Merawat Hati Bersama Kang Jalal

Ada warisan ilmu yang terus hidup, bukan hanya karena dibaca, tetapi karena terus diteliti. Demikian pula karya-karya KH. Jalaluddin Rakhmat. Selama puluhan tahun, buku-buku beliau tidak hanya menemani pembaca di ruang-ruang pengajian, tetapi juga menjadi bahan kajian di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Salah satunya adalah sebuah skripsi yang ditulis oleh Mila Uhtia Rohmah di Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Pekanbaru. Dalam penelitian berjudul Tazkiyatun Nafs dalam Pemikiran Jalaluddin Rakhmat (1949–2021 M), Mila menelusuri bagaimana Kang Jalal memaknai penyucian jiwa sebagai inti perjalanan seorang Muslim menuju Allah.
Bagi Kang Jalal, agama bukan sekadar kumpulan ajaran yang dihafal, melainkan jalan untuk membentuk manusia yang lebih jujur, lebih penyayang, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Tuhannya. Karena itulah, pembahasan tentang tazkiyatun nafs—penyucian jiwa—menjadi salah satu tema penting dalam karya-karya beliau.
Rubrik Membaca Kang Jalal lahir dari penelitian-penelitian seperti ini. Namun yang akan Anda baca bukanlah ringkasan skripsi. Tokoh utama dalam setiap tulisan tetaplah KH. Jalaluddin Rakhmat beserta gagasan-gagasannya. Skripsi Mila menjadi pijakan ilmiah yang membantu kita membaca kembali pemikiran Kang Jalal dengan lebih jernih, sementara bahasanya kami hadirkan kembali agar lebih hangat, lebih ringan, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mudah-mudahan perjalanan ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menghadirkan ketenangan, memperhalus akhlak, dan menumbuhkan kerinduan untuk semakin dekat kepada Allah.

⸻
Setiap orang tentu ingin hidup lebih baik. Kita belajar, bekerja keras, membangun keluarga, mengejar cita-cita, dan berharap hari esok lebih indah daripada hari ini. Namun di tengah kesibukan memperbaiki kehidupan di luar diri, ada satu ruang yang sering luput dari perhatian: hati.
Barangkali di situlah Kang Jalal memulai perbincangannya.
Dalam pandangan beliau, persoalan terbesar manusia bukan selalu kemiskinan, jabatan, atau kekurangan ilmu. Yang lebih menentukan justru keadaan hati. Sebab hati yang bersih akan melahirkan pikiran yang jernih, ucapan yang santun, dan perbuatan yang membawa manfaat. Sebaliknya, hati yang dipenuhi iri, kesombongan, dan kebencian akan merusak semua kebaikan yang tampak di permukaan.
Pandangan inilah yang ditangkap Mila Uhtia Rohmah dalam penelitiannya. Ia menemukan bahwa hampir seluruh bangunan pemikiran spiritual Kang Jalal bertumpu pada satu konsep besar, yaitu tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Bagi Kang Jalal, agama hadir bukan semata-mata untuk mengatur perilaku lahiriah manusia, tetapi untuk mengubah batinnya. Perubahan akhlak selalu dimulai dari perubahan hati.
Karena itu, Kang Jalal tidak pernah memandang ibadah sebagai rutinitas yang berdiri sendiri. Syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji adalah jalan panjang yang mengantar manusia menjadi pribadi yang lebih baik.
Syahadat adalah pembebasan. Ketika seseorang mengucapkan Lā ilāha illā Allāh, ia sedang memutus semua bentuk penghambaan selain kepada Allah. Harta, jabatan, popularitas, bahkan ego, tidak lagi menjadi pusat kehidupannya. Hanya Allah yang menjadi tujuan akhir.
Salat pun tidak berhenti pada gerakan berdiri, rukuk, dan sujud. Salat adalah latihan untuk menghadirkan Allah di dalam hati. Lima kali sehari manusia diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, lalu mengingat kembali siapa dirinya dan kepada siapa ia akan kembali. Jika salat belum membuat seseorang lebih tenang, lebih jujur, dan lebih penyayang, mungkin yang bergerak baru tubuhnya, sementara hatinya masih tertinggal.
Begitu pula puasa. Kang Jalal melihat puasa sebagai sekolah pengendalian diri. Lapar dan dahaga hanyalah pintu masuk. Yang sesungguhnya dilatih adalah kemampuan manusia mengendalikan hawa nafsunya. Sebab musuh terbesar sering kali bukan orang lain, melainkan keinginan-keinginan yang tumbuh di dalam diri sendiri.
