Uncategorize

Cahaya Di Atas Cahaya

Oleh Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI)

Artikel ini adalah refleksi tentang sebaris dari doa sahur yang terkenal . Doa tersebut adalah doa Imam Muhammad bin ‘Ali al Baqir as, dan yang diriwayatkan oleh Imam ‘Ali bin Musa ar Ridha ‘as . Doa tersebut tertulis dalam Mafatih al Jinan yang disusun oleh ‘Abbas al-Qummi. Baris doa yang akan dibahas adalah sebagai berikut.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ نُورِكَ بِأَنْوَرِهِ، وَكُلُّ نُورِكَ نِيرٌ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِنُورِكَ كُلِّهِ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dari cahaya-Mu, dengan cahaya-Mu yang paling bercahaya, dan seluruh cahaya-Mu adalah bercahaya. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan seluruh cahaya-Mu.

Dalam tulisan ini, kita akan mencoba menjelaskan baris-baris doa tersebut dengan menelusuri makna cahaya dari tingkatan yang paling tinggi (ontologis), kemudian menurun ke manifestasinya dalam kosmos (Nur Muhammad saw), lalu ke perwujudannya dalam Rasulullah saw dan Ahlulbait as), hingga akhirnya pada puncak pengharapan di masa depan yaitu kehadiran dan kemenangan Imam Mahdi as

iklan
  1. Penjelasan Dari Perspektif Hikmah

Doa ini adalah permohonan untuk tersambung dengan cahaya. Barangkali yang dimaksudkan dengan cahaya adalah hakikat wujud itu sendiri.

Dalam tradisi irfan dan hikmah, cahaya bukan simbol. Cahaya adalah nama lain dari realitas eksistensial yang menyingkap dan menampakkan segala sesuatu. Hal ini juga dijelaskan misalnya dalam buku Misykat Al -Anwar dari Imam Ghazali.

Karena itu, memahami “Nur” berarti memahami struktur realitas, hakikat kenabian, dan jalan kedekatan spiritual.

Imam Khomeini, dalam syarahnya, menjelaskan tiga tahap pemahaman tentang Nur: pertama sebagai ilmu, kedua sebagai yang menampakkan, dan ketiga—yang merupakan puncaknya—sebagai wujud itu sendiri.

 Beliau mengutip bagian awal dari surah An Nur ayat 35 sebagai berikut,

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

 “Nur” bukan sekadar sifat metaforis, tetapi identitas ontologis. Nur tak lain adalah wujud itu sendiri.

Berikut di bawah ini adalah kumpulan kutipan langsung, -yang sebagiannya disadur penulis dari Syarh Dua as-Sahar Imam Khomeini. Menurut Imam Khomeini, hadiah paling mulia yang dikenakan kepada seorang pejalan ruhani setelah menanggalkan cinta dunia adalah:

Terbukanya dada untuk ruh-ruh makna dan kedalaman-kedalaman batin, serta rahasia hakikat dan isi tersembunyinya. 

Ia masuk ke dalam kota para ulama yang teguh, dan berpindah dari jalan inderawi menuju tempat-tempat tinggal al-Quran . Tempat tinggal ini adalah rizki bagi mereka yang terpenjara dalam kegelapan alam tabiat.

Ia menyadari bahwa ilmu pun adalah cahaya yang Allah pancarkan ke dalam hati siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya.

Hakikat cahaya — yaitu tampak dengan sendirinya dan menampakkan selain dirinya — sangat jelas dalam ilmu itu dengan cara yang paling sempurna, jalan yang paling terang, dan cara yang paling lurus.

Dengan ilmu itu tampak batin segala sesuatu sebagaimana tampak lahirnya; ia menembus batas-batas bumi dan ketinggian langit; ia bertahan melampaui berlalunya malam dan siang.

Pada saat itu, mungkin tersingkap kepada hati seorang salik — dengan karunia dan anugerah Allah — bahwa cahaya itu adalah wujud itu sendiri, dan tidak ada dalam alam semesta selain wujud, cahaya, dan penampakan.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ 

“Allah adalah cahaya langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35)

Dalam Doa Kumayl disebutkan:

وَبِنُورِ وَجْهِكَ الَّذِي أَضَاءَ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ

“Dan dengan cahaya wajah-Mu yang segala sesuatu menjadi terang karenanya.”

