KegiatanKhazanah

MILAD KE-26 IJABI: MENANDAI ARAH BARU PERADABAN MELALUI GERAK INTELEKTUAL DAN PERKHIDMATAN

Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) memperingati hari jadinya yang ke-26 dengan menegaskan kembali komitmennya dalam membangun arah baru peradaban. Perayaan milad kali ini mengambil tempat di **Aula KH. Jalaluddin Rakhmat, Bandung**, sebuah ruang yang sarat akan memori perjuangan pemikiran. Momentum sakral yang ditandai oleh kuatnya gerak intelektual serta perkhidmatan sosial ini bertepatan dengan bulan suci Muharram, serta dihadiri oleh ratusan utusan dan delegasi daerah dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti Wonosobo, Sukabumi, Mojokerto, Bandung, Jakarta, dan sekitarnya.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Pengurus Pusat IJABI menguraikan landasan historis dan filosofis berdirinya organisasi pada 1 Juli, 26 tahun silam, sebagai wadah berbasis kecintaan (*wilayah*) kepada Ahlul Bait Nabi SAW. Beliau menceritakan sebuah riwayat agung pasca-peristiwa Asyura, ketika Maulana Sayyid Abidi—Imam Ali bin Husain As-Sajjad—kembali ke kota Madinah. Di tengah duka yang mendalam, penguasa zalim saat itu melakukan restriksi ketat; segala bentuk aktivitas keilmuan sang Imam dihalangi di dalam masjid kota, sehingga beliau terpaksa bergerak di luar batas kota.

Di tengah tekanan politik tersebut, Imam As-Sajjad mengambil langkah kultural yang jenius: melihat mayoritas penduduk adalah petani yang kesulitan menjaga anak dan ladang mereka, sang Imam menawarkan khidmat pengasuhan anak serta mengajarkan ilmu pengetahuan secara cuma-cuma. Seiring waktu, ketulusan khidmat ini menarik hati masyarakat luas hingga murid beliau berkembang menjadi ribuan orang. Historiografi mulia inilah yang diserap oleh IJABI sebagai ruh gerakan: khidmat nyata kepada masyarakat di dalam Bahtera IJABI.

Lebih lanjut, Ketua Umum mengungkapkan langkah strategis organisasi yang terus bersinergi dengan lembaga formal negara. Beliau bersama jajaran Dewan Syura IJABI baru-baru ini melakukan pertemuan resmi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menginisiasi kolaborasi penelitian mendalam, khususnya yang berkaitan dengan studi Fathimiah dan eksistensi komunitas mazhab.

Merespons label “minoritas”, Ketua Umum mengutip pandangan mendalam dari KH. Miftah Fauzi Rakhmat : “Kata minoritas atau mayoritas itu sepenuhnya tergantung dari sudut pandang mana kita melihat. Jika diukur dari kesamaan visi, prinsip kemanusiaan, dan pemikiran beradab, maka pihak yang searah dengan gerakan IJABI sejatinya sangatlah banyak. Dari 5 Pilar IJABI yang diajarkan, ditemukan fakta bahwa mayoritas masyarakat memiliki kesamaan pandangan. Oleh karena itu, IJABI secara substantif bukanlah entitas minor; justru kelompok-kelompok intoleran lah yang sejatinya sedikit di negeri ini.

iklan

Pesan Ideologis Pendiri dan Peluncuran Karya Kontemporer

Suasana di dalam aula kian syahdu dengan dihadirkannya kembali pesan-pesan ideologis spiritual dari pendiri organisasi, Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat (Ust. Jalal). Beliau senantiasa menekankan pentingnya bagi kaum Ijabiyun untuk hidup berdampingan secara damai (coexist), setara, dan harmonis dengan seluruh elemen warga negara Indonesia, serta berjamaah dengan siapa saja yang memiliki satu nafas perjuangan dan satu tujuan mulia.

Peringatan milad tahun ini memiliki getaran spiritual yang mendalam karena bertepatan dengan suasana duka bulan Muharram, yang kini diperingati tanpa kehadiran fisik Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Imam Ali Khamenei Asy-Syahid. Kepergian sang pemandu spiritual dunia tersebut diserap sebagai energi perjuangan baru. Keteguhan prinsip, ketegasan sikap, serta keteladanan beliau dalam membina ketahanan keluarga dan kemandirian bangsa menjadi inspirasi abadi bagi kaum muslimin dunia.

Sebagai wujud nyata ketahanan pemikiran tersebut, bertepatan dengan Milad yang bersamaan dengan proses pemakaman Ayatullah Imam Ali Khamenei IJABI secara meluncurkan sebuah karya literatur monumental di panggung utama aula. Buku yang mengulas pemikiran Ayatullah Imam Ali Khamenei Asy-Syahid yang ditulis oelh 34 intelektual Indonesia dan juga penerbitan buku 5 Pilar IJABI. Ide mengumpulkan pemikiran Imam Ali Khamenei ini lahir dari sebuah proses spiritual yang cepat dan berkesan: diinisiasi atas gagasan Kang Iwan pada saat momentum tahlilan wafatnya sang Imam, dan berhasil diwujudkan (selesai ditulis/diterbitkan) bertepatan pada saat prosesi penguburannya.

