunyi, di sajadah yang panjang, Yang menang adalah yang lebur dalam diam Sang Maha, Itulah milad jiwa yang tak pernah hilang.
- Rakhmat turun bagai hujan di musim yang kering, Membasahi ranting tua, membangunkan tunas miring, Setiap rinai berbisik: “Aku adalah cinta-Nya”, Pada milad ini, mendung pun mendadak bening.
- Burung-burung subuh berhimpun di dahan ilmu, Nyanyi mereka dzikir, sajak mereka rindu, Engkau, wahai Gus, pohon di tengah taman, Pada milad-mu, sayap-sayap memuji Tuhanmu.
- Gubug kecil di Kiara Condong yang temaram, Ladang tasbih, kebun shalawat, benih iman ditanam, Dari sanalah engkau lahir, wahai pembawa pelita, Maka milad-mu adalah milad cahaya yang tak padam.
- Cermin hati — jika berdebu, tak terpantul rembulan, Engkau ajarkan: gosoklah dengan air mata kerinduan, Hingga setiap wajah yang menghadap berkilau cahaya, Itulah hadiah milad-mu bagi kami yang kelelahan.
- Seorang pecinta pernah berkata: “Cinta tak berguru di kitab,” Ia datang sendiri, mengetuk pintu yang tertutup adab, Engkau adalah pintu itu, wahai Miftah Rakhmat, Maka milad-mu adalah pesta kalbu yang tak berhijab.
- Saqi tua menuang anggur nafilah di malam munajat, Cawan kami penuh masylul, tapi dahaga belum terobat, Hanya tangan-Nya yang mampu menutup luka jiwa, Pada milad ini, kami pun memohon kunci tobat.
- Burung jiwa hendak terbang ke langit ketujuh, Tapi sayapnya patah oleh dunia yang menjauh, Kau pulihkan ia dengan ayat-ayat daqaiq nan indah, Pada milad-mu, ia kembali daqaiq bersuara penuh.
- Hari kelahiran adalah amanat dari langit yang tinggi, Bahwa napas adalah hutang yang harus dibayar setiap pagi, Engkau bayar dengan kasih, dengan pelukan tanpa syarat, Maka milad-mu mengajar: hidup adalah pulang ke Ilahi.
- Kami panjatkan doa di turbah Huseini yang basah, Semoga umur panjang, semoga jalan tak gundah, Bukan untuk dirimu, Gus, tapi untuk umat dahaga, Inilah doa milad kami, dari kalbu yang merekah.
- Maka pukullah rebana shalawat, nyalakan seribu pelita, Hari ini Miftah Fauzi Rahmat menggenap usia, Dari pesantren tua hingga padang luas semesta, Salam milad — wahai Kunci, wahai Kemenangan, wahai Rahmat tercinta.