Dalam al-Kafi, dari al-Qummi, dari Husain bin Abdillah ash-Shaghir, dari Muhammad bin Ibrahim al-Ja’fari, dari Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Abdillah bin Umar bin Ali bin Abi Thalib, dari Abu Abdillah (Imam Ja’far ash-Shadiq) as,  beliau berkata:

“Sesungguhnya Allah ada ketika tiada sesuatu pun yang ada. Maka Dia menciptakan al-kawn (keberadaan) dan al-makan (tempat), menciptakan cahaya-cahaya, dan menciptakan Cahaya dari segala cahaya — yang cahaya-cahaya itu bersumber dari-Nya — dan mengalirkan ke dalamnya dari cahaya-Nya yang cahaya-cahaya bersumber dari-Nya. Itulah cahaya yang darinya diciptakan Muhammad dan Ali. Maka keduanya senantiasa menjadi dua cahaya yang menerangi sejak semula, ketika tidak ada sesuatu pun yang ada sebelum keduanya. Keduanya senantiasa mengalir dalam keadaan suci dan disucikan dalam sulbi-sulbi yang suci, hingga keduanya berpisah pada dua orang yang paling suci: Abdullah (ayah Nabi) dan Abu Thalib (ayah Ali).”[1]

Imam Khomeini berpandangan bahwa, Nur lebih layak dimasukkan dalam Nama-nama Sifat bahkan Nama-nama Perbuatan, karena dalam konsepnya secara inheren terkandung makna menampakkan selain dirinya (muzhariyyah al-ghair).

Apabila yang dimaksudkan adalah Nama-nama dan Sifat-sifat dalam Hadrah Ilahiyyah, maka ia termasuk Nama Sifat; apabila yang dimaksudkan adalah tingkatan-tingkatan penampakan konkret (‘ayniyyah), maka ia termasuk Nama Perbuatan.

Sebagaimana dalam firman Allah:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ 

“Allah adalah cahaya langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35)

يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ (النور: 35)

“Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nur: 35)

Dan dalam Doa Kumayl:

وَبِنُورِ وَجْهِكَ الَّذِي أَضَاءَ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ

“Dan dengan cahaya wajah-Mu yang segala sesuatu menjadi terang karenanya.”

Dan dalam Doa as-Simat:

وَبِنُورِ وَجْهِكَ الَّذِي تَجَلَّيْتَ بِهِ لِلْجَبَلِ فَجَعَلْتَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا

“Dan dengan cahaya wajah-Mu yang Engkau tampakkan diri dengannya kepada gunung sehingga gunung itu hancur lebur dan Musa jatuh pingsan.”

Maka Nur berada di bawah Nama azh-Zhahir dan Rabb asy-Syahadah al-Muthlaqah atau asy-Syahadah al-Muqayyadah. Demikian pula ar-Rabb yang oleh Syaikh dimasukkan dalam Nama-nama Dzat, namun menurut saya ia lebih mirip dengan Nama-nama Perbuatan.[2]

Jika cahaya adalah wujud itu sendiri, maka seluruh tatanan kosmos adalah gradasi cahaya. Inilah yang akan kita bahas sebagai hierarki kosmik, sebagaimana dijelaskan para hukama

  • Nur sebagai Hierarki Kosmik

Setelah memahami bahwa cahaya adalah wujud itu sendiri, maka konsekuensinya adalah seluruh alam semesta ini tak lain adalah gradasi atau tingkatan dari cahaya yang satu. Para hukama menyebut ini sebagai nurun ‘ala nurin (cahaya di atas cahaya). Pada tingkatan ciptaan yang pertama, cahaya itu bermanifestasi sebagai Hakikat Muhammadiah.

Para ‘urafa dah hukama percaya bahwa awal yang diciptakan adalah Nur Muhammad. Mulla Shadra dalam buku Beliau Al-Masya’ir menjelaskan bahwa awal yang diciptakan Allah adalah Cahaya Nabi Saw. Penjelasan lain untuk masalah ini misalnya bisa diperoleh di As-Sirah an-Nabawiyyah ‘inda Ahlil Bait ‘alaihim as-salam, karya Syekh Ali Al-Kurani , Jilid/Halaman: Jilid 1, hlm. 23-35 [3]

Selanjutnya seluruh realitas di semesta ini adalah Wujud yang Behierarki. Karena Wujud adalah Cahaya , maka di sini Cahaya pun berhierarki. نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ.