Untaian Refleksi Dewan Syura dan Para Tokoh

Sesi sambutan kolektif dibuka secara khidmat oleh Ketua Dewan Syura IJABI, KH. Miftah Fauzi Rakhmat, yang membuka ruang bagi para anggota Dewan Syura lainnya untuk menyampaikan amanat organisasi:

Ust. Wawan: Menegaskan dua amanat utama organisasi. Pertama, tugas pokok IJABI adalah mempersatukan seluruh pencinta Ahlul Bait di bawah ikatan tali Allah (Hablullah). Kedua, simpul pengikat paling dekat dalam memori kolektif organisasi adalah keteladanan Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat. Pemikiran beliau harus terus dibesarkan agar menjadi perekat gerakan.

 Ust. Yusuf: Mengungkapkan rasa syukur mendalam atas konsistensi gerakan ini dengan kalimat singkat yang sarat makna: “IJABI adalah kenikmatanku.”

 Bang Furqan (ketua periode kedua) : Mengulas orisinalitas nama organisasi. Nama IJABI yang diberikan oleh Ust. Jalal merujuk pada prinsip afirmasi yang bermakna “positif”, sebagai lawan dari kata salbi (negatif). Organisasi ini dirancang untuk membuat besar, menjadi pencerah pemikiran, pemberdaya kaum tertindas (mustad’afin)—seperti gerakan nyata para petani organik—serta menekankan pentingnya merawat spiritualitas melalui konsistensi doa pagi-sore dan amalan doa tahlil.

 Ust. Rahmat: Menyoroti peran sentral kaum perempuan di dalam struktur perjuangan. Menggunakan kaidah epistemologi bahasa Arab kullu jam’in muannatsun (setiap jamak mutlak bersifat feminim), beliau menekankan pentingnya membela dan memuliakan ibu-ibu. Beliau mengajak seluruh kader untuk bangga ber-IJABI, di mana kebanggaan tersebut harus diimbangi dengan besarnya tanggung jawab sosial yang dipikul.

 Ust. Syam (Ketua periode 3) : Mengutip untaian hikmah mendalam dari Allahyarham Ust. Jalal saat menghadapi gelombang tekanan luar biasa pada Muktamar II IJABI silam: “Ujian yang kita terima dalam perkhidmatan kita bersama IJABI hanyalah sebutir debu dalam sahara ujian Imam ‘Ali as. Kepedihan kita masih setitik embun dalam lautan derita Imam Husain as.”

Dialog Buku: Membaca Epistemologi Perempuan dan Kosmologi Wilayah

Acara inti dilanjutkan dengan sesi Dialog Buku yang dipandu secara dinamis oleh Taufan Hidaya. Dalam pengantarnya, Taufan menganalogikan usia IJABI yang ke-26 bagaikan seorang manusia dewasa yang sedang berada pada fase keemasan dalam mencari jodoh perjuangan, memantapkan posisi strategis (positioning), serta melakukan akselerasi gerakan untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa. Tantangan dan ujian dipastikan selalu hadir, dan di situlah urgensi akselerasi pemikiran dibutuhkan.

Buku ini terbit di tengah momentum krusial global, di saat tatanan dunia sedang bergeser ke arah yang berbeda dan lahirnya navigasi baru, khususnya pergerakan di kawasan Timur Tengah. Buku ini hadir sebagai penanda penting dari pergerakan intelektual tersebut.

1. Perspektif Perempuan dan Realitas Iran — Dr. Neng Hannah.

Dr. Neng Hannah memaparkan analisisnya mengenai realitas sosial dan bias informasi barat. “Di balik setiap realitas, pasti terdapat konstruksi epistemologi yang membangunnya. Pengetahuan itu tidak pernah netral, ia selalu berkelindan dengan relasi kekuasaan,” ungkapnya.

Beliau menceritakan pengalaman empirisnya saat berkunjung ke Iran. Awalnya diliputi rasa cemas akibat prasangka (prejudice) global bahwa perempuan di Iran dipinggirkan. Namun, realitas di lapangan menjungkirbalikkan narasi tersebut. Di bawah garis kepemimpinan Ayatullah Imam Ali Khamenei Asy-Syahid, kaum perempuan justru menempati posisi fondasi peradaban yang sangat progresif, aktif di ruang publik, dan mendominasi ranah akademik di universitas. Beliau mencontohkan sosok almarhumah Zahra Adel, seorang pendidik sekolah dasar yang tetap tampil sangat bersahaja meskipun berada di lingkaran pusat kekuasaan. Buku ini menjelaskan banyak hal yang membantah narasi negatif dunia luar melalui refleksi khutbah-khutbah Imam Khamenei yang mendorong perempuan maju dalam ilmu pengetahuan dan penelitian, terbukti dari banyaknya perempuan Iran yang menulis di jurnal internasional.

