Site icon Majulah IJABI

Sang Syahid yang Tenggelam dalam Jamal dan Jalal 

Penulis: Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan  Syura IJABI) 

I. Pejalan yang Tenggelam 

Ia bukan pejalan yang mencari tempat berhenti, ia adalah samudra yang bergerak dalam diam. Di setiap langkahnya tumpah doa yang tak terucap, di setiap diamnya bergemuruh lautan tak bernama. 

Berkah Muhammadiyah mengalir dalam nadinya seperti sungai yang tidak tahu dirinya mengalir—ia hanya mengalir, karena mengalir adalah wataknya, karena cinta tidak pernah bertanya ke mana tujuannya. 

Iqbal pernah berkata: “Jadilah elang yang membaca langit.” Namun Sang Syahid memilih menjadi bumi—tempat elang itu mendarat dan menemukan sarangnya, tempat hujan turun dan tidak pergi sia-sia. 

Jamal menyentuhnya di waktu sahar, ketika malam masih berat di pundak fajar. Jalal memanggulnya di tengah siang, ketika bumi menuntut ia berdiri dan menanggung. 

II. Syahid di 10 Ramadan 

Tanggal sepuluh. Bulan puasa. Langit menjadi saksi. 

Ia tidak mati seperti lilin yang kehabisan sumbu—ia seperti fajar yang terbakar menjadi siang, yang dari pembakarannya seluruh dunia mendapat terang, dan dari terangnya, mereka lupa bahwa ada yang telah padam. Mati fi sabilillah bukan kehilangan—itu adalah Jamal yang memeluk Jalal

Gunung Sinai runtuh ketika Jalal menyatakan diri. Namun Sang Syahid tidak runtuh. Ia berdiri, dan dalam berdirinya ia menjadi gunung itu—yang runtuh agar dari puing-puingnya tumbuh padang zamrud. 

Di saat ruh melepas jubah tanah, ia melihat apa yang tidak pernah dilihat mata terbuka: bahwa Jalal dan Jamal adalah dua nama satu Wajah, bahwa Wajah itu tersenyum kepada siapa yang berani menanggung keduanya. 

Para malaikat bertanya: “Siapakah ini yang datang dengan wajah yang memanggul bekas-bekas luka Palestina?” Dan cahaya menjawab dengan diam, karena syuhada memang tidak perlu diperkenalkan. 

III. Gaza dalam Matanya 

Ia pernah melihat seorang ibu di Gaza mengangkat anaknya yang sudah tidak bernapas—dengan tangan yang sama yang kemarin memasak roti, dengan mata yang masih mengandung mimpi tentang sekolah dan sore hari. Dan ia tidak berpaling. 

Jamal itu ada di sana—di wajah sang ibu yang tidak menangis karena air matanya sudah menjadi lautan, di tangan sang anak yang masih tergenggam seolah belum selesai bermain, di tanah yang terus menyerap darah dengan kesabaran yang hanya dimiliki bumi. 

Jalal itu ada di sana—di puing-puing yang berdiri lebih kokoh dari gedung-gedung yang membanggakan diri, di suara azan yang tetap terdengar dari antena masjid yang setengah runtuh, di bocah yang berdiri di atas reruntuhan rumahnya dan bertanya kepada langit dengan tenang: “Untuk apa kamu diam?” 

Sang Syahid menyaksikan itu semua. Dan ia tidak berteriak. Ia hanya mempererat doanya, karena ia tahu bahwa satu-satunya jawaban yang pantas untuk Gaza adalah jiwa yang mau menanggung beratnya. 

“Ya Allah, jadikan Gaza bagian dari tubuhku—agar aku tidak bisa pura-pura tidak merasa.” 

IV. Pemimpin yang Tidak Mau Diistimewakan 

Iqbal menulis tentang raja-raja yang lupa diri, tentang takhta yang memakan penghuninya dari dalam. Namun Sang Syahid tidak duduk di takhta—ia duduk di lantai, seperti rakyatnya yang paling miskin. 