Dari penjelasan ini, pada segala hal selainNya ada Nur Muhammad Saw. Ada cahaya Muhammad Saw. Dan sesungguhnya Para Washi Kanjeng Nabi Saw, dari satu sisi tidak pernah terlepas dari Nur Muhammad Saw.

Di situ, KH Miftah Fauzi Rakhmat pernah mengatakan dalam ceramahnya bahwa, “Dalam segala sesuatu ciptaan Allah ada keberkahan Kanjeng Nabi Saw dan Ahlul Baitnya ‘alaihimus salam”. Ada cahaya Nabi Muhammad Saw dan keluarganya yang suci ‘alaihimus salam.

Dari sini, pemaknaan doa ‘aku memohon kepada-Mu dari cahaya-Mu, dengan cahaya-Mu yang paling bercahaya’ menjadi lebih konkret. Ia adalah permohonan agar kita diberikan bagian dari cahaya kenabian yang tersebar di seluruh realitas, dan terhubung dengan sumbernya yang paling cemerlang, yaitu Kanjeng Nabi Saw sendiri.

Namun, jika Nur Muhammad Saw adalah sumber cahaya kosmik, lalu bagaimanakah kita sebagai individu dapat mengakses dan terhubung dengan cahaya tersebut? Jawabannya terletak pada institusi yang mewarisi dan memancarkan cahaya itu setelahnya, yaitu Ahlulbait ‘alaihumus salam.

Nur dan Walayah

Lalu di mana posisi Ahlulbait dalam struktur cahaya ini? Dan bagaimana hubungannya dengan doa kita? Jawabannya ditemukan dalam penafsiran Ahlulbait atas ayat Nur yang menjadikan mereka sebagai tafsir hidup dari perumpamaan Ilahi tersebut.Mari kita perhatikan kembali QS An Nur ayat 35 dan 36.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Di rumah-rumah yang telah diizinkan oleh Allah untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan waktu petang. (QS an-Nûr [24]: 35-36)

Ayat ini bukan hanya perumpamaan estetis, melainkan peta metafisik tentang bagaimana cahaya Ilahi menurun melalui tingkatan-tingkatan realitas.

Dalam penafsiran ajaran Ahlulbait ‘alaihimus salam, struktur metafisik ini dipersonifikasikan dalam realitas kenabian dan imamah.

Misykat, Mishbah, Zujajah: Personifikasi Cahaya

Dalam riwayat-riwayat Ahlulbait Nabi as, kata misykât ditafsirkan sebagai hati Nabi saw, mishbâh sebagai pelita ilmu, zujâjah sebagai Imam Ali kw, para penggantinya, dan syajaratin mubârakah (pohon yang diberkahi) sebagai Ibrahim al-Khalil as yang merupakan akar dari keluarga ini, dan kalimat Al-Quran: bukan dari Timur dan bukan pula dari Barat, sebagai penafian kecenderungan pada agama Yahudi ataupun Nasrani, maka semua ini sesungguhnya merupakan wajah lain dari cahaya petunjuk dan imam, dan merupakan pernyataan tentang perluasannya; tetapi maknanya tidaklah terbatas pada hal-hal itu saja.

Dalam hadis lain mengenai penafsiran ayat ini oleh Imam Ja’far ash-Shadiq as, yang tercatat dalam kitab Raudhah Kâfi, beliau mengatakan, “Sesungguhnya misykât itu adalah hati Muhammad saw, mishbâh adalah cahaya ilmu (dan petunjuk), dan zujâjah adalah hati Ali atau dirinya (di mana mishbâh ditempatkan setelah wafatnya Nabi saw).”[4]

Juga dalam kitab At-Tauhid karangan Ash-Shaduq, kita membaca sebuah hadis dari Imam Muhammad al-Baqir as yang mengatakan, “Sesungguhnya misykât itu adalah cahaya ilmu dalam hati Nabi saw dan zujâjah adalah hati Imam Ali…. sedangkan nûrun ‘alâ nûr adalah para imam yang berasal dari keluarga Nabi saw, dan mereka datang susul-menyusul. Para Imam ini dibantu oleh cahaya ilmu dan kebijaksanaan. Dan kecenderungan ini telah ada sejak diciptakannya Adam dan akan terus demikian hingga akhir dunia. Mereka semua adalah pengawal-pengawal perjanjian yang telah ditunjuk Allah Swt sebagai khalifah di muka bumi. Selama ini tidak ada, dan tidak akan pernah ada, satu masa pun di mana bumi kosong dari salah satu di antara mereka. Mereka adalah pengemban otoritas Allah Swt atas hamba-hamba-Nya.”[5]