2. Trisula Spiritual dan Kosmologi Sunda — Dr. Asep Salahuddin

Dr. Asep Salahuddin membedah dimensi esoteris tokoh pemikir dunia tersebut dengan menyatakan: “Mereka yang paling banyak memberikan khidmat kemanusiaan, dialah yang paling berhak mendapatkan karamah dari Allah SWT.” Beliau menegaskan bahwa jika ilmu diperoleh melalui proses pengajaran (ta’lim), maka keberkahan hidup hanya akan lahir dari jalan perkhidmatan nyata.

Menurut Dr. Asep, terdapat tiga kata kunci utama untuk membaca pemikiran Ayatullah Imam Ali Khamenei Asy-Syahid, yakni: Wilayah, Syahadah, dan Ukhuwah. Uniknya, konsep trilogi pemikiran ini memiliki irisan yang sangat lekat dengan kosmologi spiritual masyarakat Sunda kuno, yaitu konsep Tritangtu (Resi, Rama, Ratu):

Dalam hal ini, Imam Khamenei menempati posisi sebagai “Resi” dunia modern yang memiliki daya tarik spiritual luar biasa, sehingga peradaban Syiah dengan kosmologi Sunda sangat beririsan. Keyakinan mesianistik tentang keadilan masa depan (intidzar) juga termanifestasi dalam mitologi Sunda mengenai Prabu Siliwangi yang tidak mati melainkan ngahiyang. Secara simbolik, Siliwangi harus dimaknai sebagai tuntunan akhlak luhur: silih asih, silih asah, silih asuh yang berujung pada keharmonisan (ukhuwah).

Lebih detail, beliau memetakan kepemimpinan tersebut dalam 3 jangkar karakter: Moralitas sebagai oksigen, Spiritualitas sebagai jangkar utama, dan Kohesifitas sebagai perekat umat. Sementara Syahadah dimaknai sebagai akar teologi pembebasan—menghadapi kematian dengan optimisme—yang memiliki tiga pilar etik: Care (kepedulian), Respect (penghormatan), dan Responsibility (tanggung jawab). Adapun Ukhuwah ditegakkan di atas kesadaran metafisik, nubuwah, serta nilai insaniah.

3. Resiliensi Bangsa dan Ideologi Komunikasi — Dr. Dedi Jamaluddin Malik

Dr. Dedi Jamaluddin Malik membawa jalannya dialog pada analisis geopolitik makro dan ketahanan nasional. Beliau melontarkan pertanyaan: “Apa yang membuat resiliensi (daya tahan) sebuah negara menjadi begitu menonjol dibanding negara lain ketika diserang dan ditekan oleh Amerika?”

Jawabannya terletak pada etos perlawanan yang ditanamkan oleh kepemimpinannya secara sistematis dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Menyadari bahwa kemajuan geopolitik akan runtuh tanpa fundamental ekonomi yang kuat, negara tersebut melakukan pendekatan strategis secara ekonomi dan politik dengan kekuatan baru seperti Tiongkok dan Rusia. Keberhasilan mematahkan dominasi ini dapat ditelisik dari figur kepemimpinannya yang luar biasa yang disebut sebagai “Khameneisme”. Ada postur yang berbeda antara Ayatullah Khomeini sebagai tokoh pembangun dasar negara dengan Imam Khamenei sebagai sang institusionalis. Di bawah kepemimpinan beliau, konsep Wilayatul Faqih ditransformasikan menjadi Neo-Wilayatul Faqih yang diinstitusionalkan ke dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk memanfaatkan media digital sebagai instrumen komunikasi perlawanan untuk menyampaikan pesan kebenaran global.

Orkestrasi Gerakan

Sebagai penutup dialog yang mencerahkan, KH. Miftah Fauzi Rakhmat memberikan konseptualisasi operasional yang sederhana mengenai implementasi sistem ini dalam organisasi. Beliau menganalogikan bentuk sederhana dari penerapan tata kelola regulasi (Wilayatul Faqih) dapat dilihat dari kepatuhan kolektif terhadap sebuah sistem; seperti bagaimana seorang pembicara mematuhi batasan waktu yang dialokasikan oleh moderator demi berjalannya sebuah acara sesuai dengan arahan produser.

Orkestrasi besar dalam pemilihan ayat-ayat besar, peradaban, kepemimpinan, dan penentuan arah perjuangan membutuhkan pengorganisasian yang presisi, di mana ideologi komunikasi yang rapi menjadi kunci utama tegaknya sebuah tatanan beradab Semesta Bahtera IJABI.

Website |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button