Oleh: Muhammad Bhagas (Anggota Departemen Dakwah/Khidmat dan Seni PP IJABI)
Seandainya tidak ada sosok-sosok seperti syuhada, mungkin Islam hanya dikenal tak lebih dari ritual pemujaan Tuhan, gemuruh tempat ibadah, petuah moral, penyemangat hidup, cerita-cerita spiritual, bahasa-bahasa langit, surga neraka, tumpukan kitab-kitab, kutipan-kutipan teks, pelajaran masa lalu… Imam Khomeini, Sayyid ‘Ali Khamenei, Sayyid Hasan Nashrullah, Qasim Sulaemani, Isma‘il Haniyeh serta para pendahulu dan penerusnya yang berada di jalan cinta yang sama telah menampilkan wajah Islam yang sejati, agama yang menggelorakan ideologi “politik” perlawanan terhadap penindasan kaum mustakbirin atas mustadh‘afin. Ideologi yang pantang menyerah di hadapan kezaliman. Yang tak kenal kompromi dengan kehinaan. Yang tak akan menukar ridha Tuhan demi membuat orang lain rela dan nyaman dengan diri kita. Yang tak akan mengorbankan nilai-nilai agamanya demi menyambut tawaran yang menjanjikan kenyamanan semu.

Mereka telah menampilkan wajah Islam yang rela mengorbankan kenyamanan dan keinginan diri demi tegaknya kebenaran dan keadilan, demi memperjuangkan hak saudara-saudaranya. Tentunya kesadaran dan perjuangan mereka ini tidak lepas dari siapa yang selama ini mereka cintai dan teladani, yakni Sang Utusan Teragung Nabi Muhammad SAW dan Ahlul Baitnya yang suci as. Dari mereka kita memahami bahwa tauhid bukan sebatas doktrin (ajaran dan pendirian), bukan sebatas konsep ketuhanan yang mengawang-ngawang di pikiran, tapi juga sebagai worldview (pandangan dunia)—dengan pengertiannya tentang realitas sebagai suatu keseluruhan—dan nilai yang menjadi dasar kita dalam berpikir, menilai, memahami, mengambil keputusan, bersikap dan menjalani seluruh aspek kehidupan ini. Sehingga segala bentuk berhala seperti menuhankan hawa nafsu, kepentingan dan materi duniawi yang bisa menjelma dalam berbagai bentuk, ideologi bahkan sistem, harus dilawan. Tauhid menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan mengembalikan segalanya pada tujuan penciptaannya. Karena itulah tauhid tidak cukup dihadirkan dalam pemikiran dan keyakinan. Ia harus membuahkan perubahan demi perubahan dalam realitas kita saat ini.
Tiada perubahan tanpa gerak. Hakikat tauhid adalah gerak menyempurna secara vertikal dan horizontal. Tauhid yang seperti inilah yang akan melahirkan gerakan-gerakan intelektual, spiritual, sosial, hingga politik perlawanan yang sesuai dengan tujuan penciptaan kita, yang sesuai dengan nilai-nilai keluhuran agama dan fitrah manusia. Tauhid yang membuat kita paham bahwa antara ketekunan ibadah ritual dan kepedulian sosial, menjadi ahli ilmu yang kutu buku dan perkhidmatan di tengah-tengah masyarakat, suluk rohani dan berartisipasi dalam gerakan perubahan, kecakapan intelektual dan keterjagaan spiritual, dan seterusnya, bukan untuk dipertentangkan dan dihadap-hadapkan. Menurut pandangan dunia tauhid, semua itu tidak saling menafikan karena semua itu bisa menjadi wasilah penghambaan. Dengan tauhid inilah kita melihat semua itu sebagai jalan mendekatkan diri kepada Tuhan dan meraih ridha-Nya. Ia tidak melihat yang langit dengan yang bumi dan alam materi dengan non-materi sebagai dua eksistensi yang terpisah dan tidak mempunyai hubungan sama sekali, melainkan sebagai hubungan erat yang bisa saling mempengaruhi (memberikan efek), bahkan seperti apa kualitas diri kita dalam keduanya itu saling menentukan satu sama lain. Demikian. Wallahu a’lam.
Semoga bermanfaat dan diluaskan berkahnya. Teriring doa untuk kedua orangtua dan keluarga kita, semua guru dan ulama kita, hamba-hamba saleh, para pejuang dan pembela kebenaran, saudara-saudara kita yang teraniaya dan tertindas, kaum muslimin dan muslimat, kaum fakir miskin dan anak-anak yatim. Untuk semua yang punya hak atas diri kita. Shalawat dan al-Fatihah 🤲🙏
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad wa ‘ajjil farajahum…