Uncategorize

MUI Mengakui Syiah Bagian dari Islam: Mengakhiri Propaganda Perpecahan 

Oleh: Ali Ahmadi  

Di tengah arus informasi yang deras, sering kali kita terjebak dalam pusaran propaganda yang memecah belah umat. Salah satu narasi yang terus diproduksi secara masif adalah klaim bahwa “Syiah Bukan Islam”. Namun, jika kita mencermati sikap resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara objektif, fakta di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya. 

Ada beberapa poin krusial yang perlu kita perhatikan terkait posisi MUI terhadap dunia Islam, khususnya komunitas Syiah: 

Pengakuan Terhadap Pemimpin Syiah 

MUI dalam berbagai pernyataan resminya tetap menganggap tokoh-tokoh besar seperti Ayatullah Sayyid ‘Ali Khamenei sebagai syuhada dan didoakan masuk surga. Dalam tradisi umum, syahid hanya dan masuk surga hanya diberikan pada seorang muslim.  

iklan

ini tentu kemajuan penting untuk mendekatkan sekat sekat madzhan Syiah dan Suni. 

Dukungan Terhadap Republik Islam Iran 

Iran merupakan negara dengan mayoritas penduduk Syiah. Sikap MUI mendukung langkah-langkah politik Iran dalam membela kepentingan dunia Islam dan melawan ketidakadilan global membuktikan adanya pengakuan terhadap eksistensi mereka sebagai entitas Muslim yang sah. 

Waspada Buku Saku Palsu dan Propaganda “Ba’al” 

Satu hal yang tidak boleh luput dari perhatian publik adalah adanya buku saku berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”. Perlu ditegaskan bahwa buku tersebut adalah palsu dan hanya mengatasnamakan MUI. Dokumen tersebut sering kali digunakan oleh oknum-oknum tertentu sebagai alat adu domba untuk menyebarkan kebencian di akar rumput. 

Propaganda permusuhan antara Sunni dan Syiah bukanlah hal baru. Ini adalah senjata lama yang digunakan oleh para “hegemon” pemuja Ba’al dan pengikut Lucifer untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Dengan membuat umat Islam saling membenci dan saling mengafirkan, musuh-musuh kemanusiaan ini dapat dengan mudah mengontrol dan menghancurkan peradaban Islam dari dalam. 

Sudah saatnya akal sehat menjadi tuntunan bagi kita semua. Perbedaan dalam tradisi Islam adalah sebuah kekayaan, bukan alasan untuk saling membinasakan. Menjaga ukhuwah Islamiyah adalah kewajiban setiap Muslim agar tidak terjebak dalam permainan politik global yang kotor. 

MUI, melalui sikap-sikap resminya, telah menunjukkan bahwa persatuan adalah kunci. Mari kita berhenti menjadi pion dalam papan catur yang dimainkan oleh pihak-pihak yang ingin melihat dunia Islam terpecah belah.   

Admin IJABI
Reporter |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button