Zakat juga demikian. Yang dibersihkan bukan hanya harta, tetapi hati pemiliknya. Ketika seseorang belajar memberi, sesungguhnya ia sedang memutus ikatan yang berlebihan dengan dunia. Ia belajar bahwa rezeki bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga menjadi jalan kebahagiaan bagi orang lain.
Demikian pula haji. Di hadapan Ka’bah semua manusia mengenakan pakaian yang sama. Tidak ada lagi pembatas status sosial, jabatan, atau kekayaan. Haji mengingatkan bahwa manusia berasal dari tanah yang sama dan suatu hari akan kembali kepada Allah tanpa membawa apa pun selain amal dan akhlaknya.
Dari sinilah Mila melihat benang merah pemikiran Kang Jalal. Semua ibadah itu memiliki satu tujuan yang sama: menyucikan jiwa. Ibadah bukan tujuan akhir, melainkan sarana membentuk manusia yang lebih dekat kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Perjalanan itu tentu tidak selesai dalam semalam. Dalam tradisi tasawuf dikenal tiga tahapan yang juga dijelaskan dalam penelitian ini. Pertama, takhalli, yaitu mengosongkan hati dari sifat-sifat tercela seperti kesombongan, iri hati, riya, dan cinta dunia yang berlebihan. Kedua, tahalli, yaitu menghiasi hati dengan sifat-sifat mulia seperti kejujuran, kesabaran, syukur, kasih sayang, dan rendah hati. Ketiga, tajalli, saat hati yang telah dibersihkan mulai merasakan kedekatan dengan Allah sehingga setiap amal dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa Dia selalu hadir.
Menariknya, Kang Jalal tidak mengajak kita meninggalkan dunia untuk mencapai semua itu. Tasawuf dalam pandangan beliau bukanlah jalan mengasingkan diri dari masyarakat. Justru sebaliknya. Tasawuf adalah seni menghadirkan hati yang bersih di tengah kehidupan. Seorang pedagang tetap berdagang, tetapi lebih jujur. Seorang guru tetap mengajar, tetapi lebih sabar. Seorang pemimpin tetap memimpin, tetapi lebih adil. Spiritualitas tidak menjauhkan manusia dari dunia, melainkan memperindah cara ia menjalaninya.
Karena itulah, penyakit hati menjadi perhatian besar Kang Jalal. Kesombongan, iri hati, dendam, tamak, dan cinta dunia yang berlebihan sering kali tidak terlihat oleh mata, tetapi dampaknya jauh lebih besar daripada penyakit fisik. Penyakit-penyakit itu dapat merusak ibadah, menghancurkan persaudaraan, bahkan membuat manusia merasa benar ketika sedang berbuat salah. Maka, membersihkan hati adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai.
Barangkali inilah pesan terindah yang dapat kita petik dari pembacaan Mila terhadap karya Kang Jalal. Agama bukan sekadar membuat manusia rajin beribadah, tetapi menjadikan mereka lebih baik dalam memperlakukan sesamanya. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin lembut tutur katanya, semakin lapang dadanya memaafkan, semakin ringan tangannya membantu, dan semakin kecil keinginannya untuk merasa lebih mulia daripada orang lain.
Pada akhirnya, perjalanan menuju Allah bukanlah perjalanan yang dimulai dari langkah kaki, melainkan dari langkah hati. Setiap kali kita menahan amarah, memilih jujur, memaafkan kesalahan orang lain, atau mengalahkan ego demi kebaikan bersama, sesungguhnya kita sedang berjalan menuju-Nya.
Dan mungkin, seperti yang ingin diingatkan Kang Jalal kepada kita, perubahan terbesar dalam hidup tidak pernah dimulai dari dunia di luar diri kita. Ia selalu dimulai dari hati yang pelan-pelan dibersihkan.
⸻
Karya Kang Jalal yang Dibaca
KH. Jalaluddin Rakhmat
Membuka Tirai-Tirai Kegaiban: Renungan-Renungan Sufistik.
Pijakan Akademik
Mila Uhtia Rohmah. Tazkiyatun Nafs dalam Pemikiran Jalaluddin Rakhmat (1949–2021 M). Skripsi, Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Pekanbaru, Riau, 2023.