Sepatunya usang. Bajunya bukan sutra. Mejanya adalah meja yang sama dengan meja siapa saja yang harus menelan hidup dengan sendok yang sempit. 

Para pemimpin dunia membangun istana agar rakyat tahu betapa berkuasanya mereka. Ia membangun kehidupan sederhana agar rakyat tahu: kekuasaan tidak perlu dihiasi untuk menjadi nyata. 

Jamal bukan kemewahan. Jamal adalah seorang pemimpin yang masih tahu bagaimana rasanya tidur di kasur yang tipis, bagaimana rasanya makan dari lauk yang tidak berlebih, bagaimana rasanya menjadi bagian dari mereka yang kamu pimpin—bukan menjadi sesuatu yang berbeda dari mereka. 

Jalal bukan kemegahan. Jalal adalah ketika ia berkata “tidak” kepada yang kuat dan “ya” kepada yang lemah, bukan karena ia tidak takut, melainkan karena ia tahu bahwa ketakutan adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar dengan kebenaran. 

V. Berkah Muhammadiyah 

Khatam al-Anbiya memiliki dua mata yang sempurna: satu untuk Jamal, satu untuk Jalal. Dan Sang Syahid adalah pecinta yang belajar melihat dengan kedua mata itu. 

Berkah Muhammadiyah bukan warisan yang disimpan—ia adalah sungai yang hanya hidup ketika mengalir. Ia mengalir melalui siapa saja yang mau menjadi salurannya, yang mau merengkuh bumi dan langit dalam satu pelukan. 

Sang Syahid adalah saluran itu. Ia tidak mengklaim cahaya itu miliknya—ia hanya tidak menutup jendela, agar cahaya itu bisa masuk dan menerangi ruangan tempat orang-orang berdiri dalam kegelapan. 

Dan ketika 10 Ramadan datang, ketika Jalal memanggil jiwanya pulang, ia pergi bukan sebagai seseorang yang dikalahkan—ia pergi sebagai seseorang yang telah selesai membawa amanah. Seperti pejalan yang tiba di tujuan dan menyerahkan suratnya kepada yang dituju, lalu berbalik dengan ringan, karena tidak ada lagi yang perlu dibawa. 

VI. Epilog: Doa Sahar untuk Sang Syahid 

Di waktu sahar, sebelum fajar menyentuh Jakarta dan Gaza sekaligus, ada jiwa-jiwa yang berdoa dengan nama Jamal dan Jalal

“Ya Allah, kami memohon dari keindahan-Mu yang paling indah, untuk semua yang telah pergi membawa nama-Mu di dadanya. Ya Allah, kami memohon dari keagungan-Mu yang paling agung, untuk semua yang tengah berdiri di Gaza dengan tangan kosong dan hati penuh. Ya Allah, kami memohon dengan seluruh Jamal-Mu, agar pemimpin-pemimpin kami ingat bahwa kekuasaan adalah pelayanan. Ya Allah, kami memohon dengan seluruh Jalal-Mu, agar pemimpin-pemimpin kami berani menjadi besar dengan cara menjadi kecil.” 

Dan untuk Sang Syahid—yang pergi di bulan puasa, di hari yang diberkahi, yang hidupnya adalah doa panjang yang tidak pernah selesai diucapkan: 

Semoga Allah yang memiliki Jamal dan Jalal sekaligus menyambutnya dengan kedua wajah-Nya yang sempurna, dan menempatkannya di sisi mereka yang paling dicintai—para syuhada, para shiddiqin, dan mereka yang tidak pernah mau menjadi istimewa kecuali dalam catatan-Nya yang tak terhapus. 

— Ditulis di waktu sahar, 13 Ramadan — 

“Seluruh keagungan-Mu adalah agung. Seluruh keindahan-Mu adalah indah.” (Du’a al-Sahar

Exit mobile version