Dalam sebuah hadis lain oleh Imam Ja’far Shadiq as, ‘misykât’ ditafsirkan sebagai Fathimah, ‘mishbâh’ sebagai Al-Hasan, dan ‘zujâjah’ sebagai Al-Husain.[6]

Rumah-rumah (Buyut)

Imam Muhammad al-Baqir ra berkata, “Ayat ini merujuk pada rumah-rumah para nabi, dan rumah Imam Ali juga termasuk di dalamnya.”[7]

Sebuah hadis lain menunjukkan bahwa ketika Nabi saw sedang membacakan ayat ini, beliau ditanya, “Apa yang dimaksud dengan buyût (rumah-rumah?” Nabi saw menjawab, “Yaitu rumah nabi-nabi.” Abu Bakar bertanya lagi, “Apakah rumah ini (sambil menunjuk rumah Fathimah dan Ali) termasuk di dalamnya juga?” Nabi saw menjawab, “Ya, ia yang terbaik di antaranya.”[8] Semua ini menunjukkan contoh-contoh yang jelas.

Terdapat hadis sahih lainnya dari Imam Muhammad al-Baqir as, di mana Qattadah, seorang ahli fikih ter­masyhur dari Bashrah, berbincang-bincang dengan Imam dan mengungkapkan ketakjubannya mengenai keagungan khusus sang Imam. Imam bertanya kepadanya tentang apakah dirinya tahu di mana sedang duduk, yakni di depan orang-orang yang mengenainya Allah Swt telah berfirman: (Pelita hidayah itu ditemukan) di rumah-rumah yang telah diizinkan Allah untuk dimuliakan dan disebut-sebut nama-Nya di dalamnya. Bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Orang mengingat Allah , mendirikan shalat, dan membayar zakat. Kemudian Imam berkata, “Engkau adalah apa yang engkau katakan (seorang ahli fikih dari Bashrah) dan kami adalah apa yang dikatakan oleh Al-Quran.”

Sebagai jawaban, Qattadah mengatakan, “Anda benar, semoga Allah Swt menjadikanku tebusan bagi Anda! Demi Allah, yang dimaksud bukanlah rumah-rumah yang terbuat dari batu-batu dan tanah lempung (melainkan rumah-rumah wahyu, imam, dan petunjuk).”[9]

Dengan demikian, jelaslah bahwa ‘cahaya’ dalam doa ini tidak bisa dipisahkan dari walayahAhlulbait. Mencintai mereka, mengikuti mereka, dan bertaslim kepada mereka adalah jalan konkret untuk dihantarkan menuju Cahaya Allah. Memohon ‘seluruh cahaya-Mu’ berarti memohon agar kita dimasukkan ke dalam naungan walayah mereka secara utuh.

Jika wujud adalah cahaya, dan cahaya bergradasi, maka puncak cahaya dalam alam kemanusiaan adalah Nabi dan Ahlulbaitnya.

Berdasarkan penjelasan di atas boleh jadi baris permohonan ini adalah permohonan atas percikan Cahaya dari Nabi Saw dan keluarganya as. Dengan kata lain, sang pendoa meminta dariNya kedekatan eksistensial dengan mereka sholatulloh wa salamullah ‘alaihim .

Yakni, bahwa sang pendoa bermohon padaNya untuk menjadi Para Wali dari Kanjeng Nabi Saw dan keluarganya yang suci as, dalam arti , menjadi semakin tidak berjarak dengan mereka. Selalu taat mengikuti perintah mereka, menjauhi larangan mereka. Selalu mencoba mengikuti teladan mereka. Dan pelahan-lahan tenggelam dalam Cinta pada Nabi Saw dan Ahlu Baitnya yang suci sholatullah wa salamullah ‘alaihim. Dan ini menurut saya salah satu inti dari buku Guru Bangsa KH. Jalaluddin Rakhmat, The Road To Muhammad maupun ajaran para ulama pecinta Nabi Saw dan keluarganya yang suci as.

 Imam al-Mahdi as Sebagai CahayaNya

Puncak dari rentetan cahaya walayah yang berkesinambungan itu, pada masa kini dan masa depan, adalah Imam Mahdi afs. Beliau adalah manifestasi dari cahaya yang akan Allah sempurnakan, sebagaimana dijanjikan dalam Al-Quran.

Allah berfirman:

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ [٩:٣٢]هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ [٩:٣٣]

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.”
(QS 9 (AT-TAUBAH): 32-33)

Penjelasan tentang surat at-Taubah ayat 33:[10]

“Kalimat yang disebutkan dalam ayat di atas dengan tepat telah diulang dalam surat ash-Shaff:9,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ [٦١:٩]

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.”
(QS 61 (ASH-SHAFF) : 9)

dan, dengan sedikit perbedaan, telah terjadi dalam surat al-Fath:28.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا [٤٨:٢٨]

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.

Jadi melalui doa ini, kita memohon padaNya bagian dari CahayaNya melalui keberkahan Walayah Imam Mahdi as, dan kedekatan eksistensial dengan Beliau as di dunia dan di akhirat. Tidak pernah lepas dar kasih sayang Beliau as dan petunjuk Beliau as. Juga selalu Taslim dalam penantian pada Beliau as dan setia pada Beliau as saat hadir kembali di sisi kita.

Dan melalui doa ini juga kita berharap Allah segerakan kemenangan akhir CahayaNya yang dibawakan oleh Imam Mahdi as saat kehadiran kembali Beliau as. Sehingga kezaliman dan kegelapan ditundukkan dan dikalahkan. Dan digantikan oleh cahaya, keadilan, kesejahteraan dan kebahagiaan ummat manusia.

“Dua Dimensi” Permohonan: Penjelasan tentang Imam Mahdi as bisa diperjelas menjadi dua dimensi permohonan dalam doa:

  1. Dimensi Individual (Spiritual): “Melalui doa ini, kita memohon kedekatan eksistensial dengan Imam as, agar hati kita selalu tersambung dengan cahaya petunjuknya di tengah kegelapan zaman.”
  2. Dimensi Kolektif (Global): “Dan melalui doa ini, kita juga memohon percepatan realisasi janji Ilahi, yaitu kemenangan akhir cahaya-Nya di seluruh muka bumi di tangan Imam Mahdi as, sehingga kita termasuk dalam barisan yang ikut mewujudkan keadilan dan cahaya tersebut.

Demikianlah, doa singkat ini mengajak kita merenung tentang hakikat wujud sebagai cahaya, membawa kita menyelami samudra hakikat Muhammad dan keluarganya yang suci, serta memuncak pada pengharapan akan naungan dan kehadiran Imam Mahdi as. Doa ini adalah ikhtiar spiritual untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya-Nya yang sempurna.

Dalam hal ini, kita berharap menjadi bagian dari percik cahaya Nabi Saw dan keluarganya yang suci as. Sehingga menjadi bagian dari Walayah Ilahiah yang mengeluarkan ummat manusia dari kegelapan-kegelapan menuju CahayaNya. Bukan melalui amal kita. Namun melalui Kasih Sayang Allah. Semoga Allah anugerahi kita taufik untuk melantunkan baris-baris doa ini, dan kemudian Ia mengabulkannya segera.

Dan di puncak cahaya itu, kita berharap bertemu dengan Kekasih, bersama kekasih-kekasih-Nya.

Wa maa taufiiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib


[1] Sayyid Ruhullah Al Musawi , Syarh Dua As-Sahar
[2] Sayyid Ruhullah Al Musawi , Syarh Dua As-Sahar
[3] https://ns1.almerja.com/more.php?idm=239890
[4] Nûr ats-Tsaqalain, jil. 3, hal. 602 dan 603.
[5] ibid.
[6] ibid.
[7] Nûr ats-Tsaqalain, jil. 3, hal. 607.
[8] Tafsir Majma‘ al-Bayân, mengikuti ayat terkait.
[9] Ibid, hal. 602
[10] Allamah Kamal Faqih Imani, Tafsir Nurul Qur’an, al-Huda, jakarta, 2006, jilid 6, pp. 425-426

Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Sekretaris Dewan Syura IJABI |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button